LoL

Standard

LoL…???

Emang ada yang lucu???

Ah bukan,, Ini bukan Laugh out Loud…

Tapi,,, Ini adalah Letter of Love..

Ya, ini adalah “Surat Cinta”….!!!

 

Kawan, mengatakan yang sebenarnya memang jauh lebih baik dalam banyak situasi. Meski jujur itupun  membutuhkan sebuah keberanian. Berani malu, berani dicaci, dan berbagai konsekuensi yang tak enak lainnya. Terlebih, kejujuran terhadap diri sendiri.

 

Perasaan manusia itu unik dan rumit. Yang tak pernah menjadi nyata jika tidak dinyatakan. Ya, kenyataan perasaan!!! Begitulah Krispatih menyebutnya.

 

Tepat satu bulan yang lalu, aku menderita suatu penyakit absurd yang bernama “galau”. Penyakit ini berkorelasi erat dengan apa yang telah disebutkan oleh Krispatih itu. Karena penyakit ini timbul akibat perasaan yang tak pernah dinyatakan. Aku pun mencari obatnya. Aku mencoba membaca hati, memprediksi isinya, dan memperkirakan kandungannya untuk sebuah kesimpulan. Ya, membuat hipotesa tentang sebuah hati dan meyakininya. Kemudian menyusun strategi, lantas berusaha sekuat tenaga. Maka, itulah pemecah kegalauan!!!

 

Setelah berfikir panjang,, akupun menulis surat untuk menyatakan sebuah perasaan. Tentang sebuah kejujuran hati. Meski ragu, tapi aku tahu bahwasanya mengatakan yang sebenarnya memang jauh lebih baik dalam banyak situasi. Tak ada salahnya jika mencoba. Bukankah “try to get better than try to bye”????

 

Berikut ini adalah cuplikan surat yang aku sadur dari tulisanku yang bertajuk “I’m Not Playboy, But I’m Player. My Life Not For Love, But My Love For My Life” :

 

*************************

AKU MAMPU, TAPI AKU TAHU

(Think, Dare, Love, True, Charm, Share, Live, Trust, Care, And Laught)

 

Sebenarnya aku tak punya tangan yang cukup kuat untuk menulis tulisan ini, kerena butuh tangan yang benar-benar kuat untuk menuliskannya. Namun, serpihan hati ini telah memaksanya untuk menjadi kuat, meski butuh empat tahun lamanya untuk menyelesaikannya.

 

Perasaan manusia itu aneh. Lebih aneh dari magician, yang mampu menebak masa depan. Pertama kali melihat gadis itu, meski belum mengenal, aura kebencian langsung memancar dalam diriku. Kesombongan, kecongkakan, dan pengkhianatan terpancar jelas di wajahnya. Entah mengapa aku bisa mempunyai rasa seperti itu. Yang jelas, saat itu aku baru saja dikhianati oleh gadis yang mirip sekali dengannya. Gadis yang aku sangat mencintainya. Ah, betapa piciknya hati ini. Membenci seseorang karena sebuah kemiripan.

 

Seperti yang telah digariskan hukum alam, setelah saling mengenal, aura kebencian itu sedikit demi sedikit menjadi pudar. Aku mulai menyadari tentang kepicikan hatiku. Suatu saat, ketika aku memandangi gadis itu, mungkin karena kemiripan yang ada, timbul sebuah fikiran dalam hatiku bahwa kehadirannya memang sengaja untuk menggantikan gadis yang telah mengkhianatiku. Gadis yang telah membuatku menjadi gila.  Yang telah mengajarkan aku arti sebuah kekecewaan. Ia yang telah membuat otakku beku ketika ujian Matematika Bisnis, padahal 300% aku yakin mampu mengerjakaannya. Ya, The Power of Broken Heart. Efek destruktif dari sebuah situasi bernama patah hati itu menorehkan sejarah dalam KHS ku dengan nilai “D”.

