Istiqomah

Standard

Dia rembulan, dan akulah pungguknya. Cinta hanya sungguh cinta, bila kau siap kehilangan segala yang kau miliki, untuk mendapatkan semua yang kau inginkan. Dan dihadapannya, aku merasa kehilangan segalanya. Suara, pendengaran, pikiran, terbang entah kemana setiap kali mataku memandang sebilah senyum dan tatapan sinisnya. Meski aku sudah mati-matian berusaha menahannya. Tegang dan gugup melebur menjadi satu. Tegang beranakkan bata, gugup melahirkan kelu, dan semua berakhir pada pikiran yang buntu. Semua kata dan segala aksara yang telah aku persiapkan sebelum aku menemuinya dirumahnya selalu lebur  hancur membaur.

Mungkin itulah yang membuatnya selalu berkata “tidak”. Bukan lagi “belum” tapi “tidak”. Tegas dan lugas!!!. Dan ini bukanlah yang pertama kali, tapi ini sudah yang ke enam kali. Bilangan yang kamu harus menggunakan kedua tanganmu untuk menghitungnya karena jari sebelah tanganmu tak cukup lagi untuk mewakilinya. Aku tak akan pernah menyalahkan hatiku yang sudah menjadikan rasa itu sebagai tempat bersemayam.

Hancurkanlah semua yang bisa dihancurkan, tapi tidak hati seorang manusia yang penuh cinta, karena di sanalah sesungguhnya Tuhan bertahta. “Pasukan Saladin boleh menaklukkan Kerjaan Surga di Jerusalem, tapi tidak Kerajaan Surga di hati kita,” bisik Balian.“How can you be in hell, when you are in my heart?”, bisiknya kemudian dalam film Kingdom of Heaven. Atau di film Titanic, Jack memang akhirnya tenggelam perlahan ke dasar samudera yang dingin membeku. Itu yang kita saksikan dengan hati tercabik kepedihan. Tapi bagi Rose di sepanjang sisa usianya, “You are safe in my heart, and my heart will go on and on…”

Jadi, janganlah meragukan aku pungguk yang selalu mengharapkanmu bulan. Jangan lagi meremehkan para pecinta, seabsurd apapun dia kelihatannya. Karena rindu dan cinta, sesuatu yang datang dari hati itulah, yang memberi pungguk tenaga merayapi malam hingga ke pucuknya. Rasa yang absurd itulah yang memberi pecinta kekebalan untuk membendung semua derita.Jangan pernah sepelekan hati, karena jika Tuhan saja bisa bertahta di sana, apalah lagi hanya sebilah senyum dan tatapan sinis.

Hai, kalian yang disana, maka kenanglah kini, betapa angkuhnya kau dulu, kemarin, atau barusan saja tadi, ketika menertawai hati yang bersimpuh mengharap cintamu. Kau telah mencibir tempat Tuhan bertahta.

Apa sih susahnya menyambut penyerahan hati, tanpa harus ada yang terlukai? Tinggal bilang “Aku terima dengan segala penghargaan cintamu padaku. Tapi pahamilah, hatiku sendiri telah lebih dulu menyerah kepada seorang penakluk lain.”

Yaa, itu sih contoh saja. Bisa juga dengan format bahasa lain, yang penting datang dari hati. Misalnya,  “Beneran aku terharu banget waktu tahu kamu ternyata sudah lama menyimpan rasa padaku. Aku juga jadinya kesel banget, ngapain juga aku selalu mengharap cinta dari dia. Tapi kamu tahu kan, hati kita emang gak bisa diatur. Plis, jangan berhenti ya nyayangin aku, itu berarti banget, beneran, berarti banget.”

Atau  “Busyet dah! Kita emang dari dulu senasib ya… Sama-sama jatuh hati sama yang ngga memerlukannya. Yee, kamu jangan ngenes gitu dong. Kamu mah mending, lha aku gak pernah punya keberanian nyampein sama anak jahanam sialan itu.”

Bila hati disambut dengan hati, maka hati yang patah akan tinggal menjadi kisah, musnah dikunyah sejarah. Hati terlalu lembut untuk dilukai, konon lagi untuk melukai.

Note:

Tulisan ini dibuat untuk memberi semangat teman yang baru saja patah hati karena cintanya yang tak terbalas. Yang telah menyerah kalah pada tembakan pertamanya. Sedangkan saya telah enam kali kehilangan amunisi namun masih tetap berdiri. Karena sebuah keyakinan bahwa dunia akan dimenangkan oleh orang yang ditolak, tapi istiqomah. Ya, istiqomah. Itulah point-nya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s