Bang Toyib dan Pesan Massal

Standard

“Kamu yakin lebaran kali ini gag mudik???”
“Gag ah… Aku pengen mendapat gelar sebagai ‘Bang Toyib’…”
“Emang sudah berapa kali lebaran kamu gag pulang???”
“Baru 2 kali puasa, 2 kali lebaran” *tertawa
“Kalau cuma gitu aja kamu sudah jadi Bang Toyib, berarti harusnya aku ini udah jadi ‘Mbah Toyib’…”
“Kok bisa gitu???”
“Aku kan sudah 5 kali puasa, 5 kali lebaran gag pulang”
“Kok kita jadi ngomongin Bang Toyib, kasihan kan nanti bibirnya kegigit terus…”
“Stop!!! Pembicaraan kita sudah memasuki ranah Khurafat”
#Kemudian tertawa

Lebaran itu bukan masalah dimana atau sama siapa kita ngrayainnya, tapi lebih tentang pencapaian kita selama Ramadhan ini. Karena memang lebaran  itu perayaan untuk orang-orang yang berjuang keras melawan hawa nafsunya selama bulan Ramadhan.

Lebaran tahun ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada kepuasan tersendiri di hari fitri kali ini. Mungkin karena berhasil melewati godaaan-godaan selama 30 hari di bulan Ramadhan. Ah, bukan hanya itu, target-target di bulan yang penuh berkah itu dapat terseleseikan tepat pada waktunya. Target untuk mendapatkan pahala lebih di bulan itu tentunya. Aku selalu berharap keberkahannya membuat kita lebih baik dikedepannya.

Sebulan telah berlalu, namun manisnya masih saja terasa olehku. 30 hari yang telah membuatku jatuh cinta. Perasaan cinta yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ya, aku jatuh cinta pada Ramadhan. Aku jatuh cinta pada puasa, pada tilawah, dan jatuh cinta pada tarawihnya. Banyak sekali hikmah didalamnya.

Ternyata, menjadi minoritas itu  tidak gampang. Sulit memang, tapi mengasyikan. Disaat mereka asyik makan apapun yang mereka mau, kami harus menahan diri hingga adzan magrib berkumandang. Dikala mereka tertawa lepas  melihat siaran HBO, kami harus menenggelamkan wajah kami pada hamparan sajadah yang terbuat dari kain seadanya. “Banyak cewek cantik, tapi kamu malah menciumi sajadah kusut, aneh benar kamu ini”. Begitu kata mereka. Ledekan fanatisme hanya berbalas dengan senyuman. Senyuman yang didalamnya berisi sebuah keyakinan. Keyakinan akan sebuah sabda manusia termulia. “Berbahagialah kalian yang asing”. Maklum saja, ditempatku sekarang ini, di tanah Dayak, sebagian besar memang non-muslim. Mereka menyembah Tuhan Yesus, tapi juga menyakini kekuatan pohon dan batu besar. Sama persis seperti di tempat asalku. Mereka mempercayai Allah sebagai Tuhannya,  tapi masih saja berdoa pada kuburan keramat dan meminta keselamatan pada makhluk yang mereka percaya sebagai penunggu kuburan tersebut. Tidak aneh memang, karena negara kita adalah negara tradisi, bukan negara agama. Karena negara agama hanya ada di Pancasila.

Adzan magrib sebagai  tanda berakhirnya bulan Ramadhan baru saja dikumandangkan. Bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh alarm  handphone yang memang sengaja di setting dengan suara adzan. Rasa sukapun bercampur pilu. Suka karena hari kemenangan telah tiba, dan pilu karena Ramadahan telah berlalu. Tapi itulah kehidupan. Everything is come to an end, and every ending is begining. Ya, setiap sesuatu itu datang untuk berakhir, dan setiap akhir dari sesuatu adalah awal untuk sesuatu yang lainnya.

Puluhan pesan singkat langsung membanjiri layar handphoneku. SMS, Broadcast BBM, whatsup, dan notification FB datang bersamaan dengan membawa ucapan selamat Idul Fitri dan ucapan permintaan maaf tentunya. Semua itu membuatku berfikir mengenai esensi dari pesan-pesan itu. Bukan bermaksud tidak setuju, tapi aku merasa semua itu hanyalah sebuah formalitas. Latah-isme yang dimanjakan oleh teknologi pengiriman pesan. Singkatnya, pada sebuah pesan massal, setidaknya ada 3 hal yang hilang. Personalitas, keintiman, dan yang pasti adalah ‘keseriusan’.

Personalitas, karena aku mendapati beberapa pesan yang isinya sama persis. Tidak kurang dan tidak lebih. Aku yakin kalau pesan itu ditarik historinya, pati berasal dari sumber yang sama. Itu lah yang kemudian membuatku berasumsi bahwa pesan itu tidak berasal dari hati personal si pengirim.
Keintiman, aku sangat yakin kalau pesan mereka itu tidak hanya dikirim pada seorang saja, tapi pada banyak orang. Sehingga keintiman dari pesan itu menjadi kabur. Singkatnya, apa bisa dikatakan sesuatu itu intim jika diberikan kebanyak orang???
Dan yang terakhir adalah keseriusan. Jika sesuatu itu dilakukan hanya sekedar untuk formalitas dan untuk menunjukkan eksistensi, apakah masih ada keseriusan didalamnya??? Aku tidak bisa beropini untuk hal ini. Memang, dalamnya lautan dapat diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Sebaiknya kita kembalikan pada diri kita masing-masing, apakah kita sudah benar-benar serius untuk meminta maaf???

Yang jelas, yang perlu diingat, lebaran hanyalah sebuah momentum. Dan meminta maaf adalah ketika kita salah., bukan ketika ada moment-moment yang memaksa kita untuk meminta maaf. Tuhan adalah Maha Pengampun dan ampunan Tuhan tidak sebatas di moment lebaran saja.

Dan karena aku merasa banyak salah dan khilaf, aku memohon kelapangan hatinya untuk  bersedia memaafkanku. Dan semoga kita menjadi lebih baik di kedepannya.

Taqobalallahu minna wa minkum
Minal Aidin wal Faidzin…

Happy Eid Mubarak 1433 H

Ketapang, August 20, 2012
safii_anang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s