LDR

Standard

Sumpah, pertama kali aku mendengar istilah LDR, otak ku langsung menuntunku pada sosok bernama Khalim Khalil. Dosen mata kuliah finance management dulu. Maka ketika sahabat saya membuat status di dinding fesbuknya ” LDR is killing me“, maka dengan culunnya saya komentar di statusnya : “Kalo tak ingin terbunuh, jangan berhutang!!!”. Ya, karena saat itu yang ada di pikiranku adalah mengenai rasio utang. Long Debt Ratio. Dan setelah saya klarifikasi pada korban, ternyata sahabat saya itu sedang dibunuh oleh ‘jarak’.

LDR yang tadinya bahasa bule dipake jadi bahasa gaul dan masuk kamus asmara anak remaja. Emang ada??? hahaah entahlah.

LDR itu apaan sih ??? Sapa seh yang ga tau LDR??? LDR is Long Distance Relationshit. Ups… bukan, yang betul adalah Long Distance Relationship,banyak yang bilang ini adalah jalinan hubungan yang tak mengenakkan. Karena dua orang yang saling cinta dipisahkan jarak  dan mau tak mau harus terima, khawatir takut dan rindu pun jadi satu. (katanya sihh…) Sehingga Lara Duka Rindu ada di Long Distance Relationship yang mengharuskan mereka yang menjalani selalu Lelah Diam Risau. (maksa)

Cintakah namanya, bila jarak selalu saja merampas  tubuhnya dari dekapanmu??? Bisakah kau sebut sebagai kekasih saat sekat antara kau dan dia  begitu tebalnya sehingga jiwanya hanya bisa kau sentuh dengan email, sms, dan telepone??? Rindukah namanya bila wajah yang kau simpan rapi di ruang hati hanya rekaman ingatanmu pada hasil tangkapan web cam, kamera digital, atau scanning sentuhan-sentuhan teknologi???

Kau pernah bayangkan, andai bulan hanya muncul sekali dalam seratus tahun, betapa kita akan memandangnya dengan penuh takjub dan kekaguman.

Juga bisakah kau bayangkan, andai bulan ada di sini, menggantikan bumi. Akan kita injak-injak dia tanpa beban, tanpa terima kasih, tanpa kekaguman.

Kau tahu berapa biaya yang dikeluarkan para “astronot” komersial itu, pergi ke luar angkasa? Puluhan, atau mungkin ratusan miliar rupiah, hanya agar punya jarak dengan bumi. Dan di sana, dia tercengang, melihat bola raksasa dengan biru atmosfirnya, di tengah pekatnya semesta. Dia jatuh cinta kepada alas kakinya sendiri selama bertahun-tahun kehidupannya.

Dan andai pungguk pernah tahu betapa wajah bulan tak selembut itu, dia mungkin tak akan menghabiskan malamnya untuk merindu.

Berhentilah berharap pada happy ending itu. Cinta sejati memang tidak boleh happy ending, tak boleh berakhir bahagia, karena dia sesuatu yang tak punya akhir.

Dan sederhananya, jarak adalah vaksin bagi kebinatangan kita. Jarak adalah juru selamat kita dari dosa berikutnya. Jarak merenggut semua, menyaring segala, hingga yang tersisa adalah butiran-butiran murni kerinduan, tetes-tetes bening cinta.

Biarkan dia hidup di sana, biar tawanya dibagi dengan siapa saja. Tangisnya biar untukmu, dalam sepi kau menengadah. Tak setahu dunia, tak tercatat jadi dosa. karena kalian adalah pengantin di luar cuaca, tak kematian pun bisa memisah.

————————————————————————————–

never ending stories,
wishing on the stars,
singing in the rain,
laugh while crying…

FEEL it in every core of one’s body,
FEEl it in every blink of one’s eyes,

Then we don’t need distance to say I LOVE U,
cause you’re here in every beat, breathe and veins..
🙂 FREE YOURSELF, indeed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s