Kekaguman, Rivalitas, dan Kebahagiaan

Standard

Jum’at sore. sepulang bekerja, terlihat seorang cowok senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan menuju kontrakannya. Mungkin karena besok adalah akhir pekan. Bukankah akhir pekan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh pekerja??? Oh bukan, karena baginya weekend  ataupun tidak adalah sama saja.

Selidik punya selidik, ternyata si cowok tersenyum-senyum sendiri karena ada yang salah dalam hatinya. Ya, si cowok sedang mengagumi rival-nya. Mengagumi seseorang yang seharusnya ia benci dan ia musuhi. Kekagumannya pada “sang rival” bukanlah tanpa alasan. Kekagumannya itu muncul karena “sang rival” telah membuat seseorang gadis kembali tersenyum manis. Hari ini si cowok melihat lesung pipit di pipi gadis yang selama ini dicintainya merekah menjadi sebuah senyuman. Sebuah senyum keceriaan tentunya. Senyum yang menandakan kebahagiaan. Bukankah pecinta itu bahagia jika melihat orang yang dicintainya bahagia???

Untuk itulah si cowok tersenyum-senyum sendiri. Saat itu, ia merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia.. Bahkan kebahagiaanya berlanjut sampai di dunia mimpi.

Karena penasaran, ia ingin mencari tahu apakah ada orang yang lebih bahagia daripada dirinya. Si cowok pun berfikir, dimana ia bisa menemukannya. Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya ia pun memutuskan  untuk pergi ke suatu tempat yang menurutnya ia akan bisa menemukan orang yang lebih bahagia darinya.

Keesokan harinya, pagi begitu cerah. Kebahagiaanpun masih menyelimuti perasaan si cowok. Kebahagiaan yang mampu menembus dua alam yang berbeda. Berawal dari dunia nyata, berlanjut ke dunia mimpi, dan kini kembali ke dunia nyata. Setiap kali teringat senyum manis itu, mata si cowok semakin berbinar. Mata yang seolah tidak terpejam selama berminggu-minggu meski semalam mata itu larut terbuai mimpi.

Di bawah bilboard yang bertuliskan ‘Senayan City’, si cowok terpana melihat bangunan besar yang ada dihadapanya. Tempat yang menurutnya ia akan menemukan orang yang lebih bahagia darinya. Tak lama kemudian, ia pun masuk ke dalam bangunan besar itu.

Alangkah terkejutnya si cowok karena ia tak melihat seorang pun disana. Dia hanya melihat boneka-boneka kapitalis dan miniatur sekulerisme. Ya, subuah kolonialisme modern. Penjajahan yang berwujud kemerdekaan.

Si cowok terdiam dan merenung. Ia teringat pasar di kampungnya. Pasar yang telah memberinya banyak pelajaran hidup, karena sejak dari kecil ia harus membantu orangtuanya disana. Sangatlah kontras dengan apa yang sedang dilihatnya. Ia pun mulai mengkalkulasi mengenai waktu hancurnya pasar tradisional di kampungnya itu. Ya, cepat ataupun lambat kapitalisme akan segera menghancurkannya. Membunuh jutaan nyawa. Memborbardir ribuan keluarga. Lebih dasyat dari agresi militer Belanda.

Mungkin beberapa tahun yang lalu, satu item barang di jual oleh satu orang penjual. Namun sekarang, puluhan ribu item barang dijual oleh hanya satu orang penjual. Lantas, bagaimana dengan pengangguran??? Apa ia masih bisa dielakkan??? Lalu, siapakah yang salah dan harus disalahkan??? Haruskah menyalahkan seorang John Maynard Keynes???

Si cowok mulai muak dengan tempat itu, dan mulai merasa jika ia telah berfikir salah. Dia tak akan mungkin menemukan kebahagiaan disana. Ia pun keluar dari bangunan itu, namun ia tak langsung meninggalkannya. Hati kecilnya tetap berkata jika ia akan menemukan kebahagiaan di sana.

Ia duduk di kursi kramik di depan lobby melihat manusia berlalu-lalang keluar masuk bangunan itu. Mobil dan taksi silih berganti di depan lobby. Semuanya tetaplah sama. Glamourisme dan gaya hidup royal melekat erat di setiap ubin yang mereka injak.

