My first dating (5)

Standard

MY FIRST DATING
(Lidah Pangkal Bencana)

Tindakan yang baik berasal dari pikiran yang baik, Kata-kata indah berasal dari akal yang sempurna, dan pembicaraan yang teratur berasal dari nurani yang bercahaya. Lidah adalah juru bicara hati, dan kata-kata adalah pengungkap niat, maka kita diharuskan untuk selalu menjaga perkataan kita.

Ketika anak-anak Ya’kub meminta izin untuk membawa Yusuf ikut mereka bermain, Beliau khawatir mereka menyakiti Yusuf, dan mengatakan “Aku khawatir kalau-kalau dia dimakan srigala”. Dengan demikian, Beliau mebuka peluang bagi mereka untuk melakukan kesalahan dan memberitahukan tentang bagaimana caranya. Karena itu, mereka pun pulang dengan mengatakan “Ia dimakan srigala”. Ketika Yusuf diajak melakukan perbuatan keji, beliau berkata ” Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka”. Karena perkataan itu, ia pun akhirnya dipenjara. Ya, lidah adalah pangkal bencana. Ucapan dapat mempengaruhi datangnya bencana. Karena itu, waspada dalam berbicara wajib hukumnya seperti wajibnya waspada dalam berbuat. Mewaspadai kata-kata juga sangat penting seperti pentingnya mewaspadai perbuatan.

Mungkin itu adalah teori baru yang bisa aku ambil dari apa yang baru saja telah menimpa Lia. Sebelum berpisah dengannya, aku masih ingat bahwa aku memintanya untuk mengabariku jika dia telah sampai di rumah. Sudah hampir tiga jam sejak kami berpisah, namun Lia belum memberiku kabar. Hatiku mulai tak tenang. Aku sangat mengenal Lia. Dia tak mungkin mengabaikan hal sekecil apapun walau itu hanya sekedar kata-kata basa-basi. Aku mencoba menenangkan hatiku dengan me’reframe’ pikiranku. Ya, aku berfikir mungkin saja ia sibuk sesampainya ia tiba di rumah hingga ia tak sempat memberiku kabar. Dengan begitu hatiku bisa sedikit tenang dari mengkhawatirkannya. Kekhawatiranku bukanlah tanpa alasan. Karena sejak tadi, aku berusaha menghubungi handphonenya, namun aku tak mendapatkan respon, meski aku tahu bahwa handphone itu aktif. Lebih dari puluhan pesan aku kirim, akan tetapi tak satupun mendapat balasan Ya, pesan yang terkirim atas komando hati yang sedang khawatir.
Tak lama berselang, sesuatu yang aku tunggu pun datang. Lia menelponku.

“Assalamu’alaikum,,,”, salamku mengangkat panggilannya.
“Wa’alaikumsalam”, jawab Lia.
“Hoeee… Kemana saja??? Aku sangat mengkhawatirkanmu”, tanyaku.
“Maaf Boy,,, Aku baru bisa menghubungimu. Iya, aku tahu itu kok. Aku tahu dari pesan-pesan yang kamu kirim padaku. Aku sekarang di UGD Saiful Anwar”, ungkap Lia.
“Don’t make a joke, Girl…”, kataku.
“Aku tak bercanda, Boy… Sepulang dari perpustakaan tadi, ada insiden kecil padaku. Mobilku menyrempet motor. Sekarang pengendaranya dirawat di UGD. Untuk itu, aku harus berada disini”, jelas Lia.
“Lalu, siapa yang menemanimu disitu???”, tanyaku.
“Aku sekarang sendiri, tapi tadi aku sudah telpon Pak Min, dan aku memintanya segera kemari”, jawabnya.
“Ya sudah, Aku kesana sekarang”, ungkapku tanpa berfikir lagi.