 

Seiring berjalannya waktu, fikiran itu berubah menjadi sebuah keyakinan. Yakin bahwa kelak ia akan menjadi jodohku. Keyakinan yang terlihat sedikit gila. Namun, keyakinan itu tidaklah muncul dengan tiba-tiba. Dalam hidupku, aku hanya akan mengagumi tiga orang wanita. Wanita dengan wajah manis, yang memiliki senyum indah, dan yang mempunyai intelektualitas mengagumkan. Aku sering menyebutnya Triple Big Beauty. Bagiku, seperti itulah wanita yang mendekati sempurna, dan ketiga unsur itu telah aku dapati pada dirinya. Namun masalahnya, keyakinanku itu tidak diimbangi dengan sebuah rasa. Ya, aku sama sekali tidak mempunyai rasa padanya.

 

Aku mencoba memunculkan rasa itu. Aku terus menerus mengingat kelebihan dan kebaikannya untuk mengundang rasa itu menjadi ada. Mengingat senyum indahnya, memikirkan kecerdasannya, dan selalu membayangkan wajah manisnya. Hasilnya tak begitu mengecewakan. Bermula dari rasa kagum, rasa itu kini tumbuh menjadi benih cinta. Ya, aku mulai jatuh cinta padanya. Semakin hari senyum gadis itu tampak semakin indah olehku. Wajah manisnya juga semakin menawan. Namun sangat disayangkan, mengapa gadis secerdas dia tak berfikir untuk berhijab??? Alangkah sempurnanya kekagumanku andai ia melakukan hal itu.

 

Dan ternyata Tuhan mengerti apa yang aku fikirkan. Tak beberapa lama sepulang dari ibadah umroh, gadis itu menyempurnakan dirinya sebagai wanita dengan mengenakan hijab. Perasaanku tak tergambarkan. Rasa senangku tak terperikan. Benar-benar sebuah kekagumman yang sempurna.

 

Dari hari kehari, aku terus menjaga rasa itu. Hingga suatu saat, aku mulai khawatir dengan hatiku. Kekagumanku tak terbendung terlebih setelah tahu bahwa ia mendapatkan nilai perfect dalam suatu semester. Memang benar-benar sebuah kecerdasan yang luar biasa. Rasa kagummku semakin menggebu-gebu. Lebih menggebu dari orasi Soekarno.

 

Perasaan manusia itu benar-benar aneh. Rasa itu memang telah berhasil aku munculkan dalam diriku, namun sayangnya, keyakinanku sedikit demi sedikit mulai menghilang tergerus oleh kenyataan dan rasioanlisme. Ya, aku tak  mungkin mengungkapkan rasa itu padanya. Aku tahu konsekuensi apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. Bukan karena aku takut kecewa atau karena aku seorang pecundang, namun aku takut kehilangan sebuah persahabatan. Aku tak ingin kontrak sosial yang telah terbentuk itu hancur karena ego ku untuk memaksakan diri. Aku tak ingin kehilangan sahabat. Aku tak ingin ia menjaga jarak denganku. Aku tahu itu.

 

Memang sakit mencintai seseorang yang tak mencintaimu. Namun lebih sakit dari itu, ketika kamu mencintai seseorang dankamu tak pernah ada keberanian untuk mengatakannya. Ah, ini bukan masalah berani atau pun tak berani. Tapi ini adalah masalah persahabatan dan hati. Aku mengalami delematika yang luar biasa. Dilematika yang komposisinya terdiri dari rasa bingung dan bimbang. Terjadi peperangan hebat dalam diriku. Ego dan hati sama-sama ingin saling menghancurkan. Ketika aku mencoba bersekutu dengan  hati, dengan bersemangat ego berusaha menghadangnya. Dan ketika aku berusaha berkawan dengan ego, dengan serta merta hati mengerahkan seluruh kekuatannya. Aku berada di sebuah persimpangan. Tak tahu dengan siapa aku harus berteman.