Setelah hampir 2 jam duduk disana, akhirnya si cowok menemukan sesuatu hal yang berbeda. Ia mendapati seorang anak kecil menenteng kantong plastik hitam. Usianya sekitar sepuluh tahun. Ia memakai seragam pramuka. Si cowok terus mengamatinya. Anak itu tetap berdiri di depan lobby sembari menggaruk-garuk rambutnya dan sesekali mengusap matanya. Ah, ternyata di sarang kapitalisme masih saja didapati ketidakadilan hidup. Si cowok merogoh kantong celananya dan ia menemukan uang lima ribuan. Si cowok merasa kasihan dengan anak itu. Ketika ingin menghampirinya, sebuah suara berbunyi dari dalam kantong plastik yang ditenteng anak itu. Diamatinya anak itu membuka dan  mengambil sesuatu dari kantong plastik hitam itu.

Busssyyeeetttt… Si cowok tekejut, ternyata kantong plastik hitam tadi berisi handphone BlackBerry, (Brand yng lagi ngetrend) dan  tak lama setelah anak kecil tadi menerima telepon, sebuah mobil Nissan Serena berhenti di depannya.

“Papa lama banget sih,,, Aku capek nunggunya!!!”, ungkap anak kecil itu kesal.

Si cowok hanya bisa terpana. Ia masukkan kembali uang lima ribuan itu ke saku celananya, dan bergumam “Ternyata kesan itu tidak selalu sama dengan yang dikesankan”. Baru saja ia melihat madu yang berbalut empedu. Sebuah penipuan besar-besaran. Perampokan sebuah mainset.

Tak lama berselang, sebuah mobil Marcedez Benz E 200 Compressor berhenti di lobby. Seorang wanita muda cantik keluar dari mobil, dan membanting pintunya. Wajahnya mirip dengan Han Ji Enn dalam serial Full House. Si cowok langsung sadar jika ia sedang melihat sebuah masalah. Untuk itu ia terus memperhatikannya.

Kemudian dari mobil itu juga keluar seorang laki-laki separuh baya. Namun ia sama sekali tak mirip dengan Lee Yong Jee. Laki-laki itu tegap, ia lebih mirip dengan Chu Yun Fat.

Setelah memberikan kunci mobil pada seorang petugas untuk memarkirnya, laki-laki itu segera menghampiri wanita cantik yang sudah dulu keluar. Si cowok berfikir kalau mereka adalah sepasang suami istri, kalaupun tidak, mereka adalah sepasang kekasih. Entah apa yang mereka perdebatkan. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh si cowok. Mungkin mereka adalah warga Tionghoa, kalau tidak mereka adalah warga keturunan. Mata mereka sipit dan kulit mereka putih. Mereka berbicara seperti orang yang sedang terasuki amarah. Mereka pasti sedang beradu mulut. Si cowok terus memperhatikannya.

Akhirnya perdebatan mereka berakhir dengan sebuah handphone yang dibanting oleh sang wanita yang kemudian pergi dengan Taksi. Laki-laki itu memungutnya dan berjalan menuju  ke arah si cowok, kemudian duduk di sampingnya. Si cowok mencoba menghiraukannya. Namun pria separuh baya tadi mengajaknya bicara.

Laki-Laki : Lupakan apa yang baru saja kamu lihat!!!

Cowok : Pasti,,, Lagi pula tak ada untungnya jika aku mengingatnya.

Laki-laki : Dia tadi istriku. Usianya delapan tahun lebih muda dariku. Terkadang aku merasa disusahkan dengan perbedaan usia.

Cowok : Apa karena itu Anda bertengkar???

Laki-Laki : Bukan,,, itu karena salahku. Aku termakan api cemburu. Aku menuduhnya telah berselingkuh.

*sejenak mereka terdiam*

Cowok :Jika kecemburuan Anda itu disertai keraguan, maka Anda benar. Tapi kalau tidak ada keraguan dalam cemburu itu, maka Anda sudah melakukan kesalahan.

