Playboy Rohani

Standard

“Watawaa Soubil Haq, Watawaa Soubis Sobr” (Al-Asyr : 3)

 

Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu WANITA. Gilee beneer… Nih Arjuna, nggak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, “Wahai wanita, cintailah aku….!!!!!” Ih… nih anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu banget, ya…namanya juga pencari cinta!!!!

 

Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. “Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Semburat cahaya subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari memayungi jagat raya ini, “Inikah dia yang kucari?” tanya beliau pula. Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.

 

Nah… aku sengaja menyajikan dua ilustrasi diatas untuk mengawali tulisanku kali ini. Karena yang ingin aku bahas kali ini adalah tentang “Pencari Cinta”. Meski malu-maluin, harus aku akui bahwasanya aku  termasuk dalam ilustrasi yang pertama. Menjadi replikasi seorang Arjuna yang nggak mempedulikan gunung, bumi, dan lautan hanya untuk mencari sebuah kata. Cinta!!!! Berbagai cara aku lakukan, termasuk dengan menjadi  Seorang Play Boy Rohani.

 

Play Boy Rohani….

Istilahnya sedikit unik yah,aku juga baru ngerti. Ah bukan, lebih tepatnya aku baru sadar.

Play boy Rohani…!!!! Perbedaan dua kata, antara negatif dan positif.

Play boy  =  negatif  karena kerjaannya ngisengin cewek.. tapi,

Rohani =  positif… Biasanya ya nggak jauh dari spirit, ruh n etc.

Tapi kalo digabung, jadinya “Penjaja cinta yang mengatasnamakan ruhani”

Kalo kalimat terangnya, dia nyari cewek dengan bahasa pengantar rohani (Berdakwah, bernasehat tapi motivasinya nyari cewek). Kalo bahasa gaulnya TTP (Tebar-Tebar Pesona).

Caranya ????

Ya macem-macem. Bisa jadi guru ngaji, bisa jadi lewat chatting, sms tausyah, ngingetin sholat, mge-bangunin sahur, bisa jadi juga lewat telepon, email or etc. Siapa tau motivasi seseorang??? Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati tak ada yang tahu!

Wallahu a’lam.

 

 

Bahkan kadang  kita sendiripun ngga sadar bahwa motivasinya telah berubah. Dan ironisnya, kadang gelar play boy rohani itu melekat pada diri kita sendiri yang katanya Rijal Ad- Da’wah. Menebar pesona lewat fasihnya kata-kata, lewat luasnya ilmu, lewat indahnya bait-bait nasihat, lewat komprehensifnya metode yg digunakan, lewat merdunya irama suara or etc. Yang jelas motivasinya secara tidak disadari melenceng.

 

Jadinya????

Yah,,, sayang sekali… Mungkin dan sangat bisa jadi, kita telah berfatamorgana ria dengan amal kita selama ini.Disangkanya sedang berdakwah, Eh ngga tahunya bla bla bla bla. (isi sendiri dah…)

Wah,, gimana dong????

Maunya show amal dengan ngumbar fatwa -fatwa agama ke orang lain, eeeh ngga tahunya ada udang dibalik rempeyek. Ya, ada upil di balik meja. (Ketahuan suka meperin upil di bawah meja.Hehe :p)

 

Aaaduuuuh…sayang sekali yah… Maunya ngasih email berupa nasehat, eh.. nggak sadarnya biar dianggep pinter, trus biar dapet simpatik, trus biar dapet ini, trus biar dapet itu. Aaaduh.. katanya riya’ itu syirik kecil yang samar sekali loh… Ibarat semut hitam dikegelapan malam berjalan diatas batu hitam dibawah guyuran hujan. Wah sulit yah nge-deteksinya????

