I can but I know (3)

Standard

Aku dan Lia pun berteman baik. Dari hari kehari-hari pertemanan kita semakin akrab. Kita sering main, ngobrol, nonton, makan, dan belajar bersama. Namun ironisnya, tujuan awalku untuk menjadikan Lia sebagai obyek perhatian dan subyek yang memperhatikanku semakin lama semakin surut. Bahkan hampir-hampir aku tak mengingat obsesi itu lagi, meskipun peluang dan kesempatan terbuka lebar. Ini karena aku sudah merasa cukup nyaman dengan hubungan pertemanan ini. Namun faktor utama yang membuat hilangnya obsesi itu adalah kesadaran akan diriku. Sadar akan perbedaan kasta kita. Mungkin ada benarnya juga orang yang mengatakan jika sahabat itu lebih dari sekedar kekasih. Aku menjadi diriku, dan dia menjadi dirinya. Tak ada yang harus ditutup-tutupi. Memang sebuah pertemanan atau persahabtan tanpa keterbukaan sama halnya membeli buah di toko bangunan. Pastilah tak akan pernah ketemu. Aku menikmati momentum ini.

Entah setan atau malaikat mana yang sedang menghampiriku. Perasaan manusia itu aneh. Suatu waktu,,, obsesiku untuk menjadikannya sebagai obyek perhatian muncul kembali. Muncul dikarenakan oleh sebuah keyakinan gila. Yakin bahwa kelak ia akan menjadi jodohku. Entah darimana keyakinan itu datang. Yang jelas, keyakinan itu tidaklah muncul dengan tiba-tiba. Dalam hidupku, aku hanya akan mengagumi tiga orang wanita. Wanita dengan wajah manis, yang memiliki senyum indah, dan yang mempunyai intelektualitas mengagumkan. Aku sering menyebutnya Triple Big Beauty. Bagiku, seperti itulah wanita yang mendekati sempurna, dan ketiga unsur itu telah aku dapati pada diri Lia. Namun masalahnya, keyakinanku itu tidak diimbangi dengan sebuah rasa. Ya, aku sama sekali tidak mempunyai rasa padanya.

Aku mencoba memunculkan rasa itu. Aku terus menerus mengingat kelebihan dan kebaikannya untuk mengundang rasa itu menjadi ada. Mengingat senyum indahnya, memikirkan kecerdasannya, dan selalu membayangkan wajah manisnya. Hasilnya tak begitu mengecewakan. Bermula dari rasa kagum, rasa itu kini tumbuh menjadi benih cinta. Ya, aku mulai jatuh cinta padanya. Semakin hari senyum gadis itu tampak semakin indah olehku. Wajah manisnya juga semakin menawan. Dari hari kehari, aku terus menjaga rasa itu. Hingga suatu saat, aku mulai khawatir dengan hatiku. Kekagumanku pada Lia tak terbendung terlebih setelah tahu bahwa ia mendapatkan nilai perfect dalam suatu semester. Memang benar-benar sebuah kecerdasan yang luar biasa. Rasa kagummku semakin menggebu-gebu. Lebih menggebu dari orasi Soekarno.

Perasaan manusia itu benar-benar aneh. Rasa itu memang telah berhasil aku munculkan dalam diriku, namun sayangnya, keyakinanku sedikit demi sedikit mulai menghilang tergerus oleh kenyataan dan rasioanlitas. Ya, aku tak  mungkin mengungkapkan rasa itu padanya. Aku tahu konsekuensi apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. Bukan karena aku takut kecewa atau karena aku seorang pecundang, namun aku takut kehilangan sebuah persahabatan. Aku tak ingin kontrak sosial yang telah terbentuk itu hancur karena ego ku untuk memaksakan diri. Aku tak ingin kehilangan sahabat. Aku tak ingin ia menjaga jarak denganku. Aku tahu itu.

