NO SMOKING!!!! (9)

Standard

Sabtu malam, mendadak aku ada rapat di himpunan. Rapat yang sangat penting dan urgen. Berhasil atau tidaknya acara akan ditentukan pada rapat kali ini. Itu berarti, untuk sementara aku harus mengingkari komitmenku pada Lia dengan tak mengunjunginya. Lia menerima alasanaku. Namun kesokan harinya,, pagi-pagi buta Lia sudah menelponku. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sepuluh menit setelah adzan subuh, aku yang masih kehilangan setelah kesadaranku pun mengangkat telponnya.

“Assalamu’alaikum”, salamku mengangkat telepon.

“Wa’alaikumsalam. Sudah bangun???”, tanya Lia.

“Jika aku belum bangun, tak mungkin aku menjawab telponmu”, jawabku sinis.

“Ihh… jawabnya kok gitu banget sih???”, tanya Lia.

“Abis, kamu telepon kayak mau lapor polisi aja. Disini pelayanannya tidak 24 jam, Nyonya???”, ledekku.

“Aku kan cuma pengen membangunkanmu. Kamu sudah sholat Subuh???”, tanya Lia sembari tertawa.

“Belum, aku baru bangun. Sekarang aku masih di kampus. Semalem aku tidur di sekretariat”, jawabku.

“Kamu ada acara nggak hari ini???”, tanyanya.

“Ada, tapi ntar sore. Memang kenapa Lia???”, tanyaku penasaran.

“Aku ingin pagi ini kamu mengganti ketidakhadiranmu semalam., itupun jika kamu tak keberatan”, jawabnya polos.

“Ah, kejam sekali kamu. Tak sedikitpun mau memberi dispensasi”, jawabku sembari tertawa.

“Baiklah, akan aku usahakan. Nanti aku kabari kamu lagi”, lanjutku memberi janji.

“Okay,,, I’ll be waiting for you, Boy..”, ungkapnya.

Suara Lia tak lebih dari kokokan ayam jago di pagi hari yang membuat mataku tak mampu terpejam lagi. Padahal, mata ini ingin membalas dendam karena telah terbuka semalaman. Mengiringi diskusi-diskusi yang tak berujung, mengikuti debat-debat yang tak bertepi namun tak mempunyai arah yang jelas. Sungguh, tak pernah aku menemui manusia yang lebih suka berdebat selain aktivis mahasiswa. Mereka rela mengorbankan apapun hanya untuk mempertahankan sebuah prinsip dan idealisme.

Minggu pagi yang begitu cerah sontak berubah menjadi suntuk setibanya aku di rumah kostku karena ak mendapatinya bak kapal pecah. Berantakan bukan kepalang. Aku baru menyadari bahwa hampir dua minggu ak tak membersihkannya. Pakaian kotorpun menggunung dan berdesak-desakan mengantri untuk segera ingin dicuci. Akhirnya akupun memutuskan jika pagi ini aku akan membereskan semua itu. Namun aku sedah terlanjur berjanji pada Lia untuk mengunjunginya di pagi ini. Ah, aku belum berjanji. Tadi aku hanya mengatakan padanya untuk mengusahakan. Tapi aku khawatir jika nantinya dia akan kecewa. Perkataanku tadi adalah ekspektasi baginya dan aku tak ingin membuatnya kecewa. Aku selalu berusaha untuk menjaga hati gadis itu. Aku pun berfikir mencari solusi dan akupun menemukan jalan tengah. Aku menelpon Lia.

“Assalamu’alaikum”, salam Lia mengangkat telponku.

“Wa’alaikumsalam”, jawabku.

“Ada apa, Boy??? Kamu jadi kesini kan???”, tanyanya.

“Begini Lia, aku membutuhkan bantuanmu. Rumah kostku tak lebih seperti kota Hiroshima pasca dijatuhi bom atom. Aku ingin kamu membantuku untuk membereskannya bersamaku”, ungkapku.

“Aku tahu aku telah berjanji padamu, tapi aku rasa ini adalah jalan tengah. Aku bisa bertemu denganmu dan semua tugasku hari ini akan beres”, lanjutku.

“Sebentar,,, apa kamu gag salah???” Tanya Lia meledek.

“Ah sialan kamu. Bagaimana??? Kalau kamu tidak keberatan, aku akan menjemputmu sekarang”, ungkapku meyakinkan.

“Hahaha… Okay… that’s chalange and I know if love is servant”, jawab Lia tertawa.

“Okay,,, I’ll go there. Wait a second, Girl…”, ungkapku.