Ya, aku tahu Pak Min adalah sopir papanya. Dia tak mungkin menghubungi papanya, karena aku tahu jika kedua orang tuanya sedang berada di tanah suci, dan kata Lia, mereka baru akan kembali ke tanah air besok lusa. Untuk itu, tanpa berfikir panjang, aku segera menuju Rumah Sakit. Rasa kekhawatiranku serta merta menghilang. Setidaknya aku bisa menyimpulkan bahwa keadaan Lia baik-baik saja. Meskipun ada kepanikan pada suara gadis itu, dan itu adalah hal yang wajar. Namun begitu, Rumah Sakit bukanlah tempat yang baik untuk seorang gadis yang mempunyai senyum indah. Terlebih aku melihat jam sudah mapir menunjuk jam sembilan malam.
Setibanya di Rumah Sakit, aku segera menemui Lia. Aku mencararinya di Ruang UGD, dan disana aku menemukannya.

“Bagaimana keadaanmu???”, tanyaku setelah bertemu Lia.
“Aku baik-baik saja, namun aku belum tahu dengan orang yang aku tabrak”, jawabnya.
“Apa lukanya parah???”, yanyaku nkembali.
“Dari luar sih dia tampak baik-baik saja. Hanya saja dia merasakan sakit dan nyeri dikaki kirinya. Aku takut dia terluka di bagian dalam. Untuk itu aku membawanya kemari”, jawab Lia.
“Lalu, dimana dia sekarang???”, lanjutku.
“Dia masih di ruang radiologi. Aku memintanya untuk rongent”, ungkapnya.

Tak beberapa lama, aku melihat kedatangan Pak Min di luar pintu Rumah Sakit yang memang terbuat dari kaca. Dia terlihat kebingungan. Aku yakin kebingungannya karena ia sedang mencari putri majikannya. Untuk itu aku mendatanginya.

“Pak Min….!!! Pak Min mecari Mbak Lia???”, panggilku.
“Eh, Mas juga disini toh??? Iya Mas,,, Dimana Mbak Lia sekarang???”, Tanya Pak Min.
“Ayo ikut aku”, ajakku.

Aku memang sudah lama mengenal Pak Min, karena setiap aku bermain ke Rumah Lia, hampir bisa dipastikan Pak Min-lah yang akan membukakan pintu untukku. Aku melihat kepanikan yang lebih di wajah Pak Min. Aku bisa memaklumi hal itu, karena mungkin dia merasa dialah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas putri majikannya itu selama mereka di tanah suci.
“Mbak Lia gag apa-apa, Mbak…???”, tanya Pak Min pada putri majikannya itu.
“Pak Min jangan khawatir, aku gag apa-apa!!!”, jawab Lia sembari mendekap orang kepercayaan papanya itu.
“Alhamdulillah, Syukurlah kalau begitu, Mbak… Tadinya aku sangat khawatir ketika tadi Mbak Lia menelponku”, ungkap Pak Min.
“Bagaimana dengan kondisi orang yang Mbak Lia tabrak???”, tanya Pak Min.
“Dia hanya sedikit lecet dan memar, tapi sekarang lagi test rongent di dalam”, jawab Lia.
“Mbak Lia sudah makan???”, tanya Pak Min.
“Aku gag sempat mikir makan, padahal sebenarnya aku juga merasa lapar”, ungkap Lia pada orang yang telah mengasuhnya dari kecil itu.
“Ya sudah, aku carikan makan dulu ya Mbak…”, ungkap Pak Min.
“Owh iya Pak Min, nanti sekalian tolong Pak Min mampir ke ATM. Tolong ambilin Lia uang”, pinta Lia sembari memberikan kartu ATM-nya pada Pak Min.
“Trus nanti Pak Min beli makannya empat bungkus ya Pak…”, lanjutnya.
“Iya Mbak,,, Ya sudah, saya tinggal dulu ya Mbak, Mas…”, pamit Pak Min pada kami.

