Bukan mau membela KPK, tapi memang karena tidak begitu menyukai Polisi

Standard

Kemarin kita sedang disuguhi theater politik yang menarik. Apalagi kalau bukan perseteruan antara KPK dan polisi. Ini memang peristiwa seru. Seperti sebuah pertandingan. Merasa diserang, kemudian menyerang balik. bukan dengan menurunkan seorang striker ataupun penyerang, tapi dengan mencari-cari kesalahan yang sudah menjadi cerita historis.

Theater dimulai ketika KPK menetapkan seorang petinggi polisi sebagai tersangka sehari sebelum pelantikannya sebagai trunojoyo 1. Merasa tak terima, sebuah partai yang mendukung petinggi tersebut menyerang balik dengan mengungkapkan kepada publik bahwa penetapan tersangka kepada petinggi polisi tersebut merupakan upaya balas dendam oleh ketua KPK karena tidak diloloskan untuk menjadi cawapres pada pemilu lalu. Terlepas benar atau tidaknya, serangan tersebut tidak bisa melemahkan kedudukan KPK sebagai lembaga anti korupsi. KPK tidak bergeming. Polisi beserta pendukungnya geram, hingga menemukan strategi baru untuk menyerang KPK. Yaitu dengan cara membuka kembali cerita historis yang terjadi pada tahun 2010 yang menyatakan bahwa wakil ketua KPK melanggar hukum dan harus ditangkap karena telah mengarahkan saksi agar meberikan kesaksian palsu pada persidangan sengketa pilkada di Kowabar dan akhirnya menahan wakil ketua KPK tersebut. Namun ketika dikonfirmasi, polisi membantah bahwa itu bukanlah upaya pelemahan pada KPK dan tidak ada kaitanya dengan kasus penetapan petinggi polisi sebagai tersangka yang terjadi sebelumnya. Penangkapan itu terjadi untuk penyelidikan karena adanya laporan dari masyarakat bahwa wakil ketua KPK ini melanggar hukum. Usut punya usut, ternyata yang melaporkan ini adalah kader dari partai pendukung polisi.

Ketika polisi ditanya mengapa kasus itu baru diproses sedang kejadiannya sudah lima tahun lalu, mereka menjawab karena laporan yang diterima baru terjadi sekarang. Oke fix, bisa diterima. Tapi, mengapa kader partai itu baru melapor ke polisi sekarang padahal kasus itu sudah terjadi pada tahun 2010?. Apakah karena kesibukannya sehingga dalam waktu lima tahun ini dia tidak sempat melapor? Ini lah yang janggal dan tidak bisa diterima. Apakah ini masih bisa dikatakan bahwa penangkapan wakil ketua KPK ini tidak ada kaitannya dengan dengan penetapan petinggi polisi sebagai tersangka oleh KPK? Mungkin logika seorang yang tak tamat sekolah dasar pun dapat menyimpulkan kejadian ini.

Perseteruan semakin seru karena sudah melibatkan orang nomor satu di negeri ini. Masyarakat menunggu peryataan orang nomor satu itu yang diperkirakan bisa menengahi antara 2 lembaga itu. Pendukung KPK maupun Polisi semakin riuh, termasuk juga saya.

Berada dipihak manakah saya? Kalau anda membaca prolog diatas sudah pasti tahu bahwasanya saya berada di pihak KPK. Saya berada di pihak KPK bukan berarti saya pro KPK layaknya para penggiat anti korupsi. Tapi karena memang saya tidak terlalu menyukai polisi. Seperti halnya saya mendukung Everton ketika sedang berhadapan dengan Chelsea, padahal saya adalah penggemar MU. Jadi bukan karena saya penggemar Everton tapi karena saya kurang menyukai Chelsea. Mungkin karena Chelsea adalah rival dari MU.

Ketidaksukaan saya pada polisi bukan tanpa alasan. Mungkin karena saya mempunyai sejarah buruk dengan polisi sehingga pikiran saya ter-setting untuk terus underestimate pada mereka.

