Mahasiswa dan Arogansi

Standard

Menurutku, kasta tertinggi di negeri ini adalah Mahasiswa. Ada rantai ketakutan yang tak pernah terputus dalam sistem penentuan kasta ini. Mahasiswa takut sama Dosen, Dosen takut sama Dekan, Dekan takut sama Rektor, Rektor takut sama Dikti, Dikti takut sama Mentri Pendidikan, Sang Mentri takut sama Presiden, dan Presiden takut sama Mahasiswa. Begitulah seterusnya.. Aku sengaja tidak akan membahas mengenai kedudukan seorang “istri” dalam penentuan kasta ini, karena memang sumber ketakutan tertinggi di dunia ini adalah “istri”.

Sayangnya, waktu terus berlalu. Masa-masa itu telah terlewati. Aku rindu menjadi mahasiswa. Saya merindukan menjadi sekelompok manusia yang matanya tidak pernah terbuka antara subuh dan dhuha. Sekelompok manusia yang membuat hal sederhana nampak menjadi rumit. Maka ketika ada joke mengenai perbedaan antara mahasiswa dan kyai, jawabnya adalah jika kyai itu selalu membuat hal yang rumit menjadi sederhana, sedang mahasiswa adalah sebaliknya. Mereka yang selalu memperdebatkan sesuatu hal sepele hingga menjelang pagi. Aku rindu masa itu. Aku rindu semua hal yang terjadi ketika itu. Kecuali satu, kesombongan!

Be greatest can lead an arrogance. Mungkin karena statusnya yang “wah” inilah membuat sebagian besar orang yang menyandang status mahasiswa menjadi arogan, anti kritik, dan memandang sebelah mata orang diluar kastanya. Mereka merasa menjadi kaum intelektual dan yang pertama menciptakan teknologi serta pengaplikasiannya meskipun kita tidak bisa memungkiri hal itu. Termasuk aku. Kita memang sering melihat mahasiswa memperjuangkan nasib rakyat kecil dari penjajahan rakyat besar melalui aksi demonstrasi dan sejenisnya. Namun jarang sekali kita melihat mereka bersentuhan langsung dengan mereka yang diperjuangkan itu.Kegiatan KKN pun hanya sebatas sebagai syarat akademis, bukan untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Berinteraksi dengan mereka diluar kasta adalah buang-buang waktu. Gelombang hanya bisa diterima oleh mereka yang satu frekuwensi. Hanya mau belajar pada mereka yang dirasa lebih tinggi. Tidak untuk yang lainnya.

Sore itu, ketika dalam perjalanan ke pinggiran kota, hujan deras memaksaku untuk berteduh dan menumpang di teras orang. Mengetahui ada orang di teras, yang punya rumahpun menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah. Gelap, tidak ada lampu. Hanya cahaya kilat yang membuatku sesekali bisa melihat wajah pemilik rumah itu. Kamipun ngobrol kesana kemari.
“Sampean tadi dari mana?”, tanyanya.
“Dari pantai, Dhe.. Mumpung kuliahnya libur”
“Ohh.. sampean ini mahasiswa to.. berarti ini tadi mau balik ke kota?”
“Iyaa..”
“Lha sudah kelas berapa kuliahnya?”

Memang benar, kalau tidak satu frekuwensi memang nggak akan nyambung. Kesombongan itu datang kembali.

“Kalau kuliah itu sudah nggak pakai kelas lagi, Dhe.. Pakainya sistem semester”, jawabku menjelaskan.
“Ohh.. Aku pikir kayak sekolah SMA gitu”
Aku cuma diam.
“Lha sampean ambil jurusan IPA atau IPS?”, tanyanya kembali.

Haduuhhh… mending nyari topik bahasan lain saja. Sampai kapanpun ini tidak akan pernah nyambung. Untuk itu, aku jawab aja asal-asalan.

“Ambil jurusan IPS, Dhe..”,jawabku
“Ohh.. berarti bukan kedokteran yaa.. biasanya kan cuma jurusan IPA yang bisa kedokteran”,ungkapnya.
“Iyaa..”,ungkapku semakin kesal.
“Kalau dokter kan saya bisa tanya-tanya mengenai penyakit saya”, lanjutnya.
“Memang Njenengan sakit apa, Dhe?”, tanyaku.
“Sakit perut, sudah beberapa hari ini mencret..Tapi sudah agak mendingan, setelah saya minum Decolgen”, jelasnya.
“Sakit perut kok minum Decolgen to Dhe..??? Minum Diapet maksudnya”, tanyaku.
“Bukan.. ya Decolgen itu yang saya minum”,terangnya.
*Speechless*

Tak lama berselang, istri pemilik rumah itu keluar dengan mebawakan 2 cangkir kopi dan sepiring buah mentimun. Aku semakin heran. Masak minum kopi kok jajanannya mentimun. Seharusnya kan singkong atau pisang rebus.

“Monggo diminum, mumpung masih panas”

Akupun meminum kopi itu. Namun belum sempat saya letakkan kembali kopi itu di meja, Bapak yang punya rumah itu kembali berucap :
“Sampean pasti heran dan berfikir, kok ngasi kopi tapi kue-nya mentimun”
“Kami selalu berusaha memuliakan setiap ada tamu yang datang. Kami selalu memegang ajaran leluhur kami untuk menghormati tamu. Ora’o suguh lak gupuh”
“Kebetulan kami baru saja panen mentimun dari kebun”
“Meskipun kami tidak pernah sekolah, dari kecil kami diajarkan bagaimana memperlakukan orang. Tentang bagaimana menghormati orang dan berusaha untuk tidak sombong”

*Speechless for twice*

Thanks Sir.. your statement kill my arrogance.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s