Tell Me You Love Me Too (4)

Standard

Sore itu, kulihat jarum jam menunjuk angka lima. Setiap sore aku selalu menyalakan TV untuk mengikuti acara berita di salah satu stasiun televisi. Meskipun terkadang aku hanya mendengarkannya dari luar kamarku. Tapi hampir bisa dipastikan jika jam-jam itu, TV dikamarku menyala hingga suara adzan magrib dari masjid berkumandang.

Setahun pertama aku kost di situ, jika senja mulai datang, hidupku serasa berada di belantara. Sepi sekali. Tak ada teman, tak ada hiburan. Hanya beberapa buku yang selalu mengawasiku dalam keheningan malam. Buku yang aku beli dengan menyisihkan sebagian uang saku bulananku.

Namun, pada tahun kedua, tepatnya di pertengahan semester empat, aku mendapat beasiswa untuk program pengembangan akademik dari kampus. Uang dari beasiswa itu sedikit aku salah gunakan untuk membeli TV. Ahh, bukan menyalahgunakan. Toh TV pun jika untuk sesuatu yang baik hasilnya juga akan positif. Berita sore itu menyuguhkan menegnai terkuaknya kasus korupsi oleh beberapa anggota dewan pusat. Handphoneku yang aku letakkan disamping TV bergetar seolah ia pun ingin mengutuk anggota dewan yang terlibat kasus tersebut. Sebuah pesan singkat dari Lia. Dia menanyakan tentang schedule-ku besok. Aku mengerti pasti ada sesuatu yang diinginkannya dariku. Entah apa itu aku belum tahu. Karena dia hanya akan sms atau menelponku jika dia ada perlu. Kebetulan besok aku free, atau mungkin dia memang sudah tahu kalau setiap hari kamis aku gag ada kuliah. Setelah beberapa kali kita saling mengirim pesan, ternyata dugaanku benar, ia memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan untuk mencari referensi sekaligus menyelesaikan tugasnya. Dan akupun menyetujuinya. Ya, karena aku telah menemukan jalan untuk memecah kebimbangan hatiku. Sebenarnya Lia menawarkan untuk menjemputku, sehingga kita berangkat ke perpustakaan bersama. Namun aku menolaknya. Aku meminta supaya kita langsung ketemu di perpustakaan saja.

Akhirnya kamipun bertemu di perpustakaan. Lia sudah terlebih dahulu tiba di sana. Setelah meletakkan tas kami ke dalam locker, kami pun pergi  ke lantai dua perpustakaan itu. Kami duduk saling berhadapan. Tak lama kemudian, Lia menjelaskan kepadaku mengenai tugas  yang harus aku bantu. Ternyata ia mendapatkan tugas untuk memecahkan sebuah studi kasus tentang keuangan suatu perusahaan.

“Jadi, begitulah kasus yang dialami perusahaan ini. Aku kurang begitu mengerti tentang pemecahannya. Senin depan aku harus mempresentasikannya. Tolong kamu bantu aku!!!”, pinta Lia kepadaku.

“Sebentar, berikan kertas itu padaku supaya aku bisa lebih memahaminya”, jawabku.

Setelah membaca dan mencoba memahami kasus itu, aku mencoba menjelaskan kepada Lia mengenai tugasnya.

“Mengenai kasus ini, saya rasa kamu disuruh untuk menganalisis tentang Capital Budgeting. Jadi, intinya kamu diminta untuk memberikan masukan apakah perusahaan ini harus menambah modalanya atau tidak. Kalupun dia harus menambah modalnya, apa saja yang akan dia peroleh dari penambahan modal yang dilakukannya, dan berapa besar modal yang ia butuhkan. Setelah kamu mengetahui itu semua, baru kamu fikirkan solusinya, dengan bagaimana perusahaan itu menambah modalnya. Apa dia harus melakukan pinjaman atau harus menerbitkan saham baru”, jelasku pada Lia.

“Ehmm… Iya, sekarang aku mengerti. Cuma aku masih bingung metode apa yang harus aku gunakan???”, tanya Lia.

“Kamu lihat di Laporan Keuangannya untuk beberapa tahun. Setelah kamu analysis mengenai Return Of Equity-nya, coba kamu gunakan metode forecasting  untuk untuk meramalkan perusahaan ini di periode mendatang”, jelasku.

