Berbicara saat khotbah, bolehkah?

Standard

Berawal ketika kemarin saya shalat jum’at, ada jama’ah disamping saya sedang melakukan shalat sunah. Saya kurang tahu niatnya sholat, entah maksudnya dia sedang sholat Takhiyatul Masjid atau sholat Qobliyah Jum’at, yang jelas dia melakukannya ketika Khatib sedang membacakan khotbah, dan membaca bacaan shalatnya cukup nyaring.

Saya langsung teringat pada masa ketika saya masih SD. Sewaktu ujian PAI, ada sebuah pertanyaan yang menurut saya mudah untuk dijawab ketika itu. “Apa yang kamu lakukan jika ada temanmu berbicara pada saat khatib sedang khotbah?”, dengan tanpa banyak berfikir lagi, langsung saya jawab “Menegurnya, supaya dia tidak membuat gaduh”. Mungkin saat itu saya sedang mempertangggung jawabkan nilai PPKn saya yang mendapat angka 9. Ya, dalam ajaran PPKn, menegur atau memberi peringatan kepada orang yang salah (kurang benar) adalah tindakan mulia dan harus dilakukan.

Namun, setelah lembar jawaban dibagikan, betapa terkejutnya melihat jawaban saya yang ternyata salah. Akupun penasaran dan ingin tahu jawaban apa yang tepat atas pertanyaan itu. Langsung saja saya tanyakan kepada yang punya soal, Pak Santoso, guru PAI-ku. Menurutnya, tindakan yang tepat jika ada teman yang berbicara pada saat khatib berkhotbah adalah “DIAM”, dan ketika itu aku menerimanya begitu saja tanpa meminta penjelasan.

Tahunpun berlalu hingga suatu waktu aku membaca sebuah pamflet kecil di atas pintu masuk sebuah masjid yang isinya “Haram Bicara Waktu Khotbah Dibaca”. Singkat tapi cukup mudah untuk dimengerti. Langsung saja memori otakku berbalik arah dan teringat kembali pada sosok Pak Santoso. Inikah yang dimaksud atas jawabnya bebrapa tahun yang lalu? Ya, Diam karena bicara dikenai hukum haram. Namun benarkah seperti itu???

Okay, kita tanya Google :

 

Bolehkah Berbicara Saat Khutbah Jum’at Berlangsung?

Saat khutbah Jum’at disampaikan, bagi jamaah shalat Jum’at wajib diam mendengarkannya dengan seksama. Barangsiapa berbicara sendiri yang memalingkan dari memperhatikan khutbah maka sia-sialah shalat Jum’at yang dikerjakannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Apabila engkau berkata kepada saudaramu pada hari Jum’at, ‘diamlah!’ sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari berkata, “Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan bahwa memerintahkan diam saat khutbah adalah bentuk lahwun (perbuatan sia-sia), walaupun bentuknya perintah yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya lahwun. Dan bila ingin memerintahkan diam orang yang bicara, dengan isyarat.”

Beliau menambahkan, “Hadits di atas dijadikan dalil larangan terhadap seluruh macam perkataan pada saat khutbah, dan demikian itu pendapat mayoritas ulama terhadap orang yang mendengarkan khutbah.”

Diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Suatu hari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk di atas mimbar, lalu beliau berkhutbah di hadapan manusia dan membaca sebuah ayat. Di sampingku ada Ubay. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Ubay, kapan ayat ini diturunkan?” Dia tidak mau berbicara kepadaku. Lalu aku bertanya lagi kepadanya, tapi dia tetap tidak mau berbicara kepadaku.

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah turun barulah Ubay berkata kepadanya, “Engkau tidak mendapatkan dari Jum’atanmu kecuali kesia-siaan.” Maka ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertolak, aku (Abu Darda’) mendatanginya, lalu aku beritahukan perihal tadi. Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ubay benar, Apabila engkau mendengar imammu berkhutbah, diamlah engkau sehingga dia selesai.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad dalam al-Musnad no. 21627 dan 21184 yang oleh muhaqqiqnya Al-Zain dinyatakan isnadnya shahih)

Ibnu Abdilbarr rahimahullaah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha’ negeri tentang wajibnya diam memperhatikan khutbah bagi orang yang mendengarnya,” (Al-Istidzkar: 5/43). Tetapi setelah itu disebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan sebagian mutaakhirin, namun itu tidak dianggap sebagai perbedaan yang diakui karena menyelisihi nash-nash yang sharih. Sebagaimana yang disebutkan dalam madzhab Syafi’iyah, Inshat (diam mendengarkan khutbah) adalah mustahab dan tidak wajib. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’: 4/523 menyebutkan, dalam hukum inshat ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Namun yang shahih dalam madzhab ini, bahwa inshat ini mustahab (dianjurkan), tidak wajib. (Al-Majmu’: 4/523)

Terdapat satu riwayat Ahmad dalam al-Mughni (3/194), tidak diharamkan berbicara.