 

Aku pun merenung dan terus merenung. Hingga suatu hari, secercah cahaya harapan datang. Aku menemukan cara memecahkan kebimbanganku. Aku harus mengembalikan semua permasalahan ke titik awal. Aku harus membawa semuanya kembali ke “zero point”. Ya, aku harus menghilangkan keyakinan dan rasa itu dalam diriku. Aku sedikit dibantu oleh keadaan, karena keyakinan itu telah menghilang dari dalam diriku dengan sendirinya. Hanya tinggal bagaimana caranya aku menghilangkan rasa yang ada. Aku terus menerus mengingat kekurangan dan kejelekannnya untuk menghilangkan rasa itu. Namun sayangnya, aku tak berhasil menemukan satupun kekurangan ataupun kejelekannya. Yang aku temukan hanyalah kelebihan dan kebaikannya. Benar-benar celaka dua belas!!! Aku tak berhasil dengan  usahaku. Karena itu, hati dan ego pun masih tetap bertempur. Saling serang dan saling melawan. Aku pun kembali merenung dan terus merenung. Setelah beberapa waktu, hasilnya pun tetap nihil. Aku tak menemukan cara lagi.

 

Aku tak lagi merenung dan terus merenung. Aku harus membagikan masalah ini kepada seseorang untuk menemukan solusinya. Ah, tidak… Aku tak ingin membagi indahnya dilematika ini pada siapapun. Aku ingin menikmatinya sendiri. Namun, jika benar seperti itu, darimana aku bisa menemukan solusi??? Dengan sedikit keterpaksaan, aku pun membagi masalahku pada temanku. Hasilnya tak begitu mengecewakan. Kami menemukan solusi baru. Yang lebih solutif tentunya. Ya, menghilangkan rasa dengan rasa. Aku harus memunculkan rasa baru untuk menghapus rasa yang lama. Dengan memanfaatkan kelebihanku sebagai seorang laki-laki, yang lebih berani berspekulasi dengan perasaan, yang tak pernah dimiliki oleh wanita, dengan waktu yang cukup singkat aku berhasil memunculkan sebuah rasa baru. Namun lagi-lagi sangat disayangkan, setelah beberapa waktu, rasa baru itu tak juga mampu menghapus rasa yang lama. Celaka dua puluh empat!!! Lagi-lagi aku tak berhasil dengan usahaku. Aku gagal meredam pertempuran dalam diriku. Aku pun kembali pada temanku dan melaporkan mengenai kegagalanku.

 

Dia hanya mampu mengangkat bahunya dan tertawa, serta sesekali menggelengkan kepala. Aku dapat memahami maksudnya. Itu artinya, ia telah menyerah kalah. Tak ada cara lagi yang bisa ia tawarkan. Tak tahu lagi tentang apa yang harus kami lakukan. Tak mengerti cara menghentikan sebuah pertempuran.

 

Kali ini aku terperangkap oleh rasa. Terbelenggu dalam sebuah dilema. Tak tahu lagi bagaimana cara melepaskannya, kecuali harus pergi jauh membawanya. Membawa pergi sebuah rasa yang aku tak pernah berani mengungkapkannya. Ya, aku harus segera pergi sebelum satu diantara dari mereka memenangi pertempuran itu. Aku harus berpacu dengan waktu. Aku pun mulai menyusun rencana. Membungkus rapi rasa itu, dan kemudian memasukkanya ke sebuah tempat yang sulit dijangkau oleh hati dan ego. Aku berusaha mempercepat masa studiku dan bermaksud segera pergi dari kota itu. Pergi dengan membawa sebuah rasa yang melahirkan dilematika. Dilematika untuk mempertahankan sebuah kata. PERSAHABATAN!!!! Kata yang sudah cukup membuatku bahagia.

