Rasa Vs Keyakinan!!!!

Standard

Seorang cowok mencoba lari dari kenyataan. Ia tak ingin mengecewakan seseorang wanita. Ah bukan, ia hanya tak ingin dihujat. Rasa percaya dirinya telah dihempas lepas oleh ketahu diriannya. Ya, rasa tahu dirinya menyuruhnya untuk pergi. Bukan pergi dari kehidupan dunia, melainkan pergi dari keduniaan hidup. Ia sadar, jika ia tidak segera pergi, ribuan hujatan akan segera menghampirinya. Ratusan kutukan akan segera menghadang. Karena sebuah ketidaktahu dirian tentunya. Tak akan pernah ada ceritanya padi akan tumbuh di keramik, karena padi hanya akan tumbuh di lumpur.

 

Cowok: Hari ini aku resign… *minum es teh

Cewek: *terdiam acuh

Cowok: Kenapa diam??? Aku ingin mendengar komentarmu!!!

Cewek: Komentar apalagi yang harus aku katakan??? Kalopun aku harus berkomentar, itu juga tak akan ada gunanya *menunduk kecewa

Cowok: Maafkan aku!!!

Cewek: Kenapa harus meminta maaf??? Tak ada yang salah kok. Mungkin aku memang yang tak pernah bisa mengerti pola pikirmu.

Cowok: Jadi, kamu ingin mengerti???

Cewek: *terdiam

Cowok: Mungkin kamu akan mengerti jika kamu mau menjawab pertanyaanku.

Cewek: Pertanyaan yang mana???

Cowok: Jika kamu harus memilih, mana yang akan kamu dahulukan. Keyakinan ataukah rasa???

Cewek: Apa maksudmu???

Cowok: Jawab dulu pertanyaanku!!!

Cewek: Aku akan mendahulukan keyakinan. Karena rasa itu akan muncul dengan sendirinya ketika kita yakin.

Cowok: Cieehh… *tertawa meledek

Cewek: Tuh kan,,, pasti gag pernah serius. *sebel

Cowok: Abis kamu jawabnya diplomatis banget sii… Orang aku nanyanya biasa aja.

Cewek: Ah, terserah kamu lah… *masih sebel

Cowok: Aku mau pergi. Setelah mendengar jawabanmu yang diplomatis tadi aku tak punya cukup alasan untuk lebih lama tinggal disini.

Cewek: Memang mau kemana??? Pulang kampung???

Cowok: Ya nggak lah,,, pulang kampung kemana, orang akau tak punya kampung.

Cewek: Trus, mau kemana coba???

Cowok: Aku mau nyari kepercayaan diriku. Kamu tahu kan, setiap bersamamu, aku selalu bermasalah dengan hal itu.

Cewek: Sudahlah,,, aku tak mau membahas masalah itu lagi. *cemberut

Cowok: Tapi kali ini aku serius. *menyalakan rokok

Cewek: *terdiam

Cowok: Bagaimana pendapatmu???

Cewek: Kalo kamu pikir itu yang terbaik buat kamu, sebagai teman, bukankah sudah seharusnya aku menguatkanmu???

Cowok: Tapi aku tak meminta pendapatmu sebagai teman!!! Aku memang mempunyai rasa padamu. Tapi aku tak punya cukup keyakinan untuk hal itu. Aku tak punya keyakinan apakah aku memang pantas untuk untuk mempunyai rasa itu??? Sekarang ini, tidak cukup hanya berfikir apakah hal itu baik atau jelek, benar ataupun salah, tapi juga harus berfikir apakah hal itu pantas atau pun tidak!!!

 

Lagi-lagi si cewek hanya terdiam. Sepasang mata sedang mengalirkan airnya ke sebuah lesung pipih yang kering akan senyum. Si cewek sedang mengalami kebuntuan dalam berfikir. Diam, terserah, dan menangis adalah 3 tanda wanita yang sedang mengalami kebuntuan dalam berfikir. Ah, benar-benar lemah hati wanita itu. Tak seorang pun tahu apa yang telah membuatnya sebegitu lemah. Si cewek telah mengkhianati kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Sampai kapanpun, wanita tetap akan mendahulukan perasaan daripada keyakinannya. Memang, sering kali para pemuja cinta menomor satukan rasa daripada keyakinan. Itulah yang membuat cinta itu gila. Membuat mata para pecinta menjadi buta, dan membuat telinganya menjadi tuli yang kemudian berujung dengan sesuatu yang bernama kecewa. Namun andai saja mereka tahu, mereka tak akan pernah mengenal nama kecewa. Karena cinta adalah sesuatu yang bisa kita bagikan tanpa menjadikannya berkurang.

