Gerakan Anti Ndas Kotak (GANK)

Standard

Kanggo koncoku nyolong garbis

Kanggo koncoku adus kali

Kanggo koncoku golek welut

kanggo koncoku angon wedus

Kanggo koncoku ngaji

 

Untuk sahabatku : Yoga Haryuna Al-Hafidz

Semoga bermanfaat!!!

 

 

Dua belas tahun yang lalu,  ketika menikmati segarnya buah semangka curian, kau menceritakan padaku  tentang kambing bengalmu yang bernama “Simone”. Kau juga memamerkan kostum bola yang baru saja dibelikan oleh ibumu. Kostum bergambar ‘elang ibukota’ dan bertuliskan nama ‘crespo’. Karena tak mau kalah, akupun memamerkan topi prestisiusku yang bertuliskan “Tersayang”. Topi yang mampu menaklukkan hati seorang Jihan Fahira. Ya karena saat itu Primus Yustisio sedang gencar-gencarnya merayu Jihan Fahira dalam sinetron “Tersayang”-nya.

 

Namun kemarin kau menelponku. Bukanlah kambing ataupun kaos bola lagi yang kau ceritakan. Tapi kau menceritakan tentang hatimu. Tentang usahamu menyiram bunga hingga ia menjadi mekar. Namun ketika bunga itu telah mekar dengan indahnya dan siap untuk kau petik, kambing berkepala kotak yang tak tahu diri itu merusaknya. Aku tahu itu adalah keadaan yang sulit. Ketapelmu tak akan pernah menang melawan senapan AK-47 miliknya. Jangan kau pernah berfikir akan menjadi seorang mujahid dengan hanya bersenjatakan ketapel. Kalaupun mati, itu mati konyol kawan…

Namun ketapelmu akan menjelma menjadi sebuah rudal jika kau sandingkan dengan do’a. Dan kini Tuhan telah mendengar do’amu. Ketapelmu mengalahkan senapannya. Tuhan telah menunjukkan kuasannya. Kambing tak tahu diri itu telah kembali ke wujud aslinya. Ya, ‘becik ketitik, olo ndas kotak’

 

Namun kau bilang, Tuhan sedang mengujimu kembali. Kini kau harus membuatkan ranjang untuk pengantinmu sendiri. Sungguh sulit kawan!!! Itu benar-benar sulit.

Sesaat setelah kau menutup telponmu, aku terpaku dan terdiam. Aku mencoba memposisikan diriku sebagai dirimu. Namun apa??? Aku tak kuasa kawan,,, Membayangkanpun aku tak sanggup, apalagi menjalaninya…!!!

 

Setelah sesaat aku berfikir, ternyata kita mempunyai satu masalah yang sama. Ya, bermasalah dengan kasta. Meski kita tahu bahwa kita mampu, tapi bagi kita percaya diri itu harus, namun tahu diri adalah wajib.

 

Kawan,,,

Cinta memang tak pernah meminta untuk menanti.

Jika dia mengambil, itulah keberanian.

Dan jika dia mempersilakan, maka itulah pengorbanan.

 

Pilihanmu sudah tepat. Kau telah memilih pilihan kedua. Karena di kasta kita, tak pernah mengenal pilihan pertama. yang kita tahu hanyalah berkorban dan pengorbanan. Aku yakin itu hanyalah ujian dari-Nya dan bersabarlah. Aku sangat yakin jika kamu mampu melewati ini semua, kau kan mendapat yang lebih baik. Bukankah sebelum kita naik kelas kita harus menjalani UAS terlebih dahulu???

You must endure the caterpilar if you want to see buterflies.

 

Jika aku menulis kisah hatimu, mungkin aku akan mengalahkan seorang William Shakspears. Karena kisah cintamu ini lebih indah dari Romeo dan Juliet. Namun tidak kawan, biarkan kita saja yang menikmati kisah ini. Biarkan itu menjadi cerita anak cucu kita kelak.

 

Tetaplah pada keyakinan kita bahwa kita tidak akan lahir dan mati di kasta yang sama.

Keep fighting kawan… Fastabiqul Khairat!!!

 

Pancen ora ono ceritane ‘kopyah’ketemu ‘caping’. Kopyah bakali ketemu kopyah.

Tapi bukan berarti kita selamanya memakai ‘caping’ kan???

 

Note: Lak ‘ndas kotak’ mbalik ngrusuhi maneh, lahir batin, bondho nyowo, ndunyo akherot aku siap ngewangi. Mulai detik iki, aku menyatakan perang (lagi) melawan ‘ndas kotak’.SAH

 

 

Aston Hotel, Ketapang

Pontianak, Juli 10th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s