The First Conversation (1)

Standard

Memang pada waktu itu sedang musim penghujan. Seperti yang kita ketahui bersama, musim sekarang ini tidak mengenal batasan waktu. Pagi mendung, siang mendung, sore mendung, malampun kira kira juga mendung. Namun apalah arti mendung di pagi itu jika melihat senyum yang merekah dari bibir seorang gadis. Ah, gadis  atau bukan apalah itu, yang jelas dia adalah seorang wanita yang tersenyum. Dan senyumnya mencerahkan pagi yang mendung itu. Rasa laparpun yang saya rasakan setiap pagi tiba-tiba menghilang dari perut ini. Perut yang tidak tahu malu, yang selalu minta diisi setiap hari. Memang aku jarang sekali sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Tidak pernah aku menyangka, ternyata senyum seorang wanita dapat mengubah cuaca sekaligus menghilangkan rasa malu.

“Heh, pagi-pagi sudah melamun!!!”, suara itu mengagetkanku yang terlelap memandangi gadis yg sedang berbincang dengan temannya.

Ternyata itu suara Halim, teman berambut kribo yg baru aku kenal beberapa hari yg lalu. Ya, teman baru, itu karena kita belum ada sebulan menginjakkan kaki di kampus itu. Kampus abu-abu, warna yang dinobatkan sebagai simbol kemunafikan. Hitam tidak, putihpun bukan.

“Tumben kamu gag telat???”, tanyaku.

“Ah, payah kamu”, sahutnya.

“Bukankah kamu sudah telat dua kali, padahal Mata Kuliah ini baru berjalan dua kali pertemuan Bo???”, tanyaku dengan nama sapaan-nya.

Halim memang dipanggil Kribo oleh teman-teman karena rambutnya yang tak berbentuk. Dia berasal dari Malang. Setiap dia berkenalan, pasti dia menyebutkan identitasnya sebagai seorang AREMA1. Termasuk ketika berkenalan denganku beberapa hari yang lalu. Dia sangat bangga dengan identitasnya itu. Sebuah primordial daerah yang berpotensi memecah belah.

“Aku kapok telat, pasti orang tua itu akan memberiku  hukuman yg lebih kejam jika aku telat lagi. Kemarin saja aku disuruh menyalin materi dua bab penuh. Tak kurang satu hurufpun. Ah, pokoknya aku kapok telat”, katanya yg seolah-olah jera.

“Dia cakep ya???”, tambahnya mengagetkanku.

“Siapa???”, jawabku pura pura tak tahu.

“Ah, cewek itu.. Cewek yang dari tadi kamu perhatiin itu”, jawabya.

Aku hanya tersenyum setuju.

“Kau tahu namanya??”,lanjutnya.

Aku menggeleng memberi isyarat tak mengerti.

“Aku akan cari tau”, katanya.

“Untuk apa???”, tanyaku.

“Yah kamu, untuk menghilangkan penasaran lah..”, jawabnya.

“The worst of the world is the situation of no decession, Yang terparah di dunia ini adalah situasi tanpa kepastian, dan kepastian itu ada jika aku bertanya. Maka semua rasa penasaranpun hilang”, lanjutnya sambil berjalan menuju kerumunan cewek.

“Ah, sok banget kamu Bo..”, timpalku.

“Namanya Lia”, katanya setelah tak beberapa lama dia kembali.

“Makanya jadi orang itu yang sabar, bukannya kita bisa melihat namanya di daftar presensi??? Disitu kan lengkap siapa namanya, berapa NIM-nya”, sahutku sambil melangkah menuju ruang kelas.

“Iya juga ya…”,jawabnya menggerutu.

Di kelas, aku duduk di samping Halim. Perkuliahan hari itu ada tidaknya bagiku sama saja. Karena pikiranku sudah tertular virus penasaran dari Halim. Rasa penasaran yang dimulai dari sebuah senyum dan diakhiri dengan tertahannya daftar presensi oleh kami berdua.

