Tissue Kegilaan (11)

Standard

Siang yang terik, seolah mentari hanya berjarak seribu mtissue kegilaaneter dari bumi. Aku membayangkan diriku sedang duduk di bawah pohon akasia dengan segelas es legen6. Ah, betapa segar dan nikmatnya. Aku sering mengalami apa yang aku bayangkan itu di sepanjang jalan ke arah GOR Ken Arok. Di sepanjang jalan, berderet para penjual minuman itu. Namun, bayangan adalah angan-angan, dan angan-angan tetaplah angan-angan. Karena saat itu, yang sedang aku hadapi bukanlah deretan penjual minuman, akan tetapi yang dihadapanku adalah sebuah white board yang diterangi sebuah sinar LCD proyektor. Terdengar jelas olehku suara seorang wanita sedang menjelaskan sesuatu. Aku tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya, karena pikiranku sedang melayang-layang di sepanjang jalan menuju GOR Ken Arok sedang tanganku sibuk memencet-mencet tombol handphone untuk memainkan space impact. Ya, Cost Accounting adalah pelajaran yang paling membosankan. Selain waktu perkuliahannya di siang bolong, dosen yang mengajarpun tak menarik sama sekali. Tak semenarik dosen mata kuliah International Bussines. Ini karena dia sedang hamil tua. Aku melihatnya tak lebih dari seorang teletubies yang pandai akuntansi biaya. Tiada sedikitpun aura energisitas yang terpancar darinya. Seharusnya ia segera mengajukan cuti kepada pihak kampus. Entah apa yang ada dipikirannya. Ya, Bu Farah namanya.

Sudah hampir satu setengah jam ia menerangkan kepada kami, namun tak satupun materi berhasil terjaring oleh otakku. Ya, karena perasaanmu akan ditentukan oleh kesan pertamamu, dan kesan negatif berpotensi memunculkan pearasaan yang negatif pula. Memasuki menit ke sembilan puluh lima, perasaanku masih saja seperti menit pertama. Bosan dan mengantuk!!!

“Baiklah, saya rasa pertemuan kita hari ini cukup sampai disini. Sampai ketemu minggu depan”, ungkap Bu Farah.

Mendengar kata-kata itu, aku merasa saat itu seperti kembali pada tangga 17 Agustus 1945. Aku kembali merasakan kemerdekaan. Ya, kemerdekaan dari keterjajahan rasa kantuk dan bosan. Setelah Bu Farah keluar dari ruangan, suasana kelas menjadi gaduh dan kacau. Namun aku melihat sebuah ketenangan dalam kegaduhan itu. Aku melihat seorang gadis masih asyik menyalin materi yang ada di papan di kala yang lain sedang merayakan pesta kemerdekaan. Ku remas kertas binderku, lalu ku lempar pada gadis itu. Sontak ia pun bangun dari ketenangannya, karena lemparanku tempat mengenai kepalanya. Dia menoleh kebelakang, mencoba mencari penembak ulung yang telah melemparkan mortir kertas di atsa kepalanya. Akupun tak luput dari daftar orang yang ia curigai. Karena aku yakin, jika gadis itu berfikir bahwa tidak ada yang mau melakukan pekerjaan iseng seperti itu selain sniper yang kurang kerjaan. Akupun sangat yakin prosentase kecurigaannya padaku telah mencapai 200 persen, karena ketika ia menoleh padaku, ia melemparkan sebuah senyuman. Ah, ini sungguh luar biasa. Lemparan mortir kertas dibalasnya dengan sebuah senyum indah. Senyum yang membuat aku semakin dahaga. Senyum yang membuat tenggorokanku menjadi kering. Senyum yang mebawa angin panas sahara ke dalam ruang kuliah. Air Conditioning tak mampu lagi menyejukkan ruangan itu. Aku dehidrasi dan semakin dehidarasi karena sebuah senyuman. Akupun bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri gadis itu.

“Kamu sudah selelsai menyalin materi itu, Lia???”, tanyaku pada gadis itu.

“Udah… Udah dari tadi kok”, jawabnya nyengir.

“Lalu, mengapa kamu masih disini???”, lanjutku.

“Aku memang sengaja menunggumu intuk menghampiriku”, jawabnya masih nyengir.

“Aku lihat semakin hari, kamu semakin nyebelin saja”, ungkapku.

“Aku kan belajar darimu, Boy…”, Lia tertawa meledek.

“Mau ikut aku ke kantin???”, ajakku.

“Ke ujung duniapun aku akan ikut denganmu”, ledek Lia.

