Mencintai atau Dicintai ???

Standard

Ketika sahabat perempuan saya bertanya padaku tentang mana yang lebih aku pilih, antara mencintai atau dicintai, membuatku sejenak berfikir. Karena ku tahu setiap pertanyaannya adalah untuk memancingku dalam sebuah perdebatan. Pertanyaan yang simpel, tapi mampu membuatku berhati-hati menjawabnya.

“Aku memilih mencintai”, jawabku yang penasaran menunggu komentarnya.
Dia hanya tersenyum, tak berkomentar apapun seperti yang  aku prediksikan. Akupun memancingnya untuk berkomentar.
“Karena, aku mempunyai cara tersendiri untuk mencintai. Yang tak akan melukai siapa yang dicintai dan mencintai”, lanjutku.
Senyumnya berubah menjadi tawa. Tawa yang mengandung sebuah ejekan. Akupun berhasil membuatnya berkomentar.
“Mencintai dalam diam maksud kamu??? Selalu itu alibimu!!!”, tanyanya yang masih tertawa.
“Tapi aku menyukai caramu menyembunyikan ketidakmampuanmu”, tambahnya.
“Mencintai itu bukan perkara yang mudah, meskipun itu bukan pekerjaan mustahil!!!”, sergahku.
“Aku tak setuju. Sebenarnya mencintai itu masalah mudah. Mencintai sepenuh hati itu tak sulit, bahkan kadang hati kita bukan lagi penuh, tetapi meluap. Yang sulit adalah, untuk tetap mencintai sepenuh hati… waktu adalah tantangan terbesar bagi cinta, karena tubuh, sifat, persoalan hidup, pengetahuan, bahkan dunia, semuanya berubah…. apakah bisa mencintainya dengan totalitas yang sama??? Itulah masalah yang sebenarnya”, ungkapnya menjelaskan.
“Kalau menurutku, itu bukanlah masalah yang sebenarnya. Bukan bagaimana bisa mencintai sepenuh hati, tetapi mencari orang yang layak dicintai sepenuh hati… tak ada yang lebih hampa dari tepukan sebelah tangan, sebagaimana tak ada yang lebih sakit, daripada ketika orang yang mestinya menghapus air matamu, malah membuatmu menangis sejadi-jadinya…”, jawabku.

Hening, cinta sudah memberi energi yg tak habis-habisnya kepada manusia, untuk selalu bicara tentangnya. Lagian, cinta kok dibahas…. dirasakan aja, karena cinta adalah kerumitan yang sederhana. Rumit serumit-rumitnya. Tapi, tetap jangan menjadi takut mencintai dan dicintai. Namun karena namanya pun sudah jatuh cinta, sebelum bener-bener jatuh, kenakan seat belt anda, tegakkan sandaran kursi dan lipat meja didepan anda atau kalau perlu, gunakan helm full face, biar ketika terjatuh, tidak cedera berat, dan bisa langsung bangkit lagi. Hahahaha🙂

“Aku tidak mencintaimu, tetapi mencintai diriku sendiri di dalam dirimu” — syair arab klasik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s