LOGICAL REASON (8)

Standard

Seperti pagi-pagi sebelumnya, sebelum kuliah dimulai, kami menunggu kedatangan dosen di gazebo depan kelas. Namun, sebagian yang lain sudah duduk di dalam kelas, terutama para mahasisiwi. Aku yang masih sangat mengantuk mencoba mengusir rasa kantukku dengan sebatang rokok. Semalaman aku tak tidur demi melihat pertandingan Champion League antara Manchester United yang menjamu AC Milan yang akhirnya dimenangi oleh tim asal Italia itu dengan score 2-0. Ini tentu sangat mengecewakan bagi seluruh fans Manchester United, termasuk diriku. Belum habis sebatang rokok yang aku hisap, si Kribo datang menghampiriku. Aku mengerti maksud kedatangannya.

“Mana upetiku, Boy???”,ungkap Halim si kribo.

Aku meraih dompetku dan memberikan satu-satunya lembaran uang yang masih tersisa di dompetku. Ya, aku kalah bertaruh dengannya. Tim favoritku yang aku gadang-gadang mampu menjungkalkan AC Milan malah terpuruk di kandang sendiri. Kekecewaanku bertambah setelah satu-satunya uang yang ada di dompetku raib di tangan begundal kribo. Padahal itu adalah satu-satunya senjataku untuk bertahan hidup untuk beberapa hari kedepan.

25 April, tanggal tua yang sudah beruban. Tanggal yang membutuhkan bantuan tongkat untuk berjalan sampai menyentuh bulan baru. Banyak mahasiswa yang akan mengeluh jika berjumpa dengannya. Terutama mengeluh tentang masalah financial. Tak terkecuali aku.

Seusai kuliah, para pengikut glamourisme di kelasku berencana untuk pergi ke theater. Mereka ingin melihat aksi perdana James Bond yang baru akan diputar hari ini. Aku tahu aku bukan pengikut glamourisme seperti mereka. Untuk itu aku tahu diri dan tidak bergabung dengan mereka. Ya, itu karena pertahananku telah raib jauh di kota Manchester. Aku berjalan menuju parkiran kampus dan bermaksud untuk segera pulang serta segera menyambung episode mimpiku yang tertunda karena perkuliahan di pagi nan buta. Aku berharap ketika terbangun nanti, aku mendapati kalenderku berbalik dan memamerkan tulisan barunya: 1 Mei. Namun waktu seolah berjalan begitu lambat.

“Hei,,, Mau kemana kamu Boy??? Tidakkah kamu akan bergabung bersama kami??? Ada film baru”, ungkap Nisa menghadangku.
“Ah,,, Saat ini aku benar-benar bermasalah dengan financialku. Mungkin lain kali aku akan bergabung bersama kalian”, sahutku.
“Ah, tak usah kamu berfikir masalah itu. Bukankah kita suadah lama berteman??? Lagi pula Lia juga akan ikut dengan kita. Apa kamu tak ingin menemaninya???”, desak Nisa.
“Ah, aku rasa kamu mengerti keadaanku, Aku tak mau membebani kalian. Bersenang-senanglah!!! Maafkan aku”, ungkapku.
“Baiklah,,, aku tak akan memaksamu”, ungkap gadis itu yang kemudian meninggalkanku.

Tiga hari sudah aku bertahan hidup dengan mie instan. Ya, mie instan adalah salah satu metode survival bagi mahasiswa, terutama para mahasiswa udik. Itu berarti dua hari lagi musim paceklik akan segera berlalu. Namun begitu, hatiku tetap tak tenang. Itu karena hari ini adalah hari Sabtu. Itu berarti malam nanti aku harus bertugas. Menjalani rutinitas gila. Bisakah kau membayangkan berada di kota orang tanpa uang sepeserpun??? Itulah yang aku alami sekarang. Aku terus memutar otak untuk mencari alasan logis yang dapat diterima oleh Lia untuk tidak mengunjunginya malam ini. Lia sangat cerdas. Alasan yang kurang tepat sedikit saja bisa menjadi bomerang buatku. Dan aku mengetahui hal itu. Namun jika aku berterus terang, itu juga tak mungkin. Ini tidak hanya masalah prestige, tapi juga harga diri seorang lelaki. Aku tak ingin berbohong, tapi aku juga tak ingin berterus terang. Dilematis bukan???

Seusai dari masjid, aku dapati tiga pesan dan belasan panggilan tak terjawab di handphoneku. Aku sudah menduga bahwa ada seseorang yang telah menungguku. Jam tujuh malam lebih lima menit. Aku memutuskan untuk tidak pergi dan telah bersiap menerima omelan dari Lia di esok harinya. Apapun itu. Aku mencoba lari dari kenyataan. Aku mngabaikan semua pesan dan panggilan telponnya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Menit demi menit, pesan itu terus bertambah, dan panggilan pun tiada henti. Hatiku memberontak, mau tak mau aku pun menjawab telponnya.

“Assalamu’alaikum”, jawabku mengangkat telepon.
Lia tak menjawab salamku, entah apa yang sedang dipikirkannya.
“Ada apa denganmu, Boy??? Puluhan pesan telah aku kirim dan panggilan teleponku tiada aku hentikan. Kemana saja kamu, Boy???”, tanya Lia.
“Maafkan aku,,, Aku baru pulang dari masjid”, jawabku berkilah.
“Bukankah kemarin-kemarin kau juga melakukan hal seperti itu??? Kau berdosa, Boy.. Kamu menjadikan masjid sebagai alibi. Aku sudah tahu keadaanmu. Kemarin Nisa menceritakan tentangmu padaku. Untuk itu aku menghubungimu.”, jelas Lia.

