Ayooo Usaha Laundry…!!!

Standard

AYO BISNIS LAUNDRY…!!!
Siapa tahu rejekimu ada di usaha laundry…
Simple, mudah, praktis, tapi menghasilkan…

Hal tersulit dari sebuah bisnis adalah memulai. Kami akan membantu anda untuk memulai usaha laundry.

Melayani pengadaan usaha laundry :

Mesin Cuci LG Kapasitas 7 Kg (1 set)
Rak Baju Uk 2 x 2 m (1 set)
Setrika Uap Kapasitas 15 Ltr (1 unit)
Setrika Listrik (1 unit)
Meja (2 unit)
Kursi Kayu (3 unit)
Gantungan Baju (10 lusin)
Keranjang (10 pcs)
Nota (25 eksemplar)
Plastik Pakaian (500 lembar)
Spanduk (1 set)
Isolasi + Tempat (1 set)
Jemuran Pakaian (4 set)
Timbangan Digital (1 unit)
Alas Setrika (2 unit)
Stapler (1 pcs)
Gunting (1 pcs)
Parfum/Pewangi (5 btl, 5 aroma)
Ditergen (20 liter)
Softener (20 liter)
Pemutih (5 liter)
Penghilang Noda Tinta (1 liter)
Penghilang Noda Darah (1 liter)
Semprotan Pewangi (5 pcs)

Telp. / Whatsapp : 081 357 384 945
BBM : 27FEF8DF
(Melayani Area : Jombang, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Ngawi, dan Sragen)

 

PROMO1

Curhatan akhir tahun

Standard

*Music*

Dibilang sendiri, aku punya istri

Dibilang beristri, aku bobok sendiri

 

Hahahaa… lirik lagu itu tepat sekali jika untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Bukan apa, semenjak menikah, kami sudah menjalani hukuman LDM (Long Distance Marriage) karena alasan pekerjaan. Ini adalah konsekuensi dari pekerjaanku sebagi buruh pabrik yang lokasinya nun jauh disana. Awalnya aku merasa tidak ada masalah dalam menjalani semua itu. Sampai suatu waktu aku dibuat berfikir oleh chat temenku.

Teman : Hei juhh.. yo’opo kabare?

Aku        : Kipa Sam.. bisnis opo saiki?

Teman : Pancet juhh.. Sik tetep na Borneo?

Aku        : Iyo jehh..

Teman : Semalam aku menyusuri blog-mu.

Aku        : Apa yang kamu temukan?

Teman  : Ya beberapa cerita masa lalu yang aku ragukan ke-non-fiksiannya. Cerito anyar mek sitik. Piye kerjomu? lancar?

Aku        : Harga komoditas anjlokk. Ajurr duit ndogg..

Teman  : Piye, bojomu melu mrono?

Aku        : Tak tinggal na omah juhh..

Teman : Loh lho.. LDR? Kamu termasuk aliran itu?

Aku        : Hahahaa.. Iyo juh.. kebenaran cinta hanya bisa didapat dari hubungan jarak jauh.

Teman : Iyoo aku ngerti. Ketika kita menulispun kita juga butuh space. Iyo kan?

Aku        : Setuju!!!

Teman : But not too much space.

Aku       : That’s right.

Teman  : Terlalu banyak spasi yoh ora apik jeh.. Gak dadi tulisan.. Tapi dadi jeneng toko.

Aku        : T         O          K          O         M          A          J        U       J         A         Y         A

Teman  : Segera cari solusi jeh, terutama lak wis duwe anak. Aku masih percaya orang yang jatuh cinta bisa menembus waktu, kenangan masa lalu ataupun angan-angan masa depan. Tapi aku gak percaya cinta bisa menembus ruang dan jarak dengan teknologi apapun.

Beberapa waktu yang lalu, setelah periksa ke dokter, istriku dinyatakan hamil. Dan kalian sudah bisa menebak apa yang kupikirkan. Ya, aku terngiang oleh kata-kata temenku melalui chat-nya. “Aku masih percaya orang yang jatuh cinta bisa menembus waktu, kenangan masa lalu ataupun angan-angan masa depan. Tapi aku gak percaya cinta bisa menembus ruang dan jarak dengan teknologi apapun”.