Suasana Rumah sakit masih ramai meskipun sudah malam. Banyak orang yang masih berlalu lalang di setiap bangsal. Maklum saja, Rumah Sakit ini adalah Rumah Sakit rujukan kedua untuk wilayah Indonesia Timur. Lia dan aku duduk di kursi tunggu paviliun. Menunggu seseorang yang aku belum mengetahuinya. Aku tak ingin bertanya pada Lia perihal orang yang ditabraknya itu. Aku tahu dia masih panik dan aku tak ingin menambah kepanikannya dengan terlalu banyak bertanya. Untuk itu aku berusaha menghibur dengan mengajaknya bercanda.

“Lia, apa kamu percaya dengan ‘mitos’??? tanyaku.
Lia menggelengkan kepalanya, kemudia berkata:
“Aku tak ingin berbuat syrik hanya karena mempercayai sebuah mitos”, ungkapnya.
“Ah, tahu seperti itu seharusnya kamu tak mengambil ‘finance management’. Harusnya kamu kuliah di jurusan syariah atau tarbiah”, ungkapku.

Aku mulai melihat senyuman yang terpancar dari wajah Lia. Setidaknya usahaku untuk menghiburnya telah menuai hasil, meski hanya sebuah senyuman.

“Memamng apa alasanmu menyarankanku untuk kuliah di jurusan itu???”, tanya Lia.
“Mendengar jawaban kamu tadi, aku rasa kamu punya hidden tallent untuk menjadi seorang ustadzah”, jawabku meledek.
“Aku tak pernah bisa membedakan mana pujianmu dan mana ejekanmu”, sergah Lia.
“Tapi mengapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang mitos??? Trus, apa kamu sendiri percaya dengan mitos???”, lanjutnya.
“Aku memang tak percaya dengan mitos, tapi terus terang aku merasa tak enak padamu”, jawabku.
“Tak enak padaku??? Apa maksudmu???”, tanya Lia penasaran.
“Baru saja kamu mencoba mengisi kehidupanmu dengan diriku, tapi sebuah kesialan sudah datang menghampirimu. Apa memang keberadaanku itu membawa sial bagimu???”, ungkapku.

Mendengar jawabanku, senyum Lia semakin melebar hingga senyum itu berubah menjadi tawa.

“Itulah salah satu mengapa aku menyukaimu, Boy… Kamu selalu kritis dengan setiap kejadian, meski terkadang terlihat konyol. Aku tak pernah berfikir sampai kesitu, tapi kamu telah melakukannnya”, ungkap Lia.
“Tapi kata-katamu itu ada benarnya juga. Mungkin kamu memang pembawa sial.”, ledek Lia sembari tertawa.
“Tapi kejadian yang menimpamu kali ini tidak semata-mata karena aku penyebabnya, tapi kamu punya andil juga”, ungkapku.
“Loohh, kok aku jadi ikut salah???”, tanyannya.
“Kamu masih ingat apa yang kamu ucapkan sebelum kamu pergi tadi??? Sewaktu di parkiran perpustakaan???”, aku balik bertanya.
“Ketika aku memintamu untuk berhati-hati???”, lanjutku.
“Owh, itu,,, Iya sekarang aku mengerti apa yang kamu maksud”, jawab Lia.
“Iya,,, Kamu mengatakan bahwasanya kamu tidak akan bisa berhati-hati karena kamu bilang jika aku telah mengambil hatimu kan???”, ungkapku kemudian.
“Kata-katamu tadi sama saja kamu menyuruh dirimu sendiri untuk tidak berhati-hati. Akibatnya kamu bisa lihat sendiri kan??? Malam-malam begini harus berada di Rumah Sakit”, lanjutku.
“Kamu kok bisa berfikir sampai kesitu sih???” tanya Lia heran.
“Ya,,, Aku pernah dengar kata pepatah bahwasanya ‘mulutmu adalah harimaumu’, karena lidah adalah pangkal bencana”, jawabku.
“Jadi kesimpulanya, kita sama-sama punya andil dalam kasus ini”, lanjutku sembari tertawa.

