Mission Complete, Continue to The Next Stage

Standard

#Backsound

Rhoma Irama Feat Nur Halimah

 

Pertemuan yang kuimpikan kini jadi kenyataan

Pertemuan yang kudambakan ternyata bukan khayalan

Sakit karena perpisahan kini telah terobati

Kebahagiaan yang hilang kini kembali lagi

 

******************************************************

Hari ini si cowok akan berperan sebagai Mika’il. Di tangannya tergenggam beberapa lembar cek yang akan segera dicairkan dan kemudian akan didistribusikan ke beberapa nomor rekening. Ya hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh semua pekerja di tempat ia bekerja. Karena mereka akan segera menerima kompensasi dari hasil keringatnya selama sebulan. Ketika sedang merekap presensi kehadiran karyawan, telpon di atas mejanya berdering. Ia tahu jika itu adalah internal phone dari atasannya.

 

Cowok: Iya, Pak!!! *mengangkat telepon

Atasan: Tolong ke ruangan  saya sebentar!!!

Cowok : Iya, Pak!!!

 

Setelah menutup telepon, ia segera menuju ruangan atasannya itu.

 

Cowok: Ada apa, Pak??? *membetulkan posisi duduknya

Atasan : Begini, Mas…!!! Kemarin kita dapet telepon dari kantor pusat. Karena mau ada pemeriksaan dari orang pajak, pihak pabrik diminta perwakilannya untuk proses perapian pembukuan disana. Mungkin untuk sebulan kedepan, kamu akan diperbantukan disana.

Cowok : *terdiam

Ah, sial..!!! Akhirnya aku harus kembali menjadi Vampire *dalam hati

Atasan: Ya, saya harap kerjasamanya, Mas…

Cowok: Trus, bagaimana dengan tugas-tugas saya, Pak??? *mencari alasan

Atasan: Kamu backup semua data kamu, nanti kamu bisa mengerjakan tugasmu disana. kamu jangan khawatir, nanti juga dibantu sama yang lain.

Cowok : *Bingung mencari alasan

Atasan: Bagaimana??? Kamu nggak keberatan kan???

Cowok: Kalu dibilang keberatan sih saya keberatan.  Harus pulang pergi Tangerang-Jakarta.

Tapi mau gimana lagi???

Atasan: Ah, kalo masalah itu kamu jangan khawatir, Nanti tiap hari ada mobil yang antar jemput kamu kesana.

Cowok: *terbungkam diam*

Atasan: Ah, jangan terlalu diambil pusing!!! Orang cuma satu bulan aja… *menghibur

Cowok: Baiklah,,, Pak…!!! *bermuka kusut

Atasan: Yah… Begitu donk… *tersenyum

 

Si cowok keluar dari ruang atasannya dengan wajah kusut. Ramalan tentang karirnya yang gelap di bulan ini akan segera menjadi kenyataan. Ya, berangkat gelap dan pulang gelap. Karena ia harus pulang pergi Tangerang-Jakarta.

Ah, bukanlah itu alasan utama yang membuat mukanya masam. Dulu, setelah beberapa waktu tinggal di Jakarta, ia memutuskan untuk pindah ke Tangerang karena ingin menghindari hiruk pikuk kota megapolitan itu. Namun, kini ia harus menemuinya kembali. Menjalani penatnya belenggu rutinitas. Bangun pagi,berangkat kerja, pulang malam, capek, tidur, bangun pagi lagi, kerja lagi, pulang, capet, tidur, dan begitulah kejadian itu terus berulang-ulang. Sungguh sangat menjenuhkan.

Bukankah rutinitas itu membosankan??? Bukankah kejadian yang di ulang-ulang itu menjemukan??? Memasung jiwa di lorong sempit  dan rutinitas yang kaku akan membuat jiwa menjadi lemah, lelah, dan kemudian hancur. Namun keadaan sedemikian itu benar-benar menimpa seorang cowok. Tiga minggu sudah ia bertahan. Ah, setidaknya hanya satu minggu lagi ia harus menjalani semua itu.