Mungkin karena masa awal kehamilan, istri saya selalu mengeluh jika tubuhnya lemes, mual, dan setiap dikasih makan selalu pengen muntah. Aku semakin tak tega mendengarnya dan yang lebih membuat sedih adalah aku tidak bisa mendampinginya sehingga dia harus mengurus dirinya sendiri di rumah. Meskipun tidak dilarang, Long Distance Marriage memang bukan kondisi paling ideal untuk sebuah rumah tangga. Ada risiko tersendiri, ada pahit getirnya, pokoknya ada sesuatu yang kuranglah.

Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, akhirnya aku membuat keputusan bahwa aku akan menemani dan mendampinginya. Dia adalah titipan-Nya yang telah diamanahkan padaku. Setiap apa yang dia kerjakan, aku ikut dimintai pertanggung jawaban. Maka, hari ini akupun mengajukan pengunduran diri di tempat kerjaku. Percoyo yen rejeki wis enek sing ngatur. Ono dino yo ono upo, asal gelem obah mesti iso mamah. All I need is time and I hope a very good luck charm for next 2016. Bismillah.. budalll…

Happy New Year 2016

Tissue Kegilaan (11)

Standard

Siang yang terik, seolah mentari hanya berjarak seribu mtissue kegilaaneter dari bumi. Aku membayangkan diriku sedang duduk di bawah pohon akasia dengan segelas es legen6. Ah, betapa segar dan nikmatnya. Aku sering mengalami apa yang aku bayangkan itu di sepanjang jalan ke arah GOR Ken Arok. Di sepanjang jalan, berderet para penjual minuman itu. Namun, bayangan adalah angan-angan, dan angan-angan tetaplah angan-angan. Karena saat itu, yang sedang aku hadapi bukanlah deretan penjual minuman, akan tetapi yang dihadapanku adalah sebuah white board yang diterangi sebuah sinar LCD proyektor. Terdengar jelas olehku suara seorang wanita sedang menjelaskan sesuatu. Aku tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya, karena pikiranku sedang melayang-layang di sepanjang jalan menuju GOR Ken Arok sedang tanganku sibuk memencet-mencet tombol handphone untuk memainkan space impact. Ya, Cost Accounting adalah pelajaran yang paling membosankan. Selain waktu perkuliahannya di siang bolong, dosen yang mengajarpun tak menarik sama sekali. Tak semenarik dosen mata kuliah International Bussines. Ini karena dia sedang hamil tua. Aku melihatnya tak lebih dari seorang teletubies yang pandai akuntansi biaya. Tiada sedikitpun aura energisitas yang terpancar darinya. Seharusnya ia segera mengajukan cuti kepada pihak kampus. Entah apa yang ada dipikirannya. Ya, Bu Farah namanya.

Sudah hampir satu setengah jam ia menerangkan kepada kami, namun tak satupun materi berhasil terjaring oleh otakku. Ya, karena perasaanmu akan ditentukan oleh kesan pertamamu, dan kesan negatif berpotensi memunculkan pearasaan yang negatif pula. Memasuki menit ke sembilan puluh lima, perasaanku masih saja seperti menit pertama. Bosan dan mengantuk!!!

“Baiklah, saya rasa pertemuan kita hari ini cukup sampai disini. Sampai ketemu minggu depan”, ungkap Bu Farah.

Mendengar kata-kata itu, aku merasa saat itu seperti kembali pada tangga 17 Agustus 1945. Aku kembali merasakan kemerdekaan. Ya, kemerdekaan dari keterjajahan rasa kantuk dan bosan. Setelah Bu Farah keluar dari ruangan, suasana kelas menjadi gaduh dan kacau. Namun aku melihat sebuah ketenangan dalam kegaduhan itu. Aku melihat seorang gadis masih asyik menyalin materi yang ada di papan di kala yang lain sedang merayakan pesta kemerdekaan. Ku remas kertas binderku, lalu ku lempar pada gadis itu. Sontak ia pun bangun dari ketenangannya, karena lemparanku tempat mengenai kepalanya. Dia menoleh kebelakang, mencoba mencari penembak ulung yang telah melemparkan mortir kertas di atsa kepalanya. Akupun tak luput dari daftar orang yang ia curigai. Karena aku yakin, jika gadis itu berfikir bahwa tidak ada yang mau melakukan pekerjaan iseng seperti itu selain sniper yang kurang kerjaan. Akupun sangat yakin prosentase kecurigaannya padaku telah mencapai 200 persen, karena ketika ia menoleh padaku, ia melemparkan sebuah senyuman. Ah, ini sungguh luar biasa. Lemparan mortir kertas dibalasnya dengan sebuah senyum indah. Senyum yang membuat aku semakin dahaga. Senyum yang membuat tenggorokanku menjadi kering. Senyum yang mebawa angin panas sahara ke dalam ruang kuliah. Air Conditioning tak mampu lagi menyejukkan ruangan itu. Aku dehidrasi dan semakin dehidarasi karena sebuah senyuman. Akupun bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri gadis itu.

