Breakfast With Angel (2)

Standard

Entah mungkin sudah menjadi keinginan setiap anak muda sekarang yang ingin selalu memperhatikan dan diperhatikan, begitu pula yang terjadi denganku. Sosok yang selama  ini aku jadikan sebagai obyek perhatian sekaligus menjadi subyek yang memperhatikanku kini telah hilang entah kemana. Namun aku tak mau berusaha untuk mencoba mencari hingga menemukannya kembali. Karena dia adalah masa lalu. Ya, masa lalu yang hanya boleh sesekali untuk ditengok. Inilah mengapa Tuhan memberikan kedua mata didepan wajah manusia, karena mereka harus selalu melihat ke depan, bukan kebelakang. Maka, aku berfikir untuk segera mencari subyek baru yang tepat, dan tak salah lagi, sosok seorang Lia adalah alternatif akan hal tersebut. Seorang yang bisa membuat aku tertarik sebelum aku mengenalnya. Aku menganggap bahwa ini adalah kejadian langka bagiku. Karena aku tergolong selektif dalam menentukan sebuah pilihan,  apalagi pilihan itu tentang sebuah hati. Namun aku tetap sadar akan siapa diriku ini. Manusia berkasta sudra yang mencoba mencari keberuntungan dengan menuntut ilmu, karena aku yakin jika Tuhan itu akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sampai beberapa derajat. Meskipun tidak sebagai brahmana, setidaknya menjadi waisya pun sudah cukup bagiku. Yang penting aku tidak lahir dan mati dikasta yang sama. Sudra!!!

Seperti malam-malam sebelumnya, ketika di pembaringan, sebelum menuju dunia mimpi, aku terbiasa untuk merenung meski terkadang hanya merenungkan sesuatu yang tak berarti. Inilah nikmat yang tidak banyak orang mengetahuinya. Ya, nikmat tertidur. Tertidur karena sebuah perenungan. Jika harus memilih, aku lebih senang tertidur daripada tidur. Karena bagiku tertidur sangatlah nikmat.

Ada ungkapan yang mengatakan, butuh sedetik untuk mencintai, namun butuh seumur hidup untuk melupakan. Aku rasa teori itu sedikit diperkuat oleh keadaanku saat ini. Namun aku segera mancari solusi atas hal yang menimpaku itu, dan solusi itupun tidak lain adalah Triputi Dian Fimelia. Mungkin dia senjata alternatif yang bisa membunuh bayang-bayang setan yang selama ini selalu melintas dalam benak ini. Setan yang berwujud manusia dengan senjata pengkhianatan. Pengkhianatan yang telah melukai hati ini. Aku harus berjuang untuk mendapatkan senjata itu. Tapi apakah dia benar-benar senjata yang aku butuhkan??? Jangan-jangan dia juga sama seperti setan pengkhianat itu. Jangan-jangan mereka masih satu nasab. Ah, mengapa aku jadi ragu seperti ini??? Mengapa aku jadi buruk sangka padanya??? Ah, alangkah tak bijaknya jika aku mengeneralisirnya seperti ini. Tapi inilah yang dinamakan traumatic love syndrome. Ketakutan yang berlebihan karena kekecewaan dalam bercinta. Dan satu-satunya antibody untuk virus itu adalah dengan memaksa diri agar berani mencoba kembali. Try to get better than try to bye. Jika kita tidak mendapatkannya, kita akan kecewa, tapi jika kita melewatkanya, kita juga akan kecewa. Maka aku memutuskan untuk mencobanya. Dan langkah awal untuk memulai perjuangan ini adalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai obyek yang akan dijadikan sasaran.

Tak beberapa lama, sejumlah informasi mengenai Tri Puti Dian Fimelia pun terkumpul. Memang, mengumpulkan informasi adalah strategi pertama dan utama jika kamu ingin mendonorkan hatimu kepada seseorang, karena dari situ kita dapat menyusun strategi lebih lanjut tentang apa yang harus kita lakukan.  Setidaknya aku sudah mendapat personal data, education background dan beberapa informasi lainnya yang aku rasa cukup penting. Kemudian akupun mulai berfikir dan menganalisa sambil menunggu kesempatan tiba.