Tak beberapa lama, aku telah berhasil memindahkan gadis berdenyum indah itu dari singasannya ke hamparan kota Hiroshima. Disana puing-puing benda berserakan telah menantinya.

“Ohhh My God,, Dasar para cowok!!!”, ungkap Lia setelah masuk rumah kostku.

“Aku memintamu ke sini bukan untuk mengejek Lia”, jawabku.

“Aku tak mengejekmu,, aku hanya ingin mengatai para cowok”, bantahnya.

“Aku rasa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku ke belakang dulu. Sejak tadi pakaianku sudah antri minta dicuci”, ungkapku.

“Siap Pak!!!”, sahut Lia.

Setelah seleseLove without smokei mencuci, aku mendapati rumah kostku telah tertata rapi dan bersih. Kini ia seperti kota Sydney tepat sehari menjelang pembukaan Olimpiade. Bersih, mewah dan rapi. Aku sekarang sadar dan mengerti bagaimana jadinya rumah jika tanpa keberadaan wanita didalamnya. Aku melihat Lia telah duduk santai di depan TV seperti berada di rumahnya sendiri. Kemudian ak pergi sebentar dan kembali dengan dua bungkus nasi pecel. Aku ingin pagi ini sarapan bersama Lia. Dalam sebuah kesederhanaan tentunya. Sesuatu yang mungkin asing bagi Lia. Namun ternyata, Lia sangat menikmatinya. Obrolan santai sambil menikmati sarapan dengan orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Terlebih ditambah dengan sebuah senyuman dari seseorang yang memounyai senyum yang mendamaikan. Ah, pagi itu benar-benar pagi yang indah. Namun keindahan itu berakhir seiring berakhirnya pesat makan pagi itu. Ketika ak mencari rokokku, ternyata aku mendapatinya sudah menjadi serbuk tembakau. Aku tahu siapa yang melakukannya.

“Apa yang telah kamu lakukan pada rokokku???”, tanyaku pada Lia.

Lia tak menjawab. Dia hanya mengangkat bahunya.

“Aku tak mengerti denganmu, Lia…”, lanjutku.

“Bukankah kamu memintaku datang kesini untuk hal itu???”, ungkap Lia membela diri.

“Kamu bawa dompet???”, tanyaku.

Lia mengangguk lunglai seperti sedang menyesal.

“Kamu bawa handphone???”, lanjutku.

Lagi-lagi Lia hanya mengangguk.

“Baiklah,,, aku harus meminta maaf padamu. Aku tak bisa mengantarmu pulang. Bukannya aku tak bertanggung jawab, tapi aku harus jujur jika saat ini ak sangat kecewa padamu”, ungkapku.

Lia terdiam, ia menunduk seperti orang yang sedang ketakutan, dan kemudian berkata :

“Maafkan aku!!!”, ungkap Lia lirih.

“Aku juga minta maaf padamu Lia. Yang perlu kamu tahu, aku telah mengenal rokok sebelum aku mengenal cinta”, ungkapku sambil mpergi meninggalkannya.

Aku selalu heran, mengapa kebanyakan wanita sering melarang kekasihnyauntuk bersentuhan dengan rokok. Bahkan tak jarang mereka mengancam sang kekasih hati untuk mengakhiri hubungannya jika mereka melakukan hal itu. Mungkinkah seperti itu bentuk dasri sebuah kasih sayang??? Atau bentuk dari sebuah perampasan hak atas laki-laki??? Atau bahkan sebagai bukti bahwa wanita itu adalah kaum diktator??? Yang jelas, musuh utama dari industri rokok di negri ini bukanlah tingginya cukai tembakau atau karena regulasi tentang bahaya merokok, melainkan fatwa-fatwa para wanita yang melarang kekasihnya untuk melakukan hal itu.

Aku meninggalkan Lia sendiri di rumah itu. Karena aku takut sebuah kekecewaan akan berubah menjadi ego. Dan aku tahu bahwa ego pasti akan berbuah emosi. Dan Ketika kita emosi,, itu berarti kehancuran didepan mata. Aku mencintai Lia, aku tak ingin hal itu terjadi. maka aku memilih untuk pergi sejenak dengan meninggalkannya. Aku sedikit menyesali perbuatanku. karena Ketika aku kembali, aku sudah tak mendapati Lia berada di situ lagi. Meski aku khawatir dengannya, namun aku belum mau mencari tahu tentang keberadaaanya. Yang jelas, aku akan meminta maaf padanya. Meminta maaf pada gadis yang telah menyulap kota Hiroshima menjadi Sydney.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s