“Kamu sudah selelsai menyalin materi itu, Lia???”, tanyaku pada gadis itu.

“Udah… Udah dari tadi kok”, jawabnya nyengir.

“Lalu, mengapa kamu masih disini???”, lanjutku.

“Aku memang sengaja menunggumu intuk menghampiriku”, jawabnya masih nyengir.

“Aku lihat semakin hari, kamu semakin nyebelin saja”, ungkapku.

“Aku kan belajar darimu, Boy…”, Lia tertawa meledek.

“Mau ikut aku ke kantin???”, ajakku.

“Ke ujung duniapun aku akan ikut denganmu”, ledek Lia.

Sial, kreativitasnya dalam bidang rayuan sudah mulai tak terbendung. Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku tahu jika ini dibiarkan, pasti akan memabahayakan predikatku sebagai raja gombal. Untuk itu aku berusaha meredakannya dengan sebuah binder book dengan segera menimpakannya ke kepalanya yang kemudian disertai tertawanya.

“Aduh, sialan kamu Boy”, rintih Lia sembari tertawa.

“Abis kamu resek sih..”, sergahku.

“Wah, ini sudah termasuk kasus KDRT, Aku harus segera melaporkan tindakanmu ini pada Komnas HAM”, ungkap Lia.

“Tapi, Komnas HAM kan jauh, mending aku melapor ke Ibu Kantin aja yang deket”, tambahnya.

“Ya udah, ke kantin yuukk..”, lanjut Lia sembari merapikan bukunya.

Kamipun pergi ke kantin karena harus menunggu kuliah berikutnya. Kami masih mempunyai waktu sekitar 40 menit lagi. Kami duduk di samping kasir. Aku yang sering menggoda kasir pun tak lupa dengan kebiasaanku. Dan Lia hanya tersenyum.

“Semalem, mengapa kamu nggak balas sms-ku???”, tanya Lia memulai perbincangan.

“Biasa, semalem aku maen futsal sama anak-anak. Aku sengaja tak bawa handphone”, jawabku.

“Memang semalam kamu pulang jam berapa???”, tanya Lia kembali.

“Jam sebelas-an lah..”, jawabku lagi.

“Owh…”, sergahnya sembari menikmati orange juice float.

“Buruan habiskan minumanmu!!! Sudah adzan, kita ke mushola dulu”, ajakku.

“Aku sedang berhalangan, biar aku menunggumu disini saja”, ungkap Lia.

“Baiklah,, kalau begitu aku nitip tasku”, pintaku.

“Eitzzz.. Bukan tempat penitipan, Boy!!!”, jawab Lia bercanda.

Aku segera berdiri dari tempat dudukku dan menuju ke kasir untuk membayar minuman kami yang kebetulan meja kasir tak jauh dari tempat duduk kami. Aku pun segera pergi ke mushola fakultas. Ketika aku kembali dari mushola, aku melihat Lia masih duduk setia menungguku, meski aku tahu kami sudah tak punya cukup waktu lagi untuk disana. Perkuliahan segera dimulai. Kami pun segera bergegas menuju ruang kuliah. Namun, sebelum masuk ruang kuliah, Lia berbisik lirih padaku.

“Nanti jangan langsung pulang ya, Boy…!!! Aku pengen ngomong sesuatu padamu”, bisik Lia.

Aku tak begitu mempedulikannya meski aku mendengar dengan jelas permintaan Lia. Aku hanya mengangkat bahu. Dan setelah perkuliahan selesei, aku menunggunya di depan pintu. Tak lama Lia mendatangiku.

“Apa yang ingin kamu katakan Lia, jangan membuat aku penasaran”, tanyaku straight to the point.

“Ah, bukan apa-apa kok, tapi ini penting”, jawabnya.

“Kamu memang pandai membuat orang penasran”, ungkapku.

