Solving Problem With Crazy Joke (10)

Standard

Senin pagi, itu berarti kuliah pagi, dan itu sangat tidak menyenangkan. Harus menahan mata supaya tetap terbuka antara waktu subuh dan dhuha adalah sangat berat bagi seorang mahasiswa. Dan itu harus aku jalani setiap hari senin. Namun tidak untuk hari ini. Tidak seperti senin-senin sebelumnya. Aku sangat semangat hari ini karena aku akan segera melakukan ritual penebusan dosa. ya aku ingin segera meminta maaf pada Lia. Aku merasa sangat bersalah atas perbuatanku kemarin.

Jalanan masih terlihat sepi. Aku berjalan kaki menuju ke kampus. Namun setibanya di kampus, aku telah mendapati diriku sudah terlambat. Ya, perkuliahan pagi itu sudah dimulai. Sadar akan keterlambatanku, aku pun segera masuk kelas dan mengikuti perkuliahan. Aku duduk di bangku paling belakang. Aku melihat media penebusan dosaku telah berada di depanku. Tepat di depan dosen yang menerangkan materi perkuliahan. Ya, Lia memeng selalu duduk di bangku paling depan.

Hari ini aku sangat bersemangat bukan karena perkuliahan. Tapi aku sabngat bersemangat karena Lia. Sejak peristiwa berubahnya kota Hiroshima menjadi Sydney, ak telah kehilangan kontak dengannya, namun pagi ini aku bisa melihatnya lagi. Kekhawatiranku dengan keadaanya kini pudar karena dia terlihat baik-baik saja. Aku kembali melihat senyum indah yang selama ini aku kagumi.

Seusai perkuliahan, aku lanngsung mengahmpiri Lia di tempat duduknya. Namun dia tak acuh padaku. Aku melihat guratan bekas kekecewaan di wajahnya dan aku memakluminya. Setelah merayunya beberapa saat, alkhirnya hati gadis cerdas itu luluh juga. Aku berhasil mengajaknya ke kantin meski dengan berat hati.

“Mau minum apa kamu, Lia???”, tanyaku.

“Ah, kamu saja. Aku gag haus”, tolak Lia.

“Apa kamu ingin mengingkari komitment yang telah kamu setujui???”, hardikku.

“Baiklah, aku pesen cokelat panas”, jawabnya.

“Nah,, begitu kan cantik”, rayuku sambil tersenyum.

Jawaban Lia itu memberitahukan bahwa diantara kami memang sedang tidak terjadi apa-apa. Hubungan kami masih baik-baik saja. Mungkin hanya sedukit rasa kecewa yang membiaskan semua itu sehingga Lia menjadi tak acuh padaku.

“Aku tahu aku salah, untuk itu aku ingin memnita maaf padamu”, ungkapku.

Lia hanya terdiam. Bahkan ia memalingkan wajahnya keluar jendela kantin. Aku tak mengerti apa yang sedang dipikirkannya.Namun aku mendapat pelajaran baru tentang wanita. Ya, wanita bisa membuat orang yang seharusnya dimintai maaf kini harus menyesal karena merasa bersalah atas tindakannya. Sungguh, wanita adalah makhluk berprestige tinggi. Sekitar seratus meter lebih tinggi dibandingkan laki-laki.Dan seorang waiter datang dengan membawa dua cangkir cokelat panas.

“Terserah kamu mau mendengarkanku atau tidak, yang jelas aku sangat menyesal dengan tindakanku kemarin. Sungguh itu adalah sebuah tindakan bodoh yang pernah aku perbuat”, ungkapku.

“Mungkin kemari aku telah dibutakan oleh rasa kecewa. maafkan aku Lia”, tambahku.

“Okay okay… Sejak tadi kamu selalu bilang tentang kekecewaanmu, tapi apa kamu pernah berfikir tentang kekecewaanku??? Ungkap Lia sinis.

“Aku juga kecewa, Boy…!!! Bahkan sangat kecewa. Kamu memintaku untuk datang ke tempatmu, namun setelah aku memenuhinya, kamu malah pergi begitu saja. Aku tahu kemarin kamu kecewa padaku, namun ajaran mana yang bisa membenarkan tindakanmu itu??? Tidak ada Boy… Tidak ada!!!”, lanjutnya.

“Iya Lia, aku tahu itu, dan kini aku menyesalinya”, jawabku.

