JOMBLO

Standard

JOMBLO

(Hemat di pulsa, Boros di galau)

 

Pertamanya, aku cuma iseng untuk melihat marital status di profile fesbuk beberapa teman. Hasilnya memang bervariasi, namun sebagian besar didominasi oleh status yang bertuliskan sebagai in a relationship. Terang saja status itu langsung mengintimidasiku, karena memang saat ini aku sedang tidak berstatus berstatus seperti kebanyakan mereka.

 

Entah apa namanya, mungkin sebuah lamunan. Sesaat aku terdiam dan beberapa saat aku telah kembali ke sebuah peristiwa tujuh bulan yang lalu. Ah bukan, tepatnya peristiwa tujuh bulan, tiga belas hari yang lalu. Aku sangat mengingat tanggal itu. Ya, peristiwa wisuda yang telah memberiku gelar “jomblo”.

 

Loohhh… Kok jadi curhat??? Ah tak apalah, ini yang disebut berbagi pengalaman. Berbagi pengalaman berarti berbagi ilmu, dan berbagi ilmu itu berarti pahala. Bukankah pahala itu berakhir di surga???

 

Sebenarnya, dulu aku pernah mempunyai status seperti yang dimiliki kebanyakan temanku di fesbuk itu (baca: in a relationship). Namun karena sesuatu, maka aku harus menanggalkannya. Memang, ketika itu, aku sedang tidak terlalu membutuhkan status itu. Maka ketika seseorang bertanya padaku tentang apa yang aku sukai darinya, dengan spontan akupun menjawab “Tidak ada sama sekali yang aku sukai darimu. Bahkan aku tidak pernah membutuhkanmu. Aku hanya berfikir, anak-anakkulah yang kelak membutuhkan sosok sepertimu”, dan dengan spontan pula ia langsung memalingkan mukanya dan kemudian pergi meninggalkanku. Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya, karena sejak saat itu aku tak pernah lagi berjumpa dengannya. Dan aku memang sengaja tak mencarinya. Ya, itulah yang aku sebut sebagai prosesi wisuda yang telah memberiku gelar “jomblo”. From in a relationship to be single.

 

Entah darimana aku selalu berfikir tentang untung dan rugi. Tentang sebuah manfaat ataupun mudharat. Dulunya, aku menyangka dengan mempunyai status in a relationship, hidupku akan lebih bersemangat. Akan ada seseorang yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk berbagi sehingga aku akan merasa lebih tenang. Akan ada seseorang yang memperhatikan dan aku perhatikan. Namun jika dipikir-pikir, aku bukanlah orang yang sedang kekurangan perhatian. Mungkin itu hanya sebuah mode. Mode yang mengatasnamakan perhatian sebagai alibi.

 

Awalnya memang benar, aku menjadi lebih bersemangat. Namun setelah menjalaninya, ternyata semua tidak seperti yang aku bayangkan. Setelah aku hitung-hitung, dalam “in a relationship”, ternyata lebih banyak kerugian dibandingkan dengan keuntungannya meskipun banyak orang tidak mengetahuinya. Karena keuntungan yang ditimbulkan lebih bersifat total dan kompleks sedang kerugiannya bersifat komulatif. Maksudnya, orang yang sedang berpacaran akan medapatkan kesenangan dari proses berpacarannya itu dengan jumlah yang besar namun dengan intensitas yang minim dan akan mendaptkan ketidak tenangan dalam jumlah kecil namun dengan intensitas yang sering dan berkelanjutan. Sebut saja, orang yang berpacaran akan lebih mudah tersenyum-senyum sendiri hanya dengan sebuah SMS. Akan lebih mudah merasa puas hanya dengan sebuah sanjungan (baca: keuntungan) . Itu tidak sebanding dengan ketidak tenangan hatinya karena kekhawatiran akan kehilangan, pertengkaran yang tidak jelas, kecemburuan yang membabi ngepet (buta) yang tidak pernah dihitung oleh mereka yang menyandang status in a relationship. Meraka akan berfokus pada kesenangan yang ia dapatkan dengan mengabaikan ketidak tenangan hatinya. Ini semua gara-gara Agnes Monica!!! Karena kalo sudah cinta, kadang-kadang memang tak ada logika. Ya, orang yang berpacaran jarang sekali menggunakan logikanya untuk menghitung untung dan ruginya. Inilah yang sebagian orang belum menyadarinya sehingga mereka tidak mengerti.

 

 

Jomblo itu bebas.

 

Bebas dari kekhawatiran akan kehilangan. Ya, ketika kita jomblo, itu artinya masa aktif kita untuk merasa memilikinya telah habis. Dan ketika kita sudah merasa tak memiliki, apakah kita masih pantas untuk khawatir akan kehilangannya??? Dan tahukah kamu jika ketenangan itu adalah hilangnya rasa khawatir dalam diri kita???

 

Bebas dari pasangan yang (sok) proteksionis. Inilah yang disebut sebagai penjajahan yang terselubung. Perampasan kebebasan secara sembunyi-sembunyi. Penjajahan yang berdalih perhatian.

 

Bebas dari luka. Orang yang berpacaran hanya ingin mencintai dan dicintai. Namun mana yang harus didahulukan??? Mencintai atau dicintai??? Beberapa orang mencintai dan berharap dicintai, beberapa lainya hanya akan mencintai jika ia dicintai terlebih dahulu. Ada persamaan hasil antara kedua hal tesebut. Luka!!! Mencintai seperti menggenggam seekor burung. Jika kita menggenggam terlalu erat, ia akan mati. Namun jika kita menggenggamnya terlalu longgar, dia akan pergi. Bila kita melakukan salah satu dari kedua hal tersebut, tetap hasilnya adalah luka. Di hatimu, atau hatinya.

 

Sebenarnya aku kurang setuju, kenapa harus memakai istilah jomblo??? Kalau boleh dipakai, pakai aja istilah :

– tidak laku

– sedang ingin sendiri

– tidak butuh cowok

– tidak butuh cewek

– trauma pacaran

– lagi nunggu dia

– tidak mau dia

– belum berfikir untuk punya pasangan atau

– merasa lemah dan tak mampu membuat dia terpikat.

 

Aku hanya ingin meletakkan “kesendirian” pada titik yang jujur dan faktual serta se-obyektif mungkin. Karena menurutku, jomblo bukanlah takdir, tapi jomblo adalah PILIHAN.Ya, memang lebih baik berprestasi sebagai jomblo, daripada harus berprestasi dengan menyakiti dan melukai.

 

Semoga Bermanfaat

Fastabiqul Khairat

 

Pontianak, West Borneo

Pebruary, 19th 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s