Entah angin apa yang membuat teman-teman sekelasku tiba-tiba menunjuk diriku sebagai ketua tingkat. Sebuah jabatan yang kelihatan elite dan prestisious padahal itu bisa dikatakan tak lebih dari seorang pelayan.  Pelayan bagi mereka yang mimilihnya. Aku tahu benar akan tugas seorang ketua tingkat. Mungumpulkan tugas, mengambil kertas presensi, meminjam remote LCD dan harus bertanggung jawab atas  anggotanya, termasuk jika ada anggota kelasnya berbuat ulah.  Sebenarnya aku sempat menolak, namun paksaaan demi paksaan keluar dari mulut  teman sekelasku silih berganti hingga aku tak punya alasan lagi selain harus menerimanya. Namun tidak aku sangka dari situlah kesempatan awal itu tiba.

“Tugas kalian untuk minggu depan adalah mengerjakan latihan soal dari bukunya Lukman Syamsuddin halaman 74 mengenai anuitas”, kata Pak  Khalil, dosen mata kuliah Finance Management kami.

“Hari ini hari rabu, saya mau tugas kalian harus sudah terkumpul dan diserahkan ke saya sebelum hari senin. Silakan ketua kelas mengkoordinirnya”, tambahnya.

“Nilai tugas ini saya jadikan nilai pengganti kuis, karena mata kuliah saya tidak ada kuis. Jadi tolong benar-benar diperhatikan”, ungkapnya lebih lanjut.

“Ada yang ingin ditanyakan sebelum kuliah hari ini kita akhiri???”, tanya Pak Khalil.

“Baiklah, kalo tidak ada pertanyaan, kuliah hari ini kita akhiri sampai disini. Sampai ketemu minggu depan. Assalamu’alaikum”, ungkpanya kemudian.

“Wa’alikumsalam”, jawab teman-teman serentak.

Suasana kelaspun menjadi gaduh setelah Pak Khalil keluar ruangan. Beberapa teman lagsung bercakap karena mereka mau mengerjakan tugas itu bersama-sama. Dan beberapa teman sedang asyik ngobrol entah apa yang dibicarakan. Kemudian akupun maju ke depan kelas dan memberi isyarat agar teman-teman sedikit tenang.

“Teman-teman, mohon perhatiannya sebentar, tolong jangan keluar ruangan dulu, ada yang ingin saya sampaikan sebentar”, ungkapku

Suasana kemudian bisa sedikit tenang. Yang tadinya berdiri dan mau meninggalkan kelaspun kemudian duduk kembali.

“Teman-teman, tadi kan Pak Khalil bilang, sebelum hari senin, tugas kita harus sudah terkumpul. Karena saya bertanggung jawab atas hal ini, Maka harapan saya hari minggu semua tugas sudah terkumpul di tempat saya sehingga senin pagi saya bisa memberikannya pada Pak Khalil”, ungkapku

“Temen-temen bisa mengumpulkan di kampus ataupun di kostan saya sampai hari senin sebelum jam 7 pagi”, tambahku.

“Ada yg ingin di tanyakan???”, tawarku.

“Misalkan mau ngumpulin tugasnya di kost kamu, kan kita gag tau tempatnya, Boleh minta nomor HP kamu???”, tanya seorang gadis yang tak kusangka itu adalah suara Lia.

Aku mengangguk.

“Jangankan minta nomor, minta HP’nya sekalipun bakal aku beri”, pikirku dalam hati.

Setelah bebrapa saat, teman-temanpun berhamburan meninggalkan ruangan. Namun ada beberapa yang masih asyik ngobrol dan bercanda. Dan tiba-tiba seorang teman menghampiriku.

“Berapa nomor kamu, Boy???”, tanya Lia

Akupun mengambil handphoneku dari dalam tas dan mencari nomorku  di dalam phonebook.

“Ini, kamu tulis sendiri aja!!! Aku gag hafal nomorku”, perintahku sambil memberikan handphoneku pada Lia.