“Kita ngomong di gazebo situ yukk.. Disitu kan tempatnya romantis”, canda Lia.

Aku hanya tersenyum sembari menebak dan memprediksi. Kamipun menuju gazebo. Duduk di tengah taman yang dikelilingi bunga euphorbia. Dibawah pohon Bougenvile yang merindang dengan bunganya yang berwarna-warni.

“Apa yang ingin kamu katakan Lia??? Let’s me know please!!!”, ungkapku

“Boy,, aku yakin kamu telah berdusta padaku, tapi aku menyukai caramu mendustaiku”, ungkap Lia.

“Apa maksudmu Lia??? aku tak mengerti”,tanyaku kembali.

“Benarkah semalam kamu tak membalas sms-ku karena kamu bermain futsal???”, Lia balik bertanya.

Aku hanya diam. Tertunduk tak berdaya karena kebohonganku telah terdeteksi oleh kecerdasan gadis itu. Tapi aku masih terheran darimana dia tahu aku berbohong??? Namun aku tak ingin bertanya karena aku tahu bahwa aku telah kalah dalam percakapan ini.

“Mungkin kamu bisa berbohong padaku, tapi tidak untuk Si Halim. Dia telah menceritakan semuanya, Boy!!!”, lanjut Lia.

“Tadinya aku menemukan kertas ini yang terjatuh ketika kamu membayar minuman di kantin tadi siang. Kamu menjatuhkannya, Boy..”, tambahnya.

“Untuk itu, aku segera mencari tahu pada Si Halim, dan dia telah menceritakan semuanya”, lanjut Lia sembari menyerahkan selembar kertas padaku.

Ah, Sial!!! Lagi-lagi sebuah kecerobohan telah aku lakukan. Dan kecerobohan tetaplah kecerobohan meskipun itu tiada di sengaja. Karena yang aku hadapi saat ini adalah gadis yang memiliki triple big beauty. Aku hanya bisa menatapnya terpana. Dia telah menutup semua pintu alasan dan lubang alibi. Aku tak punya celah lagi untuk berkelit. Aku terus menatap gadis itu. Ada perubahan pada mimik wajahnya. Hidungnya yang dihiasi bintik air ditambah matanya yang mulai berkaca-kaca. Senyum indah itu menghilang dengan tiba-tiba. Tetesan air bening keluar dari matanya.

“Selama ini, aku selalu berusaha memahami pola pikirmu, namun sampai saat ini pula masih saja aku tak bisa. Aku pikir, akhir-akhir ini kamu sering tak masuk kuliah pagi karena kemalasanmu. Tapi aku salah menilaimu. Ternyata justru kegilaanmulah yang menyebabkan itu semua”, ungkap Lia berderai air mata.

“Apakah seperti itu yang kamu sebut tanggung jawab??? Tidak Boy… Itu bukanlah tanggung jawab. Tapi itu adalah sebuah kegilaan”, lanjutnya.

Aku masih tetap terdiam. Membisu tak berdaya. Berteman dengan hembusan suara angin dan berkawan dengan langkah semut hitam yang berbaris di batang pohon bougenvile. Lia telah mengetahui sesuatu yang selama beberapa hari ini aku rahasiakan darinya. Ya, sebuah perselingkuhan. Berselingkuh dengan kehidupanku.

Beberapa hari yang lalu, aku ditawari seseorang untuk menjadi kuli bangunan pada sebuah proyek di Pasar Besar yang kebetulan proyek itu dikerjakan di malam hari. Karena itu aku menerima tawaranya. Dan tadi malam, aku baru saja menerima upah jasa keringatku. Namun, siang tadi karena kecerobohanku, aku telah menjatuhkan Slip upahku dan Lia menemukannya.

Air mata gadis itu belum juga kering. Air mata yang penuh rasa simpatik dan haru. Ah bukan, lebih tepat jika air mata itu adalah air mata belas kasihan, tapi aku tak ingin dikasihani. Aku hanya merasa bersalah padanya. Ya karena aku tidak berterus terang pada Lia. Aku memalingkan wajahku darinya. Seorang gadis yang tak kukenal berjalan menuju ke arah kami. Ketika gadis itu tepat berada di hadapanku, akupun menghentikannya.

“Permisi, tunggu sebentar!!! Kalu boleh tahu, siapa namamu???”, tanyaku pada gadis itu

“Aaa… Ardiana”, jawabnya bingung.