  1. Dulu saya pernah berjualan tempe keliling dari desa ke desa naik motor dengan membawa keranjang. Ditengah jalan ketika menjajakan dagangan, ada razia pemeriksaan polisi. Banyak pedagang yang terjaring dalam razia tersebut karena jalan itu adalah akses utama menuju pasar. Mereka memeriksa kelengkapan STNK dan SIM. Sebenarnya dokument saya lengkap, tapi masalahnya STNK saya berada di Jok motor. Jadi harus menurunkan semua dagangan dan keranjang untuk bisa mengambilnya. Oke, tak jadi masalah. Itu memang murni kesalahan saya yang menaruh STNK di Jok motor. Ketika sedang menata kembali keranjang dan dagangan saya, seorang pengendara motor pun lewat. Pakaiannya rapi, baju safari dan bersepatu pantofel. Kalau dilihat dari pakaiannya saya tahu dia orang dinas. Sempat diberhentikan juga oleh polisi namun bukan untuk diperiksa. Polisi itu malah menyapa halus dan melempar senyum yang kemudian membiarkan orang itu melanjutkan perjalannya. Saya protes dalam hati. Namun pengendara di sebelah saya meneriakkan sesuatu bernada protes. “Mengapa hanya kami yang diperiksa, sedang dia tidak?”. Dengan santai polisi itu menjawab: “Dia itu orang dinas, nanti dia terlambat. Kalau kalian kan tidak dibatasi waktu”. Jawaban yang ringan namun memberikan efek psikologis yang sampai sekarang tidak bisa saya hapus. Saya rela menurunkan keranjang dan dagangan saya yang berat hanya sekedar untuk mengambil STNK dan harus mendengar pernyataan seperti itu. Oh Fakk.. Sejak saat itulah saya mulai menanyakan kredibilitas lembaga itu.
  2. Dikampung saya, ada ungkapan sederhana namun sangat dalam maknanya. “Kalau bapakmu nggak punya sawah minimal sehektar, janganlah kamu punya cita-cita untuk menjadi polisi”. Ungkapan ini tidak muncul tiba-tiba, karena di kampung saya, jika ada anak kecil ditanya mengenai cita-citanya, sudah bisa dipastikan dia akan menjawab jika ia ingin jadi polisi atau dokter. Menurut cerita yang beredar dikampungku, terlepas benar atau tidaknya, untuk menjadi seorang polisi, kita harus membayar sejumlah tertentu yang nilainya cukup besar menurut mereka. Jadi, ketika ada obrolan di warung yang mengatakan bahwa anak Pak Dhe A sekarang jadi polisi. Komentar pertama kali yang dilontarkan bukan anak yang mana? Lha trus dinasnya dimana? Tapi komentar pertama mereka adalah : “Habis berapa?”. Payah memang. Mau jadi penegak hukum kok dengan melanggar hukum.
  3. Karena pekerjaan saya lebih banyak saya habiskan dijalan, saya sering menemui kecelakaan lalu lintas. Setiap terjadi kecelakaan yang relatif ringan pertama kali yang dilakukan korban maupun penolongnya adalah menyelamatkan diri supaya tidak ketahuan polisi. Suatu kali saya melihat seseorang yang sedang menyelamatkan korban tabrakan motor yang mencoba membubarkan massa yang sedang melihat kecelakaan tersebut.”Bubar.. Bubar.. Biar nggak mengundang perhatian polisi. Nanti tambah runyam masalahnya”. Saya penasaran, kemudian aku bertanya padanya. “Kalau ada polisi memang kenapa, Pak?”. Dengan menggebu-gebu dia menjelaskan, “Wah, bisa jadi runyam urusan Dek.. Nanti pasti korban dibawa ke kantor polisi, terus diintrogasi. Belum lagi nanti motor mereka ditahan. Kalau itu saja sih nggak masalah. Belum lagi nanti mereka pasti harus bayar untuk mengeluarkan motor itu. Lha daripada untuk membayar, kan bisa digunakan untuk memperbaiki motor mereka yang rusak”. Oke fix.. Aku jadi mengerti. Lapor polisi salah dan tak lapurpun lebih salah. Ini adalah masalah prosedural yang berkolaborasi dengan ketidakpercayaan.
  4. Sewaktu mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian guna perlengkapan syarat mencari kerja, ketika meminta surat pengantar di polsek saya harus mengeluarkan sejumlah uang yang katanya sebagai uang cetak surat. Memang nilainya tak seberapa karena petugasnya bilang seikhlasnya. Padahal disitu jelas-jelas ada tulisan bahwa pelayanan tidak dipungut biaya. Saya sempat bertanya pada petugasnya, namun ya apa boleh buat, aku perlu surat itu. Daripada berbelit-belit, terpaksa saya menurutinya. Saya jadi berfikir apakah tidak ada anggaran dari negara untuk hal semacam itu. Secara tidak langsung, itu membuat saya menjadi underestimate pada mereka.
  5. Alasan terakhir meskipun bukan masalah prinsipil adalah, karena dua kali saya kalah bersaing dengan oknum polisi yang berbeda dalam memperebutkan hati seseorang wanita. Pertama saat memperebutkan seorang perawat dan yang kedua saya kalah lagi saat memperebutkan hati seorang bidan. Saya tahu benar jika kekalahan itu hanyalah karena status mereka sebagai seorang anggota polisi. Karena merasa kalah bersaing itulah saya menjadi tidak terlalu menyukai polisi. Semua orang pasti akan berfikir yang sama bahwa status mereka lebih memberikan kepastian lahir maupun batin bagi seorang wanita. Bukankah wanita akan lebih memilih kepastian dari pada cinta sekalipun itu bernama true love?

Memang, kesemuanya alasan diatas hanya dilakukan oleh oknum polisi tertentu dan bukan untuk mengeneralisir bahwa semua polisi seperti itu. Namun fikiran ini sudah terlanjur tidak bisa membedakan antara oknum dan instansi karena setiap berurusan dengan polisi selalu mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakkan.

Pelajaran yang dapat diambil adalah, berikanlah kesan terbaik saat anda pertama bertemu dengan seseorang. Karena kesan pertama itulah yang akan menjadi mainset seseorang terhadap anda. Kesan positif akan membuat orang lain berfikir postif terhadap anda, begitupula sebaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s