“Triputi Dian Fimelia, iya Bo namanya Triputi Dian Fimelia”, kataku sambil berbisik karena takut terdengar dosen.

“NIM-nya 0610320007”, tambahku.

“Hemm…”, Halim menggumam.

Halim dan aku terlihat cocok meskipun kita berdua baru kenal. Ini disebabkan karena kita mempunyai sebuah persamaan. Persamaan yang sering dimiliki oleh kebanyakan kaum lelaki. Yaitu sama-sama memiliki ketertarikan dengan wanita cantik. Memang, jika kita membicarakan soal wanita, itu tak akan pernah ada habisnya. Oleh karena itu, setiap laki-laki yang sedang mengalami frustasi tingkat maksimum, sudah bisa dipastikan jika ia akan membahas masalah wanita, karena setiap orang yang mengalami hal itu, ia membutuhkan sesuatu yang tdk pernah ada habisnya. Termasuk juga diriku ketika itu, aku mengalami tekanan yang sangat dasyat dikarenakan baru saja ak dikhianati oleh sorang gadis yang selama ini namanya selalu bersembunyi di balik relung hatiku. Peristiwa pahit yang belum pernah aku mengalami sebelumnya. Tidak pernah aku menyangka dia tega pergi dariku untuk pergi dengannya. Ah, memang tiada yang lebih sakit daripada dikhianati. Mungkin karena itulah Tuhan tidak pernah mengampuni hamba-hamba yang menduakan-Nya meskipun kita semua tahu bahwa Dia Maha Pengampun. Namun yang membuat aku lebih sakit lagi, aku mengenal baik rivalku itu. Menurutku, dia tak lebih baik dari aku. Karena itulah, aku merasa gadis itu jatuh tidak di tangan yang tepat. Meski begitu, apalah daya ini. Keputusan ada di tanganya. Meski aku menangis sampai air mata darah sekalipun kalau itu pilihannya mau apa di kata. Aku menyadari hal itu.

Perkuliahan hari itu sangat membosankan, sudah dua jam lebih dosen tua itu menerangkan materi yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku menengok kiri kanan. Suasana kebosanan dapat dirasakan di setiap sudut ruang kelas. Lihat saja si Guntur, dari tadi ia menundukkan kepalanya dengan mata terpejam seolah-olah mendengarkan dengan khidmat materi yang diberikan.

“Jam berapa, Boy???”,tanya Halim padaku tiba-tiba.

Akupun kaget karena Halim bertanya dengan nada yang cukup keras sehingga terdengar oleh dosen tua itu. Dia mengedipkan matanya memberi isyarat kepadaku, dan aku mengerti apa maksudnya. Perhatian teman-teman yang lainpun tertuju pada kami.

“Jam 9 Bo…”, jawabku dengan nada yang cukup keras juga.

“Wah, apa kamu tahu kalo jam 9 tuh ada acara bagus di TV???”, lanjutnya.

“Emang acara apa???”, tanyaku lebih lanjut.

“PATROLI”, tandasnya.

“Oh iya, bagus tuh Bo acaranya!!! Emang ada berita apa???”, tanyaku lagi.

“Beritanya, ada seorang dosen yang mati terbunuh oleh mahasiswanya ketika perkulihan karena perkuliahan itu membosankan”, tandas si Halim.

Halim dan aku memang dikenal sebagai trouble maker di kelas. Dalam dua minggu, sudah dua kali kami membuat ulah di kelas.  Sejanak semua diam. Suasana hening, semua mata tertuju pada kami berdua. Namun tak lama kemudian terdengar suara yg memecah keheningan itu.

“Baik, Kuliah kita akhiri sampai disini”, kata sang dosen sembari merapikan buku yang ada di mejanya.