“Kamu punya tissue???”, tanyaku kembali.

“Ada!!!”, jawabnya sembari melihat kedalam tas yang diteteng di bahu kirinya.

“Boleh aku meminta satu???”, pintaku

Gadis itu membuka tasnya dan kemudian memberikan beberapa helai tissue padaku. Lia yang masih berderai air matapun terpana dan hanya memperhatikan kami.

“Makasih banyak ya…”, ungkapku.

“Iya, sama-sama”, jawab gadis itu yang kemudian berlalu.

Sejenak aku memperhatikan langkah gadis itu, wajahnya terlihat seperti orang kebingungan. Mungkin ia sedang terheran oleh apa yang baru saja aku lakukan padanya. gadis yang mengaku bernama Ardiana. Tapi menurutku, nama itu tidak cocok untuknya. Jika dilihat dari postur tubuhnya, gadis itu lebih cocok jika bernama Tina. Aku melihat Lia yang mulai berhenti mengeluarkan air matanya. Hanya isakan kecil yang terdengar.

“Maafkan aku Lia, bukan maksudku untuk berbohong padamu. Aku hanya tak ingin kamu mengetahuinya. Namun Tuhan mungkin tak ingin aku menyembunyikannya darimu”, ungkapku.

“Sudah, hapus air matamu dan berterimakasihlah pada Ardiana karena ini adalah tissue pemberiannya”, lanjutku sembari memberikan tissue pada Lia.

Lia pun mengusap air matanya, kemudian kembali tersenyum. Ah, alangkah indahnya senyum itu. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan air mata. Aku tahu bahwa air mata itu jatuh disebabkan karena sebuah kegilaan. Untuk itu, aku mencoba menghapusnya dengan tissue kegilaan. Bukankah kegilaan itu harus dihadapi dengan kegilaan???

“Aku tak menyalahkanmu, Boy… Tapi harus aku akui, aku menyukai caramu menghiburku dengan tissue ini”, ungkap Lia yang kembali tersenyum

Al ikhtilafu Rahmah

Standard

Istri : Mas, jadi sholat ied tanggal berapa?

Suami : InsyaAllah tanggal 24.

Istri : Lak misal aku ikut sholat ied tanggal 23 boleh?

Suami : Kamu masih kekeh dengan pendapatmu yang kemarin?

Istri : Iyaa..

Suami : *ngguyu*

Istri : Kok malah ngguyu?

Suami : Bukane pelangi itu terlihat indah karena warna yang berbeda?

Istri : Nuwus ilakes, Sam… *ngguyu ngekek*

Suami : Assyeemmmm…

Yaa, selama perbedaan itu memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, Why not?? Namun jika dasar hukum yang digunakan tidak valid dan tidak dapat dipertanggungjawabkan bahkan terkesan ngawur maka tentu itu tidak dapat digunakan sebagai dasar beramal.

Dalam dunia keislaman tentu kita sering mendengar ungkapan “al-ikhtilafu rahmah” . Ya, perbedaan adalah rahmat. Meskipun sebagian kelompok tidak sepakat dengan konsep ini, namun setidaknya itu dapat mendidik kita untuk menilai bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terelakkan lagi. Perbedaan tidak lagi dianggap sebagai pemicu timbulnya perpecahan melainkan sebagai modal untuk bertukar pemikiran dan pandangan.

Imam Syafii mengatakan “qauly shawab wa yahtamilu al-khatha’, wa qaulu al-qhair khatha’ wa yahtamilu ash-shawab”. Pendapatku benar namun mengandung kesalalahan, dan pendapatmu itu salah namun juga mengandung kebenaran. Sebuah ungkapan yang menurut saya sungguh sangat luar biasa untuk menyikapi sebuah perbedaan.

Orang yang menyelisihi pendapat kami karena konsekuensi dalil yang ia pahami, pada hakikatnya tidak berselisih dengan kami. Bahkan bersepakat dengan kami. Karena kamipun menyelisihi mereka karena konsekuensi dalil yang kami pahami (Al Khilaf bainal Ulama).

Dan pada akhirnya, keyakinan memang tidak dapat dipaksakan. Yang perlu kita sadari adalah bahwa tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan kecuali Rosululloh SAW. Maka tidak layak seorang muslim memaksakan pendapatnya kepada saudaranya yang lain dalam hal-hal fiqhiyyah yang berada dalam ruang lingkup ijtihadiyah. Adapun untuk masalah-masalah fiqh yang sudah jelas hukumny seperti haramnya babi, khamr, bolehnya poligami, wajibnya menutup aurat dan lain-lain, maka tidak boleh berbeda pendapat.

