Ndangdutan

Standard

Semalem, kebetulan pas malem minggu, ada acara ndangdutan di tempat saya kerja. Katanya sih buat syukuran karena target produksinya tercapai. Saya liat ada mbak-mbak sekseh dengan dandanan menor dan baju ala kadarnya. Mantab!!! Saya bilang sambil clegak cleguk rada nahan nafsu nafas. Wah, ini mungkin penyanyi utamanya.

Adegan berikutnya yang ndak saya sangka, sesaat sebelum tampil, ketika berada dibelakang belakang panggung, tak sengaja saya mendengar pembicaraannya dalam telpon. “Dedek udah tidur, Buk??? Jangan lupa pampersnya diganti”. Mendadak saya jadi ndak nafsu lagi, malah rada trenyuh. Selama ini saya hanya berpikir kalo penyanyi yang goyang ndak jelas di panggung sambil pamer paha dan payudara itu sekedar objek kenikmatan, picik banget saya, ternyata dia juga manusia biasa.

Ternyata si mbak punya keluarga yang ditinggal, mungkin juga dia melangkah ke panggung tidak dengan perasaan ikhlas, mungkin senyum yang dia pasang di panggung itu palsu, sepalsu tawa genit yang keluar saat tangan-tangan jahil merayapi pantatnya.

Asem! Mendadak saya merasa si mbak bukan objek kenikmatan, tapi objek penderitaan. Kok ya tega para penonton ndusel-ndusel, memanfaatkan kepasrahan si mbak yang mungkin terpaksa menjatuhkan harga dirinya untuk jadi tulang punggung keluarga.

Saya jadi teringat waktu lagi browsing-browsing di forum esek-esek kayak yang memang dikhususkan untuk orang dewasa tentang DC alias damage cost, biaya yang harus dibayar pemakai jasa entah itu pekerja seks komersial atau panti pijat. Kadang ada yang nanya berapa standard harga atau tips yang harus dibayar. Waktu liat nilai rupiahnya saya mikir, apakah saat mbayar itu harga kerelaan keterpaksaan si mbak untuk menjatuhkan harga diri juga ikut dihitung?

Saya ndak bermaksud ngajak sampeyan untuk membenarkan atau menyalahkan apapun di sini. Saya piker bukan domanin saya untuk bilangitu benar atau salah, karena setiap perbuatan selalu ada latar belakang yang belum tentu saya paham benar. Saya hanya mengingatkan bahwa apapun namanya, pelacur, bisyar, bispak, wanita pemijat, penyanyi dangdut esek-esek, adalah manusia biasa sama seperti saya dan sampeyan. Mereka punya akal, hati, nafsu, perasaan, punya keluarga, yang jelas mereka juga punya perut yang butuh makanan.

Jangan berantas pelacur, berantaslah pelacuran!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s