Suasana kembali hening, namun kali ini semua mata tertuju pada sang dosen. Tatapan mata setiap mahasiswa yang terlihat sedang menahan sesuatu. Keheninganpun hilang ketika langkah sang dosen beranjak keluar dari ruang kelas yg diikuti sorak tawa teman-teman di dalam ruangan. Sekilas aku menatap si Halim yang cengar-cengir dengan senyum khas-nya. Mungkin karena dia merasa telah memenangkan sebuah peperangan. Peperangan yang konyol. Peperangan antara pemalas yang penuh intriks dengan seorang profesor yang sabar. Mungkin ia merasa bisa memukul balik atas hukuman yang diterimnya minggu lalu.

Malam ini langit sedang menagis mengasihi buminya. Hujan turun dengan derasnya.  Petir dan kilat datang silih berganti. Seolah-olah dia berada tepat diatas kamar kostku. Kamar berukuran tiga kali tiga meter yang melindungiku dari teriknya matahari dan dinginnya kota Malang.  Ya, aku menyebut kamarku sebagai  kamar mini penuh sensasi.

Seperti malam yang sudah-sudah, tiada yang bisa dilakukan oleh seseorang yang baru saja patah hati seperti aku ini selain memikirkan seseorang yang telah melukai hatinya. Kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga dia setega itu??? Dosa apa yang telah aku perbuat hingga dia sampai hati mengkhianatiku???  Ya, setiap perjuangan memang harus dievaluasi. Meskipun perjuangan itu menuai kekalahan yang berakibat seseorang  patah hati dan kecewa. Aku berfikir, jika dia pergi dariku karena alasan tampang, itu tidak mungkin, karena aku tahu benar siapa yang aku hadapi. Aku tahu benar siapa yang sedang menjadi rivalku. Jika dia meninggalkanku karena aku tidak romantis, itu juga tidak mungkin, karena aku merasa lebih romantis dari pada seorang panglima Tien Feng. Tapi jika dia meninggalkanku karena materi, itu mungkin juga, tapi porsinya kecil. Karena aku tahu benar bahwa dia bukanlah cewek matrialistis. Lalu apa alasan yang sebenarnya??? Atau mungkin aku menjadi sekecewa ini karena terlalu banyak pengorbanan yang telah aku lakukan untuknya??? Bukankah pengorbanan  itu berbanding lurus dengan kekecewaan??? Tapi apa yang telah aku korbankan??? Materi aku tak punya, sedang waktupun aku tak pernah ada. Lantas apa yang telah aku korbankan???

Begitulah pertanyaan yang selalu muncul dari malam ke malam semenjak peristiwa pahit itu menimpaku. Namun ada yang beda dengan  malam ini. Sebuah senyum yang aku lihat di kampus tadi pagi tiba-tiba melintas seolah ingin menjawab pertanyaan yang memenuhi pikiranku. Ah bukan, ia bukan ingin menjawab pertanyaan, bahkan ia baru saja menambah pundi-pundi tanda tanya  dalam benak ini. Mengapa aku jadi memikirkan pemilik senyum indah itu??? Mengapa tiba-tiba wajah itu muncul meskipun di luar sana hujan sedang turun dengan derasnya??? Bagaimana  wajah itu tidak basah oleh  air hujan??? Lewat mana tadi ia datang??? Sejuta tanya baru muncul dengan tiba-tiba. Dan aku berfikir, hanya mimpilah yang dapat membantuku menunda menjawab pertanyaan itu. Akhirnya aku putuskan merentangkan selimut dan berdo’a kepada Tuhanku untuk segera menuju dunia mimpi.

Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Tak seperti biasanya. Setelah usai Sholat Subuh, aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aktivitas yang terkesan asing bagiku. Entah malaikat mana yang merasukiku hingga ak serajin ini. Di kamar mandi, aku melantunkan lagu “aku bukan pilihan” karya Iwan Fals. Mungkin lagu itu sedang mewakili perasaanku kala itu. Ya, lagu yang mengisahkan tentang seorang laki-laki yang dikhianati oleh kekasihnya. Untuk mengeluarkan kesah yang ada  dihati, bagi sebagian orang, menyanyikan sebuah lagu mungkin adalah cara efektif. Dan mungkin aku merupakan bagian dari orang tersebut. Selagi aku terhanyut oleh nyanyianku, tiba-tiba terdengar suara dari luar.

“Man, tumben ente pagi-pagi mandi???

“Nyanyi itu yang ceria, jangan lagu-lagu sedih kayak gitu, biar yang dengerin itu ikut ceria”, ungkapnya.

“Wah,ini lagu kebangsaan mbak, gag bisa diganggu gugat!!!”, jawabku dari kamar mandi.

“Sudah matang mbak Wecinya2???, tanyaku.

“Sudah, mau borong berapa kamu Man???”, jawabnya.

“Iya nanti aja Mbak, biar aku mandi dulu”, jawabku.

Aku tahu suara itu adalah suara Mbak Misni, tetangga sebelah yang dapurnya bersampingan dengan kamar mandiku. Setiap pagi dia membantu ibunya untuk membuat gorengan, dan sudah bisa dipastikan dia sedang menggoreng kue kerena irama  minyak panas yang bertempur dengan air terdengar dari kamar mandi yang seolah ingin bersaing dengan nyanyianku. Perlu diketahui, selama 2 tahun aku kost di tempat ini dan bersosialisasi dengan warga sekitar, namun tak seorangpun mengetahui nama asliku. Orang-orang tua di sekitarku memanggilku dengan nama “Maman”, sedang anak-anak kecil memanggilku dengan sebutan “Om Alex”. Sebuah penyembunyian identitas yang sempurna.

Pagi itu aku berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Aku berharap dapat menemukan  senyum yang indah itu lagi, karena aku tahu kalo gadis pemilik senyum indah itu akan sekelas denganku di pagi ini. Beberapa teman memang sudah datang lebih awal dariku, namun bukanlah mereka yang aku harapkan.

“Ah, mungkin dia belum datang. Biar ak menunggunya disini”, pikirku.

Sambil duduk di gazebo, aku mengeluarkan rokok dan segera menghisapnya. Di sampingku ada Eni dan Aditya.

“Dit, jangan melamun aja, rokok nie…!!!”, tawarku pada Aditya sambil menyodorkan sebungkus rokok.

“Pagi-pagi udah kayak lokomotif aja kamu, Boy…”, sergah Eni.

“Ah, daripada nunggu dosen sambil bengong???”, bantahku.

Sesekali aku melihat jam, jarum jam tanganku menunjuk di angka enam dan sembilan. Seperempat jam lagi prkuliahan akan segera di mulai. Namun yang aku harapkan belum juga menampakkan batang hidungnya. Hidung yang dibawahnya terdapat bibir. Bibir yang dapat merekahkan sebuah senyum yang indah.

“Ke kelas yukk,, Tuh mobil dosen-nya sudah datang.”, ajak Eni.

Kami tak menjawab. Aditya dan akupun segera berdiri kemudian mengikuti di belakang Eni menuju ruang kelas, meskipun aku masih ingin disini. Mengapa waktu begitu cepat??? Mengapa dosen yang biasanya terlambat kini dia datang tepat waktu??? Kali ini, pepatah yang mengatakan menunggu adalah bosan sama sekali tidak berlaku bagiku. Bagiku, seabad bagai setahun, setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu bagai satu jam, dan satu jam seperti menyalakan sebatang rokok.

Tak beberapa lama, seorang lelaki separuh baya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Ya, Beliau adalah Pak Matsur. Dosen yang akan mengajar kami di Mata kuliah Fundamental Accounting. Aku duduk di deret kedua dari depan. Disamping  kananku ada Aditya  yang sejak dari tadi asyik memainkan handphonenya. Di samping kiriku ada Guntur yang matanya terlihat lelah seolah ingin terpejam.