Lia mendekatkan duduknya disampingku. Tapi itu malah membuatku gugup. Aku pun mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan melihat pada jam tanganku. Sudah hampir jam sepuluh malam, tapi mengapa orang itu belum juga keluar dari ruang radiologi??? Jangan-jangan dia mendapatkan luka yang serius??? Ah, aku tak ingin mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Aku tak ingin menyebrangi jembatan sebelum aku mendatanginya. Sejenak aku melamun memikirkan orang itu, Namun aku terbangun dari lamunanku oleh suara Lia.

“Jam berapa sekarang???”, tanya Lia.
“Apa??? Kamu tadi bilang apa??? Tanyaku yang terkaget oleh suara Lia.
“Ah,, ternyata kamu suka melamun juga!!! Tapi yang membuat aku heran, mengapa kamu harus melamun orang yang jelas-jelas dia sedang berada di sampingmu???”, ungkapnya meledek.
“Tuh kan??? Ternyata kamu memang lebih brengsek”, jawabku.
Lia hanya tersenyum, kemudian mengulang pertanyaanya.
“Jam berapa sekarang???”, tanya Lia.
“Sepuluh kurang seperempat”, jawabku.
“Kost’an kamu tutup jam berapa??? Kamu nanti nggak kemalaman???”, tanya Lia.
“Hahaha… Kost ku sudah seperti rumahku sendiri. Jadi terserah mau pulang kapanpun juga gag ada yang melarang. Memang aku belum pernah cerita padamu tentang rumah kost ku???”, ungkapku pada Lia.
“Memang ceritanya gimana???”, tanya Lia ingin tahu.
“Dulu, sebenarnya kostan aku tuh gag nerima in the kost, tapi saat itu aku sedang bermasalah dengan financialku. Karena itu, aku mencoba meloby pemilik rumah itu dan kebetulan yang tinggal adalah nenek-nenek sendirian. Alih-alih ingin menemaninya, akhirnya akupun diijinkan untuk tinggal disana. Dan sekarang, nenek itu sering tinggal di tempat anaknya. Jadi otomatis rumah itu hanya aku yang menempati”, jelasku.
“Owh,,, Jadi tuan rumah donk sekarang??? Pantesan setiap aku mengumpulkan tugas di tempatmu, aku tak pernah mendapati orang lain selain kamu disana”, ungkap Lia.
“Syukurlah kalau begitu, solanya aku masih ingin kamu menemaniku disini”, lanjutnya.
“Mungkin Tuhan memang telah mentakdirkan bahwa Rumah Sakit adalah tempat kencan pertama kita”, ungkapku meledek Lia.
“Iya juga sih,, tapi bukankah hal ini adalah sesuatu yang unik???”, ungkapnya.
“Ya, unik bagimu, tapi mungkin tidak bagi orang lain”, sergahku.
“Tapi aku bisa memaklumi itu. Orang aneh memang selalu menyukai hal yang unik”, lanjutku sembari tertawa.
“Perasaan dari tadi kau selalu meledekku”, sergah Lia
“Sudah menjadi konsekuensi dari wanita cantik untuk selalu menerima ledekan orang”, ungkapku.
“Asiikkk… Akhirnya kamu memujiku juga”, ungkap Lia

Aku tersenyum. Lia juga ikut tersenyum. Ah, setidaknya malam itu ada dua buah senyum di tempat yang seharusnya diisi tangis. Ya, dua buah senyuman di ruang tunggu Rumah Sakit Saiful Anwar.

