Cinta Aneh

Standard

Kamar ini masih hingar oleh suara TV yang mempertontonkan kebohongan. Drama korea adalah surga bagi para pemimpi yang tak pernah tertidur. Sementara di luar sana, desir air hujan bersahutan dengan deru petir yang dengan gagahnya menghalau kesunyian malam. Aku masih terjaga ketika tengah malam hampir tiba. Yang kupikirkan adalah sesuatu yang sepintas lucu tapi jelas bukanlah  sebuah cerita komedi. Namun rangkaian kisah yang hingga kini masih menjadi teka-teki kebanyakan pemujanya. Dan bahkan bisa menjadikan punjangga mampu melambungkan namanya.

I take my headset, put handphones on and listen a good music. Dengan bersandingkan secangkir Torabika dan beberapa batang Djarum, aku memulai menulis. Suara Whitney Houston memecah hingar suara TV yang memang sengaja tak kumatikan.

Lost touch with my soul
I had no where to turn
I had no where to go
Lost sight of my dream,
Thought it would be the end of me

Malam ini, kemarin dan sebelumnya, godaan datang silih berganti. Memaksaku terpojok hampir ke batas tebing. Dan nyaris saja aku takluk dan kugapai uluran tangannya. Tidak hanya satu atau dua, tapi beberapa.

Sementara itu, pada tepian hati yang rapuh ini, masih ada asa untuk membenamkan wajah pada hamparan sajadah. Melantunkan ayat cinta yang sulit tersingkap. Pada sosok yang dinanti. Menanti janji Tuhanku. Sang bidadari.

Ketika beberapa wanita menautkan hatinya padaku, lantas aku hanya mampu tersenyum dan terdiam. Bahkan ketika mereka bergerak  makin mendekat mencoba menjabat erat dan membenamkan wajahnya dihangatnya pelukku, lantas aku bangkit dan mencoba menjauh dan makin menjauh. Sehingga warna kekecewaan bergerak memenuhi seisi suasana hati mereka merubah merah jambu, jingga, kemudian kelabu. Dan aku hanya bilang “kini, aku bukan yang dulu”.

Hujatan datang silih berganti. Fitnahpun merajalela. Katanya, akulah makhluk paling lemah dimuka bumi. Pecundang yang tiada mengenal batasan. Dan katanya lagi, akulah insan terbodoh yang pernah diciptakan. Tidak!!! Sekali-kali tidak. Aku hanya berusaha menjadi orang ketiga setelah Yusuf dan Al Miski.

Ketika kecenderungan hati ini mengarah pada sosok yang tak pernah kulihat dengan kasat mata. Tak pernah kumerasa bersua dan melihat indah wajah serta lekuk tubuhnya. Bahkan mencium aroma harum dibalik hijab pun sama sekali belum. Tapi, aku terus mendekat dibalik pekat. Melantunkan ayat cinta yang tak kunjung tersingkap. Pada angin malam yang menyampaikannya lewat nyanyian. Dan sampai saat ini pun bidadari itu tak kunjung menampakkan dirinya. Terus bersembunyi hingga kesabaran hati ini mungkin kan tak ada lagi.

Untuk cinta-cinta yang kalian tawarkan, maafkan aku jika aku masih termangu. Aku hanya ingin berubah dan memandangnya dari hakikat yang berbeda. Dan jika kalian memahami, mungkin salah satu dari kalianlah yang kan mengisi kekosongan hati ini dikemudian hari. Lalu, kita rangkai kisah indah dibawah ridho Ilahi.

Untuk bidadari yang tersembunyi, maafkan jika kecenderungan hati ini masih terpatri. Setidaknya untuk hari ini. Akupun tak berharap kita semakin rapuh dan terlemahkan. Tetaplah disana jika kau tak siap untuk kesini. Dan jangan pernah kau sesali jika saat kau kesini menghampiri, ternyata aku telah pergi tak lagi menanti.

Untuk semua yang merasa menjadi bagian cinta yang heran, yang dihadapkan pada sebuah persimpangan. Tetaplah tersenyum, karena kebahagiaan selalu ada pada kehidupan. Karena lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, dan begitupula sebelumnya. Lalu, mengapa kita harus menyalahkan keadaan jika ini semua adalah hukum Tuhan??? Sungguh, untuk berdekatan, pertama-tama seseorang harus belajar melepaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s