Setelah meminta saran padaku, Lia pun mulai mengerjakan tugasnya, dan aku pun ikut membantunya. Setelah kurang lebih tiga jam kami berada disana, akhirnya dia pun menyelesaikan tugas itu. Maka dengan itu pula  berakhirlah usahaku dalam mencuri pandang yang sejak tiga jam yang lalu aku lakukan. Aku rasa, Lia pun tahu tentang apa yang aku lakukan itu. Karena aku yakin sudah lama dia tahu jika aku mengaguminya  meski aku tak pernah mengatakan kekagumanku padanya. Dan dia juga telah lama tahu jika aku menyukainya. Namun dia selalu berpura-pura tak mengetahuinya. Dan bagiku, berpura-pura tak mengerti adalah sama halnya dengan menghinakan sebuah akal, dan orang yang sudah terhinakan karena akalnya, maka aku yakin dia pasti akan terjatuh, dan aku berharap jatuhnya adalah dipelukanku.

Namun aku tak tahu Lia menyukaiku atau tidak. Yang jelas, akhir-akhir ini dia sering berbuat aneh padaku. Seperti mengirim pesan yang salah, selalu tertawa jika bertemu denganku padahal tidak ada hal yang seharusnya bisa ditertawakan. Sangatlah berbeda dengan Lia yang sebelumnya. Justru dari perlakuan Lia yang aneh terhadapku inilah yang mendorong aku untuk berspekulasi. Maka, inilah salah satu kelebihan laki-laki dibandingkan dengan kebanyakan wanita. Ya, Laki-laki lebih berani untuk berspekulasi mengenai perasaan.

“Where you’ll to go after that???”, tanyaku.

“Go back to home, maybe”, jawab Lia.

“How about you, Boy???”, Lia balik bertanya.

“My life useless every thursday”, jawabku.

Lia tertawa mendengar jawabanku. Lia memang jago berbahasa Inggris. Itulah sebabnya sesekali aku mengajaknya berbicara dengan bahasa internasional itu. Aku ingin belajar darinya. Lia juga sering mengkoreksi jika aku salah berucap atau salah dalam pemilihan kata. Tawa Lia berubah menjadi sebuah senyum yang lembut. Dia mulai merapikan buku-bukunya. Perasaanku mulai tak tenang melihat Lia akan segera pulang. Itu berarti aku akan segera berpisah dengan senyum indah itu. Senyum yang telah lama aku mengaguminya. Tiga jam bersama Lia membuat aku kecanduan dengan wajah manis itu. Mungkin wajahnya mengandung zat addictif. Kalaupun tidak, kadar glukosa yang tekandung dalam wajahnya pasti melebihi ketentuan Badan POM. Dan perlu kita ketahui, apabila pikiran sudah dibuat sakau, maka ia sering melakukan hal gila tanpa pernah kita sadari.

Ketika aku ingin mencuri pandang untuk yang terakhir kali, ketika itu pula Lia menatapku. Maka kami pun beradu pandang, dan aku menjadi malu karena hal itu. Dan ketika mata bertemu dengan mata, maka hatilah yang berbicara. Karena sudah terlanjur malu, aku pun mengungkapkan isi hatiku.

Would you married me???”, tanyaku.

Lia tersenyum dan kemudian dia berucap.

“No, I wouldn’t”, ucapnya sembari menggerakkan telunjuknya kekiri dan kekanan.

Untuk sesaat, Lia masih tersenyum dan terus memandangiku. Aku semakin tertunduk malu.

“But, Why you smile to me???”, tanyaku menunduk.

“Ehhmmmm… Because I like you, Boy”, jawab Lia.

“Are you serious???”,tanyaku kaget.

“Yeah,, I fully aware now, Boy..”, ungkapnya yang masih juga tersenyum.

“And than???”, tanyaku.

Lia diam tak menjawab, dan hanya menjulurkan kelingking kanannya.