Sial, kreativitasnya dalam bidang rayuan sudah mulai tak terbendung. Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku tahu jika ini dibiarkan, pasti akan memabahayakan predikatku sebagai raja gombal. Untuk itu aku berusaha meredakannya dengan sebuah binder book dengan segera menimpakannya ke kepalanya yang kemudian disertai tertawanya.

“Aduh, sialan kamu Boy”, rintih Lia sembari tertawa.

“Abis kamu resek sih..”, sergahku.

“Wah, ini sudah termasuk kasus KDRT, Aku harus segera melaporkan tindakanmu ini pada Komnas HAM”, ungkap Lia.

“Tapi, Komnas HAM kan jauh, mending aku melapor ke Ibu Kantin aja yang deket”, tambahnya.

“Ya udah, ke kantin yuukk..”, lanjut Lia sembari merapikan bukunya.

Kamipun pergi ke kantin karena harus menunggu kuliah berikutnya. Kami masih mempunyai waktu sekitar 40 menit lagi. Kami duduk di samping kasir. Aku yang sering menggoda kasir pun tak lupa dengan kebiasaanku. Dan Lia hanya tersenyum.

“Semalem, mengapa kamu nggak balas sms-ku???”, tanya Lia memulai perbincangan.

“Biasa, semalem aku maen futsal sama anak-anak. Aku sengaja tak bawa handphone”, jawabku.

“Memang semalam kamu pulang jam berapa???”, tanya Lia kembali.

“Jam sebelas-an lah..”, jawabku lagi.

“Owh…”, sergahnya sembari menikmati orange juice float.

“Buruan habiskan minumanmu!!! Sudah adzan, kita ke mushola dulu”, ajakku.

“Aku sedang berhalangan, biar aku menunggumu disini saja”, ungkap Lia.

“Baiklah,, kalau begitu aku nitip tasku”, pintaku.

“Eitzzz.. Bukan tempat penitipan, Boy!!!”, jawab Lia bercanda.

Aku segera berdiri dari tempat dudukku dan menuju ke kasir untuk membayar minuman kami yang kebetulan meja kasir tak jauh dari tempat duduk kami. Aku pun segera pergi ke mushola fakultas. Ketika aku kembali dari mushola, aku melihat Lia masih duduk setia menungguku, meski aku tahu kami sudah tak punya cukup waktu lagi untuk disana. Perkuliahan segera dimulai. Kami pun segera bergegas menuju ruang kuliah. Namun, sebelum masuk ruang kuliah, Lia berbisik lirih padaku.

“Nanti jangan langsung pulang ya, Boy…!!! Aku pengen ngomong sesuatu padamu”, bisik Lia.

Aku tak begitu mempedulikannya meski aku mendengar dengan jelas permintaan Lia. Aku hanya mengangkat bahu. Dan setelah perkuliahan selesei, aku menunggunya di depan pintu. Tak lama Lia mendatangiku.

“Apa yang ingin kamu katakan Lia, jangan membuat aku penasaran”, tanyaku straight to the point.

“Ah, bukan apa-apa kok, tapi ini penting”, jawabnya.

“Kamu memang pandai membuat orang penasran”, ungkapku.

“Kita ngomong di gazebo situ yukk.. Disitu kan tempatnya romantis”, canda Lia.

Aku hanya tersenyum sembari menebak dan memprediksi. Kamipun menuju gazebo. Duduk di tengah taman yang dikelilingi bunga euphorbia. Dibawah pohon Bougenvile yang merindang dengan bunganya yang berwarna-warni.

“Apa yang ingin kamu katakan Lia??? Let’s me know please!!!”, ungkapku

“Boy,, aku yakin kamu telah berdusta padaku, tapi aku menyukai caramu mendustaiku”, ungkap Lia.

“Apa maksudmu Lia??? aku tak mengerti”,tanyaku kembali.

“Benarkah semalam kamu tak membalas sms-ku karena kamu bermain futsal???”, Lia balik bertanya.

Aku hanya diam. Tertunduk tak berdaya karena kebohonganku telah terdeteksi oleh kecerdasan gadis itu. Tapi aku masih terheran darimana dia tahu aku berbohong??? Namun aku tak ingin bertanya karena aku tahu bahwa aku telah kalah dalam percakapan ini.

“Mungkin kamu bisa berbohong padaku, tapi tidak untuk Si Halim. Dia telah menceritakan semuanya, Boy!!!”, lanjut Lia.

“Tadinya aku menemukan kertas ini yang terjatuh ketika kamu membayar minuman di kantin tadi siang. Kamu menjatuhkannya, Boy..”, tambahnya.

“Untuk itu, aku segera mencari tahu pada Si Halim, dan dia telah menceritakan semuanya”, lanjut Lia sembari menyerahkan selembar kertas padaku.