“Owh iya Lia,,, bagaimana dengan mobilmu???”,tanyaku mencoba mengganti topik pembicaraan.
“Gag papa kok,,, cuma sedikit ringsek di bagian depan”, jawab Lia.
“Biar besok dibawa Pak Min ke bengkel”, tambahnya.
“Terus, bagaimana besok kamu ke kampus???”, tanyaku lagi.
“Siapa lagi kalau bukan Pak Min yang bisa aku andalkan???”, jawab Lia.
“Mungkin kamu bisa mengandalkanku”, ungkapku.
“Maksudmu???”, tanya Lia.
“I’ve good offering to you, girl”, ungkapku.
“What’s that??? Let me know, please!!!”, pinta Lia.
“Kamu pernah dengar tentang ‘cinta tukang ojek’??? Aku mau jadi tukang ojekmu sampai mobilmu selesei diperbaiki”, ucapku pada Lia.
“Kamu serius???”, tanya Lia girang.
“Memang aku kelihatan bercanda???”, jawabku.
“Asiikkk…!!!!”, ungkap Lia.
“Eitzss… Jangan senang dulu, aku tak akan melakukan ini dengan cuma-cuma. Mana ada tukang ojek yang tak dibayar???”, ungkapku.
“Lah kok gitu sii…???”, desak Lia.
“Ya, itu berarti jika kamu menyetujui tawaranku, secara otomatis kamu harus membayarku. Tapi dalam kasus ini aku tak ingin dibayar dengan mata uang manapun. Karena kali ini, mata uang yang berlaku hanyalah mata uang cinta. So, kamu mesti membayarku dengan cintamu”, jelasku pada Lia.
“Ah, kamu memang pandai ng-gombal. Abis dari tadi sukanya nggombal melulu”, ungkap Lia menggerutu.
“Sekarang sudah gag lagi jamannya gombal-gombalan Lia,, tapi sekarang jamannya udah pake tissue”, jawabku meledek.
“Lagi pula, wanita itu kan melihat dengan telinga, sedang laki-laki itu melihat dengan mata. Itu sebabnya mengapa wanita suka berdandan sedang laki-laki suka nggombal”, lanjutku tertawa.

Memang, segombal-gombalnya cewek, tetap tak akan bisa menandingi gombalnya cowok. Dan segombal-gombalnya cowok, tetap tak akan pernah bisa mengalahkan perlakuan baik dan bukti nyatanya kepada cewek. Bukankah menjadi tukang ojek adalah sebuah perlakuan yang baik??? Bukankah menjadi tukang ojek adalah bukti nyata cinta kepada sang cewek???

Di tengah asyiknya menggoda Lia, datanglah Pak Min dengan menenteng sebuah tas plastik. Dan aku yakin bahwa isinya adalah makanan. Pak Min pun langsung duduk di samping Lia.

“Pak Min kok cepet sih…???”, tanya Lia pada Pak Min.
“Orang belinya cuma di dekat situ kok, Mbak…!!!”,jawab Pak Min.
“Owh,, kirain tadi Pak Min keluar”, ungkap Lia.
“Orang itu belum keluar juga, Mbak???”, tanya Pak Min.
“Belum,,, Mungkin sebentar lagi”, jawab Lia.

Belum kering mulut Lia membicarakan orang itu, tiba-tiba keluar seorang lelaki yang berjalan sedikit terkeoh-keoh dari ruang radiologi. Lelaki itu memakai baju safari. Aku berfikir kalau dia adalah seorang aparat desa. Atau kalau tidak, dia adalah seorang guru.

“Tuh, beliau sudah keluar”, ungkap Lia.
Kami bertiga pun segera menghampirinya.
“Bagaimana, Pak??? Bagaimana keadaan bapak???”, tanya Lia yang sudah tak sabar ingin tahu keadaannya.
“Lia, biarkan Bapak ini duduk dulu”, ungkapku sembari menuntun lelaki itu menuju tempat duduk.
“Saya baik-baik saja, Nak… Cuma kaki saya yang kiri ini masih sedikit sakit”, ungkap lelaki itu.
“Bagaimana hasil rongent-nya, Pak???”, tanya Lia seperti orang yang penasaran.
“Tadi petugas medisnya bilang, hasilnya baru bisa diketahui kurang lebih lima belas sampai dua puluh menit lagi”, jawab lelaki itu.
“Baiklah, kita tunggu hasilnya sembari makan dulu ya, Pak… Saya yakin bapak juga belum makan”, ajak Lia.
“Terima kasih ya, Nak…!!!”, ungkapnya.