Aku tak menyambutnya. Tapi aku tertawa melihat itu. Aku menyukai penolakannya. Penolakan yang tak berbeda dengan penerimaan. Aku sudah menduga sebelumnya kalau Lia juga menyukaiku. Itulah alasan aku berani berspekulasi dengan perasaan ini. Selain itu, aku merasa hari ini aku mendapat momentum yang tepat. Sejak dulu, aku sangat terobsesi untuk bisa bertemu dengan jodohku kelak di perpustakaan. Obsesi ini muncul ketika dulu aku mencintai Tyana.  Cintaku pada Tyana tumbuh dan bersemi di perpustakaan. Tak berbeda dengan Tyana, ini juga terjadi pada Rizka. Aku bertemu dengan Rizka untuk pertama kali juga di perpustakaan, meski saat itu bagiku Rizka masih sebatas misteri. Namun disana pula keluguan dan kebaikan gadis itu mampu meluluhlantahkan hatiku hingga aku benar-benar luluh padanya. Dan hari ini aku mendapat momentum yang tepat untuk mengatakan kekagumanku pada Lia, dan Lia pun merespon itu dengan positif. Memang sebuah strategi yang apik dalam merealisasikan obsesi dan cita-cita. Hari ini aku sangat bangga pada diriku sendiri. Hatiku berbunga-bunga hingga membuat aku tersenyum sendiri. Namun aku melihat Lia cemberut. Aku tahu dia malu karena aku tak menyambut juluran kelingkingnya.

“Kamu jelek kalau cemberut”, rayuku padanya.

“Biarpun aku jelek tapi kamu suka kan???”, jawab Lia meledekku.

“Tapi aku lebih suka jika kamu tersenyum”, ungkapku kemudian.

“Ah, kamu memamng pandai merayu”, ungkap Lia yang kembali merekahkan senyumnya.

“Sebenarnya sudah lama aku tahu kalau kamu menyukaiku”, ungkap Lia.

“Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa harus aku???”, lanjutnya.

 

Aku tersenyum. Aku tahu maksudnya bertanya seperti itu. Dia hanya ingin mencari topik pembicaraan.

“Ada sebuah teori yang mengatakan bahwasanya wanita cantik itu cenderung merubah prinsip, sedang pria tampan tak dapat dipercaya. Itulah

mengapa aku memilihmu”, jawabku.

“Apa maksudmu??? Aku tak mengerti!!!”, tanya Lia.

“Maksudku, aku hanya ingin wanita yang stabil, yang tidak mempunyai kecenderungan merubah prinsip”, jawabku.

“Haa… Jadi menurutmu aku tak cantik???”, tanya Lia bercanda.

“Kamu memang tak cantik bagiku. Karena bagiku kamu itu tak lebih dari seorang gadis yang manis”, jawabku merayu.

Spontan Lia tertawa setelah mendengar jawabanku.

“Sungguh, belum pernah aku menemui cowok yang lebih pandai merayu daripada kamu”, ungkap Lia sembari tertawa.

“Tapi tetap saja aku tak mengerti. Alasan kamu itu tidak cukup bisa membuat aku mengerti. Di luar sana masih banyak gadis yang lebih cantik ataupun lebih manis. Bahkan lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan aku. Tapi mengapa harus aku???”, lanjut Lia.

Sejenak aku terdiam mendengar pertanyaan Lia. Rayuan apalagi yang harus aku katakan untuk menjawab pertanyaan itu, hingga Liapun mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya.

“Mengapa kamu  diam??? Kamu tak mau memberiku sebuah alasan yang  bisa membuat aku mengerti??? Mengapa harus aku???”, tandasnya.

“Begini Lia,,, Aku memang tak pandai, namun aku pun juga tak begitu bodoh. Mengapa aku harus bersusah payah mencari batu di sebrang lautan sedang dipelupuk mataku ada safir yang jauh lebih menawan???”, ungkapku.

“Dan bagiku, kamulah safir itu Lia…”, lanjutku.

“Ah, kamu sangat menyebalkan. Kau memang pandai berbasa-basi. Tapi aku sangat menyukai itu”, ungkap Lia.

Sejenak kami terdiam. Aku tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan. Aku melirik Lia, diapun juga demikian. Suasana menjadi hening dan sedikit romantis. Hening karena memang saat itu kami berada di perpustakaan, dan romantis karena adanya kolaborasi dua buah senyuman. Mungkin saat itu adalah saat-saat paling romantis sepanjang sejarah hidupku. Namun aku muak dengan kondisi seperti ini. Muak dengan suasana yang  serius dan kondisi yang hening, dimana tiada lagi canda dan tawa. Karena itulah aku mencoba bangun dan berlari dari romantisme dua insan yang sedang dilanda rasa suka itu. Akupun mengajak Lia bercanda.