 

Pada mulanya usahaku berjalan sesuai rencana. Aku berhasil mempercepat masa studiku, dan kini saatnya untuk segera pergi. Aku tak peduli entah apa yang akan terjadi pada rasa itu dikedepannya. Yang jelas, aku harus segera membawanya pergi dan berharap waktu yang akan menghempaskannya. Aku meninggalkan kota itu dengan rasa yang menyesak di dada. Tapi memang seperti itulah yang aku kehendaki. Satu-satunya cara untuk menjaga sebuah hati.

 

Perasaan manusia itu memang sangat aneh. Rasa kagumku tetaplah menggebu, meski aku telah meninggalkan subyek kekaguman itu. Waktu yang aku harapkan tak kunjung memberi jawaban. Beberapa kali aku mencoba kembali cara yang telah aku lakukan. Kembali memunculkan rasa untuk menghapus rasa. Namun hasilnya tetaplah sama. Rasaku padanya tak kunjung hilang. Celaka tiga puluh enam!!!! Perasaan macam apa ini??? Mengapa Tuhan menaruh perasaan seperti ini dalam diriku???  Ah, pasti ada kebaikan yang diselipkan oleh Tuhan melalui rasa ini. Aku berusaha mencarinya.

 

Aku kembali merenung dan terus merenung, hingga akhirnya  aku menemukannya. Aku berhasil melihat kebaikan itu. Ya, aku mencoba memvisualisasikan rasa itu menjadi sebuah gambar. Gambar gadis dengan Triple Big Beauty. Entah mengapa setiap melihat gambarnya, aku menjadi bersemangat. Aku fikir, ini gambar yang sangat aneh, yang mampu memacu hormon. Seperti sebuah dopping. Itulah point-nya!!! Rasa itu adalah cambuk untuk aku terus berlari. Rasa itu telah menjadi penyemangat dalam hidupku. Kemanapun aku pergi, aku terus membawa gambar itu. Ketika semangat hidupku terhempas bebas ke lembah jurang kemalasan, aku segera melihat gambar itu, dan serta merta semangat itu kembali membumbung tinggi ke langit produktivitas. Ah, ini adalah rasa yang aneh. Aku sangat menyukainya.

 

Pada akhirnya, aku tak tahu siapakah yang menjadi pemenang dalam pertempuran sengit itu. Yang jelas, aku sangat menikmatinya. Tak ada lagi dilema. Sesuatu yang aku pertahankanpun tetap terjaga. Ya, PERSAHABATAN!!! Memang tiada yang lebih indah daripada persahabatan. Menambah satu musuh akan mempersempit kehidupan kita. Seribu teman tetaplah kurang. Persahabatan ibarat sebijih benih yang ditanam, disiram, dan dijaga rapi agar mengalir melalui kekuatan akarnya. Tunas yang kian berputik subur. Membesar menumbuhkan pohon. Berkembang menyerata ranting. Merimbun huijau dedaunan yang tak terhitung, mewangi bunga-bunga penuh aroma keharuman, dan pada akhirnya menghasilkan buah ranum yang segar dan menyehatkan.

 

Thanks for my Triple Big Beauty. Penyemangat yang tak pernah merasa memberi semangat. Wanita yang menurut versiku adalah luar biasa. Satu-satunya wanita dalam hidupku yang aku tak pernah berani mengatakan rasa. Sampai saat aku menulis tulisan ini. Aku tak tahu entah mengapa. Yang jelas, meski sebenarnya AKU MAMPU, TAPI AKU TAHU.

 

 

Note:

Tulisan ini di tulis di hari special, untuk orang special,

di tempat special, oleh orang yang sama sekali tak special,

dengan memandangi sebuah gambar yang sangat aneh.

Happy Birthday my Triple Big Beauty….