Ah, aku terjatuh dalam lubang dugaanku. Apa yang aku fikirkan benar-benar terjadi. Sedikit kesalahan dalam membuat alasan memang akan berakibat fatal. Kini kondisiku terpojok oleh kekritisan pemikiran gadis yang cerdas. Aku tak menyangka ternyata dia telah mengetahui alasanku yang sebenarnya. Dia mengetahuinya dari Nisa. Teman wanita yang paling dekat denganku. Gadis berkontak lensa seperti kucing itu adalah teman curhatku. Aku selalu menceritakan masalahku padanya, begitu pula sebaliknya. Itu karena dia adalah satu-satunya temanku yang paling bisa berfikir dewasa. Aku sangat mempercayainya.
“Sekarang, apa yang bisa aku lakukan untukmu???”, tanyaku.
“Makanya jadi orang jangan terlalu idealis, sekarang kamu termakan idealismemu sendiri.”, jawab Lia.
“Iya,, aku tahu itu Lia”, keluhku.
“Aku tak mau tahu, jangan sampai kamu mengingkari komitmen yang telah kamu buat sendiri”, ungkapnya.
“Tapi sekarang masalahnya, keadaanku tak memungkinkan untuk memenuhi janjiku. Kamu tahu sendiri kan masalahku???”, ungkapku.
“Ah, itu bukan masalah. Pokoknya aku tak mau tahu bagaimana cara kamu untuk bisa kesini sekarang. Setelah itu, semua jadi urusanku. Jangan khawatir, Boy… Daripada aku yang harus menghampirimu kesana, itu akan lebih menghancurkan idealismemu, dan aku tak menginginkannya”, jelas Lia.

Mendengar penjelasan Lia itu, akupun langsung beranjak dari kamarku. Membuang sarungku dan langsung menggantinya dengan jeans stylist anak muda. Aku mencari kunci motorku dan langsung mendorongnya ke warung depan kontrakan.

“Buk, dua liter. Tapi bayarnya besok ya…???”, ungkapku hendak berhutang.
“Iya, gag papa Mas.. Kapan aja boleh kok”, tandasnya
“Memang mau kemana??? Mau malam mingguan ya???”, pemilik warung itu menggodaku.
“Biasa Buk… Anak muda sekarang…”, jawabku menanggapi godaannya.

Tak sampai setengah jam, aku telah sampai ke tempat tujuan. Aku telah memasuki Danau Maninjau. Aku melihat Lia telah menunggu di beranda rumahnya. Melihat kedatanganku, ia segera membukakan pintu pagarnya. Dia tertawa. Aku tahu dia sedang mengejekku. Aku terdiam karena malu. Kali ini, aku kalah oleh kecerdikannya. Kamipun duduk di teras. Aku menghadap kearah kolam kecil. Melihat ikan Koi yang hilir mudik seolah juga ikut menertawakanku.

“Tumben kamu terlihat murung, ada apa denganmu, Boy???”, tanya Lia.
“Aku malu padamu”, ungkapku berterus terang.
“Sudahlah, lupakan hal itu. Mungkin ini adalah pelajaran buat kita. Dalam menjalin sebuah hubungan, keterbukaan adalah sesuatu hal yang mutlak yang harus ada”, ungkapnya.

Aku tersenyum setelah mendengar kata-kata Lia. Seolah aku menemukan lagi kepercayaan diriku. Untuk itu, aku pun segera menggodanya. Sembari melepas jaketku, aku pun berkata padanya.

“Baiklah, jika kamu menginginkan yang buka-bukaan”, candaku.
“Tuh kan,,, Pikiran kotornya udah mulai lagi”, ungkapnya
“Bukankah baru saja kamu mengatakan bahwa harus ada keterbukaan???”, candaku.

Lia cemberut, namun aku tahu hatinya senang bukan kepalang. Kami bercanda cukup lama. Bercerita tentang masa kecil hingga berangan-angan tentang masa depan. Cinta sangatlah gila. Cinta dapat menembus celah ruang dan waktu. Lebih dari duapuluh tahun usia kami diringkas hanya dalam waktu tujuh puluh delapan menit. Namun tanpa ada satupun yang terlewatkan. Jam tanganku menunjukkan jam setengah sepuluh lewat. Akupun tahu diri. Untuk itu, aku segera pamit. Lia menahanku. Setidaknya biarkan sampai jam sepuluh tepat. Aku menolaknya, dan Lia pun mengalah. Pintu pagarpun dibukakan. Tak lama, terdengar suara mesin motor buntut. Mendengar suara mesin itu, aku yakin motor itu diproduksi sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kuda besi rongsok yang tak tahu diri, yang dengan beraninya ia memasuki sebuah istana. Kuda besi yang mencoba menyapa seorang putri di singasananya. Tapi, bukankah cinta itu tak mengenal kasta???
Suara salam dari Lia menandai perpisahan kami di malam itu. Malam yang begitu spesial. Yang mampu mengkonversi lebih dari dua puluh tahun kedalam bagiannya hanya dengan dua liter energi bensin. Aku tersenyum sepanjang jalan. Ternyata kecerdasan gadis itu lebih tinggi dari yang aku perkirakan. Aku menyerah kalah oleh kecerdasannya. Terima kasih Lia, kau telah mengajariku tentang dusta. Berdusta dalam mencari sebuah alasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s