“Lantas, kapan kita akan menikah???”, tanyaku memecah keheningan.

Lia tertawa bukan main.

“Apa kamu tak malu bertanya seperti itu padaku??? Bukankah jelas-jelas tadi aku telah menolak ajakan gilamu itu???”, jawab Lia meledek

“Lalu, apa maksudmu dengan menjulurkan kelingkingmu tadi???”tanyaku membela diri dari ledekan Lia.

Yeah, we’re in a relationship. I hope you’ll accept my offering!!!”, ungkap Lia.

“Hahaha… I can’t???”, jawabku tertawa

Tawa itu menandai akan adanya kesepakatan dua hati yang harus saling menjaga. Ingin rasanya aku mencoret-coret meja dan tembok perpustakaan guna mendokumentasikan moment bersejarah itu. Cara yang sering aku lakukan ketika masih duduk di bangku sekolah dulu. Tapi aku sadar jika itu tak bisa aku lakukan. Aku tak ingin lulus lebih cepat dari kampus itu hanya karena aku telah merusak fasilitas perpustakaan. Aku masih ingin lebih lama melihat senyum indah nan menawan Lia.

“Seperti kebanyakan orang yang menjalin kasih, aku ingin kamu mau berkomitmen padaku”, ungkap Lia.

“Ah, komitmen seperti apa yang kamu inginkan???”, tanyaku.

“Aku ingin tiga hal darimu”, jawabnya.

“Yang pertama, jangan pernah kamu berusaha untuk mendua. Bagaimana??? Deal???”, tanya Lia

“Siapa juga orang yang mau denganku kalau dia sedang tidak khilaf seperti keadaanmu sekarang ini???”, jawabku merendah.

“Jadi aku sepakat denganmu. Kelihatanya itu tak terlalu sulit bagiku. DEAL!!!”, lanjutku.

Okay, secondly, Biarkan aku menjadi diriku sendiri. Kamu tidak berhak merubahnya. Kewajibanmu hanyalah mengingatkan aku jika aku khilaf, dan tegurlah aku ketika aku memang salah. Bagaimana, Pak??? Deal???”, pinta Lia yang kedua.

“Ah, menurutku yang kedua ini tidak lebih sulit dari yang pertama. Jadi aku sepakat denganmu. DEAL!!!”, jawabku.

“Baiklah, sekarang yang terakhir. Setidaknya dalam seminggu, kau harus meluangkan sedikit waktumu untukku. Aku tak ingin membatasimu, tapi aku rasa kamu lebih mengerti”, lanjutnya.

“Ah, jangankan kau meminta sedikit waktu, jika saja kau meminta seluruh waktuku pun aku pasti meberikannya untukmu”, candaku.

“Tapi sekarang ini aku sesang serius, Boy!!!”, ungkap Lia cemberut.

“Siap!!! Aku menyepakati dan setuju dengan ketiga komitmen yang kamu ajukan”, jawabku.

 

Lia tersenyum lega. Dia mengangkat bahunya dan menghembusakan nafas panjang, kemudian bertanya padaku.

“Apa kamu tak menginginkan sebuah komitmen dariku???”, tanya Lia.

“Komitmen??? Komitmen apa yaa…??? Beri aku sedikit waktu untuk berfikir”, ungkapku.

Sejenak aku berfikir, dan tak lama kemudian aku menemukan sesuatu yang bisa aku jadikan komitmen untuk Lia.

“Baiklah, berhubung kamu telah mengajukan tiga hal padaku, dan supaya fair, maka aku juga akan mengajukan tiga hal pula padamu”, ungkapku.

“Terserah kamu mau menyebutnya komitmen atau apa saja itu, yang jelas aku berharap kamu mau berjanji kepadaku. Dan jika kamu setuju dengan tiga hal yang akan segera aku ajukan, aku berharap kamu akan commit dengan hal itu”, lanjutku.

Okay, katakan saja!!!”, pinta Lia.

“Yang pertama, tolong kamu putuskan aku jika aku berusaha menyentuhmu. Mengapa seperti itu??? karena aku berjanji padamu dan pada diriku sendiri jika aku tak akan pernah mengucap kata putus. Dalam hubungan ini, kamulah satu-satunya decesion maker-nya. Sekali lagi, tolong putuskan aku jika aku berusaha untuk  menyentuhmu”, ungkapku.

