Belajar dari kegilaan

Standard

Beberapa hari yang lalu, aku menghadiri majelis dzikir dan pengajian. Sebenarnya aku kurang begitu mengerti dengan tujuan dan hakikat acara tersebut diadakan. Yang jelas, aku tertarik dengan salah satu prosesi acaranya. Khotmil Quran. Entah mengapa jika ada ayat-ayat Tuhanku di senandungkan, perasaanku begitu berbeda sehingga menarikku untuk pergi mendatanginya.

30 Juz telah dibacakan dengan sempurna. Khatmil Quran telah selesei. Acara akan segera dilanjutkan dengan acara inti. Yakni pengajian umum oleh Kiai yang aku tidak tahu namanya. Katanya, beliau ini berasal dari Jawa Tengah. Entah dimana tepatnya, aku tak peduli. Itu tidak ada kaitanya denganku.

Pergantian acara diisi denga Coffe Break, ramah tamah dan saresehan. Menikmati rengginang dan krupuk gadung yang memang sudah dibagi-bagikan oleh panitia sembari menunggu kedatangan Pak Kiai yang akan mengisi ceramah.

Para hadirin yang jumlahnya lebih dari tiga ratus orang itu semakin ramai dengan topik pembicaraannya masing-masing. Sawah, cuaca, tomcat, sampai hujatan pada pemerintah yang dirasanya gagal menciptakan stabilitas ekonomi. Menurutnya, prestasi pemerintah saat ini antara lain hanyalah menambah jumlah pengangguran, menugasi sarjana menjadi satpam atau menyiksa ratusan ribu pencari kerja dengan menyuruh mereka membeli map dan amplop cokelat serta kertas lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Mungkin saja itu merupakan sebuah kebenaran atau mungkin juga itu hanyalah sebuah alibi bagi mereka. Entah.

Ditengah hiruk pikuknya obrolan ngalor-ngidul para hadirin jamaah pengajian, mataku menangkap keceriaan seorang anak gadis yang terus menerus tertawa gembira. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin karena ia melihat keramaian yang jarang ia lihat sebelumnya. Gadis itu manis walaupun rambutnya berantakan. Hidungnya mancung meskipun wajahnya tak terurus. Tubuhnya seksi, namun kain yang membalutnya begitu compang-camping. Duduk khidmad dibawah pohon jambu klutuk sembari membalas ejekan anak-anak kecil dengan senyum khasnya. Tak ada kesal dan tak ada marah. Penuh ceria dan bahagia.

Sebagai pengagum sebuah senyum dan ingin lebih bersyukur pada Tuhanku yang telah memberiku nikmat kesehatan rohani dan jasmani, akupun menghampiri gadis itu. Memberikan sebungkus rengginang dan krupuk gadung jatahku kepadanya, dan berharap itu mampu mengingatkannya pada sesuatu yang telah membuatnya menjadi gila. Ekspresinya datar. Mungkin ia merasa sedang didatangi teman sejawat dan senasib. Mungkin.

Aku kembali ketempat dudukku karena rombongan Pak Kiai yang dinanti telah tiba. Ratusan hadirin berdiri untuk menghormati kedatangannya. Begitu pula denganku. Seseorang berjenggot enam senti dengan sorban dipundaknya berjalan menuju mimbar dengan kawalan ketat para Santri. Persis seperti SBY yang hendak pidato di depan rakyat Ambon.Beberapa orang berebut bersalaman dengannya. Berbondong-bondong saling mendorong. Aku tidak mengerti dengan tradisi semacam ini. Mengapa bisa terjadi manusia mengkultuskan manusia??? Apakah karena ia adalah seorang “warishatul ambiya”??? Mungkinkah dia adalah pewaris nabi??? Tapi apakah nabi telah memberikan tanda tangan yang mengesahkan ia menjadi ahli warisnya??? Entah… Yang jelas, aku yakin kebanyakan dari mereka sama sepertiku yang juga belum mengenal sosok bersorban itu. Tapi, mengapa mereka begitu antusias??? Apakah dengan bersalaman dan mencium tangannya maka dosa-dosa mereka akan diampuni??? Kalaupun benar ada klausul yang menyatakan bahwa mencium tangan manusia mampu menghapus dosa, maka aku akan mencium tangan orang yang duduk disebelahku saat itu. Karena ia lebih berhak atas hidungku untuk menempel di punggung tangannya daripada Kiai berjenggot enam senti itu. Buakankah demikian idealnya??? Orang kita kan sama-sama manusia.

