TBC yang menyebabkan kematian atau kematian yang menyebabkan TBC?

Standard

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Yupp,, siapa yang berani membantah statement tersebut berarti dia tidak beriman. Karena itu adalah firman Allah yang tertulis dalam Al-Quran dan aku meyakini hal tersebut.

 

Beberapa hari yang lalu, aku dilanda sedih, galau dan bingung. Kesedihan itu karena aku baru saja dapat musibah dengan meninggalnya ibu mertua. It’s okay.. bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati? Toh kita ini juga sedang menunggu giliran. Akupun bisa tegar. Aku tidak berlarut dalam kesedihan. Namun setelahnya, kesedihan itu berubah menjadi rasa galau. Galau karena harus melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lakukan. Bagaimana tidak, mertuaku tinggal diwilayah endemik TBC. Namun bukan karena TBC yang menyebabkan beliau meninggal. Justru meninggalnya beliaulah yang menyebabkan TBC. Ya, TBC ini bukanlah penyakit Tubercolosis, melainkan akronim dari Takhayul, Bid’ah dan Churofat.

Pagi itu, jam 01.14 WIB beliau meninggal di ruang ICU. Setelah selesai mengurus administrasi dan sebagainya jenazah beliapun diperbolehkan dibawa pulang. Sesuai dengan musyawarah keluarga, rencana beliau dimakamkan jam 7 pagi. Ini bagus,mengingat mengubur jenazah memang harus disegerakan. Selepas Subuh, akupun sudah mandi, berdandan , dan siap untuk ke makam. Aku mengenakan baju batik dan celana jeans dan duduk bersama mereka yang ta’ziah. Beberapa orang memandangiku dengan tatapan yang sedikit berbeda. Namun bagiku itu wajar saja karena aku merupakan orang baru disitu. Beberapa saat kemudian, istriku memanggilku dan memintaku untuk masuk ke kamar.

 

“Mas, minta tolong kamu ganti baju yang ini”, pinta istriku sambil menyodorkan kemeja hitam.

“Memangnya kenapa?”, tanyaku.

“Disini kebiasaannya seperti itu. Keluarga yang berduka harus pake pakaian hitam”,jawabnya.

“Apakah ada aturannya?”,jawabku yang enggan melepas baju batik ku.

“Bukan waktunya untuk berdebat, aku minta tolong ngertiin aku Mas”, pintanya.

 

Dengan terpaksa aku mengikuti permintaan istriku. Aku baru tahu alasan kenapa sejak tadi orang-orang memandangku dengan tatapan yang aneh. Ternyata aku salah kostum. Ah bukan!!! Ini bukan salah kostum. Ini hanyalah sesuatu yang diada-adakan. Tidak ada aturannya harus memakai pakaian hitam jika ada keluarga dan kerabat kita yang meninggal.

 

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

 

Ketika jenazah mau diberangkatkan, Pak Modin memberikan sedikit ceramah tentang kematian dan meminta kesaksian kepada mereka yang ta’ziah mengenai jenazah dan menginformasikan mengenai hutang piutang beliau yang belum terseleseikan supaya bisa menghubungi pihak keluarga.

Setelah Pak Modin selesai memberikan ceramah, beliau mempersilakan keluarga untuk melakukan ritual “blusukan”, yaitu berjalan memutar dibawah keranda jenasah yang sudah diangkat sebelum diberangkatkan ke makam. Aku menjauh dari rombongan dan berusaha untuk sembunyi dengan harapan tidak mengikuti ritual tersebut. Namun usaha itu sia-sia setelah bapak mertua menyuruhku untuk mengikuti ritual tersebut. Lagi-lagi aku tak kuasa untuk menolak. Memang “nyesek” ketika kamu harus melakukan sesuatu yang kamu tidak ingin lakukan.

 

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

 

Ketika jenazah selesei dimakamkan dan Pak Modin selesei memimpin do’a, ada lagi ritual yang aku tidak tau apakah ada tuntunannya apa tidak. Yaitu melemparkan gumpalan tanah bekas galian makam sebanyak 3 kali. Kali ini tidak dikhususkan untuk keluarga jenazah, namun untuk semua orang yang ikut mengantarkan jenazah ke makam. Lagi-lagi istriku meminta untuk melakukan hal itu, namun kali ini aku menolaknya dengan senyuman dan mebisikan ditelinganya perlahan, “kullu bid’atun dholalah”.

 

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

 

Kegalauanku semakin membuatku bingung, karena selama 7 hari kedepan, setiap ba’da Isya’ akan ada acara tahlilan dan yasinan dirumah kami. Aku tahu jika aku mengikuti kegiatan tersebut, itu artinya aku mendukung kegiatan yang selama ini aku tentang. Bahkan di keluargaku sendiri.

Hari pertama, akupun mengikuti kegiatan tersebut meski dengan berat hati. Ikut membaca Yaasin dan Tahlil. Entah apa yang mereka baca sudah benar apa belum mengenai mahkroj huruf dan tajwidnya. Bayangkan saja, mereka bisa mebaca Surat Yasin sebanyak 7 kali hanya dalam waktu sekitar 20 menit, yang mana dalam waktu tersebut aku hanya bisa membacanya 1 kali dan lebih 1 lembar. Itupun terpaksa aku baca karena aku duduk disamping bapak mertuaku. Aku melakukannya bukan karena lillahi ta’ala. Tapi karena aku hanya ingin menghormati orang-orang yang ada disitu.