“Apa itu tak berlebihan???”, tanya Lia yang terheran-heran.

“Tidak, sekali-kali itu tidak berlebihan. Aku tak ingin menyentuhmu bukan berarti aku tak menyukaimu. Justru  karena aku sangat menyukaimu. Bagiku cinta itu suci, dan aku tak ingin mengotorinya dengan hal itu”, jawabku.

“Lantas, apa maksudmu dengan tak ingin memutuskanku???”, tanya Lia yang terlihat semakin bingung.

“Itu karena aku tak ingin menyesal, Lia… Jika aku memutuskanmu, itu berarti aku mempunyai peluang dan kemungkinan yang besar untuk menyesalinya dikemudian hari dan aku tak menginginkan hal seperti itu. Yang jelas, bagaimanapun perlakuanmu padaku, aku berjanji tak akan pernah memutuskanmu”, jelasku.

“Ah, kamu memang orang yang aneh”, ungkapnya sembari tersenyum setelah mendengar penjelasanku.

“Bagaimana??? Apa kamu menyetujuinya???”, tanyaku.

“Bagaimana aku tidak menyetujui sesuatu hal yang jelas-jelas akan menguntungkanku???”, Lia balik bertanya.

“Jadi kamu sepakat???”, tanyaku meyakinkan.

DEAL!!!”, jawabnya sembari tertawa.

Okay, yang kedua, Aku tak ingin membatasimu untuk dekat atau bahkan menyukai orang yang ingin kamu sukai. Tapi jika kamu ingin melakukan itu, tolong jangan lakukan hal seperti itu dibelakangku. Karena aku lebih tenang jika kau hancurkan hati ini di depanku daripada kamu harus menikamku dari belakang. Bagaimana??? Apa kamu menyetujuinya???”, tanyaku.

“Dari kedua permintaan yang kamu ajukan, menurutku kedua-duanya lebih menguntungkanku”, ungkap Lia nyengir.

“Bukan menguntungkanmu  Lia, tapi kita!!! Apa kamu setuju dengan yang kedua ini???”, lanjutku.

DEAL!!!”, jawabnya.

“Sipp… Ini yang terakhir, mungkin ini akan lebih menguntungkanmu”, ungkapku.

“Apa itu??? Cepat katakan padaku!!!”, pinta Lia penasaran.

“Yang ketiga, Kamu kan sudah lama mengenalku, aku rasa selama ini kamu sudah cukup mengertahui siapa aku. Yang aku ingin darimu, selama kita hubungan nanti, jangan pernah kamu menolak jika aku traktir. Meskipun kamu tahu, aku bukanlah laki-laki yang bermateri dibandingkan dengan teman-teman kita yang lain”, ungkapku merendah.

“Mengapa harus seperti itu???”, tanya Lia yang terlihat mulai simpatik.

“Tak apa, itu hanya karena aku lelaki, Lia… Tolong hargai aku!!!”, jelasku.

Lia tersenyum pahit. Aku rasa dia sedang terkesan dengan ketiga komitmen yang aku ajukan. Namun dia sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian  ia mengambil dan membuka dompetnya, kemudian menggodaku.

“Baik, mau dihargai berapa, Boy???”, ledek Lia sembari membuka dompetnya.

“Ah, sialan kamu…!!!”, sergahku sembari melemparnya dengan sebuah trackpen.

“Eitz… bukannya tadi kamu yang memintaku untuk menghargaimu??? Lantas mengapa kamu jadi sewot gitu???”, ungkap Lia sembari mentertawakanku.

“Sebagai seorang laki-laki, aku hanya ingin belajar bertanggung jawab. Aku teringat kata ibuku bahwasanya tak jadi masalah bagi seorang laki-laki itu tak punya apa-apa, asal dia masih mempunyai tanggung jawab”, ungkapku.

Mendengar kata-kataku itu, sejanak Lia terpana. Dia menatapku tajam. Namun aku menghindari tatapannya dengan menunduk, namun usahaku itu tidak membuat Lia memalingkan tatapannya padaku. Tatapan mata yang penuh simpatik Ini sangatlah kontras dengan senyum dan tawa yang biasa aku lihat.

