Belajar ditempat Paling Demokratis

Standard

Ada yang mengatakan, bahwasanya masalah dan solusi itu jaraknya hanya sebatas dahi dan tempat sujud. Tapi menurutku, solusi dari sebuah masalah itu adanya di warung kopi.

Beberapa saat lalu, sebuah sms dari nomor baru menanyakan tentang kabarku. Seperti biasa, aku tak pernah menanggapi setiap nomor yang tak kukenal, hingga pengirim sms itu mengirim sms lagi dan memberitahukan identitas dirinya. Ternyata dia adalah mantan penghuni hatiku yang beberapa lalu nggak sengaja ketemu di dalam bus. Waktu itu, kami memang tak sempat berbicara, namun kami masih sempat bertukar nomor telpon meskipun aku lupa menyimpan nomornya.

Awalnya hanya sebatas bertanya kabar, kemudian dia menceritakan keadaannya sekarang. Tentang pekerjaannya, tentang aktivitasnya, sampai tentang buku-buku koleksinya. Namun aku masih enggan menceritakan keadaanku sekarang. Insting ke-laki-laki-anku masih mendominasi. Tak pernah mau berterus terang. Mungkin kalian sudah mengerti maksudku..

Beberapa hari ini intensitas komunikasi kami semakin sering. Rasa-rasa yang dulu ada dan telah hilang kini mulai bersemi lagi. Romansa ketika kami kuliah dulu muncul kembali. Bukannya menikmati romansa itu, justru hatiku menjadi gelisah. Apakah aku sedang berbuat dosa?? Aku tahu bahwasannya dosa adalah apa saja yang menggelisahkan jiwa dan kita tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.

Rasa kantuk yang sudah tak bisa ditahan membawaku berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan. Warungnya cukup ramai. Pelanggannya didominasi sopir truck ekspedisi. Menurutku, warung kopi adalah tempat paling demokratis dimuka bumi. Disini kamu bebas menyampaikan semua yang ingin kamu ungkapkan. Kamu bebas mengungkakan pendapat, kamu bebas menjustifikasi baik buruknya seseorang atau pemerintah, atau apapun itu.

Sebuah konvoi pecinta mobil Opel Blezzer melewati jalanan. Sudah bisa dipastikan, ditempat paling demokratis itu pasti akan bermunculan berbagai macam komentar. Dugaanku benar, seorang anak muda dengan tanpa basi-basi mencletuk, “Enak kalau jadi orang kaya, nginjak gas bukan untuk mencari duit. Tapi untuk menghabiskan duit. Beda lagi dengan kita”.

Aku mengangguk-angguk takdzim. Seolah membenarkan pernyataannya, hingga seorang disamping ku yang kelihatan sudah berumur berbisik padaku, “Sampean nggak usah silau melihat orang-orang dengan kekayaannya, itu semua cuma titipan, kalo mau semua itu dalam sekejap bisa diambil sama Yang Menitipkan”

Busyettt.. Aku kaget dengan apa yg dibisikkan padaku. Tapi aku sadar aku sedang berada ditempat paling demokratis. Semua orang bebas memberikan pernyataan.

Sambil menghisap Dji Sam Soe-nya, dia melanjutkan, “Saya pesen sama sampean, hati-hati berlaku kepada istri. Jangan berkhianat, jangan berbohong sama istri, sebab sampean bisa kualat”.

“Saya ndak gitu silau liat orang-orang bergelimang harta sebab saya pernah mengalaminya, saya tau itu hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil karena saya juga mengalaminya. Dan saya bilang sampean harus hati-hati berlaku sama istri karena semua harta saya lenyap karena saya kualat sama istri”.

Jedierrrr… Serasa ditubruk cikar. Aku merasa tersindir. Pesan bapak itu menghujam begitu dalam dalam pikiranku. Tapi ini adalah cerita menarik.

”Memang ceritanya gimana, pak???”

Sambil nyalain rokok Bapak itu meneruskan, “Dulu saya ini juragan di daerah saya. ladang dan kebun saya berhektar-hektar, mobil saya berjejer-jejer, truk punya belasan. Proyek disana-sini. Pokoknya saya ini paling top di kampung, kasarannya kalo buat empat belas turunan nggak bakal habis duit saya.”

Dia nyruput kopinya, akupun ikut nyruput kopiku dan masih terbawa ceritanya.

“Masalah terjadi ketika saya dapat proyek di Pemda. Kebetulan yang ngurusi proyek itu seorang perempuan yang menurut saya lebih cantik dari istri saya. Dari kenalan, ngobrol, sampai akhirnya saya suka dan berniat mengawini dia. Akhirnya saya nikah siri”.

Saya nyalain lagi rokok, jarang-jarang denger cerita ala sinetron hidayah di dunia nyata.

“Walaupun saya gampang bepergian dengan alasan sibuk ngurusi bisnis tapi lama-lama istri saya curiga juga. Suatu saat dia nanya apakah saya punya istri lagi, saya bilang nggak punya. Saking nggak percayanya suatu saat istri saya meminta saya bersumpah bahwa saya nggak punya istri selain dia dengan sumpah bahwa kalo saya bohong maka biarlah semua harta ludes tak bersisa. Saya pun bersumpah, saya pikir yang kayak gitu ndak bakal ada pengaruhnya.”

“Ternyata saya salah. Beberapa waktu setelah saya bersumpah saya ketipu sekitar 300 juta, sampean bisa bayangkan awal-awal tahun sembilan puluhan nilai duit segitu. Setelah itu ada saja apesnya, gagal panen, pelanggan beralih, proyek direbut orang lain, harga anjlok, banyak kejadian nggak masuk akal sampai akhirnya semua harta saya ludes. Bener-bener saya jadi kere.”

“Untungnya istri saya nggak matre, dia cuma berpikir ini mungkin jalan dari Yang Di Atas agar saya menyadari kesalahan. Saya yang stress, biasa nggak pernah kekurangan tiba-tiba ndak punya apa-apa. Suatu saat saya ngomong sama Gusti Allah, ya Allah, saya sekarang sudah nggak punya apa-apa, saya mau merantau, kalo memang Panjenengan mau matikan saya matikanlah, tapi kalo nggak berilah saya keberhasilan.”

“Saya merantau kemana-mana, dari Kalimantan sampai Sulawesi, mulai dari jadi kuli bangunan, sopir trailer di hutan Kalimantan, sampai nyopir bis. Saya kenyang pengalaman, yang seneng, yang susah, semua sudah pernah saya alami. Sampean masih muda, jalan masih panjang, jangan sampai hilang arah gara-gara silau harta, juga perlakukanlah istri sampean dengan baik karena bagaimanapun doa istri ikut membentuk hidup sampean.”

Tak lama kemudian seorang yang berpenampilan seperti kernet menghampiri kami. “Ayo berangkat boss.. Biar pas sampai kota tengah malam. Jadi bisa tetep lewat. Polisi sekarang galak-galak”.

Sepanjang melanjutkan perjalanan, aku memngingat betul kata demi kata yang diucapkan bapak sopir truck tadi. Memang benar, pintu fitnah itu terbuka lebar dimana saja. Menurutku, kebajikan yang paling bijak adalah menutup rapat-rapat pintu itu. Persetan dengan romansa. Aku tak akan peduli lagi dengan rasa. A’udzubillahi min fitnatin nisa’… Aku berlindung kepada Allah dari fitnah wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s