Aside

“Kepada seluruh penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-xxx tujuan Surabaya, pesawat anda mengalami keterlambatan sekitar 3 jam. Mohon maaf atas ketidaknyamanan perjalanan anda. Terimaksih!!!

Shitt!!! Bisikku dalam hati. Suara itu terdengar jelas karena keluar dari speaker yang berada tepat diatas tempat dudukku. Disini, diruang tunggu. Late Is Our Nature. Mungkin karena itulah maskapai ini dinamakan Lion Air. Terus terang, saya sangat kecewa dengan keterlambatan ini. Namun, kalu dipikir-pikir lagi, apalah artinya menunggu 3 jam jika dibandingkan harus berjalan kaki Jakarta-Surabaya. Ah ini perbandingan yang lebay, hanya untuk menghibur diri.

Kuambil headset, memutar musik, dan kembali kubuka buku favoritku, “Silakan Terpesona”. Buku yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Sebelum sempat aku membacanya, suara desiran pesawat mengejutkanku, dan sontak membawaku kembali kemasa 19 tahun yang lalu.

Ini adalah pengalamanku dimasa kecil dulu, saat masih ingusan dan masih senang bermain¬† dengan teman sebaya, berlarian dan kejar-kejaran. Dan bukan tak mungkin, anda pun turut merasakannya di waktu kecil dulu, meski kadang anda sendiri tak menyadarinya.Yah, namanya juga anak kecil yang masih lugu dan polos. Mereka belum pernah merasakan hiruk pikuk perkotaan yang riuh ramai dengan segala situasi yang melingkupi kehidupan masyarakatnya. Banyak pengalaman jaman dulu yang bila dipikir-pikir kemabali, semua itu terkesan konyol dan lucu. Haha…..

Salah satunya adalah kebiasaan kami, anak-anak kecil desa yang hidup dikampung adalah bermain bersama ditanah lapang. Nah, saat ada pesawat melintas diatas kepala kami, sontak kamipun berlarian bersama seraya menengadahkan kepala dan tangan serta berteriak bersama-sama. “Montor Miber, Njaluk Duit’e!!!” (Pesawat Terbang, Minta Uangnya!!!).

Begitu pula saat sedang santai di dalam rumah menyadari suara pesawat terbang membahana dan menggema di angkasa sana, sayapun keluar menuju halaman dan berteriak lantang meminta uang kearah langit, seolah-olah mereka yang sedang menumpang di pesawat mendengar pekikan suara kami di bawah sana. Hahahah… Dan meskipun sadar uang tak akan pernah turun dari pesawat, alam bawah sadar kamipun menuntun mulut kami untuk berteriak seperti itu dan berlarian memandangi pesawat tang terbang diatas kampung kami.

Aku tak bisa membayangkan, bila saja mereka mendengar permintaanku, kemudian semua penumpang pesawat berinisiatif untuk mengumpulkan uang recehan (uang logam), dan setelah terkumpul satu karung banyaknya, mereka hendak memberikannya kepadaku dengan cara melemparkannya dari pesawat, maka apa yang akan terjadi padaku saat itu??? Kejatuhan sekarung uang logam dari ketinggian ribuan kaki???

Tanpa aku sadari, aku tersenyum sendiri. Hingga wanita separuh baya yang duduk disampingku membawaku kembali dari past tense menuju present tense. Aku terkaget dan terbangun dari lamunanku dengan senyum yang masih menghiasi bibirku.

“Dek, kenapa senyum-senyum sendiri???”, tanya wanita itu membangunkan lamunanku.

“Gag apa-apa, Buk…!!! Pesawat itu lucu!”, jawabku sembari mengacungkan telunjuk ke arah pesawat.

“Pesawat kok lucu. Jangan-jangan tadi nyindir saya”, gumamnya.

#Spechless

The right man in the wrong place!!!

—————————————————————-

> motor miber = pesawat, plane

> njaluk = minta, ask

> duit = uang, money

Pesawat dan Uang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s