Kebetulan, di belakang kami duduk, ada sebuah taman yang ditengahnya terdapat gazebo. Untuk itu, Lia mengajak kami untuk kesana, dan kamipun menyetujuinya. Pak Min dan aku menuntun lelaki yang memang sudah agak tua itu. Meskipun belum setua Pak Min. Lia berjalan terlebih dulu dengan menenteng tas plastik yang berisikan makanan. Setibanya disana, Lia langsung mengajak kami untuk makan. Di bawah lampu taman yang cukup terang, kami berempat menikmati sego campur6 yang dibeli Pak Min.

“Owh iya,,, dari tadi kita belum tahu nama Bapak”, ungkap Lia.
“Iya ya… Bapak juga samapi lupa. Nama saya Yusuf”, ungkap lelaki itu.
“Saya Lia, ini Pak Min, dan yang ini teman saya”, ungkap Lia sembari menunjuk Pak Min dan aku.
“Lalu, bagaimana keluarga Bapak??? Apa sudah dikasih tahu???”, tanyaku.
“Belum, saya memang sengaja tak mengabari mereka. Saya takut mereka akan khawatir. Lagi pula saya masih baik-baik saja”, jawab Pak Yusuf.
“Maafin Lia ya, Pak..!!! Lia bener-bener tak sengaja”, ucap Lia meminta maaf.
“Iya nak Lia,, Bapak juga minta maaf. Mungkin Bapak juga ikut bersalah dalam musibah tadi. Bapak memang suka ceroboh. Maklum sudah tua”, jawab Pak Yusuf merendah.
“Biasanya sih bapak juga bawa mobil sendiri. Tap hari ini tadi entah mengapa bapak ingin naik motor. Alih-alih pengen naik motor, eh malah dapet musibah”, ungkapnya.
“Trus, motor bapak sekarang dimana???”, tanyaku.
“Tadi itu, aku nabarak Bapak ini di samping SMA 3. Deket sekolah aku dulu. Jadi tadi aku menitipkan motornya di di warung dekat sekolahku. Soalnya aku kenal baik dengan pemilik warung itu”, ungkap Lia.
“Iya sih, siapa juga sih yang gag kenal kamu??? Iya kan Pak Min???”, ungkapku meledek Lia.

Pak Min hanya tersenyum. Aku bermaksud membawa suasana menjadi sedikit santai dengan joke-joke kecil. Aku melihat Pak Min sudah menghabiskan makanannya. Mungkin kekhawatirannya pada Lia telah membuatnya lapar.

“Ya, sudah.. nanti biar Bapak pulangnya diantar sama Pak Min”, ungkap Lia.
“Terima kasih ya, Nak…”, ungkap Pak Yusuf.
“Yang sejak tadi membuat saya heran, Di zaman sekarang, masih ada anak muda yang baik dan santun seperti kalian”, sanjung Pak Yusuf.
“Semoga kalian kelak menjadi orang yang sukses”, lanjutnya.
“Aminn…!!!!”, jawabku dan Lia kompak.

Setelah menyelesaikan administrasi untuk Pak Yusuf, kami pun mengantarnya menuju parkiran rumah sakit. Pak Min sudah menunggu disana. Berdiri tegap di samping mobil yang pintunya sudah terbuka. Sembari menuntun Pak Yusuf masuk ke dalam mobil, Lia memberikan sesuatu pada Pak Yusuf yang ternyata adalah seorang kepala sekolah menegah pertama di Tumpang.

“Maaf, Pak.. Ini ada sedikit buat biaya pengobatan Bapak”, ungkap Lia memberikan sebuah amplop pada Pak Yusuf.
“Tidak Nak.. Tidak… Bapak sudah sangat bersyukur karena bapak baik-baik saja. Saya sudah sangat senang nak Lia mau membantu saya”, kata Pak yusuf menolak pemberian Lia.