Nah loh…jangan-jangan yang sedang membaca ini termasuk playboy rohani juga. Atau jangan-jangan udah jadi member of PP (Penebar Pesona). Hehehehe :p

Piiiisss!!!! ^_^v

 

Ya Allah…begitu halusnya dan begitu kita gak sadarnya. Waduh duh…jangan-jangan kita  sudah terjebak dalam permainana setan ini dan lambat laun, karena ketidaksadaran,  akhirnya kita menjadi korban.

 

Kesadaran ini aku dapati ketika aku tak lagi menemukan obyek yang bisa aku  jadikan sebagai sasaran. Karena saat ini aku sedang berada ditengah masyarakat yang berbeda akidah denganku.  Sehingga tak memungkinkan adanya sinkronisasi antara metode playboy rohani yang mengatasnamakan agama dengan kondisi yang ada. Selain aku juga telah melakukan kesalahan karena telah mengirim sebuah email kepada seseorang  yang seharusnya aku tidak mengirimkannya. Tapi Alhamdulillah, akhirnya aku menyadarinya juga.Karena  sering kali orang  menemukan kesadarannya di waktu yang tak tepat.

Adalah Nabi Daud as, sang raja yang kemudian mewariskan kerajaannya kepada Nabi Sulaiman as. Suatu ketika Daud as ngobrol dengan malaikat sang pencabut nyawa. Daud as bilang “Hei malaikat Israil, kalo mau cabut nyawa saya tolong beri tahu dulu supaya saya bisa bersiap-siap” dan malaikatpun mengiyakan. Eh, suatu hari tiba-tiba malaikat Israil dateng menghampiri Daud as. Tentu saja Daud as keheranan dan bertanya,

Daud : “Ada apa neh malaikat Israil????”

Israil : “Saya mo nyabut nyawa anda ya nabi Allah…!!!”

Daud : “Loh kan udah dikasih tahu kalo mo nyabut bilang-bilang dulu”

Israil : “Loh,, bukankah sudah kukirim tiga utusan kepadamu??

Daud :  “Utusan yang mana???”

Israil :  Yang pertama. lemahnya tubuhmu dibanding ketika kamu masih muda.  Kedua, uban-uban yang memutih dikepalamu. Dan yang terakhir,  kulit yang sudah mulai mengeriput”

Nabi Daud as pun hanya bisa tersenyum.

 

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian menjadikan sesudah kelemahan itu kekuatan, dan menjadikan sesudah kekuatan  itu lemah kembali dan beruban” (Ar Ruum : 54)

 

Betapa sempurnanya siklus hidup yang telah ditetapkan-Nya. Oleh sebab itu, sepenggal waktu yang tidak mengantarkan kita lebih dekat  pada tujuan adalah sebuah kerugian. Dan ketahuilah, siklus itu terus berputar dan mari kita mempersiapkan diri untuk menyambut siklus yang memang telah menanti kita. Ya, sebelum kita menjadi lemah kembali dan beruban.

 

Memang Allah menyuruh kita untuk saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Ya, Watawaa soubil haq, watawaa soubis sobr, tapi itu semata-mata hanya karena Allah SWT. Bukan untuk yang lain. Terlebih hanya untuk mencari sebuah kata. Cinta!!!!

 

Memang susah sekali menjaga diri dari ujub, riya ataupun sum’ah.  Memang sulit sekali menjaga kemurnian niat. Tapi,  mari jangan putus asa. Perbaharui niat, kuatkan tekad dan luncurkanlah kehendak. Mari kiat menuju ruhiyah baru. Lakukan apa yang bisa kita lakukan ketika itu sebuah kebaikan. Do something or do nothing. Now or Never!!! Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan!!!!

Tanpa bermaksud menuduh siapapun. Astaghfirullahal’adhim.

 

Billahi fii sabilil haq,

Fastabiqul Khairat

Wassalamu’alaikum

 

Note:

Terima kasih atas do’anya, rambutku udah mulai tumbuh kembali.Hahaha :p

 

Marau, 9 Agustus 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s