Belajar konsentrasi

Standard

Akhir-akhir ini aku merasa kualitas beribadahku menurun. Sepertinya kenikmatan dalam upaya pendekatan diri pada-Nya itu belum dapat. Mulai dari sholat, berdoa, membaca Al-Quran dsb. Mungkin belum dapet feel-nya. Bertanyalah aku pada temenku, dan katanya : “Kalo kita meminjam istilah Pak Kyai, bahwa ibadah kamu itu belum khusuk”. Okay, sudah ketemu masalahnya. Ya, masih belum bisa khusuk. Lantas, aku mencoba mencari solusinya. Browsing mbah google sebagai pilihan utama. Dan ternyata, untuk bisa menjadi khusuk, kita harus bisa konsentrasi sehingga kita menyadari apa yang kita lakukan dan kita ucapkan. Hemmm… Baiklah, saatnya berlatih.

Belajar Konsentrasi (wudhu)

Ternyata berkonsentrasi itu tidak mudah. Kita tahu bahwa durasi waktu untuk wudhu paling lama sekitar 2 menit dan mewajibkan kita melakukan gerakan-gerakan yang relatif sedikit, namun untuk berkonsentrasi agar pikiran kita menyadari gerakan-gerakan yang kita lakukan masih saja sulit. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan sehingga pikiran bawah sadar kita menuntun untuk melakukan gerakan-gerakan dalam wudhu tanpa harus kita sadari. Ketika ambil wudhu saat mau sholat dhuhur, aku bisa menyadari apa yang aku kerjakan, namun ketika ambil wudhu saat sholat ashar, konsentrasiku cuma sampai gerakan cuci muka, selebihnya pikiran melayang-layang memikirkan keasaman air yang aku gunakan untuk wudhu, menghitung jumlah lombok yang tumbuh disamping kran air yang semua itu pada intinya, aku masih belum berhasil berkonsentrasi dalam berwudhu.

Ternyata, hal seperti itu bukan serta merta karena ketidakmampuanku berkonsentrasi, namun ada pihak ke tiga yang sering kita gunakan sebagai kambing hitam ketika kita melakukan kesalahan. Ya, siapa lagi kalau bukan setan. Tapi ini bukan aku mengada-ada. Ini loh sabda Beliau sebagai bukti kalau aku tidak mengada-ada : “Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya.” (HR Ahmad).

Ada 3 jurus yang dipakai Al Walahan dalam melancarkan aksinya :

  1. Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk meng’eja’ niat. Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu kativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.
    Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya: “Celakalah tumit dari neraka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
    Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki …” (QS. al-Maidah : 6)
  2. Untuk orang yang antusias dan bersemangat, ‘al-walahan’ memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda:
    “Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i, sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani). Nabi Saw melihat Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa’ad?” Sa’ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)
  1. Jurus terakhir yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.url

Belajar Konsentrasi (shalat)

Tidak jauh beda dengan upayaku untuk berkonsentrasi dalam berwudhu. Usahaku untuk menyadari gerakan dan bacaan yang aku baca ketika shalat hanya bertahan sampai rakaat pertama. Selanjutnya pikiran berputar-putar tak karuan setelah melihat merk sarung sang imam. Pikiranku sudah tidak lagi memikirkan bacaan dan gerakanku dalam shalat, melainkan berfikir mengapa sang imam sudah 4 hari ini memakai sarung yang sama? Apakah sarung tersebut belum dicuci?

Belum selesei memikirkan masalah sarung, sepintas ak melihat microfone yang lupa belum dimatikan sampai-sampai aku tidak tahu surat apa yang dibaca oleh sang imam di rakaat kedua. Intinya, belajar konsentrasi dalam sholat kali ini gagal. Tapi kali ini aku tak mau mengkambing hitamkan siapapun.

 

Tapi, hidup adalah proses pembelajaran dan proses belajar hanya akan berakhir sampai kita di liang lahat. Terus belajar berkonsentrasi demi mewujudkan kekhusukan dalam beribadah, karena dari sinilah sumber ketenangan hati berasal.

Bagaimana dengan anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s