Tentang Politik : Idola saya dibohongi

Standard

Ternyata trend pimageserceraian tak hanya melanda kalangan artis, tetapi juga politisi. Bisa jadi itu ada hubungannya dengan maraknya kaum selebritis yang tampan dan jelita itu masuk dunia politik.

Kalau para artis dengan mimik genit akan mengatakan “sudah tak ada kecocokan” sebagai musababnya, para politisi itu juga mengatakan hal yang sama, hanya saja dengan ekspresi penuh wibawa.

Apakah ini sebuah bukti lagi, bahwa dunia politik dan entertainment itu memang sama belaka, hanya panggung sandiwara? Minggu lalu tampak mesra, saling cipika cipiki, sanjung menyanjung, tiba-tiba kemarin mengajukan gugatan cerai. Eh, besok malah lebih mesra lagi, dan dengan santai mengatakan yang kemarin itu, “cuma salah paham aja”.

Apalagi kalau melihat kenyataan posisi kita sebagai warga dalam dua dunia ini juga sebenarnya sama: cuma penonton. Jadi, mereka mau cerai, kawin siri, selingkuh, mesra saat jalan-jalan ke Eropa, tidur saat rapat, ya tak boleh protes. Tonton saja. Tak suka, ganti chanel.

Beberapa hari lalu sempat melihat berita mengenai gugatan perceraian yang dilayangkan Farah Queen dan Marshanda kepada suaminya, kemarin saya kembali melihat gugatan yang sama dilayangkan oleh idola saya, Rhoma Irama kepada Bapak Muhaimin Iskandar sebagai suami sah-nya ketika Pemilu Legislatif lalu. Konon, bang Rhoma kecewa kepada Pak Muhaimin yang merasa telah mengkhianatinya karena tidak memberikan mahar yang dijanjikan ketika menikahinya dulu yakni menjadikannya sebagai bakal calon presiden.

Saya fikir ini menggelikan, ketika Pak Muahaimin menawarkan mahar tersebut. Namun sebagai seorang fans, kekaguman saya menutupi cara berfikir yang menggelikan itu. Bahkan sempat terbersit, jika memang benar Pak Muhaimin menepati janjinya, saya bakal merasakan kegalauan yang teramat sangat. Terang saja, sebagai seorang warga negara yang awam, mana mungkin saya memilih calon presiden yang sama sekali belum pernah terjun di dunia politik. Namun sebagai seorang fans fanatik, mana mungkin saya tidak mendukungnya.

Jadi, ketika saya melihat berita itu, dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya merasa sangat bersyukur. Setidaknya kegalauan yang saya khawatirkan selama ini tidak akan terjadi. Namun melihat idola saya dibohongi oleh Pak Muhaimin, jelas saja saya langsung ingin bergabung bersama meraka yang ramai-ramai membakar bendera partai Pak Muahaimin sebagai aksi protes saya atas kebohongan Pak Muhaimin. Mbok jangan membuat dia jatuh kalau memang tidak sungguh-sungguh ingin menangkapnya. Lha ini, dijanji-janji yang manis namun ternyata isinya dusta. Oh iya, mungkin ini yang membuat pamor partai islam akhir-akhir ini menurun drastis. Karena didalamnya kita diajari untuk berdusta. Kalau alasannya ini kan politik? Semua bisa terjadi di politik. Ya mau ga mau akhirnya kita juga harus diam. Di politik kan memang dihalalkan bersandiwara.

Untuk idolaku, tetaplah berkreasi. Wakil sejati memang mereka yang setia berada di belakang tanpa takut terlihat kerdil. Bukan malah jadi pengganggu seperti kerikil. Sabarlah sedikit, karena setiap orang punya gilirannya sendiri untuk tampil. Jika Anda terlalu bergegas, bisa-bisa malah tergilas. Ya memang demikianlah takdir kerikil. Karena menurutku, saat ini Anda masih tampak seperti kerikil di dalam dunia yang menghalalkan bersandiwara itu. Mungkin suatu saat nanti tiba giliran anda untuk tampil. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s