Long Weekend (Pirates of ‘Selat Sunda’)

Standard

Ada orang yang di hari senin sampai jum’at memikirkan hari sabtu dan minggu. Pada hari minggu, ia mengkhawatirkan hari senin. Sebenarnya orang-orang ini hidup pada hari apa???

 

Akhir pekan kali ini adalah long weekend. Tanggal yang biasanya berwarna hijau kini harus berubah warna karena sebuah kesedihan. Ya, kesedihan karena wafatnya sesorang. Untuk beberapa orang, momentum long weekend dimanfaatkan untuk menggelar resepsi pernikahan :

 

Selamat menempuh hidup baru untuk saudaraku Nursyan Miadi dan Fuad Iqbal Muhammad. “Barokallohulaka wa baroka ‘alaika wa jama’abainakumaa bi khair”. Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi atasmu, dan semoga Allah menghimpun kalian berdua dalam kebaikan. Amin…

Aku minta maaf karena tak bisa  hadir di hari kebahagiaan kalian. Mungkin kalian sudah tahu alasan ketidakhadiranku, dan semoga kalian bisa memakluminya.

Untuk saudaraku Nursyan, jalan dakwah yang telah lama engkau nanti kini telah datang. Semoga engkau mendapatkan keberkahan darinya. Aku kan selalu merindukanmu. Merindukan kebresamaan kita. Jika diberi kesempatan, insyaAllah aku akan ke Lombok untuk mengunjungimu. Keep Fighting, Mas… Fastabiqul Khairat!!!!

Untuk saudaraku Fuad, selamat atas pernikahanmu. Aku merasa iri telah kau dahului. Meski kita tak akan bisa berbuat gila lagi, tak lagi bisa menggoda waria di Balekambang, tapi aku yakin kita masih bisa  bersama menikmati secangkir kopi di pelataran jalan A.Yani dan bermain billiard bersama di Mujahito. Tetaplah membuat kegilaan-kegilaan, Kawan!!! Semoga diberi kelancaran dalam pekerjaanmu. Cukuplah Gayus Tambunan sebagai pelajaran. Hehehe… ^_^

 

*****************************************

Bagi sebagian orang, akhir pekan adalah hari yang paling dinanti-nanti. Karena pada hari itu mereka dapat berhenti sejenak dari rutinitas yang setiap hari membelenggunya. Ada yang memanfaatkanya untuk me-refresh pikiran, dan ada juga yang menggunakannya untuk beristirahat. Tapi, bagi seorang cowok, akhir pekan berarti petualangan. Ya, weekend  is time to adventure and culinary. Berpetualang untuk mencari sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu apa yang ingin dicarinya.

 

Jum’at pagi, hampir semua head line surat kabar memberitakan tentang Hari Kartini. Sangat memuakkan!!! Emansipasi, feminisme, dan persamaan gender adalah sebuah kegilaan. Sejak kapan laki-laki dan wanita sama???

Mereka yang menganut emansipasi seolah bisa menyatukan Barat dan Timur. Mereka yang meyakini persamaan gender seolah mampu menggabungkan langit dan bumi. Sehebat apapun wanita, tetaplah dia wanita.dan selemah apapun laki-laki, ia tak akan pernah sama dengan wanita. Bukankah kesaksian seorang laki-laki itu sama dengan kesaksian dua orang wanita??? (Lihat: Shahih Muslim no. 114)

Agama telah mengatur semuanya. Bagi siapa yang merasa dirugikan karena semua itu, janganlah lantas membuat kegilaan. Proteslah kepada Tuhanmu. Buatlah surat komplain kepada-Nya. Namun, mungkinkah Tuhan itu hendak merugikan hambanya???

 

Ditengah-tengah berita tentang emansipasi, persamaan gender, serta euforia Briptu Norman, ada berita yang cukup menarik. Ya, berita mengenai perompakan.

Setelah membaca berita tentang kehebatan perompak Somalia di BBC Indonesia, membuat seorang cowok terobsesi untuk menjadi seorang bajak laut. Entah kegilaan apalagi yang sedang ada di otaknya. Ia ingin menjadi seorang Jack Sparrow dalam film ‘Pirates of Caribian’. Kalaupun tidak, ia ingin menjadi seorang William Turner. Namun ia sadar bahwa keinginannya itu tak akan mungkin terwujud. Keinginan yang berprobabilitas nol. Ya, sebuah kemustahilan.

Karena itu, ia menurunkan obsesinya. Meski ia tak mungkin bisa menjadi Jack Sparrow, tapi ia yakin jika ia bisa bergaya seperti Jack Sparrow. Ya, kini ia terobsesi untuk bergaya seperti seorang perompak.