Lagi-lagi aku melihat jam tanganku. Kali ini jarumnya menunjukkan angka tujuh dan angka satu. Ini berarti harapanku untuk melihat senyum yang indah itu pupus, karena perkuliahan sudah di mulai. Mungkin hari ini pemilik senyum itu tidak masuk. Mungkin dia masih terlentang di atas  ranjang dengan jutaan impiannya. Atau mungkin dia sedang berada di rumah tukang tambal ban karena mungkin ban kendaraannya bocor. Atau mungkin dia sekarang berada di tempat dokter karena mungkin dia sedang tidak enak badan. Ribuan kemungkinan berputar-putar dikepala ini.

“Selamat Pagi..!!!.”, suara Pak Matsur memberi salam sekaligus menghapus ribuan kemungkinan yang sejak tadi berada di benakku.

“Selamat pagi Pak…”, suara mahasiswa serentak.

“Langsung saja, Hari ini kita akan membahas mengenai ‘depresiasi’…”, lanjut Beliau.

“Ada yang tau apa yang dimaksud dengan depresiasi???”,tambahnya.

Semua wajah mahasiswa menunduk sehingga suasana menjadi hening. Mungkin itulah ekspresi yang dilakukan oleh setiap mahasiswa ketika dosen menanyakan sesuatu.

“Baiklah,,, Depresiaisi atau penyusutan,dalam akuntansi, ini merupakan penyebaran biaya asal suatu aktiva tetap selama umur perkiraannya”, terang Beliau.

“Kemarin kan kita sudah membahas mengenai aktiva tetap. Coba kamu Arya, Apa saja yang termasuk aktiva tetap???”, tanya Beliau pada Arya yang mukanya berubah merah karena terkejut.

“Gedung, tanah, kendaraan”, jawab Arya dengan ragu-ragu.

“Bagus, jadi yang termasuk aktiva tetap adalah seperti mobil, mesin, bangunan dan lain-lain”, terangnya.

“Penerapan depresiasi ini, akan berpengaruh terhadap laporan keuangan termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan. Oleh karena itu, sebagian besar perusahaan yang ingin memanipulsi pajak, tidak menutup kemungkinan  mereka juga memanipulasi mengenai depresiasi aktivanya. Ini sangat mudah sekali, karena penentuan umur perkiraan suatu aktiva ditentukan sendiri oleh internal perusahaan. Semakin besar depresiasi, maka semakin kecil keuntungan yang dilaporkan sehingga pajak yang ditanggung juga semakin kecil pula”, terangnya kemudian.

“Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan nilai depresiasi. Ada, metode garis lurus, metode jumlah angka tahun, dan metode saldo menurun ganda. Namun, metode yang paling mudah dan paling sering digunakan adalah metode garis lurus, atau yang sering disebut straight-line depreciation method“, tambahnya.

“Baiklah kita akan langsung masuk ke contoh saja supaya kalian mengerti perbedaan dari masing-masing metode tersebut”. terangnya.

Setelah Beliau memberikan beberapa contoh, Beliau menyuruh kami untuk mencoba mengerjakan latihan soal. Beliau memberikan kami sekitar 45 menit untuk mencoba menyelesaikan 5 soal. Akupun dengan segera mengerjakannya. Pelajaran ini terasa tak asing lagi bagiku, karena dulu ketika masih di Sekolah Menengah Atas, hampir setiap hari aku berkutat dengan materi seperti ini. Ini disebabkan karena waktu SMA dulu aku mengambil jurusan IPS. Ah, lebih tepatnya bukan mengambil, tapi takdir membawaku ke jurusan itu. Ketika penjurusan di kelas dua dulu, sebenarnya pilihanku adalah IPA, namun berhubung nilaiku tidak mencukupi, maka mau tak mau aku harus menjalaninya. Namun pada akhirnya aku menyadari jika pilihan-Nya itu jauh lebih baik daripada pilihan kita. Karena hampir semua mata pelajaran ilmu eksakta itu didominasi oleh hafalan, dan otak ku sangatlah lemah untuk hal itu. Berbeda dengan ilmu social. Asal kita berani berbicara maka itu sudah cukup. Ya, syarat utama agar bisa disebut “anak sosial” bukanlah kerajinan atau kepandaian, tapi keberanian. Keberanian dalam berbicara.

