My love was stolen (6)

Standard

Hari ini, komitmenku dan Lia yang kami ikrarkan di perpustakaan tepat berusia dua bulan. Namun aku merasa menemukan sebuah kejanggalan dalam dinding perasaanku. Ada gambaran samar yang tak dapat aku lihat dengan jelas. Entah tabir apa yang telah menyamarkan pandanganku itu. Ya, dua bulan sudah aku menjalani hubungan dengan Lia, tapi aku belum benar-benar menemukan cinta terhadapnya. Yang aku temukan masih sebatas kekaguman. Kekaguman pada senyum yang indah, keheranan pada sosok wanita berotak cerdas, namun dia masih rendah hati. Padahal, dengan apa yang dimilikinya sekarang, aku yakin ia bisa melakukan apa saja yang ia ingin lakukan. Dia cantik, cerdas, elegan, dan bermateri. Bukankah wanita yang memiliki kriteria seperti itu mempunyai hak penuh untuk melakukan apa saja yang ia inginkan???

Akhirnya aku menemukan alasan mengapa semua itu love stolenbisa terjadi. Ya, penyebabnya adalah Rizka Ramadhani. Aku tak menemukan cinta pada diriku karena memang aku sudah tak lagi punya cinta. Gadis itu membawa lari seluruh cintaku dengan pengkhianatannya. Aku masih tak bisa lepas dari bayang-bayang gadis itu, karena aku sangat yakin bahwasannya dia masih mencintaiku. Dia meninggalkanku bukan karena keinginannya. Tapi karena ia dipaksa oleh keadaan. Ya, keadaanlah yang telah menjepitnya. Namun bagaimanapun itu, yakin pada seseorang yang telah meninggalkanmu bahwa dia masih mencintaimu adalah keyakinan yang bodoh. Itu sama halnya dengan tersenyum pada orang buta dan berbisik pada orang yang tuli. Sebuah kesia-siaan belaka.

Semua itu berbanding terbalik dengan Lia. Aku melihatnya merasa nyaman menjalani hubungan ini. Karena mungkin ia telah mempunyai tukang ojek pribadi tentunya. Tapi, Lia bukanlah orang seprti itu. Semua itu memang karena akulah yang memintanya. Ketidakmenolakannya semata-mata karena ia ingin memegang teguh komitmen yang telah kami sepakati. Ia tahu jika ia menolaknya, itu sama halnya ia telah mengabaikan konsensus yang telah kami buat. Karena menjadi tukang ojek adalah diferensial dari komitmenku yang ketiga, yang telah disetujuinya dengan kepala yang mengangguk. Ya, “Jangan pernah menolak untuk aku traktir”.

Hubungan kami tak terlalu berbeda jauh dari sebelumnya. Tak berbeda dengan ketika kami masih berteman. Dilihat dari intensitas pertemuan, kami hanya bertemu jika kami kebetulan ada kuliah bersama. Ditinjau dari komunikasi, bahkan lebih parah dibandingkan sebelumnya. Tidak seperti remaja-remaja yang lain. Tidak seperti mereka yang sedang dimabuk asmara, yang tak pernah bisa hidup tanpa telepon dan short service message-nya. Itu karena kami memang tidak sedang di mabuk asmara. Tapi bukanlah berarti kami tak saling peduli, karena semua itu adalah bagian dari strategiku untuk mempertahankan hubungan kami. Mengurangi pertemuan, maka akan menambah rindu. Itulah teori yang sedang aku aplikasikan saat ini. Aku tak tahu siapa pencetus teori itu, namun aku pernah membacanya di buletin mingguan yang diterbitkan oleh himpunan mahasiswa jurnalistik di kampusku. Dan aku berfikir itu sangat masuk akal hingga aku meyakininya.

Aku tahu Lia tak akan pernah menghubungiku lebih dulu. Karena aku tahu jika prestige wanita itu lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Mereka lebih mengutamakan harga diri daripada kebutuhan. Maka, jika saja dalam management relationship itu ada divisi komunikasi, maka akulah kepalanya. Akulah pemegang kendali dalam masalah komunikasi. Dan ternyata, semua strategiku itu berjalan sesuai dengan rencana. Dua bulan telah berlalu, namun kami tak pernah miss comunication barang sekalipun.

Godaan dalam hubungan kami mulai tersa ketika memasuki bulan keenam. Namun aku yakin Lia tak menyadarinya. Dia orang yang easy going, menjalani sesuatu apa adanya dan tak pernah mau ambil pusing. Semakin hari Lia semakin memberikan perhatiannya padaku, dan begitupula sebaliknya. Namun semakin ia memperhatikanku, maka semakin samarlah pandangan rasa cintaku padanya. Ya, karena tertutup kekaguman yang mengebu-gebu serta semakin jelasnya bayang-bayang seorang Rizka Ramadhani. Ah, begitu aneh perasaan ini. Bayangan wajah Rizka datang dan berlalu begitu saja, namun intensitasnya semakin meningkat. Tak bisa aku memungkiri bahwa aku sangat mencintainya. Bahkan pernah terfikir olehku jika dia harus menjadi jodohku kelak. Bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Ya, cinta memang tidak buta, namun sedikit rabun.

Aku tak pernah menceritakan masa laluku kepada Lia. Begitu pula aku tak ingin mendengar cerita tentang masa lalunya. Aku tak ingin Lia mengetahui tentang perompak cintaku itu. Selain itu, perlu kita tahu, bahwa menceritakan kisah cinta dimasa lalu kepada kekasih kita, untuk jangka pendek memang akan mengundang rasa simpatik dan akan melambungkan kita ke angkasa. Namun untuk jangka panjang, itu bisa menjadi bomerang yang tak pernah kita menduga sebelumnya. Kecemburuan yang tak beralasan sering muncul dari sana. Dan jika sudah ada rasa cemburu yang tak beralasan seperti itu, maka bersiap-siaplah menerima kehancuran dari hubungan yang telah lama kita bangun dengan susah payah. Aku berusaha menutup rapat celah itu. Meskipun harus menyumbatnya dengan kebohongan. Namun semua itu aku lakukan demi kemaslakhatan bersama.

Triputi Dian Fimelia. Pelarian sebuah angan-angan yang menjadi kenyataan. Aku bingung. Hatiku bimbang. Disatu sisi aku sangat mengagumi Lia, namun disisi lain aku tak bisa lepas dari bayang-bayang Rizka. Keduanya memang memiliki persamaan. Ya, sama-sama memiliki senyum yang indah. Perbedaanya, Lia lebih cantik di banding Rizka, dan Rizka lebih manis daripada Lia. Ah, penyakit paling absurd yang menyerang setiap laki-laki kini sedang melandaku. Suka membandingkan dua wanita yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s