Al ikhtilafu Rahmah

Standard

Istri : Mas, jadi sholat ied tanggal berapa?

Suami : InsyaAllah tanggal 24.

Istri : Lak misal aku ikut sholat ied tanggal 23 boleh?

Suami : Kamu masih kekeh dengan pendapatmu yang kemarin?

Istri : Iyaa..

Suami : *ngguyu*

Istri : Kok malah ngguyu?

Suami : Bukane pelangi itu terlihat indah karena warna yang berbeda?

Istri : Nuwus ilakes, Sam… *ngguyu ngekek*

Suami : Assyeemmmm…

Yaa, selama perbedaan itu memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, Why not?? Namun jika dasar hukum yang digunakan tidak valid dan tidak dapat dipertanggungjawabkan bahkan terkesan ngawur maka tentu itu tidak dapat digunakan sebagai dasar beramal.

Dalam dunia keislaman tentu kita sering mendengar ungkapan “al-ikhtilafu rahmah” . Ya, perbedaan adalah rahmat. Meskipun sebagian kelompok tidak sepakat dengan konsep ini, namun setidaknya itu dapat mendidik kita untuk menilai bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terelakkan lagi. Perbedaan tidak lagi dianggap sebagai pemicu timbulnya perpecahan melainkan sebagai modal untuk bertukar pemikiran dan pandangan.

Imam Syafii mengatakan “qauly shawab wa yahtamilu al-khatha’, wa qaulu al-qhair khatha’ wa yahtamilu ash-shawab”. Pendapatku benar namun mengandung kesalalahan, dan pendapatmu itu salah namun juga mengandung kebenaran. Sebuah ungkapan yang menurut saya sungguh sangat luar biasa untuk menyikapi sebuah perbedaan.

Orang yang menyelisihi pendapat kami karena konsekuensi dalil yang ia pahami, pada hakikatnya tidak berselisih dengan kami. Bahkan bersepakat dengan kami. Karena kamipun menyelisihi mereka karena konsekuensi dalil yang kami pahami (Al Khilaf bainal Ulama).

Dan pada akhirnya, keyakinan memang tidak dapat dipaksakan. Yang perlu kita sadari adalah bahwa tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan kecuali Rosululloh SAW. Maka tidak layak seorang muslim memaksakan pendapatnya kepada saudaranya yang lain dalam hal-hal fiqhiyyah yang berada dalam ruang lingkup ijtihadiyah. Adapun untuk masalah-masalah fiqh yang sudah jelas hukumny seperti haramnya babi, khamr, bolehnya poligami, wajibnya menutup aurat dan lain-lain, maka tidak boleh berbeda pendapat.

Dengan begitu, marilah kita tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan mari kita saling menghargai pada perkara yang kita perselisihkan

Billahi fii sabilil haq, fastabiqul khoirot.

6 Dzulhijah 1436 H (versi suami)

7 Dzulhijah 1436 H (versi istri)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s