Ditengah konsentrasi mengerjakan latihan soal, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Konsentrasi kamipun terpecah. Seorang mahasiswi yang kelihatan gugup dan takut langsung menghadap Pak Matsur.

“Pak, maaf saya terlambat. Saya mengalami sedikit trouble. Mobil saya menyrempet tukang cilok3“, kata gadis itu meminta maaf.

Gadis itu terlihat gugup dan sangat takut. Mukanya yang oval dipenuhi oleh keringat. Di hidung gadis itu terdapat bintik air. Meskipun dalam hati aku kasihan pada gadis itu, namun aku tersenyum. Karena gadis itu adalah Lia. Pemilik senyum indah yang membuat aku merasa pupus harapan karena ketidak hadirannya hari ini.

“Baik, silakan duduk. Kali ini saya memaklumi, namun untuk selanjutnya jangan terlambat lagi. Saya tak ingin mendengar alasan apapun”, jawab Pak Matsur.

“Baik Pak, terimakasih”, ungkap gadis itu sembari merekahkan senyumnya.

Dia pasti merasa lega, ekspresi takut dan gugup sudah tak terlihat lagi di wajahnya. Namun kali ini konsentrasiku tak lagi terpecah, Namun hilang sama sekali. Ternyata senyum lega gadis itu telah membawa konsentrasiku pergi entah kemana. Gadis itu berjalan menuju ke arahku, aku mengira-ngira apa yang akan dia lakukan. Jangan-jangan… Jangan-jangan.. ah benar, dia mengambil duduk di sampingku. Rasa syukur tak henti-hentinya terucap oleh hatiku. Malaikat mana lagi yang menghampiriku ini. Mungkin inilah yang disebutkan kebanyakan orang bijak jika dimana ada keinginan, disitu harus ada usaha. Dimana ada usaha, disitu pasti ada harapan. Dimana ada harapan di situ ada hati yang berbunga-bunga. Dimana ada hati yang berbunga, disampingnya pasti ada senyum yang indah. Segala puji bagi Maha Terpuji sebelum dipuji oleh para pemuji, yang telah memberikan kepadaku nikmat kesempatan. Kesempatan duduk di samping gadis yang mempunyai senyum menawan.

“Baik, sebelum saya tunjuk, siapa yang ingin maju kedepan untuk mengerjakan latihan nomor satu???”, tanya Pak Matsur pada mahasiswanya.

Sudah bisa dipastikan, meskipun ditunggu sampai berapa lamapun pasti tidak akan ada yang bersedia.

“Baik, yang terlambat tadi, silakan maju ke depan untuk mengerjakan soal nomor satu!!!”, suruh Pak Matsur

Aku langsung menoleh ke sampingku. Aku menatap Lia. Wajahnya kembali memerah, namun di hidungnya masih ada bintik airnya.

“Matilah aku…”, gumam gadis itu.

“Ya, silakan ke depan!!!”, desak Pak Matsur.

Akhirnya gadis itupun melangkah ke depan menuju papan tulis dengan keterpaksaan. Aku merasakan kebingungan seperti apa yang ia rasakan, dan aku yakin dia tidak tau apa yang harus ia tulis di papan itu. Mana mungkin ia bisa mengerjakan sebuah soal yang ia sama sekali belum membacanya, apalagi memahaminya. Menurutku, ini bukanlah hukuman. Ya, ini bukanlah sanksi, tapi lebih tepatnya ini adalah pembodohan.

