Melaju, Melambat, dan Berhenti

Standard

Kamis sore, menjelang senja, disebuah kedai beratapkan jerami  dengan debur ombak yang membuat terlena siapapun yang melihatnya, tersaji dua cangkir kopi yang masih mengebulkan asapnya. Yang satu masih utuh dan satunya lagi sudah disesap hampir setengah. Saya sengaja mengajak seorang sahabat berhenti untuk menunggu seruan adzan, biar bisa segera membatalkan ibadah sunah yang seharian telah  saya jalani. Disini, dipantai Pagar Mentimun. Apalagi yang bisa dilakukan dua orang yang sedeng berada di depan cangkir kopi selain mengobrol. Tiba-tiba saya bertanya mengenai hubungan sahabat saya dengan kekasihnya. Mungkin karena saya sudah jenuh membicarakan masalah pekerjaan.

“Bagaimana hubungan kamu sama dia?” ujarku membuka pembicaraan.

“Baik-baik saja,” jawabnya sambil terus memainkan sendok, mengaduk-aduk entah apa dalam cangkir kopi yang sebentar lagi mungkin akan terasa dingin. Dan sesekali menghisap rokoknya.

“Setelah peristiwa itu?” tanyaku dengan suara yang agak meninggi. Peristiwa yang saya sebut di sini adalah ketika si wanita memilih untuk berpisah dengan sahabat saya karena beberapa alasan yang katanya terlalu prinsip.

“Iya,” jawabnya. Pendek. Seperti tak ingin membahas persoalan ini lebih panjang atau karena ia ingin lekas-lekas menghabiskan kopi dari cangkirnya sebelum benar-benar menjadi dingin.

Kami diam. Sesekali saya melihat matanya menerawang jauh. Mungkin hinggap di suatu tempat bernama masa lalu. Atau justru tengah mati-matian berdamai dengan kenangan. Saya tak pernah benar-benar tahu. Yang saya tahu, setelah peristiwa itu, teman saya sempat merasa dihempaskan hidup pada titik terendah. Betapa pencapaian mengenai cinta, yang ia kira akan sanggup diraihnya bersama wanita tersebut, hilang dalam sekejap mata. Tak bersisa apa-apa.

Lantas ia memutuskan bertahan. Atau lebih tepatnya mempertahankan. Mempertahankan hubungan tersebut dan meminta wanitanya untuk tetap tinggal. Tak ada yang salah. Semua yang terjadi tentu masih bisa dibicarakan kembali. Dan dengan beberapa pertimbangan, akhirnya wanita tersebut pun memutuskan untuk tetap tinggal. Tak jadi meninggalkan.

Sahabat saya bahagia. Sedikit cemas karena takut jika ini hanya sementara. Mungkin ia lupa, jika kebersamaan, seperti apapun wujudnya, akan memiliki masa “kadaluwarsa”. Tak ada yang abadi. Tak ada yang benar-benar abadi karena hidup pada dasarnya memang selalu bergerak dan mengubah diri di beberapa titik. Lajunya kadang tak bisa diperkirakan. Tiba-tiba saja kita sudah berada pada akhir perjalanan. Tak ada kata tidak siap. Semua yang mesti berakhir, memang sudah tak bisa lagi diapa-apakan.

“Aku sudah melepaskan dia,” tiba-tiba saja ia membuka percakapan.

“Melepaskan gimana?”

“Aku sampai di titik itu. Seperti yang selalu kamu bilang, setiap orang pasti akan tahu titik dimana ia harus melaju, melambat, atau justru berhenti sama sekali,” jawabnya ringan.

Dulu ia pernah bertanya pada saya mengenai apa yang harus dilakukannya ketika ditinggalkan. Bahwa pada dasarnya setiap orang memang mempunya titik tersebut. Titik dimana ia tahu kapan mesti melaju, melambat, atau justru berhenti sama sekali. Titik tersebut hanya akan muncul setelah keyakinan tertanam kuat-kuat. Keyakinan, yang setelahnya tak akan pernah disesali atau malah dirutuki.

Katanya ia telah menemukan titik itu. Titik dimana ia merasa harus berhenti sama sekali. Mungkin belakangan, mereka, sahabat saya dan kekasihnya itu, sempat berpegangan, tapi lantas menemui kembali persimpangan. Terjadilah lagi keinginan yang tak sehati, dimana yang satu ingin ke kanan, sedang yang lain ingin menuju ke arah kiri. Tentu semua masih bisa dibicarakan. Tentu ia sesungguhnya masih bisa memilih untuk melaju atau mungkin memperlambat kecepatan. Tapi pada akhirnya ia memilih berhenti. Cukup dan selesai.

Bahwa ia sudah berusaha, saya tahu itu. Bahwa ia sudah mencoba berbagai cara, saya mengerti itu. Bahwa pada akhirnya ia memutuskan berhenti, melepaskan semua, dan berkata dirinya baik-baik saja, entah bagaimana saya melihatnya menjadi ia yang lebih ringan dan menyenangkan. Tanpa ketakutan. Tanpa kekhawatiran akan kehilangan. Mungkin ini yang ia sebut dengan melepaskan. Melepaskan ketakutan-ketakutan dalam dirinya sendiri.

“Aku melepaskan dia, meski aku sangat mencintainya,” ujarnya menutup cerita.

Saya tersenyum, lalu meralat kalimatnya.

“Kamu melepaskan dia, karena kamu sangat mencintainya. Dan itu luar biasa.”

“Kalimatmu aneh,” katanya. Dan saya melihat ia tertawa. Untuk pertama kali setelah sekian lama. Begitu bahagia.

“Mungkin aku harus mengikuti caramu dalam mencintai. Mencintai dalam diam!!!”, lanjutnya.

Sayapun ikut tertawa, tapi bukan karena ingin menertawakannya. Tapi memang yang aku nantikan telah datang. Adzan Magribpun telah berkumandang. Dua nikmat yang luar biasa. Aku ingat itu. Ketika berbuka dan ketika harus bertemu dengan Tuhannya.

 

Karena sebuah harapan, jika benar ia bisa menyentuh langit sedemikian tinggi. Terwujud, lantas menjadi kenyataan. Maka ia pun sangat mungkin untuk terhempas ke permukaan. Lalu hancur, dan berserakan.

Mungkin itulah gunanya, untuk selalu melambungkan angan tinggi-tinggi, dengan menyisakan hati yang cukup agar tetap berpijak pada kenyataan. Agar kita selalu mempunyai tempat, ketika sudah terbang cukup tinggi, dan mesti terhempas ke permukaan.

Cinta hanya menunda kehilangan. Tapi kehilangan tak akan pernah terjadi tanpa keinginan untuk mendapatkan. Jadi, mengapa kita tidak merasa cukup dengan jatuh cinta saja, tanpa memaksa diri bangkit, mengejar dan menaklukkannya, untuk kemudian tahu, dia tak akan pernah seutuhnya didapatkan, tak kepadanya semua bisa tuntas terucapkan…

Biarlah kulakukan diam-diam seperti ini, sehingga ketika kau tak memantulkan arah rasa yang sama, aku tak perlu terluka. Pun bila aku merasa tiba saatnya untuk berhenti, kau pun tak perlu merasa tersakiti.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s