 

Sebenarnya hari ini si cowok berencana untuk Shalat Jum’at di Istiqlal, dan kemudian pergi ke Gereja Katedral Jakarta untuk melihat Prosesi Jum’at Agung. Ya, mengikuti rentetan prosesi Esther Egg. Kamis Putih, Jum’at Agung, dan Minggu Paskah. Kebetulan letak Gereja Katedral berhadapan dengan Masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Namun obsesi bajak laut telah membutakan si cowok hingga ia mengurungkan rencananya itu.

 

Setelah Shalat Jum’at, setelah makan siang, dan setelah memastikan bahwa slayer penutup kepala dan kalung rantainya telah masuk dalam tas, si cowok pergi menuju terminal. Ia segera ingin mewujudkan obsesinya. Bergaya layaknya seorang jack Sparrow. Ia akan pergi ke Pelabuhan Merak, karena ia tahu disanalah ia bisa mewujudkan obsesinya gilanya. Berdiri di atas kapal dengan penutup kepala dan kalung rantai tergantung di leher. Ia berharap bisa sampai di Pelabuhan Merak sebelum matahari terbenam, karena ia berfikir jika pantulan cahaya sunset akan lebih menyempurnakan gayanya. dan estimasi empat jam dirasanya cukup membuatnya sampai di Pelabuhan Merak tepat waktu.

Namun kini ia harus menghadapi kenyataan pahit. Anarkisme menghalangi obsesinya. tawuran antar suporter PERSITA Tangerang membuat jalanan macet total. Bahkan ketika Adzan Magrib berkumandang, ia masih berada di dalam kotak beroda. Itu artinya, ia harus melupakan sunset yang sangat diharapkannya. Ia tiba di Pelabuhan ketika telah memasuki waktu Isya’.

 

Si cowok tak patah arang, Semangatnya menggebu-gebu. Semangat pohon pepaya. Dibunuh, tumbuh. Ditebang, menjulang,  Dibelah, merekah. Ia sudah terlanjur di pelabuhan. Jikalau dia tak bisa bertemu dengan sunset, bukankah besok masih ada sunrise??? Bukankah matahari itu tak pernah ingkar??? Mungkinkah mentari terlambat bersinar???

 

Akhirnya si cowok memutuskan untuk bermalam di sana. Ia akan melanjutkan petualangannya esok pagi. Ia mencari tempat untuk beristirahat. Ditemukannya sebuah mushola kecil di samping dermaga, dan berfikir bahwa disanalah ia akan menghabiskan malam.

Pelabuhan memang bukanlah tempat yang tepat untyuk beristirahat. Keberadaan si cowok membuat para nyamuk berpesta pora. Namun, nyamuk yang paling jahat datang ketika si cowok baru saja sejenak memejamkan mata. Nyamuk itu berkumis tebal. Tergantung sebuah tongkat di pinggangnya. Nyamuk itu tak terbang, tapi ia berjalan seperti sedang memamerkan pantofel barunya. Ya, seorang petugas menghampiri dan membangunkannya.

 

Petugas : Hei Bang,,, Kalo kau tidur jangan disini. Apa kau tak bisa baca itu tulisan??? *berlogat Batak

Cowok : Maaf Pak!!! Saya kemalaman.

Petugas : Apapun itu, kau tak boleh tidur disini!!!!

Cowok : Pak, saya mohon ijinkan saya tidur disini. Orang batak memang terlihat keras di luar, namun saya tahu sebenarnya hatinya baik. Kita sama-sama orang Batak Pak… *membaca tulisan di seragam petugas -B. Pasaribo-

Petugas : Bukanya begituu… Sudah jadi aturan ini. Disini aku yang bertanggung jawab. Sekarang pergilah!!! Tidurlah di tempat lain….!!!

Cowok : Baiklah… baiklah… *mengambil tas ranselnya

Petugas : Begini saja, kau boleh tidur di sini, tapi kau beri aku uang rokok.   *berbisik lirih

Cowok : Ah, terima kasih… Biar aku pergi saja *memakai sepatu sendalnya

 

Si cowok memutuskan untuk pergi daripada harus ber-kolusi dengan petugas. Ia tak ingin memberatkan tugas seorang Busyro Muqodas dalam memberantas KKN. Meski telah mengaku-aku sebagai orang Batak, itu tak lantas bisa  menghancurkan batu matrealisme. Materialisme yang dipengaruhi oleh matrilineal. Dia bukanlah  nyamuk penghisap darah, melainkan nyamuk peminum darah. Sial!!!!