Wish you nothing, but the best!!!! ^_^v

 

 

Jelai Hulu, Ketapang,

Pontianak, July 28th, 2011

Safii_Anang

 

************************************

 

Setelah mengirim surat ini, terbersit sedikit penyesalan dalam hati. Mengapa aku harus mengirimkannya??? Mengapa aku tidak mengirimkan ucapan selamat ulang tahun saja yang dengan begitu semua masalah selesai??? Bagaimana responnya nanti jika ia membaca suratku ini??? Apakah ia akan menjauh dariku seperti apa yang aku khawatirkan??? Akankah sebuah kata yang aku pertahankan selama empat tahun itu akan segera hilang??? Ribuan pertanyaan memenuhu otakku. Ratusan prediksi menyesaki hatiku. Ah, Sial!!!! Apakah aku akan bertekuk lutut pada sebuah penyesalan???? Akankah aku menyesali sebuah keputusan yang telah matang difikirkan??? Tidak akan, tidak akan, dan tidak akan. Apapun yang terjadi itulah keputusanku. Tak mungkin aku mengembalikan air laut ke hulu. Mustahil aku mengembalikan air susu ke payudara ibu. Semua sudah terjadi dan tak akan mungkin kembali. Hal terbaik yang bisa aku lakukan adalah menunggu. Menunggu sebuah respon dari seseorang yang mempunyai triple big beauty.

 

The worst of the world in the situation of no decision!!!! Yang terparah didunia ini adalah situasi tanpa keputusan. Dan lebih parah dari itu, jika kamu tidak direspon oleh seseorang yang kamu sangat mengaharapkan responnya. Apapun itu!!! Dua minggu sudah aku menunggu sebuah respon, namun juga tak kunjung ada. Hatiku risau, perasaanku galau. Mungkinkah apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi??? Mengapa dia tak merespon tentang suratku itu??? Mungkinkah seperti inikah cara dia merseponku??? Ya, merespon dengan tanpa memberi respon. My heart totally “galau’!!!

 

Dan pada akhirnya, tujuan akhir dari setiap apa yang dilakukan oleh manusia adalah ketentraman. Apapun itu!!! Teramat sia-sia kita melakukan sesuatu hal yang besar jika pada ujungnya tidak menghasilkan sebuah ketentraman hati. Terlalu percuma jika kita berusaha sekuat tenaga untuk menggapai sesuatu kalau akhirnya ketenangan hati tak kita dapat. Ah, tak ada gunanya aku bekerja siang malam kalaupun hatiku tetap galau. Namun apa yang bisa aku lakukan dengan kegalauan ini???

 

Aku berdo’a pada Tuhanku agar segera menghilangkan kegalauan ini. Karena hanya itulah hal terbaik yang mungkin bisa aku lakukan. Bahkan aku berjanji akan membelanjakan semua penghasilanku dibulan ini andai saja kegalauan itu hilang. Adalah sebuah ketenangan hati yang aku butuhkan saat ini.

 

Dan beberapa hari yang lalu, kegalauan itu benar-benar hilang. Tuhanku Maha Mendengar. Mendengar akan do’aku. I’ve been touched by an angel with short message service. Aku mendapatkan apa yang aku butuhkan. Dia menunjukkan dirinya bahwa ia pantas untuk menjadi Triple Big Beauty. Kegalauanku hilang. Apa yang aku khawatirkan ternyata tidak terjadi. Kata yang aku pertahankan selama empat tahun tetaplah utuh.  Dan ternyata, mengatakan yang sebenarnya memang jauh lebih baik dalam banyak situasi. Itulah poinnya!!! Rasa syukur tak henti-hentinya aku ucapkan.

 

Innalhamdalillah…

Segala puji bagi Tuhan yang memang sudah Terpuji sebelum dipuji oleh para pemuji.

 

 

Yah, dua hari lagi kita menuju hari kemenangan…

Semoga kita semua ikut memenanginya…

 

Minal Aidin Wal Faidzin..

Mohon Maaf lahir Batin!!!!

 

Tetaplah memberi inspirasi dan motivasi!

Fastabiqul Khairat!!!!

 

Wassalamu’alaikum

 

Riam Danau, Ketapang

Pontianak, August 28th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s