Dan tak jauh dari dugaanku, ternyata gadis itu menulis  kembali soal itu tanpa ada jawaban. Pak Matsur mengamatinya sembari tersenyum. Aku yakin dia sebenarnya sadar kalo gadis itu tak akan bisa mengerjakan. Kali ini aku melihat senyum yang sama sekali tak indah. Bahkan aku muak melihatnya. Sebuah senyum kemenangan yang diperoleh dengan pembodohan. Ya, kemenangan yang didapat dengan membodohi seorang mahasiswa. Dan tak beberapa lama senyum kemenangan itu membuahkan sebuah suara yang agak keras.

“Baik, siapa yang bisa membantunya mengerjakan silakan maju kedepan”, ungkap Beliau

Tanpa berfikir panjang, akupun segera melangkahkan kaki ke depan. Entah angin apa yang mendorong aku untuk melakukan itu. Padahal saat itu aku juga belum tahu apa yang harus aku tulis di depan, karena aku juga belum mengerjakan. Tapi setidaknya aku mengerti. Tahu langkah-langkah untuk menyelesaikan soal itu. Aku tak lagi mempedulikan prasangka semua orang yang ada di kelas itu. Terserah mereka mau menganggap aku sok tahu ataupun sok pintar. Terserah mereka mengira aku inging jadi pahlawan kesiangan, aku tak peduli lagi. Yang jelas, saat itu aku sangat muak dengan ketidakadilan yang dibuat oleh dosen itu. Bagiku ini adalah sebuah ketidakadilan. Bagaimana tidak, sebuah senyum yang indah menawan  harus diganti dengan senyum yang sangat getir dan memuakkan. Memang, syarat utama untuk melakukan kebaikan bukanlah kepandaian, melainkan keberanian. Ya, berani untuk melakukan sesuatu.

Aku meminta gadis itu untuk memberikan boardmarker-nya kepadaku, dan akupun memulai mengerjakannya. Gadis itu masih berdiri di sampingku. Sesekali aku meliriknya. Dia memperhatikan angka demi angka yang aku tuliskan di papan tulis. Dan setelah beberapa saat kami berdiri di depan kelas, akhirnya akupun berhasil menyelesaikan soal itu. Kemudian kamipun duduk kembali. Pak Matsur kemudian mengalihkan pandangannya ke papan tulis. Beliau mengamati hasil kerjaanku, dan kembali suaranya menyeruak memecah keheningan.

“Ada jawaban yang lain??”, tanya Pak Matsur.

Namun tak seorangpun yang menjawab.

“Kalo masih ada jawaban lain, itulah yang salah. Karena yang ada di depan kalian ini sudah benar”, lanjut beliau.

Aku langsung menoleh ke arah Lia, dan Lia pun menoleh padaku. Kamipun bertatapan.  Sering orang mengatakan, jika mata bertemu dengan mata, maka hatilah yang berbicara. Tapi ini tidak, ketika mata bertemu mata, maka yang ada hanyalah senyum. Dari bibir gadis itu merekah sebuah senyum yang aku tunggu-tunggu, dan akupun membalas senyum itu dengan wajah yang tertunduk kegirangan.

“Makasi yah…”, ungkap gadis itu berbisik.  Namun aku hanya tersenyum.

Setelah semua soal dibahas, maka perkuliahan Fundamental Accounting pada hari itu berakhir. Setelah mengucapkan salam, Pak Matsur pun lantas melangkahkan kaki keluar kelas. Namun kita tak ikut beranjak keluar, karena setelah  itu, kita masih ada perkuliahan lagi dikelas yang sama. Maka pergantian jam perkuliahan kami gunakan untuk ngobrol dengan temen sembari menunggu datangnya dosen. Begitu pula dengan aku.