Dengan begitu, marilah kita tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan mari kita saling menghargai pada perkara yang kita perselisihkan

Billahi fii sabilil haq, fastabiqul khoirot.

6 Dzulhijah 1436 H (versi suami)

7 Dzulhijah 1436 H (versi istri)

 

TBC yang menyebabkan kematian atau kematian yang menyebabkan TBC?

Standard

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Yupp,, siapa yang berani membantah statement tersebut berarti dia tidak beriman. Karena itu adalah firman Allah yang tertulis dalam Al-Quran dan aku meyakini hal tersebut.

 

Beberapa hari yang lalu, aku dilanda sedih, galau dan bingung. Kesedihan itu karena aku baru saja dapat musibah dengan meninggalnya ibu mertua. It’s okay.. bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati? Toh kita ini juga sedang menunggu giliran. Akupun bisa tegar. Aku tidak berlarut dalam kesedihan. Namun setelahnya, kesedihan itu berubah menjadi rasa galau. Galau karena harus melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lakukan. Bagaimana tidak, mertuaku tinggal diwilayah endemik TBC. Namun bukan karena TBC yang menyebabkan beliau meninggal. Justru meninggalnya beliaulah yang menyebabkan TBC. Ya, TBC ini bukanlah penyakit Tubercolosis, melainkan akronim dari Takhayul, Bid’ah dan Churofat.

Pagi itu, jam 01.14 WIB beliau meninggal di ruang ICU. Setelah selesai mengurus administrasi dan sebagainya jenazah beliapun diperbolehkan dibawa pulang. Sesuai dengan musyawarah keluarga, rencana beliau dimakamkan jam 7 pagi. Ini bagus,mengingat mengubur jenazah memang harus disegerakan. Selepas Subuh, akupun sudah mandi, berdandan , dan siap untuk ke makam. Aku mengenakan baju batik dan celana jeans dan duduk bersama mereka yang ta’ziah. Beberapa orang memandangiku dengan tatapan yang sedikit berbeda. Namun bagiku itu wajar saja karena aku merupakan orang baru disitu. Beberapa saat kemudian, istriku memanggilku dan memintaku untuk masuk ke kamar.

 

“Mas, minta tolong kamu ganti baju yang ini”, pinta istriku sambil menyodorkan kemeja hitam.

“Memangnya kenapa?”, tanyaku.

“Disini kebiasaannya seperti itu. Keluarga yang berduka harus pake pakaian hitam”,jawabnya.

“Apakah ada aturannya?”,jawabku yang enggan melepas baju batik ku.

“Bukan waktunya untuk berdebat, aku minta tolong ngertiin aku Mas”, pintanya.

 

Dengan terpaksa aku mengikuti permintaan istriku. Aku baru tahu alasan kenapa sejak tadi orang-orang memandangku dengan tatapan yang aneh. Ternyata aku salah kostum. Ah bukan!!! Ini bukan salah kostum. Ini hanyalah sesuatu yang diada-adakan. Tidak ada aturannya harus memakai pakaian hitam jika ada keluarga dan kerabat kita yang meninggal.

 

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

 

Ketika jenazah mau diberangkatkan, Pak Modin memberikan sedikit ceramah tentang kematian dan meminta kesaksian kepada mereka yang ta’ziah mengenai jenazah dan menginformasikan mengenai hutang piutang beliau yang belum terseleseikan supaya bisa menghubungi pihak keluarga.

Setelah Pak Modin selesai memberikan ceramah, beliau mempersilakan keluarga untuk melakukan ritual “blusukan”, yaitu berjalan memutar dibawah keranda jenasah yang sudah diangkat sebelum diberangkatkan ke makam. Aku menjauh dari rombongan dan berusaha untuk sembunyi dengan harapan tidak mengikuti ritual tersebut. Namun usaha itu sia-sia setelah bapak mertua menyuruhku untuk mengikuti ritual tersebut. Lagi-lagi aku tak kuasa untuk menolak. Memang “nyesek” ketika kamu harus melakukan sesuatu yang kamu tidak ingin lakukan.