That’s a great, Boy. I proud to you“, ungkapnya.

“Tadinya aku berfikir apa yang aku minta dariku adalah bagian dari hak-hak kamu. Namun ternyata aku salah. Aku tak pernah menyangka jika kamu akan meminta seperti itu padaku.  Bahkan kamu tak meminta satupun yang menjadi hakmu. Kamu telah berfikir jauh kedepan. Kamu telah membuka jalan yang seharusnya akulah yang membukanya. Aku sangat bangga padamu”, lanjutnya.

“Ah, kamu berlebihan Lia!!!, aku rasa kamu memang sengaja menyiapkan tiket untuk aku ke neraka. Karena dengan  berkata seperti itu berarti kamu telah mebuka peluang pada kesombongan untuk segera merasuk pada diriku”, jawabku merendah.

“Kamu boleh underestimate padaku, namun aku berkata yang sebenarnya”, ungkap Lia meyakinkan.

Ya, Tri Puti Dian Fimelia, wanita bukan mahram kedua setelah Rizka Ramadhani yang pernah membuatku melambung tinggi dengan sanjungannya. Dan yang lebih membuatku heran, kedua sanjungan itu aku dapatkan di tempat yang sama namun berasal dari orang yang berbeda. Dulu aku pernah dibuat melambung oleh Rizka ketika kami sedang diperpustakaan sekolah, dan hari ini aku dibuat melambung oleh Lia juga diperpustakaan. Itulah mengapa aku sangat menyukai tempat yang bernama perpustakaan.

“Sudah sore, sebaiknya kamu segera berkemas”, saranku.

“Iya, aku tahu”, jawab Lia.

“Setelah ini kamu mau kemana???”, tanya Lia.

“Mungkin aku akan ke tempat temanku, soalnya tak ada yang bisa aku lakukan di kost selain bermain dengan ikan-ikan kecilku”, ungkapku.

“Kamu punya ikan???”, tanya Lia.

“Selain suka kamu, aku juga sangat menyukai ikan. Aku punya aquarium kecil di kamarku”, tungkasku.

“Tuh kan,,, Belum-belum aku udah diduakan. Tapi aku juga suka ikan loh… Bahkan dirumahku, aku punya tiga aquarium dan satu kolam ikan”, ungkap Lia pamer.

“Ya, mungkin ini indikator bahwa kita memang berjodoh”, ungkapku merayu.

“Ah, kamu memang suka mengada-ada”, jawab Lia sembari tertawa.

“Sudahlah, kemasi barangmu, ayo kita pulang”, ajakku.

“Kamu tadi naik apa???”, tanya Lia.

“Jalan kaki. Hitung-hitung olah raga”, jawabku.

“Apa kamu mau pulang bareng denganku???”, ungkapnya memberi tawaran.

“Terima kasih, biarkan aku jalan kaki saja”, jawabku.

Hari semakin sore, kamipun pulang. Setelah mengambil tas kami di locker, aku mengantar Lia ke tempat parkir. Aku mengantarnya sampai di depan pintu mobilnya. Sebenarnya aku masih belum ingin berpisah dengannya, namun waktu sudah tak memungkinkan. Meskipun aku yakin, Lia juga merasakan seperti apa yang aku rasakan.

“Sampai ketemu lusa”, ungkapnya.

“Pikirkan mengenai tugasmu itu, senin besok  kamu harus presentasi. Kamu jangan terlalu memikirkan aku”, ungkapku menggoda Lia.

“Kamu masih saja berengsek”, ungkap Lia.

“Ya sudah, hati-hati di jalan. Kabari aku jika sudah sampai rumah”,pintaku.

“Kamu aneh, bagaimana aku bisa berhati-hati sedang hatiku telah kamu ambil dariku”, jawab Lia membalas ledekanku.

“Dan ternyata kamu lebih berengsek dariku”, sergahku.

“Sekarang score-nya jadi 1-1 kan??? Ya sudah, aku pulang dulu. Assalamu’alaikum”, pamitnya sembari menutup kaca mobilnya.

“Wa’alaikumsalam”, jawabku dalam hati.

Aku melihat mobil itu pergi. Mobil yang didalamnya terdapat senyum yang indah. Aku memperthatikannya hingga mobil itu menghilang dari pandanganku.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s