Sedangkan jumhur ulama berpendapat, diharamkan berbicara saat khutbah disampaikan. Dan inshat ketika itu adalah wajib. Sementara madhab Hanafi berpendapat, berbicara saat khutbah makruh tahrim walaupun itu berupa amar ma’ruf, bertasbih, atau yang lainnya. (Al-Bahr al-Raaiq: 2/168)

Dalam kitab al-Mudawwanah disebutkan, “Apabila imam berkhtubah, maka saat itu juga wajib memutus pembicaraan, menghadap kepadanya, dan diam mendengarkannya.” (Mawahib al-Jalil: 2/530)

Jumhur ulama: Diharamkan berbicara saat khutbah disampaikan. Dan inshat (mendengar & mendengarkan khutbah) ketika itu adalah wajib.

 

Kapan Larangan Berbicara Ini Berlaku?

Sesungguhnya larangan berbicara di sini berlaku pada saat khutbah saja. Karenanya sebelum khutbah dimulai dibolehkan berbicara walaupun imam sudah duduk di atas mimbar. Begitu juga ketika imam sudah mengakhiri khutbahnya, dibolehkan berbicara sebelum shalat dimulai.

Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dari Tsa’labah al-Quradzi, mereka pada zaman Umar bin Khathab shalat pada hari Jum’at sehingga Umar keluar. Maka apabila Umar sudah keluar dan duduk di atas mimbar, lalu muadzin mengumandangkan adzan, kami duduk berbincang-bincang. Lalu apabila muadzin diam dan Umar berdiri menyampaikan khutbah, kami semua diam dan tidak seorangpun dari kami yang berbicara.

Ibnu Syihab berkata, “Keluarnya imam memutus shalat, sementara perkataannya memutus perkataan (jama’ah).” (Tanwir al-Hawalik, hal. 125)

Inilah madzhab ‘Atha, Thawus, Bakr al-Muzani, al-Nakha’i, al-Syafi’i, Ishaq, Ya’kub, Muhammad dan juga diriwayatkan dari Ibnu Umar.

Sedangkan berbicara di antara dua khutbah, terdapat dua pendapat. Di dalam al-Mughni disebutkan, al-Hasan al-Bashri membolehkannya. Sementara Malik, al-Syafi’i, al-Auza’i dan Ishaq melarangnya. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 2/200)

Sebelum khutbah dimulai dibolehkan berbicara walaupun imam sudah duduk di atas mimbar. Begitu juga ketika imam sudah mengakhiri khutbahnya, dibolehkan berbicara sebelum shalat dimulai.

 

Siapa Yang Dibolehkan Berbicara?

Ada  beberapa kondisi yang dibolehkan berbicara saat imam menyampaikan khutbahnya. Yaitu:

1. Bagi orang yang tidak mendengar khutbahnya imam karena jauhnya jarak atau tuli atau sebab lainnya, dia boleh menyibukkan diri berdzikir dan berdoa, tanpa mengganggu yang lainnya. diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Mushannafnya (3/213), dari Ibnu Juraij berkata, “Aku bertanya kepada ‘Atha, ‘Aku tidak mendengar (suara khutbah) imam. Bolehkah aku bertasbih, bertahlil, dan berdoa kepada Allah untuk diriku dan keluargaku serta aku sebut mereka dengan nama-namanya?’ Beliau menjawab, ‘Ya (boleh)’.”

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (2/167) menyebutkan, “Bagi orang yang jauh supaya berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan tidak meninggikan (mengeraskan) suaranya.”

 

2. Apabila imam keluar dari ketentuan khutbah yang semestinya, seperti berbicara batil, memuji orang yang haram dipuji, mencela orang yang tidak boleh dicela, atau semisalnya. Maka bagi makmum tidak wajib diam, dia boleh berbicara. Adalah Sa’id bin Jubair, al-Nakha’i, al-Sya’bi, Ibrahim ibnul Muhajir, dan Abu Burdah berbicara saat al-Hajjaj berkhutbah. Mereka berkata, “Kita tidak diperintahkan diam untuk hal ini.” (Lihat: Al-Mughni 2/165-166, al-Syarhu al-Shaghir milik Imam al-Dardiri al-Maliki 1/183, dan a-Bahru al-Raaiq milik Ibnu Najim al-Hanafi 2/160).