 

Beberapa tahun yang lalu, setelah membaca novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata, si cowok benar-benar terbawa mimpi. Namun ironis, mimpi yang membawanya adalah sebuah mimpi gila. Ya, Mimpi Gila Bertemu Gita. Si cowok memimpikan bisa bertemu dengan idolanya. Aluna Sagita Gutawa. Pelantun ‘Kembang Perawan’ itu menjadi idola ketiga si cowok setelah Rhoma Irama dan Didi Kempot. Baginya tak ada musisi yang lebih hebat daripada ketiga orang tersebut.Tak ada musisi yang bisa menciptakan lebih dari seribu lagu seperti Rhoma Irama. Tak ada pencipta lagu yang lirik-liriknya sesendu lagu-lagu Didi Kempot. Dan tak ada penyanyi yang suara soprannya melebihi lengkingan  suara Gita Gutawa. Bahkan si cowok berani memberinya nilai satu lebih tinggi dari seorang Anggun Cipta Sasmi.

 

Si cowok mulai berfikir tentang bagaimana ia bisa membawa mimpinya itu ke alam nyata. Ia yakin jika ia hanya berdiam diri, mimpi itu tak akan pernah terwujud. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia akan pergi ke suatu tempat dimana ia yakin akan dapat bertemu dengannya. JAKARTA, kota yang paling sering disebut dalam berita itu menjadi tumbal sebuah mimpi. Si cowok benar-benar sudah dibuat gila oleh sang idola. Jika dulu orang gila didefinisikan sebagai orang yang berbicara dijalan ketika ia sedang berjalan sendirian, kini orang gila didefinisikan sebagai orang yang mencari jarum dalam jerami. Bukankah mencari seseorang yang kita sama sekali tak mengenalnya di sebuah kota megapolitan itu sama sulitnya dengan mencari sebuah jarum dalam jerami??? Si cowok sadar, untuk bisa bertemu dengan sang idola, ia hanya punya satu per sepuluh juta kemungkinan. Sebab, sang idola hanyalah satu sepersepuluh juta bagian dari penduduk kota itu. Dia hanya satu diantara sepuluh juta penduduk Jakarta. Seperti sebutir pasir bukan???

Itu memang sulit, tapi bukanlah berarti tak bisa. Sebuah keyakinan yang luar biasa, namun tetaplah itu keyakinan yang bodoh. Karena tahu apa yang akan dilakukannya sangatlah sulit, maka si cowok memberikan batas waktu pada dirinya selama tiga tahun. Setidaknya, ia harus dapat bertemu dengan sang idola dalam batas waktu tersebut. Dan petualanganpun dimulai!!!!

 

Setelah hampir setahun si cowok mengikuti gerak-gerik sang idola melalui akun facebook dan twitternya, akhirnya ia memperoleh momentum yang tepat. Dari akun twitter sang idola, si cowok memperoleh informasi jika siang ini sang idola akan makan siang di sebuah cafe di Bilangan, Jakarta. Kebetulan si cowok tahu tahu tempat yang dimaksud, karena tempat itu tidak begitu jauh dari tempat ia bekerja saat ini. Ah, ternyata rencana Tuhan itu sungguh indah. Ditengah penatnya menjalani rutinitas  yang dirasanya sangat membosankan, ia mendapatkan secercah harapan. Harapan untuk melihat mimpi yang akan segera menjadi kenyataan.

Dengan alasan kurang enak badan, si cowok meminta izin setengah hari kerja. Selepas dhuhur, ia langsung meluncur ke sebuah cafe di daerah Bilangan, Jakarta. Ketika memasuki tempat itu, hatinya meledak-ledak. Seperti petasan pernikahan adat Betawi. Semakin lama semakin keras suara ledakannya. Ia melihat seseorang yang wajahnya sama persis dengan gambar poster yang terpasang di dinding kamarnya. Aluna Sagita Gutawa.

Ia memegangi meja, dan ternyata meja itu asli. Ah, ini bukanlah mimpi. Ia melihat gadis bersuara sopran itu sedang asyik ngobrol dengan dua orang yang wajahnya asing bagi si cowok. Apalagi terpampang di dinding kamarnya. Mungkin mereka adalah temannya. Ah, siapapun dia, ia tak peduli. Yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana ia bisa menyapa sang idola. Ia mulai berfikir. Ia tahu jika ia tak punya waktu lama untuk berfikir.