Kemudian, kita memasuki inti dari tulisanku kali ini.

Mungkin karena melihat orang banyak berbondong-bondong memeperebutkan tangan Pak Kiai, gadis yang sejak tadi duduk tenang di bawah pohon jambu klutuk itupun ikut berlari mencoba peruntungan untuk bisa sekedar bersalaman atau bahkan mencium tangan Pak Kiai. Namun na’as, Santri yang menjadi pasukan pengaman Pak Kiai segera menarik gadis itu supaya tangan Pak Kiai tak tersentuh olehnya. Gadis itu melawan, namun tetep saja ia wanita. Tak mampu mengimbangi kekuatan emapat orang Santri. Ironisnya, Pak Kiai sama sekali tak menggubris dan tak  merespon kejadian itu yang jelas-jelas terjadi di depan matanya. Seolah ia bangga dengan kesigapan para Santrinya.

“Biadab!!!”, bisikku dalam hati.

Aku hanya mampu mengutuk dalam hati dan tak mampu berbuat apa-apa. Aku tahu jika aku berusrusan dengan Santri  itu, berarti aku juga akan berurusan dengan Pak Kiai. Dan berurusan dengan Pak Kiai, itu sama halnya berurusan dengan ratusan jamaah yang hadir memenuhi majelis itu. Lagi pula aku tak ingin ditertawakan hanya karena membela seorang gadis gila. FUCK!!!

Ya, ini adalah sebuah ketidak-adilan sosial. Ini pelanggaran sila ke-lima. Bagaimana tidak, mereka melarang gadis itu bersalaman dengan Pak Kiai sementara membiarkan yang lainnya. Apalagi kalau bukan ketidak adilan namanya??? Aku yakin, seandainya  mereka hidup di jaman Orde Baru, mereka pasti sudah ditangkap oleh antek Soeharto karena telah melanggar daulat Pancasila dan pasti mereka juga akan dikeluarkan dari keanggotaan Klompencapir.

Aku mulai enggan untuk melanjutkan mengikuti majelis itu. Ini benar-benar tidak adil. Apa karena wanita ini gila sehingga tak pantas menyentuh tangannya??? Sedangkan tangan itu hanya boleh disentuh oleh orang-orang suci??? Apakah rombongan Pak Kiai ini merasa yakin akan masuk surga dan gadis gila pasti masuk neraka sehingga tak punya kehormatan setitikpun untuk diterima uluran tangannya??? Sedangkan gadis ini sejak entah berapa tahun yang lalu telah selamat hidupnya karena segala perbuatannya akan tidak dikalkulasi oleh Allah berkat kegilaannya, sementara rombongan Pak Kiai ini masih menampakkan kakinya dijalan licin penuh lumpur dosa-dosa??? Ataukah mereka jijik bila tangannya yang bersih dan wangi harus bersentuhan dengan tangan kumuh nan kotor si gila???

Oohhh… Aku tahu. Mungkin mereka keberatan bersalaman karena gadis gila itu bukanlah muhrimnya. Tapi, lebih berat manakah takaran antara pahala tidak menyentuh tangan wanita dibanding dosa tidak memelihara bebrayan sosial??? Apakah gadis gila ini bagi mereka masih dianggap seorang wanita??? Tinggi benar naluri seks-nya.

Aku memutuskan meninggalkan majelis sebelum acara dimulai. Aku tidak lagi yakin bahwa  majelis itu akan mendapatkan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Memberi Berkah.

Jika kita membuat sebuah kesalahan, hal mutlak yang harus dilakukan adalah meminta maaf. Meminta maaf kepada diri sendiri bisa ditempuh dengan penginsyafan hati dan pembenahan cara berfikir. Memohon ampun kepada Allah bisa dijalankan dengan cara bersujud, shalat sebanyak-banyaknya, kalau perlu puasa dan menyampaikan qurban sebagai upaya penebusan dosa atau pembersihan diri. Tetapi bagaimana caranya meminta maaf kepada seseorang yang dirahmati oleh Allah dengan kegilaan??? Wallahua’lam…

Teringat kata-kata terakhir nabi ketika sakaratul maut:

Ummati.. Ummati… Ummati… Uusyikum bis sholati wamaa malakat aimanukum!!! (Umatku… Umatku… Umatku… Peliharalah shalatmu dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu)

Aku berlindung kepada Allah dari sifat “jumawa” pada sesama.

 

Semoga bermanfaat.

Fastabiqul Khairat

 

Nganjuk, April 13, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s