Terbalik

Standard

Seorang sopir bercerita tentang seorang  Direktur Perusahaan yang naik pitam kepada saingan dagangnya. Musuhnya itu seorang Direktur Perusahaan juga, dianggap melakukan kompetisi yang tidak fair.

 

Maka pagi itu, sebelum ke kantor ia menyuruh sopirnya untuk langsung melajukan mobil menuju kantor sang musuh. Wajahnya cemberut sepanjang jalan. Terkadang keluar  satu dua kata makian yang keluar tanpa sengaja. Si sopir ngeri juga, apalagi muka si Bos makin lama makin bewarna kemerah-merahan seperti orang kebelet buang air besar pas tengah-tengah rapat banggar.

 

Begitu tiba di kantor musuh, si Bos langsung turun mobil dan tanpa bay nthe wey langsung masuk. Satpam di pos penjagaan depan kebingungan. Mau menahan dan membentak tak berani. Soalnya si Bos pakaiannya bagus, pakai dasi segala, dan sepatunya mengkilat.

 

Sebentar kemudian terdengar suara-suara dari dalam seperti supporter di dalam stadion. Bahkan terdengar pula meja dipukul-pukul.

 

Sesaat kemudian pintu kantor mendadak dibuka dengan kasar. Si Bos keluar dengan wajah merah legam dan mata yang melotot. Berjalan agak miring karena kepalanya masih menghadap ke arah si musuh. Sambil menuding-nudingkan tangan, si Bos memaki : “Pantat Lu kayak muka Gua!!!”…

 

Kemudian tergopoh-gopoh sopirnya membukakan pintu mobil. Si Bos masuk duduk menghempaskan tubuhnya sambil menarik nafas lega. Tapi sebelum berangkat,  si sopir memberanikan diri mengemukakan sesuatu.

 

“Maaf ya Pak Bos…”, ujarnya terbata-bata.

“Apa!!!”, bentak si Bos.

“Sekali lagi maaf, tapi kalimat makian Pak Bos tadi itu apa tidak terbalik…???”

Betapa kagetnya si Bos. “O ya… Terbalik ya???”

 

Mendadak ia buka pintu mobil, turun dan kembali menuding-nuding wajah musuhnya sambil mengulang makian : “Muka Gua kayak pantat Lu!!!”….

 

Lemaslah sang sopir. Makian yang pertama terbalik, kemudian si Bos telah berusaha membaliknya kembali, dan begitulah hasilnya. Hampir saja terlontar dari mulutnya kata-kata untuk mengingatkan Pak Bos bahwa bukan begitu caranya membalik kalimat. Tapi setelah diliriknya si Bos  sudah duduk dengan wajah lega. Maka, ia urungkan niatnya itu.

“Biarlah Pak Bos pulang dengan puas dan lega…”, bisiknya dalam hati.

 

Ya, sekarang ini kebanyakan manusia memang merasakan kepuasan dan kelegaan dengan sesuatu yang sesungguhnya terbalik-balik. Dan sering kita akhirnya tidak tega dan tidak lagi punya jalan untuk mengingatkan. Karena kalau kemudian mereka tahu bahwa itu terbalik-balik.  Jangan-jangan mereka nanti malah jadi stress. Kasihan kan???

 

“Terbalik-balik bagaimana???”

“Wah, terlalu banyak contohnya”

“Apa coba????”

“Misalnya saja yang semestinya berwenang  menilai seseorang berkelakuan baik atau tidak itu kan kiai, ulama, pastor, ruhaniawan, biksu, bante, atau kaum moralis lainnya. Merekalah institusi Akhlakul Karimah. Lha sekarang mereka-mereka itu yang harus punya Surat Berkelakuan baik yang ditetapkan oleh lembaga yang entah apa hubungannya dengan kelakuan baik. Sederhananya, kaum ruhaniawanlah yang seharusnya mengeluarkan Surat Berkelakuan  Baik pada oknum berperut buncit. Bukan yang berperut buncit itu yang mengeluarkan Surat Berkelakuan Baik pada para ruhaniawan. Inilah yang dimaksud dengan terbalik-balik”

“Contoh lain, harga bintang film pamer paha dan payudara, sebut saja Jupe dan Depe, malah lebih mahal daripada Uje dan Aa Gym. Banyak orang korupsi tapi malah dianggap paling berjasa pada negara. Rakyat dianggap sebagai bawahan yang paling rendah. Padahal merekalah pemilik kedaulatan tertinggi. Ini bukanlah kata saya lo, tapi yang berkata adalah konstitusi. Merekalah yang menggaji Gubernur, Bupati, dan semua birokrat lain. Jadi rakyat itu Bos. Tapi ya itu tadi,  kalau rakyat coba marah, malah kata-katanya terbalik: “Pantat Lu kayak muka Gua”

 

Ketika rakyat marah, mereka membakar pom bensin. Ketika mereka marah, penjarahan toko-toko. Ketika rakyat marah, kemacetan tak terelakan. Dan mereka terlihat puas dan lega atas apa yang telah dilakukannya. Dan kembali lagi, akhirnya kita tak tega dan tak ada jalan lagi untuk mengingatkan. Yang bisa dilakukan hanyalah menghujat di dalam hati sembari beristighfar.

Astaghfirullahal Adzim…

Astaghfirullah Robbal Barooya…

Astaghfirullah Minal Khotooya…

 

***************************

Wong kulon rebutan wetan.

Wong lor byayak’an ngidul.

Emboh wis…

Wong mbambung mung iso luntang-lantung.

Sing lemah soyo lungkrah, sing kuat soyo njingkrat.

Mobal-mabul, kocar-kacir, tetep ae wong cilik sing dadi korban.

Haduh biyung….

 

Note: Tulisan ini terinspirasi dari kajian bang bang wetan karya Emha, sebagai respon saya terhadap demonstrasi kenaikan BBM. Semoga bermanfaat!!!

Fastabiqul Khairat

 

Kendawangan, March 30, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s