 

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

 

Ketika jenazah selesei dimakamkan dan Pak Modin selesei memimpin do’a, ada lagi ritual yang aku tidak tau apakah ada tuntunannya apa tidak. Yaitu melemparkan gumpalan tanah bekas galian makam sebanyak 3 kali. Kali ini tidak dikhususkan untuk keluarga jenazah, namun untuk semua orang yang ikut mengantarkan jenazah ke makam. Lagi-lagi istriku meminta untuk melakukan hal itu, namun kali ini aku menolaknya dengan senyuman dan mebisikan ditelinganya perlahan, “kullu bid’atun dholalah”.

 

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)

 

Kegalauanku semakin membuatku bingung, karena selama 7 hari kedepan, setiap ba’da Isya’ akan ada acara tahlilan dan yasinan dirumah kami. Aku tahu jika aku mengikuti kegiatan tersebut, itu artinya aku mendukung kegiatan yang selama ini aku tentang. Bahkan di keluargaku sendiri.

Hari pertama, akupun mengikuti kegiatan tersebut meski dengan berat hati. Ikut membaca Yaasin dan Tahlil. Entah apa yang mereka baca sudah benar apa belum mengenai mahkroj huruf dan tajwidnya. Bayangkan saja, mereka bisa mebaca Surat Yasin sebanyak 7 kali hanya dalam waktu sekitar 20 menit, yang mana dalam waktu tersebut aku hanya bisa membacanya 1 kali dan lebih 1 lembar. Itupun terpaksa aku baca karena aku duduk disamping bapak mertuaku. Aku melakukannya bukan karena lillahi ta’ala. Tapi karena aku hanya ingin menghormati orang-orang yang ada disitu.

Acara baca-membacapun selesei, kemudian dilanjutkan dengan meniup air yang ditaruh dalam baskom yang sudah ditaburi bunga mawar dan minyak serimpi. Air itu diputar keliling jama’ah karena setiap jam’ah yang hadir harus meniupnya setelah mebacakan yasin dan tahlil tadi. Dan lebih parah lagi, aku mendapatkan tugas dari bapak mertua untuk menyiramkan air tersebut di makam ibu mertuaku. Haduhhh… Aku semakin bingung karena aku tahu aku tak dapat menolaknya.

 

“Dik, aku merasa tidak nyaman dengan kondisi ini”,ungkapku pada istriku.

“Aku harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatiku”,lanjutku.

“Terus, Mas maunya seperti apa?”, tanya istriku.

“Aku nggak ingin ikut acara itu lagi. Aku nggak mau tiap pagi mengantar air bunga itu untuk disiramkan di makam ibuk”, jawabku

Istriku hanya terdiam.

“Apa setiap habis magrib atau isya’ biar aku pergi kemana gitu supaya aku bisa menghindari acara itu?”, tanyaku.

“Apa cara seperti itu menurut Mas pantas?”, istriku balik bertanya.

“Ya memang kurang pantas, lha mau gimana lagi”, ungkapku.

“Kalau menurut Mas itu kurang pantas, terus aku harus jawab seperti apa jika nanti orang-orang menggunjing suamiku hanya karena dia tidak ikut tahlilan yang notabene menurut mereka itu mendoakan mertuanya?”

“Berarti kita perginya harus berdua?”, ungkapku.

“Maksudnya?”,tanya istriku.

“Besok kita mudik ke tempat mamak. Kita kan belum halal bil halal kesana”, terangku.

“Tapi apa itu pantas ketika masih banyak saudara kita disini malah kita tinggal mudik? Sudahlah Mas.. kita tunggu sampai seleseinya acara ini. Anggap saja kegiatan ini wujud syukur dan sedekah kita ke tetangga dan kerabat”, ungkap istriku.

“Oke kalau itu menurutmu cara bersyukur aku setuju. Tapi kalau memang sedekah, haruskah dengan cara seperti itu? Kalau mau sedekah, masaklah yang banyak lalu kita antar ke rumah-rumah tetangga dan kerabat. Bukan mereka yang harus datang ketempat kita dengan acara tiup-tiup air bunga seperti itu”, ungkapku dengan nada kesal.

“Baiklah… Nanti aku coba ijin Mbah Yut dulu kalau kita mau pergi ke tempat mamak”, ungkap istriku lirih.