Lia hanya tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan tiadanya pemaksaan atas penolakan Pak Yusuf. Memang, dari hasil pemeriksaan rongent tadi tidak ada luka yang serius padanya.
“Baiklah kalau begitu. Saya tak akan memaksa. Tapi simpanlah kartu nama saya ini, Pak!!! kalau ada apa-apa, tolong hubungi saya!!!”, pinta Lia.
“Kalau tidak keberatan, boleh saya minta sesuatu pada kalian???”, tanya Pak yusuf.
“Insyaallah”, jawab Lia.
“Kalau ada waktu, mainlah ke tempat Bapak.. Bapak ingin mengenalkan kalian pada istri saya”, pintanya.
“Ini kartu nama saya”, lanjutnya sembari memberikan kartu nama pada Lia.
Lia hanya tersenyum.

“Ya sudah, Bapak pamit dulu”, ungkap lelaki itu.
“Iya, Pak…”, jawab Lia.
“Pak Min,,, hati-hati ya…!!!”, pesan Lia.
“Siap, Mbak…!!!!”, sergah Pak Min berlagak.

Tak beberapa lama, mobil Pak Min telah menghilang dari pandanganku. Namun aku masih terus mengamati jejak-jejaknya. Aku larut dalam lamunan. Aku tak sadar jika sejak tadi Lia sedang mengamatiku. Ia tak berkomentar. Lia hanya menatapku dengan senyum khasnya. Ketika aku tersadar dari lamunanku,, aku melihat senyum itu berubah menjadi tawa.
“Apa yang kamu pikirkan, Boy”, tanya Lia sembari tertawa.

Aku hanya tersenyum ke arah Lia.
“Tiga puluh menit yang lalu, aku sangat terobsesi untuk menjadi tukang ojek. Namun sekarang, ketika Tuhan telah memberiku kesempatan untuk melakukan hal itu, kini hatiku menjadi bimbang. Karena penumpang yang aku bawa adalah seorang putri”, jawabku.
“Seorang putri yang malam-malam terdampar di rumah sakit”, sahut Lia tertawa mengejek.
“Ayo kita pulang,, Buruan ambil motormu!!!. Udah larut niihh…!!!”, pinta Lia.

Aku melihat arlojiku menunjukkan pukul sepuluh lewat tujuh belas menit. Aku pun segera mengambil motorku. Lia menunggu di loby.
Setelah hampir setengah jam hatiku berdebar di atas jok dan pikiranku berlari kesana kemari melihat kendaraan berlalu-lalang, akhirnya aku tiba di Danau Maninjau. Ya, itu bukanlah danau yang sebenarnya. Itu hanyalah nama jalan dimana rumah Lia berdiri. Memang, semenjak Lia menyandarkan tubuhnya di jok belakang motorku, aku mengalami nervous tingkat maksimal. Hatiku berdetak kencang. Lebih kencang dibandingkan dengan getaran Anak Gunung Krakatau yang berstatus siaga. Namun hatiku lega setelah seorang wanita yang sudah agak berumur membuka pintu pagar. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Mbok Rah. Ya dia adalah pujaan hati Pak Min, Tiga puluh tahun lebih Pak Min menjalani hidup bersamanya.

Aku pun tahu diri. Setelah pintu pagar terbuka, aku segera pamit pulang, meski Lia berbasa-basi meyuruh ku mampir. Dimanapun, basa-basi adalah basa-basi, waktu hampir jam sebelas malam, aku tak mau tertipu olehnya.
“Besok pagi, aku akan menjemputmu jam 8. Jadi bersiaplah sebelum itu. Kamu tahu kan, kalo aku tukang ojek yang disiplin dan ontime???”, candaku.
“Siap, Pak…!!!”, jawab Lia meledek.

Jawaban Lia adalah ungkapan ambiguitas. Tapi aku mengerti maksudnya. Aku sangat mengenalnya. Jika tidak terbuat dari karet, pasti jam yang ia miliki terbuat dari bahan elastis lain. Meski dia memiliki senyum indah, tapi dia juga memiliki jam elastis yang tak kalah mengagumkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s