Selagi dia menulisnya, aku mencoba mencuri pandang ke gadis itu. Di hidungnya masih ada bintik air. Masih sama seperti yang aku lihat beberapa hari yang lalu. Belum pernah aku menemui penyakit yang gejalanya keluar bintik air di hidung. Atau mungkin jauh di dalam hidung itu terdapat sumber air. Sumber air yang mampu menyegarkan setiap mata yang melihatnya.

“Makasi ya Boy…”, ungkapnya sambil tersenyum.

“Mungkin kalau gag sabtu atau minggu aku ke tempat kamu buat ngumpulin tugasnya. Besok dan lusa aku mau ke rumah saudaraku di Surabaya. Sepupuku mau nikah. Jadi gag mungkin kan aku ngumpulin tugas itu di kampus???”, tambahnya.

“Ya udah, nanti kalo mau ke tempatku telpon atau sms dulu ya!!!”, jawabku.

“Siap Boss!!!”, jawabnya sambil tertawa mengejek.

Lia memang type orang yang suka bercerita. Tanpa aku mintapun dia sudah menceritakan prihal dirinya. Perihal agendanya selama dua hari kedepan. Perihal sepupunya yang mau nikah. Kali ini, aku mendapat sedikit informasi, namun langsung dari sumbernya.

Sore itu, aku sedang nongkrong di sekretariat organisasi. Sudah menjadi kebiasaan jika setiap malam minggu, temen-temen selalu berkumpul untuk diskusi, ngobrol, main kartu, catur, kemudian keesokan paginya bersama-sama bermain futsal di kampus. Ketika sedang konsentrasi dalam bermain catur, tiba-tiba handphoneku bergetar karena ada panggilan masuk, konsentrasipun menghilang seketika.

“Haloo, assalamu’alikum”, ucapku memberi salam.

“Wa’alaikum salam, Ini Lia, maaf aku mau ngumpulin tugas, kost kamu dimana???”, tanya Lia.

“Kebetulan sekarang aku dideket kampus, kita ketemuan di depan gedung dekanat  aja”, jawabku.

“Sipp siip,,, ni aku masih di jalan, ntar kalo udah di depan dekanat aku telpon lagi, okay??”, ungkapnya.

“Siipp…”, jawabku setuju.

“Ya udah, assalamu’alaikum”, salamnya menutup telponnya.

Memang lokasi sekretariat organisasiku tak begitu jauh dari kampus, namun aku tak tahu entah mengapa setelah Lia menutup telponnya, aku segera mengakhiri permainan caturku dan kemudian langsung menuju kampus. Mungkin saat itu aku berfikir kalau aku akan bertemu dengan gadis dengan senyum menawan, sedang aku sangat mengharapkan untuk melihat senyum itu.

Tak beberapa lama akupun tiba di kampus. Aku menunggu di taman yg terletak di samping gedung dekanat sembari melihat lalu lintas kendaraan yang berlalu lalang tiada jeda. Menunggu memang menyenangkan ketika kita tau apa yang kita tunggu itu pasti datang.

Tak beberapa lama, sebuah mobil berwarna hitam metalik berhenti. Dari dalam mobil itu keluar seorang gadis. Benar, dia adalah Lia. Seorang yang dari tadi aku menunggunya.

“Lia…”, panggilku.

Dia berjalan menuju ke arahku.

“Mana tugasmu???”, tanyaku padanya.

“Maaf udah ngrepotin kamu”, katanya sambil memberikan tugasnya padaku.

Aku tersenyum dan mengamati kertas yang ada di tanganku.

“Gak apa Lia, aku tahu kok konsekuensinya jadi ketua tingkat, setidaknya dari sini aku bisa belajar tanggung jawab”, ungkapku.

Lia hanya tertawa kecil, Aku masih terus mengamati tugas Lia. Sepintas aku melihat kesalahan pada tugas Lia. Ya, aku bisa menyalahkan karena kemarin aku telah mengerjakan soal ini. Soal yang sama. Aku masih ingat betul kata demi kata dan angka demi angkanya.

“Aku gag yakin sama tugasku ini, soalnya aku nyontek tugasnya Eva”, ungkapnya.