 

Akhirnya si cowok pergi meninggalkan pelabuhan. Ia dapati sebuah warung kopi di depan pelabuhan. Ia pun menuju kesana. Beberapa orang terlihat asyik melihat siaran bola dan beberapa lagi sedang serius bermain catur. Ya, dimana ada papan catur, disitu tak pernah ada mata yang terpejam. Si cowok menghabiskan malam itu dengan bermain catur. Ternyata, jika kau ingin  menjadi perompak yang hebat dan tangguh, dua hal pertama yang harus  kau hindari adalah supporter bola dan petugas pelabuhan.

 

Adzan bergema, papan catur tertutup, dan pintu mushola terbuka. Seusai subuh, si cowok kembali ke pelabuhan untuk menyelesaikan misinya, meskipun ia muak dengan tempat itu. Tempat yang didalamnya terdapat nyamuk peminum darah. Ia mengamati antrian kendaraan yang akan menyebrang ke Bakauheni. Matanya tertuju pada sebuah bus. Di body bus itu terdapat gambar singa bersayap dan tulisan “ALS”. Ia terus mengamatinya. Air Lines of Singapore. Ah, bukan!!! Itu bukanlah bus bandara. Angkutan Lintas Sumatra lebih tepatnya.

 

Si cowok tersenyum. Sebenarnya ia ingin segera menyebrang, namun ia tak ingin bersinggungan lagi dengan petugas pelabuhan. Pikiranya telah dibuat underestimate oleh seorang petugas. Dan kini ia telah menemukan solusinya. Ia menghampiri Bus itu dan mengetuk pintunya. Keluar seorang pemuda dekil, matanya merah seperti Edward Cullen dalam film Twilight. Si cowok yakin jika dia adalah seorang kenek bus. Ah, siapun dia yang  jelas orang itu dirasa bisa membantunya untuk mengelabuhi petugas pelabuhan.

 

Kenek : Ada apa??? *membuka pintu

Cowok : Numpang nyebrang berapa duit, Bang…??? *menggaruk kepala

Kenek : Memang situ mau kemana???

Cowok : Mau ke Rajabasa, Bang…

Kenek : Gimana yaa… Bus-nya penuh!!!!

Cowok : Berdiri juga gag papa, Bang…

Kenek : Ya sudah,,, situ kasih sebungkus filter buat sopirnya.

Cowok : Siippp… *tersenyum sembari mengacungkan jempolnya

#membeli rokok#

 

Cowok : Masih lama Bang berangkatnya???

Kenek : Sebentar lagi juga berangkat. Sudah, kamu masuk saja!!!

Cowok : Makasi ya, Bang… *menyerahkan sebungkus rokok

 

Si cowok masuk ke dalam bus. Ia berdiri di samping sopir. Perasaannya bergulat. Hatinya merasa bersalah pada seseorang. Lubuk hatinya pun berbisik lirih “Maafkan aku Bang Busyro… Ini terpaksa aku lakukan. Tapi percayalah, kong-kalikong ini bukanlah karena materi, ini hanya masalah hati”.

Tak beberapa lama, bus itu pun mulai memasuki dermaga. Ketika hendak masuk ke dalam kapal, insiden kecil terjadi.

“Jancok…!!!”, teriak sang sopir.

Bis yang dikemudikannya hampir saja menabrak pembatas dermaga. Sang sopir kurang bisa mengharmoniskan rem dan gas-nya. Semua penumpang ikut berteriak ketakutan. Namun tidak untuk si cowok. Ia tersenyum pahit. Ia telah menemukan komunitasnya di dalam Angkutan Lintas Sumatra.

 

Kapal telah meninggalkan dermaga Pelabuhan Merak. Itu berarti keinginan si cowok akan segera terwujud. Bergaya perompak!!! Ia melompat keluar dari Bus dan menuju buritan kapal. Ia duduk di atas sekoci. Ketika hendak memakai slayer penutup kepala dan berdandan layakanya bajak laut, tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh besar mendatanginya. Ia masukkan lagi penutup kepala itu ke dalam tasnya. Laki-laki tadi ikut duduk di atas sekoci, namun ia tak acuh. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu. Ia tak berkata sepatah katapun. Matanya melihat jauh ke arah Anak Krakatau. Si cowok mengenalinya, karena laki-laki itu adalah sopir bus yang ditumpanginya. Si cowok bermaksud mengajaknya bicara.

