Jangan sembarangan berdo’a

Standard

Akhir tahun ini ditutup dengan kisah memilukan dengan adanya kecelakaan penerbangan yang dialami maskapai Air Asia dengan flight number QZ 8501 dan diduga tenggelam di selat Karimata. Berbagai macam ungkapan simpatik terutama kepada korban membormbardir social media seperti Twitter, FB, BBM, Path dsb. Salah satu temankupun ikut ambil bagian untuk mengucapkan bela sungkawa kepada korban seperti yang tertulis di status Blackberry Masanger-nya.

“Innalilahi wa innailahi roji’un, semoga amal ibadah korban diterima disisi-Nya dan semua dosa-dosanya diampuni oleh-Nya #PrayForAirAsiaQZ8501”

Sepintas itu memang ucapan bela sungkawa. Namun bila dipahami lebih dalam, itu adalah sebuah ucapan doa. Ya, doa kepada korban kecelakaan.

Lantas, masalahnya dimana?

Masalahnya adalah hampir 90% dari korban kecelakaan tersebut adalah mereka yang berbeda akidah dengan kita.

Memang kita gak boleh mendoakan pada mereka yang berbeda akidah?

Sebenarnya kita dihalalkan untuk mendoakan orang-orang yang berbeda akidah dengan kita atau orang-orang non-muslim. Akan tetapi doa itu hanya sebatas agar dia diberikan Taufik (Pertolongan) dan Hidayah (Petunjuk) dari Allah Ta’ala agar dia mau masuk Islam. Itu seperti yang pernah dilakukan oleh Rasullullah ketika mendoakan Umar bin Khatab sebelum sahabat masuk islam. Rasulullah pernah memohon kepada Allah SWT agar salah seorang dari dua gembong musyrikin kota Makkah memperoleh hidayah. Doanya diabadikan dalam hadits di bawah ini :

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khattab.” (Sunan At-Tirmidzi 12/141)

Tetapi jikalau kita mendoakan orang-orang yang berbeda akidah agar dia diampuni dosanya, atau mendoakannya agar dia selamat dalam hidupnya, atau kita mendoakan agar dia dimasukkan ke surga, maka itu diharamkan. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman didalam Al-Qur’an:

“Tidak selayaknya bagi Nabi (Muhammad Saw) dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampunan (berdoa) kepada Allah bagi orang-orang yang Musyrik, walaupun mereka itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang yang Musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahannam!”. (QS At-Taubah: 113)”

Bagaimana dengan ucapan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un”?

Ungkapan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un (artinya: kita ini semua milik Allah dan kita pasti akan kembali kepadan-Nya) bukan doa dan sama sekali tidak bermaksud mendoakan orang yang wafat, melainkan ungkapan zikir biasa yang dikaitkan dalam konteks bila ada yang wafat. Sedangkan yang wafat itu beragama apapun, tidaklah menjadi masalah. Sebab makna lafaz dari hanyalah ungkapan bahwa kita ini semua milik Allah dan kita pasti akan kembali kepadan-Nya. Bahwa seorang mati dalam keadaan beriman atau tidak beriman, itu urusan masing-masing.

Bagaimana jika ada orang yang berbeda akidah mendoakan kita?

Kita harus menyambut baik atas doa mereka dan membalas doa itu. Namun yang perlu diingat adalah batasan dari doa kita kepada mereka. Batas yang tidak boleh adalah memohonkan ampunan bagi mereka. Meskipun mereka itu masih saudara kita sendiri.

Abu Musa -rodliallohu anhu- mengatakan: “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi SAW, mereka berharap beliau mau mengucapkan doa untuk mereka “yarhamukalloh (semoga Allah merahmati kalian)”, maka beliau mengatakan doa: “yahdikumulloh wa yushlihabalakum (semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” (HR. Tirmidzi 2739 , dan yg lainnya, dishohihkan oleh Syeikh Albani)

“Jika seorang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dg ucapan: “Wa’alaikum“. (HR. Bukhori [5788], dan Muslim [4024])

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa saling mengingatan. Bukankan orang-orang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran itu tidak akan pernah rugi? Ya.. wa tawaa soubil haq, wa tawaa soubis sobr

 

Lubuk Tutung,Sangatta

Kutai Timur, East Borneo

11st, January 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s