“Abis aku gag ada waktu buat ngerjainnya”, tambahnya.

Mendengar itu, akupun semakin yakin jika tugas yang ada di tanganku ini salah. Tapi aku hanya mengangguk dan tersenyum, karena aku merasa telah menemukan cara. Cara untuk mendapatkan sedikit perhatian dari Lia di kemudian hari nanti.

“Kamu tadi kesini sendiri???”, tanyaku mengalihkan topik.

“Nggak kok, aku dianter sopirku. Soalnya abis ini aku ada kursus bahasa Inggris. Kursusnya kan pulangnya malam, jadi mesti di antar”, jawabnya.

“Emang kenapa???”, tambahnya.

“Gak papa seh, cuma heran aja, waktu kamu telpon tadi kan kamu bilang masih di jalan. Aku khawatir kalo kamu nabrak tukang cilok lagi gara-gara kamu nyetir sambil telpon”, jawabku sambil tertawa.

“Sialan kamu,, ternyata kamu bisa bercanda juga…”, jawabnya sambil tertawa.

“Ya udah, ak balik duluan ya, soalnya kursus aku bentar lagi mulai”, ungkapnya.

“Iya,,, hati-hati Lia!!!”, jawabku.

“Kalo mo bilang hati-hati tuh jangan sama saya, bilang ma pak sopir sana.. “,celotehnya sambil berjalan menuju mobilnya.

“Kamu sialan juga ternyata…”,jawabku.

Deruman knalpot yang diikuti bunyi klakson mobil Lia mengakhiri pertemuanku dengan Lia di sore itu. Teryata tidak hanya senyumnya yang indah, tawanyapun juga menawan. Mungkin saat itu adalah salah satu akhir pekan terindah yang pernah aku miliki. Aku memperhatikan terus mobil itu yang semakin lama semakin jauh, dan akhirnya pun menghilang. Ini berarti kertas tugas yang berada di tanganku ini juga harus menghilang. Setelah beberapa saat aku mengamati kertas itu untuk menghafal nama dan nomer induk Lia, akupun segera membuang kertas itu ke tempat sampah. Ini bukanlah upaya membalas sakit hati, tapi ini adalah strategi. Ini bukanlah amanah yang diabaikan, tapi ini adalah jalan.

Minggu malam, sebelum tidur aku mengerjakan kembali tugas dari Pak Khalil, karena aku tahu esok tugas itu sudah harus aku serahkan. Namun kali ini aku mengerjakannya bukan untuk diriku sendiri, tetapi aku mengerjakannya untuk Lia. Ya, karena aku telah membuang tugasnya ke tempat sampah. Tugas yang dikerjakan dengan penuh keraguan. Akupun menyamakan jawaban  tugasku dengannya.

Rabu pagi, setelah meminum kopi dan membeli sebungkus rokok akupun segera berangkat ke kampus, karena aku ada kuliah di pagi itu. Setibanya di kampus, ternyata kuliah sudah di mulai. Pintu kelaspun sudah tertutup. Ya, aku terlambat.

“Asslamu’alaikum”, salamku sembari membuka pintu kelas.

“Maaf saya terlambat, Pak!!!”, tambahku.

“Baik silakan duduk”, jawab Pak Khalil.

“Makasih Pak,”ungkapku sambil berjalan ke tempat duduk.

Suasana hening, tak ada satupun yang bersuara kecuali sang Dosen. Ini dikarenakan semua mahasiswa tahu siapa yang sedang dihadapinya saat ini. Di kalangan mahasiswa, Pak Khalil memang terkenal sebagai dosen yang killer. Itulah sebabnya tak seorangpun mahasiswa yang berani membuat gara-gara. Beliau sangatlah disiplin, mungkin beliau menginginkan kedisiplinan tertanam pada setiap anak didiknya.

“Saya akan mengumumkan nilai tugas kalian kemarin satu per satu”, ungkapnya.

“Saya juga akan membagikan kembali hasil kerjaan kalian”, tambahnya.