 

Cowok : Rokok Pak!!! *menyodorkan rokoknya

Sopir : Makasih, aku sudah ada.   *mengeluarkan rokok dari saku bajunya. Si cowok merasa tak asing dengan rokok itu

Cowok : Njenengan Jawa Timur’e pundi, Pak???

Sopir : Aku Suroboyo, Mas… daerah Waru. *berlogat suroboyoan

Cowok : Bukan’e Waru iku mlebu Sidoarjo yo Pak???

Sopir : Iyo,,, Melu Sidoarjo. Tapi lak wong kene kan ngertine Suroboyo. Lha sampean kok ngerti lak aku wong Jowo???

Cowok : Wong Suroboyo, trus wong Malang iku na ngendi wae “jancok’e” ora tau keri.

Sopir : *tersenyum* Iyo,, wis dadi ciri khas’e seh  Mas…

Cowok : Ket mau tak sawang-sawang njenengan koyok wong muuikirr ngunu. Sampek-sampek pembatas dermaga arep di tabrak.

Sopir : Iyo Mas,, Mang bengi bojoku telpon, anakku sing na kampung saiki mlebu rumah sakit. Kondhone seh  loro gejala thypus ngunu… Jenenge wong tuwo kan yo tetep mikir kan Mas… Wong aku kerjo rekoso koyok ngene ki ujung-ujung’e yo digawe anak. Direwangi ora awan ora bengi mlilik’i aspal.

 

Cowok : Yo di dungakne ae lah Pak.. Lak posisine koyok sampean ki kan yo gak mungkin to iso mulih??? Kecuali lak Bis’e ki nggene mbah’e dewe ngunu, arep mulih sak wayah-wayah kie iso…

Sopir : Aku ki mikir’e yo ngono, Mas… Tapi lak koyok aku  iki sing Kuoso opo yo gelem ngabulne dungoku??? Wong salat ae ora tau.

Cowok : Lha ngerti ngunu nyapo sampean kok ra salat???

Sopir : Loohh… Lha arep salat model piye to Mas, wong uripku iki bendino na ndalan. Sido di amuk penumpang aku…

Cowok : Tapi opo salah’e wong ndungo, Pak… Wong awak’e dewe ki yo ora ngerti teko cangkem’e sopo Gusti Alloh ki ngabulne dungo. Y wis mugo-mugo anak’e sampean ndang cepet waras.

 

Mereka hanyut dalam pembicaraan hangat. Lebih hangat dari percakapan antara Jack Dowsan dan Rose Dewwit Buketter dalam kapal Titanic meski mereka hanya berada di sebuah kapal ferry rongsok. Primordial suku telah menyatukan mereka mesti sebelumnya tak saling kenal. Si cowok terlupa dengan obsesinya, sang sopir pun terlupa dengan kesedihannya. Hampir dua jam sudah mereka bersama. Sunrise telah dinikmatinya. Deruman klakson kapal terdengar silih berganti. Mereka telah tiba di Bakauheni. Si cowok mengurungkan niatnya ke Rajabasa. Ia terpesona oleh keindahan pesisir laut Lampung. Sangatlah kontras dengan pemandangan yang setiap hari dilihatnya. Pemandangan hiruk pikuk Megapolitan. Mereka berpisah di Bakauheni. Sebuah jabatan tangan mengakhiri pertemuan mereka.

Si cowok duduk ditepi dermaga sembari menikmati rokoknya. Menghadap kearah Anak Krakatau yang berada jauh di tengah lautan. Ia memikirkan keluhan sopir yang baru saja ditemuinya. Sesuatu yang selama ini belum pernah terpikirkan olehnya. Ya, tentang bagaimana agama mengatur peribadatan seorang sopir antar pulau??? Meringkas dan menggabung shalat adalah dispensasi bagi mereka yang sedang dalam perjalanan. Namun, apakah dispensasi ini berlaku setiap hari??? Bukankah profesi itu mengharuskannya berada di belakang kemudi setiap hari??? Mungkinkah mereka berhenti sedang waktu terus mengejarnya??? Sebuah tanda tanya besar kini bersarang di hati sang cowok. Lebih besar dari ‘tanda tanya’ Hanung Bramantyo.

 

*********************************

Selamat menempuh hidup baru, saudaraku…

Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah.

 

The eyes are fighting me

They wanna close

I want them to stay open

And… SIGH!!!

Okay, they are winning

The eyes are close.

 

Met malem kawan, met berakhir pekan.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

Have a nice weekend!!! ^_^

 

Bakauheni, South Lampung

Lampung, April 23rd, 2011

Safii_anang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s