“Siapa namanya???”, tanyaku kepada Lia seolah-olah belum tahu namanya.

“Oh iya, namaku Lia”, katanya sambil mengajak berjabat tangan, dan akupun menyebutkan namaku.

“Tadi katamu, kamu abis nabrak. Kok bisa sampai nabrak???”, tanyaku mencoba mencari topik omongan.

“Ah, gag apa kok. Cuma nyrempet sedikit. Tapi udah beres kok. Semua sudah diurus sama papaku”, jawabnya.

Menurutku, Lia adalah gadis yang suka bercerita. Dari satu pertanyaan yang saya ajukan kepadanya, ia dapat memberiku beberapa jawaban. Dan cara yang paling efektif untuk menghadapi type orang sepertinya adalah dengan mengencangkan telinga sehingga kita  bisa menjadi seorang pendengar yang baik.

“Loh, Kamu asli Malang???”, tanyaku kemudian.

“Iya, Aku AREMA asli loh…”, jawabnya.

Ah, lagi-lagi aku mendengar primordialisme kedaerahan itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, doktrin apa yang telah ditancapkan diotak mereka hingga mereka bangga sekali dengan nama itu.  Ya, nama kebanggaan pribumi Malang. Tapi apapun itu aku tak terlalu peduli, karena yang mengatakan itu adalah pemilik senyum yang aku kagumi. Memang benar, jika kita sedang mengagumi seseorang, kotoran yang ada pada dirinyapun terlihat emas oleh kita. Oleh sebab itu, pepatah bijak mengatakan jika kita mengagumi seseorang, maka kita harus senantiasa mengingat-ingat kejelekannya, agar kita tidak tertipu oleh emas palsu itu. Emas yang sebenarnya adalah kotoran.

“Eh, Tadi kamu kok lancar banget ngerjainnya?? Jujur tadi aku blank, tapi apa boleh buat, aku mesti maju kedepan”, tanyanya.

“Emang sih kata kakak tingkat, kalo Pak Matsur itu agak sensi ma cewek. Soalnya kan dia belum nikah”, tambahnya sambil tersenyum.

Satu pertanyaan belum terjawab, sudah muncul cerita-cerita berikutnya. Dan aku tetap pada strategiku. Mencoba menjadi pendengar yang setia. Sehingga aku cuma  menganggukkan kepala dan sesekali berkata “ya”. Namun kemudian aku mencoba  bertanya.

“Dulu SMA mana??”, tanyaku.

“SMA 3”, jawabnya.

“Emang kenapa??”, dia ganti bertanya.

“Gak apa, kirain kamu SMA 5, kalo SMA 5 kan berarti temannya si Halim”, kataku.

“Siapa si Halim??”, tanyanya lagi.

“Tuh, temen kita yang berambut kribo itu”,jawabku.

“Owh, dia namanya Halim???”, katanya.

Aku hanya mengangguk.

“SMA dulu, kamu jurusan IPS ya???”, tanyanya lagi.

“Iya,,”, jawabku

“Pantesan waktu kamu di depan tadi ngerjainnya lancar banget”, ungkapnya.

“Emang dulu kamu IPA???”, kataku balik bertanya.

“Hehehe..” tawanya setengah tersenyum.

“Kok bisa nyasar di fakultas ini????”, tanyaku bercanda.

“Ahhhh,, takdir kali, dulunya aku pengen di kedokteran, eh malah diterimanya disini. Mau gimana lagi…”, jawabya.

“Yah, mungkin ini yang dinamakan takdir”, tambahnya.

Iya, sebuah takdir yang mempertemukanku dengan seorang gadis yang memiliki senyum merona. Jika setiap lelaki melihat senyum itu, sudah dipastikan mereka akan berfikir dengan pola dan rute yang sama denganku. Itulah “the first conversation” sekaligus awal aku mengenal Lia.  Ya, mengenal Triputi Dian Fimelia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s