Memang sakit mencintai seseorang yang tak mencintaimu. Namun lebih sakit dari itu, ketika kamu mencintai seseorang dan kamu tak pernah ada keberanian untuk mengatakannya. Ah, ini bukan masalah berani atau pun tak berani. Tapi ini adalah masalah persahabatan dan hati. Aku mengalami delematika yang luar biasa. Dilematika yang komposisinya terdiri dari rasa bingung dan bimbang. Terjadi peperangan hebat dalam diriku. Ego dan hati sama-sama ingin saling menghancurkan. Ketika aku mencoba bersekutu dengan  hati, dengan bersemangat ego berusaha menghadangnya. Dan ketika aku berusaha berteman dengan ego, dengan serta merta hati mengerahkan seluruh kekuatannya. Aku berada di sebuah persimpangan. Tak tahu dengan siapa aku harus berkawan.

Aku pun merenung dan terus merenung. Hingga suatu hari, secercah cahaya harapan datang. Aku menemukan cara memecahkan kebimbanganku. Aku harus mengembalikan semua permasalahan ke titik awal. Aku harus membawa semuanya kembali ke “zero point”. Ya, aku harus menghilangkan keyakinan dan rasa itu dalam diriku. Aku sedikit dibantu oleh keadaan, karena keyakinan itu telah menghilang dari dalam diriku dengan sendirinya. Hanya tinggal bagaimana caranya aku menghilangkan rasa yang ada. Aku terus menerus mengingat kekurangan dan kejelekannnya untuk menghilangkan rasa itu. Namun sayangnya, aku tak berhasil menemukan satupun kekurangan ataupun kejelekannya. Yang aku temukan hanyalah kelebihan dan kebaikannya. Benar-benar celaka dua belas!!! Aku tak berhasil dengan  usahaku. Karena itu, hati dan ego pun masih tetap bertempur. Saling serang dan saling melawan. Aku pun kembali merenung dan terus merenung. Setelah beberapa waktu, hasilnya pun tetap nihil. Aku tak menemukan cara lagi.

Aku tak lagi merenung dan terus merenung. Aku harus membagikan masalah ini kepada seseorang untuk menemukan solusinya. Ah, tidak… Aku tak ingin membagi indahnya dilematika ini pada siapapun. Aku ingin menikmatinya sendiri. Namun, jika benar seperti itu, darimana aku bisa menemukan solusi??? Dengan sedikit keterpaksaan, aku pun membagi masalahku pada temanku. Hasilnya tak begitu mengecewakan. Kami menemukan solusi baru. Yang lebih solutif tentunya. Ya, menghilangkan rasa dengan rasa. Aku harus memunculkan rasa baru untuk menghapus rasa yang lama. Dengan memanfaatkan kelebihanku sebagai seorang laki-laki, yang lebih berani berspekulasi dengan perasaan, yang tak pernah dimiliki oleh wanita, dengan waktu yang cukup singkat aku berhasil memunculkan sebuah rasa baru. Namun lagi-lagi sangat disayangkan, setelah beberapa waktu, rasa baru itu tak juga mampu menghapus rasa yang lama. Celaka dua puluh empat!!! Lagi-lagi aku tak berhasil dengan usahaku. Aku gagal meredam pertempuran dalam diriku. Aku pun kembali pada temanku dan melaporkan mengenai kegagalanku. Dia hanya mampu mengangkat bahunya dan tertawa, serta sesekali menggelengkan kepala. Aku dapat memahami maksudnya. Itu artinya, ia telah menyerah kalah. Tak ada cara lagi yang bisa ia tawarkan. Tak tahu lagi tentang apa yang harus kami lakukan. Tak mengerti cara menghentikan sebuah pertempuran. Aku berdo’a pada Tuhanku agar segera menghilangkan kegalauan ini. Karena hanya itulah hal terbaik yang mungkin bisa aku lakukan dan berharap waktu yang akan menghempaskannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s