Laki-Laki : Sial,,, Baru saja kita ketemu, bahkan kita belum kenal, tapi kamu sudah berani menasehatiku.  *tertawa

Cowok : Itu karena Bapak sok kenal…   *tersenyum🙂

Laki-Laki : Sebenarnya kami kesini ingin refreshing. Kami ingin sejenak melupakan masalah kami. Tapi apa boleh buat…. * tertunduk

Cowok : Aku kesini sebenarnya ingin melihat orang bahagia, namun aku tak menemukannya. Dan apa yang baru saja aku lihat semakin meyakinkanku jika aku tak akan pernah bisa menemukannya.  *menunduk

Laki-Laki : Ah, aku mau pergi dulu. Mungkin lebih baik aku tidur di rumah dan berharap bangun dengan perasaan yang lebih baik. Terimakasih atas nasehatnya.

Cowok : Sama-sama. Aku rasa itu jauh lebih baik *tersenyum🙂

(Laki-Laki itu pun pergi tanpa memperkenalkan dirinya. Si cowok berfikiran sama. Ia pun meninggalkan tempat itu dan ingin segera pulang)

Ketika dalam perjalanan pulang, di dalam sebuah busway, si cowok melihat sesuatu yang menarik hatinya. Ia melihat beberapa orang berkumpul di bawah Fly Over Grogol. Tepat di samping Shelter Busway Grogol. Karena penasaran, si cowok pun melompat keluar Shalter dan hendak menghampiri mereka. Ya, ternyata mereka adalah beberapa anak jalanan yang sedang belajar. Mereka hanya beralaskan terpal dan beberapa anak ada yang beralaskan kardus. Seorang gadis cantik berkacamata memakai jas almamater bertuliskan Universitas Trisakti terlihat sedang mengajari mereka berbicara bahasa inggris. Canda dan tawa tampak terlihat di wajah mereka. Si cowok melihat keceriaan di setiap wajah anak-anak itu. Si cowok tak langsung menghampiri mereka. Ia terlebih dahulu pergi ke AlfaMart yang ada di seberang jalan. Setelah beberapa saat, si cowok keluar dengan membawa empat bungkus permen green tea kemudian kembali untuk menghampiri mereka.

Melihat mereka sedang asyik belajar, si cowok lantas duduk menunggu di belakang mereka. Tak lama kemudian, seorang gadis menghampirinya. Mungkin dia adalah teman gadis yang mengajar tadi, karena mereka mengenakan jas almamater yang sama, Universitas Trisakti.

Gadis : Ada yang bisa saya bantu???

Cowok : Aku ingin membagi permen untuk mereka.

Gadis : Owh,,. (*terpana sejenak). Mau dibagi sekarang???

Cowok : Biarkan mereka belajar dulu aja. Nanti kita malah ganggu lagi.

Gadis : *tersenyum

Cowok : Apa kegiatan seperti ini rutin???

Gadis : Iya, kita setiap minggu disini.

Cowok : Mbak dari Trisakti yah??? Ambil jurusan apa???

Gadis : Kita gabungan dari beberapa jurusna di FISIP, Mas…

(Karin… Karin… kesini sebetar deh… *terdengar seseorang memanggil-manggil nama Karin)

Gadis : Maaf Mas,,, aku tinggal sebentar yah!!!

Cowok : *tersenyum dan mengangguk.

Si cowok kembali duduk sendiri, termenung memperhatikan keceriaan anak jalanan yang sedang belajar. Namun keceriaan terbesar bukanlah di wajah mereka, tapi pada wajah seorang gadis berkacamata yang sedang berdiri di depan mereka. Board marker yang ia pegang terlihat bagai sebuah kunci, sedang white board yang ada dihadapanya  terlihat seperti pintu surga. Bukankah kebahagiaan itu hanya ada di surga???

Jika kebahagian itu didefinisikan dengan keceriaan, maka si cowok telah melihatnya di bawah jembatan layang. Ya, di bawah Fly Over Grogol. Akhirnya si cowok pun menemukan orang yang lebih bahagia darinya. Ternyata kebahagiaan itu, ketika kita mampu memberi dan apa yang kita berikan dapat membuat bahagia.

Semua manusia memang  bisa hidup, entah yang di istana maupun di gubuk derita. Tapi siapakah yang bahagia???