Tak lama, ia menemukan sebuah cara. Lagi-lagi sebuah ide bodoh yang ditemukannya. “Pengelabuhan”!!! Cara yang sering ia lakukan untuk mengelabuhi Sekretaris Jurusan di kampusnya dulu. Setelah menunggu beberapa saat, moment yang dinantinya pun tiba. Sang idola terlihat akan segera meninggalkan tempat itu. Si cowok melihat ke arah waitris, dan ia pun tersenyum pada cowok memberi isyarat. Beberapa saat yang lalu, ketika ia memesan minum, ia meminta waitris itu untuk membantu rencananya. Sebuah teknik lobying yang jitu.

Ketika sang idola hendak sampai di pintu keluar, si cowok merogoh handphone yang ada di kantong celananya, dan mengejar sang idola.

 

Cowok: Maaf, handphone-nya ketinggalan!!!! *menyodorkan handphone

*Ketiga wanita itu beradu pandang*

Teman Gita: Bukan, itu bukan punya kita!!! *bingung

Cowok: Owh, Gita Gutawa??? *memandang kearah gita dan berpura-pura heran

Gita: *tersenyum

Cowok: Owh, tak menyangka bisa bertemu Gita disini *menjulurkan tangan

Maaf, kalau begitu!!! *memandang handphne yang ada ditangannya dan berpura-pura bingung

 

Setelah selesei berjabat tangan dengan ketiga wanita itu, si cowok pun kembali ke mejanya. Ia tampak senang bukan kepalang. Bahagia tiada terkira. Namun ia tersenyum pahit. Benar-benar bodoh!!! mana mungkin seorang Gita mempunyai handphone yang keypad-nya hampir lepas??? Mana mungkin orang seperti dia punya ponsel yang layar-nya retak karena sering terjatuh??? Ah, masa bodoh… Yang penting ia telah menyapa dan bersalaman dengan idolanya. Dan rona lesung pipih pada senyumnya semakin menambah kekagumannya pada sang idola.

Si cowok benar-benar tak menyangka ia bisa bertemu dengan idolanya secepat itu. Satu setengah tahun lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkannya. Ia kembali merenungi kekuasaan Tuhannya. Memikirkan kehebatan takdir dan keindahan rencana-Nya. Ia tak menyangka penugasannya di Jakarta berbuntut pertemuannya dengan seseorang yang telah lama didambakannya. Ya rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan. Memang benar kata orang tua dulu, We have to endure the caterpillar if we want to see buterflies. Kita harus tahan terhadap ulat jika ingin melihat kupu-kupu.

 

Setelah satu bulan diperbantukan di kantor pusat, kini si cowok kembali bekerja di tempat asalnya. Ia kembali dapat mendengar  deruman mesin forklift yang berlalu-lalang. Ia kembali mendengar teriakan-teriakan buruh pabrik yang merasa kepanasan. Ah, sungguh tempat yang tidak memberinya sepatah alasanpun untuk mengeluh. Ia kembali beraktivitas seperti sebelum-sebelumnya. Namun dihari kedua semenjak kembalinya ia ke pabrik, akan menjadi titik balik karirnya di perusahaan itu. Sebuah telepon di meja kerjanya berbunyi. Ia diminta kembali menghadap atasannya.

 

Cowok: Ada apa, Pak??? Kelihatan ceria bener hari ini??? *memasuki ruangan

Atasan: Ah, kamu bisa aja…

Cowok: Kirain saya mau ditraktir. Katanya Bapak hari ini ulang tahun??? *bercanda

Atasan: Kata siapa??? Gosip gag bener tuh… *tersenyum

Cowok: Wah, padahal telor dan tepungnya sudah siap tadi. Tinggal nyari penggorengannya… *tertawa

Yah, Selamat ulang tahun ya, Pak…!!! *mengulurkan tangannya

Atasan: Iya… Makasih…!!! *bersalaman

Cowok: Wah, kalo Cuma terima kasih aja pait, Pak… Bisa di demo staff yang lain nanti..

Atasan: Iya.. Iya… Ntar siang dah, Beresss!!!!

Cowok: Nah, kalo gitu kan gag pait lagi.. Acara demonstrasi bisa di cancel *terkekeh

Owh iya, Saya dipanggil ada apa ya, Pak???

