12-12-12, kiamat atau pilkada???

Standard

12-12-12 Sungguh diluar dugaan. Disaat pengikut ajaran bangsa maya mempersiapkan diri menghadapi momentum “End of the world”, di tempatku, di daerah tempat tinggalku malah sedang melaksanakan pesta besar-besaran. Sebuah pesta demokrasi yang dikemas dalma sebuah pemilihan kepala daerah. Di daerahku, memang mempunyai stok pemimpin yang melimpah, namun kali ini, hanya ada 6 pasang calon pemimpin yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengumbar janji pada rakyat yang akan dipimpinnya.

Ada angin, namun tak ada hujan, tiba-tiba mamakku bertanya padaku :
“Le, tanggal 12 besok itu kamu milih siapa???”
#bingung, garuk-garuk kepala.
“Paling aku gag milih. Aku golput, Mak…”
“Jadi orang itu mbok yang ‘jamak lumprahe’ (red: sewajarnya). Meskipun kamu golput, gag mau milih, tapi ya kamu datang ke TPS. Terserah nanti di dalam calon-calon itu kamu coblos semua. Yang penting kamu datang”
“Biar orang-orang itu gag mikir yang macem-macem”, lanjutnya.

Terus lagi, ketika aku ngobrol di warung kopi, aku sempat diancam dengan neraka oleh seorang pemuka agama dikampungku waktu aku mencoba berterus terang untuk menjadi golongan putih.
“Bagaimana aku bisamilih orang yang sama sekali aku tak mengenalnya, Mbah..???”
“Loh, meskipun kita tak kenal, tapi kita wajib milih, Le… Soal’e golput itu haram (red:http://de.tk/cMh3Q)”, terangnya sambil mengepulkan asap rokok.
“Ini Majelis Ulama loh Le yang ngomong. Ulama itu warossatul Ambiyaa. Mau kamu masuk neraka sebab tidak taat pada Nabi???”, lanjutnya.
“Tapi ya gag bisa gitu Mbah… Kenal mereka saja baru seminggu, itupun juga tahu namanya saja. Jadi, gag logis kalo kenal baru seminggu tapi harus mengikuti mereka selam 5 tahun”
“Gini loh Le.. Meskipun kamu gag milih, toh mereka juga jadi Bupati”
“Memang Mbah,, tapi setidaknya aku gag ikut nanggung dosa karena aku gag ikut memilihnya”
“Itu namanya su’udzon. Gag boleh kayak gitu Le…”
“Kalo gag bermodal su’udzon, Abraham Samad gag bakal bias nyekal Andi Malarangeng, Mbah..”
“Lha Abraham Samad itu sopo, Le..???”
#speechless

Semua orang menjunjung demokrasi. Semua orang merasa salah, malu, dan bodoh jika ragu terhadap demokrasi. Itu karena demokrasi itu suci. Demokrasi dianggap seperti perawan. Aku sangat mengagumi kehebatan demokrasi, tetapi itu tidak berarti aku harus menerapkan demokrasi dalam setiap prilaku hidupku.

Berbicara demokrasi di ranah yang agak luas, di negeri ini, demokrasi itu absolute. Demokrasi itu harga mati. Demokrasi itu prinsip mutlak. Al Qur’an boleh mengklaim dirinya sebagai kitabu la roiba fih, kitab yang tidak ada keraguan padanya (red: QS 2:2), tapi menurut Undang-Undang di negeri ini, orang boleh meragukan Al Qur’an. Tidak melanggar hukum jika meninggalkannya. Tetapi, tidak boleh bersikap demikian pada Demokrasi. Demokrasi –lah yang la roiba fih sejati. Demokrasi lebih tinggi dari Tuhan. Rakyat tidak ditangkap karena menghianati Tuhan, tetapi harus berhadapan dengan aparat hukum kalau menolak demokrasi. Minimal diabaikan, kalau kita diam-diam tidak memilih demokrasi, kita dianggap tidak ada. Tapi kalau sampai mengajak orang didepan umum untuk menolak demokrasi, kita akan melanggar hukum. Mungkin itulah pesan yang bisa aku tangkap dari kata-kata mamakku tadi.

Aturan negara sendiri hanya memakai bahasa “hak pilih”, sedang yang bertugas memakai kata “wajib memilih alias “haram golput” adalah kaum Ulama. Yang kata si Mbah tadi sebagai warossatul Ambiyaa itu. Aku bingung, rakyat yang pada umumnya berada pada kelas menengah kebawah, malah ditambahi deritanya dengan kepastian “masuk neraka” hanya karena 2 menit masuk kotak TPS atau lebih memilih tidur di rumah karena ogah ke arena pemilihan. Dan kebingunganku lagi, halal haram itu kan mutlak milik Allah, Ia yang berhak menghalalkan atau mengharamkan segala sesuatu. Haram minum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib, itu langsung dari Allah (red: QS. 5:90). Take it or leave it. Tapi kalau ‘golput’, itu wilayah yang Allah mempersilakan manusia untuk berdiskusi.

“Besok kamu mau nyoblos apa???”, tanyaku pada seorang guru disela-sela obrolan kami.
“Rahasia dong.. kalo aku kasih tahu, prinsip LUBER-nya mau ditaruh dimana???”
“Emang sekarang LUBER masih berlaku???”
“Kalau kamu ngganggep udah gag berlaku, trus apa pilihanmu???”
“Aku milih golput aja, Mbak..”
“Rasionalisasimu???”
“Aku gag kenal mereka. Kampanye yang seharusnya untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan visi misi malah dipake acara jaranan. Jadi kenalnya sama jaranan-nya, bukan kandidatnya”
“Trus???”
“Hipotesanya, mereka membodohi massa dengan mencekoki hiburan. Atau mungkin mereka menyembunyikan jati diri mereka di balik hiburan itu”
“Masih ada alasan lain???”
“Alasan kedua, mau sampean disamakan dengan ABG alay???”
“Maksudnya???”
“Ya disamakan dengan anak-anak ABG alay yang juga sama-sama punya hak pilih itu”
“Apanya yang disamakan???”
“Pengaruh sampean 1 suara, sedang mereka juga 1 suara. Sekarang apa bedanya seorang guru sama ABG alay???”
#kemudian tertawa bersama

Dan puncak dari controversial golput adalah tentang pelanggaran terhadap pancasila yang sejak lahirnya sangat dikultuskan oleh bangsa ini. Yang lirik-nya selalu dibacakan setiap hari senin di setiap sekolah di negeri ini. Ya, tentang pelanggaran pancasila Sila ke-4. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, kurang lebih begitulah bunyinya. Pertanyaannya, dimana konsep musyawarah yang disebut dalam sila ke-4 itu??? Apakah masih sinkron dengan pemilihan langsung kepala daerah??? Dan bagaimana pula dengan konsep perwakilan sedangkan kita secara langsung memilih kepala daerah tanpa ada yang mewakili???

Kalau sudah demikian, Rasullullah SAW pun bersabda : “Kami tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya” (HR Bukhari 7149 dan Muslim 1733). Itulah mengapa pada zaman Rasullullah tidak ada pilkada. Karena, dunia sebenarnya tahu, musyawarah adalah jalan paling baik diantara yang terbaik dalam sebuah pengambilan keputusan. Namun sayangnya, dunia sedang menutup mata.

Dan terkadang, memilih untuk tidak memilih adalah sebuah pilihan.🙂
Semoga bermanfaat
Fastabiqul Khairat

Nganjuk, December 11, 2012
safii_anang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s