“Mengapa ini saya lakukan, karena supaya kalian tidak complain atas nilai yang saya berikan di akhir semester nanti. Agar semua hasilnya transparan. Dan yang lebih penting lagi, ini supaya bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi kalian”, paparnya lebih lanjut.

Aku tersenyum lebar, karena aku tahu Pak Khalil pasti akan melakukan demikian. Aku mengetahui karena beberapa hari yang lalu aku sempat berdiskusi dengan kakak tingkat mengenai karakteristik dosen di kampus ini. Memang, mempercepat arus informasi adalah salah satu cara untuk membuat kita lebih unggul, dan berdiskusi dengan orang-orang yang lebih tua dari kita merupakan salah satu caranya. Mungkin karena mereka sudah banyak makan garam dan mempunyai banyak pengalaman kehidupan.

Dengan suara yang lantang dan tegas, Pak Khalilpun membackan satu persatu nilai kami. Aku melihat ke sekelilingku, ada yang tertawa kegirangan, namun adapula yang wajahnya tertunduk kecewa. Ketika aku menoleh kearah Lia, aku melihat wajahnya juga tertunduk kecewa setelah nilai Eva dibacakan. Ya, Eva mendapatkan nilai “D”, nilai yang cukup mengecewakan. Aku tau apa yang ada di benak Lia sekarang. Dia pasti berfikir jika nasibnya juga akan seperti Eva. Karena aku tahu tugas yang dikumpulnya kemarin hasil contekan darinya.

“Triputi Dian Fimelia, ‘A’…!!!”, umum Pak Khalil.

Setelah namanya disebut dan nilainya diumumkan di depan kelas, wajah yang semula tertunduk kini berubah. Raut wajahnya seperti orang kebingungan. Diapun kemudian maju ke depan untuk mengambil kertas tugasnya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kertas itu. Kertas tugasnya telah berganti. Tidak sama dengan tugas yang diberikannya padaku. Aku tau dia pasti akan curiga denganku, maka aku segera menundukkan pandanganku dan berpura-pura ngobrol seolah aku tidak mengerti. Dan dugaanku benar. Ketika aku meliriknya, pandangannya mengarah padaku. Pandangan yang menyimpan sejuta pertanyaan. Namun aku masih berpura-pura tak mengerti.

Ketika perkuliahan selesai, diapun langsung menghampiriku. Aku tahu apa yang ada dihatinya. Di hatinya pasti ada rasa bersalah pada Eva, karena ia merasa telah berkhianat pada teman karibnya itu, meskipun di dalam hatinya juga ada perasaan gembira karena ia mendapat nilai yang sempurna. Aku juga tahu apa yang akan dikatakan padaku.

“Mengapa tugasku bisa berubah???”, tanyanya mengintrogasi.

Aku tak menjawab. Aku masih diam. Kemudian aku berjalan kearah Eva. Lia pun mengukutiku dengan rasa penasaran tentunya. Aku ingin mencoba mengambil jalan tengah dengan mendatangi Eva. Ya, aku berharap Eva tidak merasa dikhianati, dan Lia pun tidak merasa bersalah.

“Kemarin waktu aku minum kopi, gelasnya tumpah tepat di kertas tugas kamu hingga tak berupa tugas lagi”, jawabku.

“Mau tak mau aku mesti tanggung jawab donk…”, tambahku.

“Jadi kamu menyalin lagi tugasku???”, tanya Lia kemudian.

“Iya, aku pun menyamakan jawaban tugasku dengan tugasmu”, jawabku sambil tersenyum kecil.

“Kenapa kamu gag sekalian nyalin punyaku, Boy???”, tanya Eva bercanda.

“Abis tugas kamu gag suka minum kopi sih, mungkin kena magh kali..”,ungkapku pada Eva yang diikuti tawa Lia.

“Bukan sakit magh, tapi ia takut gag bisa tidur aja”, sahut Eva yang juga ikut tertawa.

“Eh, aku pulang duluan ya,, aku udah ditunggu ojobku4“, ungkap Eva setelah beberapa saat membaca sms di handphonenya.

Kemudian Evapun bergegas meninggalkan kami berdua.

“Kamu juga mau langsung pulang???”, tanyaku pada Lia.