Ah, Sial!!! Lagi-lagi sebuah kecerobohan telah aku lakukan. Dan kecerobohan tetaplah kecerobohan meskipun itu tiada di sengaja. Karena yang aku hadapi saat ini adalah gadis yang memiliki triple big beauty. Aku hanya bisa menatapnya terpana. Dia telah menutup semua pintu alasan dan lubang alibi. Aku tak punya celah lagi untuk berkelit. Aku terus menatap gadis itu. Ada perubahan pada mimik wajahnya. Hidungnya yang dihiasi bintik air ditambah matanya yang mulai berkaca-kaca. Senyum indah itu menghilang dengan tiba-tiba. Tetesan air bening keluar dari matanya.

“Selama ini, aku selalu berusaha memahami pola pikirmu, namun sampai saat ini pula masih saja aku tak bisa. Aku pikir, akhir-akhir ini kamu sering tak masuk kuliah pagi karena kemalasanmu. Tapi aku salah menilaimu. Ternyata justru kegilaanmulah yang menyebabkan itu semua”, ungkap Lia berderai air mata.

“Apakah seperti itu yang kamu sebut tanggung jawab??? Tidak Boy… Itu bukanlah tanggung jawab. Tapi itu adalah sebuah kegilaan”, lanjutnya.

Aku masih tetap terdiam. Membisu tak berdaya. Berteman dengan hembusan suara angin dan berkawan dengan langkah semut hitam yang berbaris di batang pohon bougenvile. Lia telah mengetahui sesuatu yang selama beberapa hari ini aku rahasiakan darinya. Ya, sebuah perselingkuhan. Berselingkuh dengan kehidupanku.

Beberapa hari yang lalu, aku ditawari seseorang untuk menjadi kuli bangunan pada sebuah proyek di Pasar Besar yang kebetulan proyek itu dikerjakan di malam hari. Karena itu aku menerima tawaranya. Dan tadi malam, aku baru saja menerima upah jasa keringatku. Namun, siang tadi karena kecerobohanku, aku telah menjatuhkan Slip upahku dan Lia menemukannya.

Air mata gadis itu belum juga kering. Air mata yang penuh rasa simpatik dan haru. Ah bukan, lebih tepat jika air mata itu adalah air mata belas kasihan, tapi aku tak ingin dikasihani. Aku hanya merasa bersalah padanya. Ya karena aku tidak berterus terang pada Lia. Aku memalingkan wajahku darinya. Seorang gadis yang tak kukenal berjalan menuju ke arah kami. Ketika gadis itu tepat berada di hadapanku, akupun menghentikannya.

“Permisi, tunggu sebentar!!! Kalu boleh tahu, siapa namamu???”, tanyaku pada gadis itu

“Aaa… Ardiana”, jawabnya bingung.

“Kamu punya tissue???”, tanyaku kembali.

“Ada!!!”, jawabnya sembari melihat kedalam tas yang diteteng di bahu kirinya.

“Boleh aku meminta satu???”, pintaku

Gadis itu membuka tasnya dan kemudian memberikan beberapa helai tissue padaku. Lia yang masih berderai air matapun terpana dan hanya memperhatikan kami.

“Makasih banyak ya…”, ungkapku.

“Iya, sama-sama”, jawab gadis itu yang kemudian berlalu.

Sejenak aku memperhatikan langkah gadis itu, wajahnya terlihat seperti orang kebingungan. Mungkin ia sedang terheran oleh apa yang baru saja aku lakukan padanya. gadis yang mengaku bernama Ardiana. Tapi menurutku, nama itu tidak cocok untuknya. Jika dilihat dari postur tubuhnya, gadis itu lebih cocok jika bernama Tina. Aku melihat Lia yang mulai berhenti mengeluarkan air matanya. Hanya isakan kecil yang terdengar.

“Maafkan aku Lia, bukan maksudku untuk berbohong padamu. Aku hanya tak ingin kamu mengetahuinya. Namun Tuhan mungkin tak ingin aku menyembunyikannya darimu”, ungkapku.

“Sudah, hapus air matamu dan berterimakasihlah pada Ardiana karena ini adalah tissue pemberiannya”, lanjutku sembari memberikan tissue pada Lia.

Lia pun mengusap air matanya, kemudian kembali tersenyum. Ah, alangkah indahnya senyum itu. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan air mata. Aku tahu bahwa air mata itu jatuh disebabkan karena sebuah kegilaan. Untuk itu, aku mencoba menghapusnya dengan tissue kegilaan. Bukankah kegilaan itu harus dihadapi dengan kegilaan???

“Aku tak menyalahkanmu, Boy… Tapi harus aku akui, aku menyukai caramu menghiburku dengan tissue ini”, ungkap Lia yang kembali tersenyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s