Ah, setidaknya si cowok telah mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan yang sebenarnya jauh lebih baik dalam banyak situasi. Memang, jujur itu membutuhkan keberanian. Berani malu, berani dicaci, dan berbagai konsekuensi yang tak enak lainnya. Walau di sisi lain banyak yang mengecapnya sebagai pecundang, tapi bukankah setidaknya ia sudah berbuat jujur??? Sesungguhnya, orang jujurlah para penikmat hidup sejati, sebab ia mampu berdamai dengan kenyataan yang terpahit sekalipun.

 

Warung di pinggir jalan itu semakin ramai. Ikan laut bakarnya memang paling terkenal di wilayah Mampang. Pengunjung keluar masuk silih berganti. Mungkin, si cowok adalah costumer terlama yang duduk di sana. Karena merasa tak enak hati, ia pun bermaksud untuk segera pergi.

 

Cowok: Sudah malam, sebaiknya kita pulang!!!

Cewek: Aku boleh meminta sesuatu???

Cowok: Pertanyaan konyol!!! Selama aku bisa, semua akan ku beri untukmu *tertawa

Cewek: Dasar penjual tissue, tissue mu tak akan mampu lagi menggombaliku. *tersenyum

Aku minta, Biarkan aku pulang sendiri.

Cowok: Apa kamu yakin???

Cewek: Aku mau naik taksi ajah..

Cowok: Okay lah… *mengangkat bahu

Cewek: Kamu mau langsung pulang???

Cowok: Ini malam minggu, Time to adventure, girl… *tesenyum

Cewek: Ya udah, ati-ati…

 

Setelah mencarikan taksi untuk si cewek, si cowok kemudian pergi ke Terminal Senin. Ia bermaksud menghabiskan malam minggu disana. Ia ingin bermain catur bersama sopir kopaja, kenek metromini, penjual roti, atau dengan pedagang baju bekas. Seperti yang sering ia lakukan sebelum-sebelumnya.

Jakarta memang kota yang tak pernah mati. Mulai terbitnya matahari hingga tengegelamnya, sampai matahari itu terbit kembali, kota itu tetaplah ramai. Terlebih di sebuah terminal yang berhadapan langsung dengan Stasiun kereta terbesar di negeri ini. Suara deruman knalpot, raungan klakson kendaraan yang terjebak macet, kepulan asap tebal membuat kota itu benar-benar hidup. Meskipun hari telah malam, udara masih terasa sangat panas. Mungkin neraka yang ada di atas langit kota Jakarta sedang mengalami kebocoran seperseribu milimeter.

 

Terlihat seorang cowok sedang serius menatapi sebuah papan  kayu kecil. Kaosnya diikatkan di kepala karena udara sangat gerah. Ia hanya memakai kaos dalam. Ah, ternyata dia sedang berhadapan dengan musuh utamamnya dalam bermain catur. Ya, seorang kenek kopaja. Beberapa minggu yang lalu, ia hanya mampu bermain imbang dengannya. Ia berfikir malam ini ia harus bisa mengalahkannya. Untuk itu ia terlihat begitu serius. Di belakangnya, the king of bus station sedang berpesta minuman keras. Ya, orang batak adalah penguasa setiap terminal bus di Jakarta. Sebagian lagi sedang asyik berjudi “gaple”. Dilihat dari aksen-nya, mereka adalah komunitas orang jawa. Rentetan yel-yel khas orang jawa, mulai dari ‘Jancok’, ‘Asu’, ‘Bajingan’, ‘Gathel’, ‘Picek’, terdengar merdu di telinganya. Dia benar-benar berada di sebuah dunia yang hidup. Dunia yang mungkin tak pernah ada matinya.