“Emang kamu sendiri mau pulang sekarang???”, Lia balik bertanya.

“Aku mau makan dulu di kantin, tadi berangkat belum sarapan”, jawabku.

“Ehmmm.. ya udah aku temenin yuuukkk”, ajak Lia.

Kami pun berjalan menuju kantin. tak henti-hentinya kalimat syukur terucap dari dalam hatiku. Breakfast With Angel. Mungkin itulah kata yang cocok untuk mengungkap keindahan di pagi itu. Karena pagi itu adalah pertama kalinya  aku makan berdua dengan seorang gadis dengan senyum yang sangat indah. Senyum yang aku sangat mengaguminya.

“Mau makan apa Lia???”, tanyaku.

“Kamu pesan duluan aja”, jawab Lia.

“Aku mau nasi pecel5 aja, kamu mau apa???”, ungkapku.

“Ya udaw, aku juga”, jawabnya sambil tersenyum.

“Ah.. gag kreatif banget sih??? Sukanya ngikut-ngikut!!!”, ungkapku meledek.

Lia hanya tersenyum.

“Kamu minum apa??? Kali ini kamu duluan yang pilih. Aku gag mau mematikan kreativitasmu dengan pilihanku”, tawarku bercanda.

Lia semakin melebarkan senyumnya kemudian tertawa oleh celotehanku.

“Ya udah, aku juice mangga”, jawabya masih disertai tawa.

“Baik, juice mangga-nya dua kalo begitu”, ungkapku sembari tersenyum padanya.

“Iiihh, tadi bilang katanya aku gag kreatif, sekarang kamu sendiri yang ikut-ikutan”, kata Lia.

“Bukannya gitu Lia, aku cuma pengen score kita imbang 1-1. Gag mungkin kan aku tega ngalahin kamu??? Kalo kyk gini kan kita jadi sama-sama gag kreatifnya”, ungkapku membela diri.

Tidak, ini bukanlah pembelaan diri, tapi ini memang harus aku lakukan. Karena jika kita berbincang dengan seorang wanita, kita harus berusaha membuat dia sesekali jatuh ke dasar dan sesekali terbang ke angkasa agar pembicaraan kita tidak membosankan. Ini karena hati wanita itu sangat elastis, mudah sekali untuk ditarik ulur.

Entah mengapa aku sangat menikmati detik-detik bersama Lia. Aku merasa sedetik adalah waktu yang sangat berarti, bahkan aku sempat berharap waktu akan berhenti hingga aku bisa terus tetap memandangi senyumnya. Oleh karena itu, akupun memperlambat tempo makanku,  memelankan saat mengunyah, dan memperlama ketika mengisap sedotan juice-ku.

“Aku tadi shock banget ketika Pak Khalim mengumumkan nilaiku”, ungkap Lia sembari mengunyah makanannya.

“Apa yang aku pikirkan ternyata berbalik seratus delapan puluh derajat, tadinya aku mengira kalo nilaiku bakalan hancur”, tambahnya

“Gag taunya aku malah dapat nilai bagus”, ungkapnya kemudian.

“Untung saja ada kopi tumpah, memang ini sebuah keberuntungan bagiku”, tandasnya.

Aku hanya diam dan sesekali menganggukkan kepala. Jika saja dia tau bahwa ini adalah  skenario yang memang sengaja dibuat, pasti ia akan berpikir ribuan kali sebelum mengatakan bahwa ini semua adalah keberuntungan. Akan tetapi apalah  arti semua itu bagiku, yang penting aku telah berhasil mencuri sedikit perhatian Lia. Setidaknya setelah kejadian ini, aku berharap ia akan menganggapku sebagi teman, dan akupun akan menganggapnya sebagi idaman. Karena itu adalah salah satu yang terindah dalam hidup. Menjadi teman orang yang kita kagumi.

_________________________________________________________________________________

4. Ojob : Pacar, ungkapan untuk menyebut seorang kekasih (boy/girl friend).

5. Sego Pecel : Oges Lecep, Makanan khas Jawa Timur yang terdiri dari Nasi dan Urap dengan bumbu kacang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s