Oleh-Oleh, Masalah, dan Cerita Sensasi

Standard

Hari ini aku dapat kiriman paketan dari teman lama. Ya.. memang kita sudah lama nggak pernah bertemu. Bertemu hanya di social media, namun intensitasnya cukup sering. Sekarang dia tinggal di Jakarta. Beberapa waktu lalu ia sempat mengatakan mau menetap di Jepang. Maklum, dia kerja di salah satu perusahaan Jepang yang berinvestasi di sini. Jadi sering bolak balik Jakarta-Jepang. Kalau aku tanya mengenai kehidupannya sekarang dia selalu mengatakan bahwa apa yang dia dapat sekarang sudah lebih dari cukup. Kadang-kadang bikin iri. Maklum, pola pikirku kan ndeso, jadi menurutku kalo ada orang yang sering bolak balik keluar negeri berarti dia adalah orang sukses.

Beberapa saat lalu, ketika kami sedang chat di whatsapp, dia cerita kalau dia lagi berlibur ke Korea. Iri hati ku muncul lagi. Sudah bisa ditebak apa yang ada dipikiranku saat itu. Seperti kebanyakan orang , aku minta oleh-oleh dari sana, dan dia pun menjanjikannya. Nah, hari ini apa yang ia janjikan itu tidak hanya sekedar janji. Dia mengirimkannya untukku. Setelah kubuka, isinya adalah sebuah syal. “Lumayanlah”, pikirku.

Namun yang lebih menarik adalah kertas pembungkus paketan tadi. Yaitu kertas soal latihan ujian SD. Dengan iseng aku mengerjakan soal-soal itu yang jumlahnya 25 soal multiple choice dan 5 soal essay. Soal-soal itu membawa ingatanku kembali ke masa-masa SD. Mengingatkan bagaimana Pak Sumarji menjelaskan mengenai KPK dan FPB, mengenai bagaimana cara menjumlahkan pecahan dan tentang pengukuran satuan berat dan luas. Aku harus meminta bantuan google ketika mengerjakan mengenai perhitungan Luas dan Keliling bangun datar. Bahkan aku baru bertemu lagi dengan trapesium dan belah ketupat setelah hampir 15 tahun tak mendengarnya. Hahahaaa.. Ini lucu teman!!!

30 soal done!!! Tidak ada kesulitan berarti dalam soal-soal itu. Aku yakin setidaknya 90% jawabanku “benar” meskipun aku tahu tak ada seorangpun yang mau mengoreksinya. Tapi mengapa ketika 15 tahun yang lalu aku menganggap soal-soal seperti itu adalah masalah yang besar dan sulit untuk diseleseikan??? Pelajaran yang dapat diambil adalah setiap masalah itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kita dituntut untuk lebih dewasa dalam menyikapi sehingga masalah itu tidak menjadi kesulitan yang berarti. Seperti halnya 30 soal matematika tadi. Jadi, jika kamu hari ini punya masalah yang kamu merasa itu berat, kamu pasti akan menertawakan hal itu dikemudian hari karena menganggap itu hal yang lucu.

Sebagai seseorang yang mendapatkan nilai 9 dalam pelajaran PPKn, aku harus mengucapkan terima kasih pada temanku atas oleh-olehnya itu. Akupun buka BBM dan mencari namanya.

“Jess.. makasih oleh-olehnya. Bisa buat hangat ketika perlu kehangatan”, tulisku bercanda.

“Oyi Sam, semoga bermanfaat. Umak ada waktu?”,balasnya.

“Untuk sebuah syal, aku akan luangkan waktuku untukmu Jess..”

“Sam, gimana perasaanmu kalo suatu saat melihat istrimu bergandeng tangan sama cowok lain?”

Jedug!!! Waduwhh.. Pelanggaran!!!

Aku langsung feeling sorry, bingung campur kasihan. Bagaimana harus menjawab pertanyaan teman saya ini. Aku tidak ingin jawabanku malah membuat dia terpuruk. Kemudian dengan hati-hati aku bilang “Yo pastinya aku akan emosi. Tapi kan harus diklarifikasi dulu. Siapa tau yang terjadi nggak seperti yang kita lihat”

“Tapi dalam case ini, aku yang jadi cowok lain itu…”,balasnya.

“Modyarrr… Gendeng ngemut pedal!!! Jadi kamu lagi gandengan sama istri orang Jess?”

“Kurang lebih seperti itu, Sam… Aku bingung!!! Aku rasa ini masalah terbesarku saat ini”

Aku nggak prihatin lagi. Aku justru jadi sebel. Untuk kali ini aku nggak iri lagi sama dia. Kemudian aku bilang padanya “Sebelumnya aku tanya dulu Jess.. dalam case ini kamu selingkuh apa cuma flirting?”. Kata temenku, awalnya mereka cuma flirting, lama-lama keterusan jadi melibatkan perasaan walaupun tau masing-masing sudah terikat dengan orang lain. Belum ada omongan untuk melangkah ke arah yang lebih jauh, cerai misalnya, tapi sepertinya temen saya sudah dalam taraf bimbang.

Ini memang masalah, orang hidup tidak akan pernah lepas dari masalah, besar atau kecil, berat maupun ringan. Masalah orang hidup baru akan berhenti saat meninggal, tapi itupun bukan berarti masalah selesai, hanya berganti judul saja menjadi masalah orang mati. Masalah selalu memiliki dua aspek, rasa dan fakta. Fakta harus dihadapi dengan logika, tapi logika sering macet saat hati masih gundah oleh rasa. Untuk itulah kadang mengeluh itu perlu, menangis pun wajar, agar perasaan tersalur. Tentu jangan kebablasan, mengeluhlah sewajarnya lalu biarkan logika berkuasa.

Saya tanya, “Memang apa kelebihan dia dibanding istrimu Jess?”

Dan jawabannya temen saya, “aku nggak mau membandingkan, karena pada saat membandingkan berarti secara ndak langsung aku sudah menentukan pilihan!”

Diaammput tenan..!!! Tingkat rasa sebelku meningkat. Entah mengapa aku jadi emosi. Padahal akulah yang seharusnya berperan untuk memberi saran.

“Jess.. kamu coba pikirkan lagi apa yang kamu lakukan sekarang. banyak yang harus kamu pertaruhkan untuk melakukan itu,istri, keluarga besar, karir, kasarannya kamu mempertaruhkan seluruh hidupmu yang sekarang. Apa kamu sudah siap?”

“Kadang perasaan sama istri dan selingkuhan itu bukan masalah lebih cantik mana atau lebih pinter siapa. Aku kuatirnya ini cuma masalah sensasi. Kamu masih inget gimana dulu sensasi yang kamu rasakan waktu masih pedekate, pacaran, sampe nikah sama istrimu yang sekarang? Coba bandingkan dengan sensasi yang kamu rasakan waktu nggandeng selingkuhanmu. Mungkin rasanya sama, atau mungkin beda tapi levelnya sama”

“Kalau kamu menganggap ini masalah terbesarmu sekarang, coba kamu berfikir lebih dewasa lagi. Kamu ingat dulu waktu masih SD. Kita susah menyelesaikan jika ada pertanyaan sederhana seperti 7 x 9 atau 63 : 7. Tapi ketika kita menginjak SMP, pertanyaan itu adalah sangat mudah bagi kita. Terkadang kita memang perlu sebuah kedewasaan untuk mengatakan bahwa sebenarnya masalah yang kita hadapi saat ini tidak seberat apa yang kita bayangkan”

 

Cuma di R dan tidak ada feedback lagi.

Embuhhlah.. Aku kok jadi sebel..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s