 

Juli 2011, Kolaborasi bulan dan tahun yang begitu indah. Bulan yang mempunyai 5 hari Jum’at, 5 hari Sabtu, dan 5 hari minggu. Hal yang hanya terjadi setiap 823 tahun sekali. Tahun yang notabene memiliki 4 tanggal istimewa. 1/1/11, 11/1/11, 1/11/11, 11/11/11. Tahun yang apabila diambil dua digit terakhir dari tahun kelahiran seseorang, kemudian menambahkan usia orang itu ditahun ini, maka akan menghasilakan angka yang unik.Ya, 111. Ah, ini bukanlah khurafat, ini hanyalah keunikan. Di bulan dan tahun special ini, si cowok memutuskan untuk pergi dari hingar-bingar megapolitan.

 

Bulan sedang menampakkan diri dengan indahnya. Dalam penanggalan Hijriah, malam ini berada tepat di tanggal lima belas. Tanggal dimana bulan akan menampakkan wujud sempurnanya. Tanggal lima belas sya’ban tepatnya. Sebuah tanggal yang disakralkan oleh umat muslim di seluruh dunia. Mereka akan menggunakan malam itu untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Namun tidak untuk si cowok. Karena saat ini ia sedang berada di tempat terasing. Tempat yang membuat dunia menjadi hidup namun sering dilupakan. Ya, ia sedang berada di paru-paru dunia. Ia sedang berada di tengah rimbunnya hutan Kalimantan. Bukankah tanpa paru-paru dunia tidak akan bisa hidup???

Ini sangatlah kontras. Beberapa minggu yang lalu, ia sedang berada di sebuah tempat yang jauh dari kesepian. Namun kini ia berada di tempat yang sangat jauh dengan keramaian. Tak ada lagi deruman kenalpot dan tak terdengar lagi raungan klakson kendaraan. Hanyalah suara kicauan jalak madu dan teriakan serangga hutan yang memecah kesepian. Tak nampak lagi kepulan asap, yang ada hanyalah kabut tipis yang turun dari bukit. Ah, sungguh tenang dan mendamaikan.

Hari ini, akan ada acara pernikahan. Si cowok mendapat undangan dari ketua adat. Setelah hampir 30 menit di atas speedboat, akhirnya ia dan rombongannya sampai di desa adat. Terlihat orang-orang sedang ramai mempersiapkan upacara adat. Nampaknya acara pernikahan akan segera dilangsungkan. Setelah sampai pada acara perjamuan makan-makan, betapa terkejutnya ia, beberapa orang mengeluarkan beberapa babi guling dan drum yang notabene berisi arak. Apa jadinya kalo orang-orang pedalaman itu memaksanya untuk memakan perjamuan yang telah disiapkan itu. Mungkin seperti inikah kondisi manusia pada awal datangnya risalah??? Mungkinkah mereka adalah pengejawantahan Quraisy???

Hatinya mulai gusar. Begitu pula temannya. Namun, hatinya sedikit lega ketika sesorang memberitahukan cara penolakan perjamuan itu, dan ternyata berhasil. Meraka memakluminya. Yang mengejutkan, ternyata orang-orang pedalaman itu mempunyai rasa toleransi yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat kota. Ia telah salah mengintepretasikan sebuah social culture. Sebuah pelajaran penting,, we can’t judge a book from the cover. Dikala yang lain semua sedang mabuk oleh minumannya, si cowok dan temannya juga ikut mabuk. Bukanlah arak maupun buah jarak yan membuatnya mabuk, namun mereka sedang mabuk durian. Karena memang durianlah satu-satunya makanan yang ada disitu yang memungkinkan untuk mereka makan.

 

 

Note: Tulisan ini ditulis di tengah hutan, di pinggir sungai Kapuas, di bawah sinar bulan purnama dengan penerangan lampu genset sambil menikmati buah Pekawai (sejenis durian, namun lebih manis dan berasa gurih) dengan ditemani seorang sahabat baru dari suku Dayak Melayu bernama Caroline Matia Hera, yang telah menunjukkan bagaimana menghindari sebuah lubang neraka yang bernama Khomr. Dan ternyata, sebagian besar keceriaan dalam persahabatan itu terletak pada sikap menghargai perbedaan, bukan pada menikmati persamaan.

 

 

Riam Danau, Ketapang

Pontianak, Juli 16th, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s