Pencuri yang paling jahat

Standard

“Di era sekarang ini, semua bisa dilakukan dengan bantuan teknologi untuk mempercepat segala sesuatunya. Semua yang dilakukan menjadi instan. Kalau bisa dilakukan lebih cepat, kenapa harus lambat ?”. Mungkin itu yang sedang ada dibenaknya. Seseorang yang baru saja menjadi imam dalam sholat dhuhur berjamaah.

Jadi ceritanya, kemarin kami sedang dalam perjalanan. Ketika sudah masuk waktu dhuhur, mampirlah ke masjid yang kayaknya memang jadi tempat persinggahan para musafir. Karena Sholat Dhuhur berjamaah disitu sudah selesei, maka kami membuat jamaah baru. Tentunya bersama mereka yang juga ketinggalan sholat berjamaah. Kami tunjuklah seseorang untuk menjadi imam. Keliatannya ia juga seorang musafir. Awalnya sih everything gonna be okay. Keherananku muncul pada rukuk rakaat pertama. Bukan apa-apa, hanya durasi antara takbiratul ikhram dan rukuk yang menurut saya terlalu singkat. Oke fix.. Empat rakaat selesei. Antara takbiratul ikhram dan salam kira-kira tak lebih dari 3 menit. Ini artinya 45 detik per rakaat dan itu sudah include 2 tasyahud, yakni tasyahud awal dan akhir.

Ah, mungkin dia sedang terburu-buru. Atau dia sedang not in confident karena mungkin baru kali ini dia ditunjuk sebagai imam. Rasa penasaranku pun tidak berhenti sampai disitu. Kesempatanpun datang. Seusai berdoa, dia melanjutkan sholat ba’diyah dhuhur. Langsung aja aku aktifkan stopwatch yang ada di HP ku. Hasilnya, antara takbiratul ikhram dan salam untuk 2 rakaat ba’diyah dhuhur, waktu yang tercatat cukuplah fantastis menurutku. 00.01.35.13. Ya, rekor baru tercipta. Satu menit, tiga puluh lima detik, dan 13 milisecond.

Hemm… Apakah ini yang dibilang Nabi sebagai pencuri yang paling jahat? Nabi SAW menganggapnya sebagai pencuri yang paling jahat, sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda :

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986)

Membicarakan kesempurnaan ruku dan sujud, berarti kita akan berbicara tentang tuma’ninah.

Tuma’ninah ketika mengerjakan shalat adalah bagian dari rukun shalat, shalat tidak sah kalau tidak tuma’ninah. Nabi SAW pernah berkata kepada orang yang shalatnya salah :

Bahawa Rasulullah S.A.W masuk ke dalam masjid dan seseorang mengikutinya. Orang itu mengerjakan solat kemudian menemui Nabi S.A.W. dan mengucapkan salam. Nabi S.A.W membalas salamnya dan berkata, “Kembalilah dan solatlah kerana kamu belum solat.” Orang itu mengerjakan solat dengan cara sebelumnya, kemudian menemui dan mengucapkan salam kepada Nabi S.A.W. Baginda pun kembali berkata, “Kembalilah dan solatlah kerana kau belum solat.” Hal ini terjadi tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan solat dengan cara yang lebih baik selain dengan cara ini. Ajarilah aku bagaimana cara solat. “Nabi S.A.W. bersabda, “Jika Anda hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagi Anda. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu”  (HR Bukhari 757 dan Muslim 397 dari sahabat Abu Hurairah)

Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih. (Lihat Fiqhus Sunnah, karya Sayyid Sabiq: 1/124)

Jadi tuma’ninah itu dalam erti kata yang sebenarnya ialah melakukan ruku’ atau sujud dengan sempurna. Orang yang sholat tergesa-gesa tidak akan sempurna ruku’ dan sujudnya. Tumaninah dapat dicapai dengan cara rileks dan tidak tergesa gesa dalam melaksanakan gerakan shalat pikiran hanya terfokus pada apa yang sedang dikerjakanya.

Setelah dia menyeleseikan sholatnya, dia langsung pergi meninggalkan masjid. Aku hanya diam dan tidak berani mengingatkan, apalagi berkomentar. Sial, ini benar-benar selemah-lemah iman. Hanya bisa mengingatkan dalam hati. Ternyata tanhauna anil mungkar itu lebih sulit daripada ta’muruuna bil ma’ruf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s