“Baguslah kalu kamu menyadarinya. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa kecewaku padamu”, ungkapnya.

“Okay,,, sekarang katakan padaku, apa yang bisa aku perbuat untuk menghapus rasa kecewamu itu???”, tanyaku.

“Aku sedang tak ingin berdebat denganmu, Boy…”, jawabnya.

“Aku tahu kamu bukanlah orang yang suka lari dari masalah, Lia”, ungkapku.

“baiklah,, Beri aku tujuh menit untuk berfikir”, pinta Lia.

Aku tersenyum padanya. Aku yakin aku akan segera mendapatkan surat penebusan dosa yang sejak tadi aku harapkan. Aku tahu Lia akan memberikannya padaku sedang aku tahu bahwa tujuh menit bukanlah waktu yang lama. Aku melihat Lia sedang berfikir sembari menikmati cokelat panasnya yang sduah mulai dingin oleh waktu. Aku masih teryus tersenyum menunggunya.

“Okay Boy… Aku sudah mendapatkan pemecahnnya. Aku harap kamu sepakat dengan solusi yang akan segera aku katakan”, ungkap Lia.

Ah, segera katakan padaku, Lia…”, pintaku.

“Aku punya lima pertanyaan tebakan. JIka kamu mampu menjawab minimal empat dari kelima pertanyaan tersebut maka aku akan menganggap masalah kita ini selesei. Namun jika tidak, maka kamu harus menunggu konfirmasi dariku tentang masalah kita ini”, ungkap Lia.

“Namun sebelum aku memberikan pertanyaan itu, aku ingin bertanya padamu apakah kamu setuju dengan cara ini???”, lanjutnya

Aku yang sejak tadi tersenyum-senyum menjadi terpana oleh gagasan Lia. Aku sangat terkejut. Lelucon apa yang sedang ingin dibuatnya???

“Ah,,, Kamu gila Lia”, ungkapku padanya.

“Tapi kamulah yang mengajariku kegilaan ini, Boy…”, jawab Lia meledek.

“Bagaimana??? Apakah kamu setuju dengan caraku untuk gencatan senjata ini???”, tambahnya.

“Yes please,,, Tell me about it Girl!!!”, pintaku setuju.

“Yang pertama, Binatang apa yang paling panjang???”

“Yang kedua, Siapa Presiden paling seksi???”

“Ketiga, Siapa wanita paling kuat sedunia???”

“Keempat, Siapa yang lebih pintar dari Einstain???”

“Dan teraakhir, Bagaimana caranya Kereta Api dan motor jika ditimbang beratnya menjadi sama???”, kata Lia.

“Ini hanya sebuah Joke Boy… Kamu jangan terlalu serius memikirkannya. Tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu harus menjawab benar minimal empat dari lima pertanyaan itu. Dan waktumu hanya 1 x 24 jam”, lanjut Lia.

“Bagaimana??? Apa ada yang ingin kamu tanyakan???”, tambahnya.

Aku hanya terdiam mendengarkan kegilaan Lia. Solving problem with crazy joke. Sebuah cara unik yang belum pernah aku tahu.

“Ya udah, jika tak ada yang ingin kamu tanyakan, aku mau pulang dulu. Waktumu 1 x 24 jam terhitung dari sekarang. Batas kesempatanmu menjawab sampai besok jam sembilan lebih empat puluh tiga menit”, ungkap Lia sembari melihat arlojinya.

“Oh iya,, kamu boleh meminta bantuan jin ataupun manusia untuk menjawabnya. Aku tak ingin membatasimu”, ungkapnya sembari beranjak dari duduknya dan kemudian meninggalkanku.

Dia pergi dengan kemenangannya.Kemenangan yang di peroleh dari kecerdasannya. Ah ini bukanlah kecerdasan. Memang hanya ada sekat tipis antara kejeniusan dengan kegilaan. Dan aku mampu melihat sekat itu pada diri Lia.

Keesokan harinya, tepat jam setengah sepuluh pagi, kami kembali bertemu di kantin sebagaimana yang telah Lia janjikan. Aku berhasil mengatasi tantangan yang diberikan oleh gadis itu, meski aku hanya mampu menjawab empat dari kelima pertanyaannya dengan benar. Ah, itu pun sudah cukup untuk mengembalikan sebuah senyuman yang sudah beberapa hari ini aku kehilangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s