Acara baca-membacapun selesei, kemudian dilanjutkan dengan meniup air yang ditaruh dalam baskom yang sudah ditaburi bunga mawar dan minyak serimpi. Air itu diputar keliling jama’ah karena setiap jam’ah yang hadir harus meniupnya setelah mebacakan yasin dan tahlil tadi. Dan lebih parah lagi, aku mendapatkan tugas dari bapak mertua untuk menyiramkan air tersebut di makam ibu mertuaku. Haduhhh… Aku semakin bingung karena aku tahu aku tak dapat menolaknya.

 

“Dik, aku merasa tidak nyaman dengan kondisi ini”,ungkapku pada istriku.

“Aku harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatiku”,lanjutku.

“Terus, Mas maunya seperti apa?”, tanya istriku.

“Aku nggak ingin ikut acara itu lagi. Aku nggak mau tiap pagi mengantar air bunga itu untuk disiramkan di makam ibuk”, jawabku

Istriku hanya terdiam.

“Apa setiap habis magrib atau isya’ biar aku pergi kemana gitu supaya aku bisa menghindari acara itu?”, tanyaku.

“Apa cara seperti itu menurut Mas pantas?”, istriku balik bertanya.

“Ya memang kurang pantas, lha mau gimana lagi”, ungkapku.

“Kalau menurut Mas itu kurang pantas, terus aku harus jawab seperti apa jika nanti orang-orang menggunjing suamiku hanya karena dia tidak ikut tahlilan yang notabene menurut mereka itu mendoakan mertuanya?”

“Berarti kita perginya harus berdua?”, ungkapku.

“Maksudnya?”,tanya istriku.

“Besok kita mudik ke tempat mamak. Kita kan belum halal bil halal kesana”, terangku.

“Tapi apa itu pantas ketika masih banyak saudara kita disini malah kita tinggal mudik? Sudahlah Mas.. kita tunggu sampai seleseinya acara ini. Anggap saja kegiatan ini wujud syukur dan sedekah kita ke tetangga dan kerabat”, ungkap istriku.

“Oke kalau itu menurutmu cara bersyukur aku setuju. Tapi kalau memang sedekah, haruskah dengan cara seperti itu? Kalau mau sedekah, masaklah yang banyak lalu kita antar ke rumah-rumah tetangga dan kerabat. Bukan mereka yang harus datang ketempat kita dengan acara tiup-tiup air bunga seperti itu”, ungkapku dengan nada kesal.

“Baiklah… Nanti aku coba ijin Mbah Yut dulu kalau kita mau pergi ke tempat mamak”, ungkap istriku lirih.

 

Akupun tersenyum senang karena akhirnya istriku mau mengerti apa yang sedang aku rasakan. Alhamdulillah…

 

“Mas.. Mbah Yut dan Papa nggak kasi ijin kalau kita pergi. Katanya harus nunggu sampai 40 hari baru boleh bepergian. Karena menurut mereka, selama itu arwah ibuk masih disekitar kita”, terang istriku.

“Setahuku, dalam islam, berkabung itu hanya 3 hari. Kecuali istri yang ditinggal mati suaminya. Itu masa berkabungnya 4 bulan 10 hari”, jawabku.

“Aku hanya menyampaikan perkataan mereka. Semua terserah kamu, Mas..”, jawabnya.

“Baiklah.. Kita tunggu sampai acara 7 hari selesai”, ungkapku pasrah.

 

Ternyata setelah acara 7 hari itu, masih ada lagi acara dzikir fida’ yang menurut mereka dzikir penebusan dari siksa Allah SWT. Namun aku melewatkan ritual itu, karena aku memaksa untuk tetap pergi dengan memberikan alasan yang tentunya mereka semua bisa mengerti.

Akhirnya aku bisa keluar dari area endemik TBC meskipun itu untuk sementara waktu. Bagaimana dengan selanjutnya??? Aku tidak yakin. Wallahu a’lam. Aku berlindung kepada Allah dari perkara bid’ah.

 

 

Tentang Bid’ah :

Menurut bahasa  : sesuatu yang baru (diada-adakan). Menurut  istilah  : sesuatu yang diada-adakan di dalam masalah agama yang menyelisihi apa yang ditempuh Nabi SAW dan para sahabatnya, baik berupa aqidah maupun amal.  (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
Macam-Macam Bid’ah :

  1. Bid’ah Qouliyah I’tiqodiyah: bid’ah yang  bersifat pemikiran dan akidah.  Contoh: Pernyataan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari Nabi Muhammad SAW.
  2. Bid’ah fil ‘Ibaadah : bid’ah fie ushulil ‘ibadah (membuat ibadah yang tidak ada dasar dalam syariat : sholat/puasa tertentu di luar syariat, perayaan-perayaan dsb.) bid’ah fie ziaadatil ‘ibaadah (menambahkan sesuatu pada ibadah yang telah disyariatkan : menambah rakaat sholat dll). bid’ah dalam pelaksanaan ibadah yang disyariatkan sehingga  tidak sesuai dengan anjuran atau sunnah Nabi : dzikir bersama dengan suara keras/merdu; memperketat diri dalam suatu ibadah sampai keluar dari batas sunnah. bid’ah dengan mengkhususkan waktu tertentu dalam melaksanakan ibadah yang disyariatkan: puasa dan tahajjud nisfu sya’ban..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s