Atasan: Ada berita bagus dan berita kurang bagus buat kamu. Kamu pilih yang mana duluan???

Cowok: Ah, bapak bias saja… *nyengir

Terserah Bapak dah…

Atasan: Berita kurang bagusnya, management telah memutuskan kalau kamu akan dipindah di kantor pusat di Jakarta. Dan berita bagusnya, kalau kamu dipindah kesana, pastinya status kamu juga akan berubah kan…

Cowok: Ah, Sial!!! Berita baik macam apa ini??? *dalam hati

Atasan : Saya tahu kamu pasti akan keberatan. Tapi kamu juga harus professional donk…

Cowok: Kalo saya boleh jujur, Pak.. Saya sangat keberatan sekali. Mungkin Bapak juga tahu alasan saya dulu pindah kesini. Dulu kan Bapak juga ikut meng-interview saya ketika mau masuk kesini.

Atasan : Kemarin saya juga sudah berfikir seperti itu. Tapi mau gimana lagi, kantor pusat pengennya seperti itu.

Cowok: Terus terang, Pak… Saya lebih senang disebut buruh pabrik daripada dipanggil pegawai kantor!!!

Atasan: Saya jadi bingung kalo seperti ini. Trus, mau kamu seperti apa???

Cowok: Saya minta tolong lah, Pak… Masalah ini dibicarakan lagi dengan pihak management. Kalaupun nantinya management tetap bersikukuh, mungkin lebih baik saya mengundurkan diri.

Atasan: Ya sudahlah, nanti saya coba omongin lagi dengan pihak sana. Mungkin besok kamu saya kabari lagi.

Cowok: Makasih ya, Pak…!!! *tersenyum

 

Si cowok kemudian keluar dari ruangan itu. Namun sebelum keluar, ia masih sempat mencandai atasannya.

Cowok: Pak..!!! Jangan lupa nanti siang!!! *nyengir

Atasan: *tertawa

Ya sudah, tolong kamu bilang ke yang lain, nanti jangan beli makan dulu.

Cowok: Dilaksanankan!!!! *hormat

 

Keesokan harinya, untuk ketiga kalinya si cowok diminta ke ruangan atasannya. Tentunya masih dengan pembahasan yang sama.

 

Atasan: Begini, Mas… Kemarin saya sudah mencoba bicara dengan management, tapi pihak sana tetap bersikukuh dengan keputusannya.

Bagaimana???

Cowok: *manyun

Kalau management tetap bersikukuh dengan keputusannya, saya pun juga akan bersikukuh dengan keputusan saya. Mungkin saya akan mengundurkan diri saja.

Atasan: Ah, kamu jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Tolong dipikirkan dulu!!!

Cowok: Tidak, Pak… Kemarin saya juga sudah memikirkannya.

Atasan: Kalau kamu benar-benar resign, trus kamu mau kemana???

Cowok: Entahlah, Pak.. Saya juga bingung.

Atasan: Kalo saran saya sih, tolong dipikirin dulu. Tapi semua keputusan kembali kepada kamu. Itu kan memang hak kamu. Saya pun tak punya wewenang untuk melarang.

 

Akhirnya si cowok pun mengundurkan diri. Ia telah mengajukan surat resign. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin ia hanya ingin menghargai umur dan waktunya. Ia tak ingin masa mudanya habis untuk bekerja. Ia tak rela masa remajanya dicuri oleh setan rutinitas. Ia telah bertanya tentang harga ‘satu menit’ kepada Ruben Bariccelo. Ia juga telah bertanya tentang nilai ‘satu detik’ pada Casey Stoner. Ah, pernahkah kita berfikir tentang harga sepermilisekon bagi seorang Ussein Bolt???

Apalah itu, yang jelas ia merasa telah menemukan akhir dari petualangannya di ibukota. Ia telah menyelesaikan misi utamannya. Bertemu sang idola. Aluna Sagita Gutawa. Ibarat Tong Sam Chong, kini ia telah menemukan kitab sucinya. Kini Sang Mario telah menemukan putrinya. Ya, Mission complete, continue to the next stage!!!

 

*************************************************

#Backsound

S07

 

Dan biarkan aku jadi pemujamu

Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku

Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang

Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu

 

 

 

Ampera, Poris

Tangerang, 2nd July,  2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s