Tak lama kemudian, handphone si cowok berbunyi. Lagunya SMASH,,, “You know me so well… Girl I need you, Girl I need you” (Aseeekkk…)

Ternyata telpon dari seorang cewek. Di layar hanphone-nya tertulis nama ‘Hany BEI’, teman si cowok ketika dulu magang di Bursa Efek Indonesia. Ya, Hany Gita Kirana.

Cowok : Assalamu’alaikum… *mengangkat telpon

Hany : Wa’alaikumsalam,,,

Cowok : Ada apa, Han???

Hany : Nggak papa, gw cuma pengen tau kabar low ajah.

Cowok : Sebentar, itu suara apaan sih Han kok berisik banget, di situ hujan yaa???

Hany : Enggak…

Cowok :Trus, itu suara apa??? Angin???

Hany : Nggak,, nggak ada suara apa-apa kok. Handphone low aja yang error.

Cowok : Trus, kalo disitu nggak ada angin, nggak ada hujan kok tiba-tiba kamu telpon aku. Jadi penasaran nich… *tertawa mengejek

Hany : Acchhhh…. Dasar Onneeengggg… *berteriak kesal

Cowok : Kirain kamu udah lupa ama aku. Mentang-mentang sekarang jadi sekretaris!!!! Jadi lupa sama temen.

Hany : Bukanya gitu Oneeng…. Low-nya ajah yang ngilang. Nggak pernah kasih kabar.

Cowok : Owh,, pengen denger kabarnya cowok cakep nih ceritanya??? Kabarku baik, Han… Gimana kabar kamu???

Hany : Alhamdulillah, kabar gw baik. Cuma lagi bingung bagi waktu nich, antara kerja ama kuliah.

Cowok : Cieeehhh… wanita kariirrr…. Eh, ngomong-ngomong ada apa Han??? tumben kamu telpon aku???

Hany : Hehehe… nggak, gw cuma pengen ngasi tau kalo gw nemuin buku yang pernah low bilang dulu. Aku beli buat kamu nich…

Cowok : Kamu masih seperti  Hany yang aku kenal dulu, baik hati dan tidak sombong… *tertawa

Hany : Iya doongg… Hany gitu loch…

Cowok : Iya iya percaya,,, Tapi kapan kamu mau ngasi ke aku??? *ngareppp…

Hany : Ya udah, low kerumah ajah. Tapi kapan ya??? Senin sampe jum’at aku kerja, sabtu minggu aku kuliah. Gimana yach???

Cowok : Bukunya sekarang dimana???

Hany : Ini masih gw bawa, orang gw belinya barusan. Tadi kan ada Book Expo di kampusku.

Cowok : Terus, sekarang kamu dimana???

Hany : Ya gw masih di kampus Onengg…

Cowok : Ya udah, aku kesana yaa… Kamu kuliah sampe malem kan???

Hany : Ya terserah low dah,, gw kuliah sampe jam 8 kok.

Cowok :Ya udah, aku kesana sekarang. Kebetulan aku sedang jalan nihh…

Hany : Okay,,, I’ll waiting for you, Boy…

Ya udah, sampe ketemu ntar yach,,,

Bye..

Assalamu’alaikum

Cowok : Wa’alaikumsalam

Setelah menutup telponnya, si cowok kemudian bangkit dari duduknya. Ia memanggil gadis yang menurutnya bernama Karin. Meskipun mereka belum pernah saling kenal.

Cowok : Mbak,,, aku harus pergi sekarang, tolong bagikan permen ini buat mereka *memberikan kantong plastic yang berisi permen.

Gadis : Gag mw nungguin dulu, sebentar lagi juga selesei kok.

Cowok : Aku mendadak ada perlu. Mau ke Depok nemuin temen.

Gadis : Owh,,, Ya udah makasih ya Mas…

Sepanjang perjalanan, si cowok kembali tersenyum-senyum sendiri. Namun kali ini bukan karena ia merasa bahagia. Tapi karena malu pada dirinya sendiri. Lima belas jam yang lalu dia telah mengklaim dirinya sebagai orang yang paling bahagia. Namun kini ia merasa menjadi orang yang sama sekali tak berguna.

Enginering Centre, Universitas Indonesia

Depok, April 16th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s