Pendapat ini juga diamini oleh Ibnu Hubaib, al-Lakhmi, Ibnu al‘-Arabi, dan al-Dasuqi dari ulama Malikiyah  (Lihat: al-Taaj wa al-Iklil oleh al-Mawaq al-Maliki 2/550 dan Hasyiyah al-Dasuqi 1/615).

Apabila imam keluar dari ketentuan khutbah yang semestinya, seperti berbicara batil, memuji orang yang haram dipuji, mencela orang yang tidak boleh dicela, atau semisalnya, boleh tidak memperhatikan khutbah.

 

3. Orang yang berbicara kepada Imam karena suatu hajat atau imam mengajaknya bicara. Hal ini berdasarkan hadits Salik al-Ghathafani, dia masuk masjid pada hari Jum’at ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah. Lalu beliau bertanya, “Apakah kamu sudah shalat?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Bangunlah dan shalat dua rakaat!.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Juga didasarkan kepada kisah Umar bin Khathab radliyallah ‘anhu ketika berkhutbah di hari Jum’at, tiba-tiba Utsman bin ‘Affan masuk. Maka Umar memotong khutbahnya untuk menegurnya seraya berkata, “Kenapa orang-orang terlambat setelah seruan dikumandangkan?” Utsman menjawab, “Ketika aku mendengar seruan Adzan, aku tidak dapat berbuat lebih daripada sekedar wudlu’ dan kemudian berangkat. . . . “( HR. Muslim)

Dalam Shahihain dari Anas, ada seseorang masuk masjid pada hari Jum’at ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah. Dia berkata, “Ya Rasulallah, harta benda telah hancur dan perbekalan telah habis, berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami.” Lalu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Allah turunkan hujan kepada kami, Ya Allah turunkan hujan kepada kami.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnul Qayyim dalam al-Hadyu al-Nabawi (1/427) berkata, “Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam memutus khutbahnya karena suatu hajat yang nampak, atau pertanyaan dari salah seorang shabatnya lalu beliau menjawabnya kemudian kembali melanjutkan khutbahnya, dan menyempurnakannya.”

4. Perkataan yang wajib dia keluarkan untuk menolong kehidupan orang, seperti memperingatkan orang buta akan adanya sumur sehingga dia tidak jatuh ke dalamnya, atau ada ular, atau kebakaran dan semisalnya. (Al-Mughni: 2/168) dalam kondisi seperti itu, seseorang harus berbicara untuk menyelamatkan nyawa orang atau harta seseorang.

(sumber: muslim.or.id, voi-islam.com, khotbahjumat.com)

 

Ya, begitulah uraian dari mbah Google yang notabene selalu bisa menjawab setiap pertanyaan yang dituliskan pada search engine-nya. Dan setelah saya bertanya kepada beberapa orang yang menurut saya mempunyai pengetahuan akan hal tersebut, maka dari semua jawaban beserta argumen yang mereka kemukakan, saya berpendapat kalau memang hukum berbicara pada saat khotbah dibaca adalah tidak diperbolehkan.

Namun, bagaimana dengan orang yang melakukan sholat sunah ketika khatib sedang mengumandangkan khotbah tadi? Bukankah mereka juga berbicara ketika membaca bacaan sholatnya? Apakah dia juga dikenai hukum yang sama? Atau apakah dia termasuk dalam empat golongan yang diperbolehkan bicara seperti penjelasan mbah Google?

Dan pada akhirnya, saya pribadi mengambil jalan tengah. Maksudnya, ketika saya ingin melakukan sholat sunah (ex: Takhiyatul Masjid), saya berusaha untuk datang lebih awal sehingga bisa melakukannya sebelum khatib membacakan khotbah. Namun jika harus terpaksa datang ke masjid setelah khatib membacakan khotbah, saya langsung duduk mendengarkan dan tidak melakukan shalat sunah apapun. Ini hanya sebatas kekhawatiran saya saja, dan sampai saat ini saya masih mencari solusi yang tepat atas case tersebut. Tentunya dengan bertanya-tanya dan mencari literasi yang bisa membuat saya yakin.

Lalu, bagaimana menurut Anda???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s