 

Akupun tersenyum senang karena akhirnya istriku mau mengerti apa yang sedang aku rasakan. Alhamdulillah…

 

“Mas.. Mbah Yut dan Papa nggak kasi ijin kalau kita pergi. Katanya harus nunggu sampai 40 hari baru boleh bepergian. Karena menurut mereka, selama itu arwah ibuk masih disekitar kita”, terang istriku.

“Setahuku, dalam islam, berkabung itu hanya 3 hari. Kecuali istri yang ditinggal mati suaminya. Itu masa berkabungnya 4 bulan 10 hari”, jawabku.

“Aku hanya menyampaikan perkataan mereka. Semua terserah kamu, Mas..”, jawabnya.

“Baiklah.. Kita tunggu sampai acara 7 hari selesai”, ungkapku pasrah.

 

Ternyata setelah acara 7 hari itu, masih ada lagi acara dzikir fida’ yang menurut mereka dzikir penebusan dari siksa Allah SWT. Namun aku melewatkan ritual itu, karena aku memaksa untuk tetap pergi dengan memberikan alasan yang tentunya mereka semua bisa mengerti.

Akhirnya aku bisa keluar dari area endemik TBC meskipun itu untuk sementara waktu. Bagaimana dengan selanjutnya??? Aku tidak yakin. Wallahu a’lam. Aku berlindung kepada Allah dari perkara bid’ah.

 

 

Tentang Bid’ah :

Menurut bahasa  : sesuatu yang baru (diada-adakan). Menurut  istilah  : sesuatu yang diada-adakan di dalam masalah agama yang menyelisihi apa yang ditempuh Nabi SAW dan para sahabatnya, baik berupa aqidah maupun amal.  (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
Macam-Macam Bid’ah :

  1. Bid’ah Qouliyah I’tiqodiyah: bid’ah yang  bersifat pemikiran dan akidah.  Contoh: Pernyataan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari Nabi Muhammad SAW.
  2. Bid’ah fil ‘Ibaadah : bid’ah fie ushulil ‘ibadah (membuat ibadah yang tidak ada dasar dalam syariat : sholat/puasa tertentu di luar syariat, perayaan-perayaan dsb.) bid’ah fie ziaadatil ‘ibaadah (menambahkan sesuatu pada ibadah yang telah disyariatkan : menambah rakaat sholat dll). bid’ah dalam pelaksanaan ibadah yang disyariatkan sehingga  tidak sesuai dengan anjuran atau sunnah Nabi : dzikir bersama dengan suara keras/merdu; memperketat diri dalam suatu ibadah sampai keluar dari batas sunnah. bid’ah dengan mengkhususkan waktu tertentu dalam melaksanakan ibadah yang disyariatkan: puasa dan tahajjud nisfu sya’ban..

Mahasiswa dan Arogansi

Standard

Menurutku, kasta tertinggi di negeri ini adalah Mahasiswa. Ada rantai ketakutan yang tak pernah terputus dalam sistem penentuan kasta ini. Mahasiswa takut sama Dosen, Dosen takut sama Dekan, Dekan takut sama Rektor, Rektor takut sama Dikti, Dikti takut sama Mentri Pendidikan, Sang Mentri takut sama Presiden, dan Presiden takut sama Mahasiswa. Begitulah seterusnya.. Aku sengaja tidak akan membahas mengenai kedudukan seorang “istri” dalam penentuan kasta ini, karena memang sumber ketakutan tertinggi di dunia ini adalah “istri”.

Sayangnya, waktu terus berlalu. Masa-masa itu telah terlewati. Aku rindu menjadi mahasiswa. Saya merindukan menjadi sekelompok manusia yang matanya tidak pernah terbuka antara subuh dan dhuha. Sekelompok manusia yang membuat hal sederhana nampak menjadi rumit. Maka ketika ada joke mengenai perbedaan antara mahasiswa dan kyai, jawabnya adalah jika kyai itu selalu membuat hal yang rumit menjadi sederhana, sedang mahasiswa adalah sebaliknya. Mereka yang selalu memperdebatkan sesuatu hal sepele hingga menjelang pagi. Aku rindu masa itu. Aku rindu semua hal yang terjadi ketika itu. Kecuali satu, kesombongan!

Be greatest can lead an arrogance. Mungkin karena statusnya yang “wah” inilah membuat sebagian besar orang yang menyandang status mahasiswa menjadi arogan, anti kritik, dan memandang sebelah mata orang diluar kastanya. Mereka merasa menjadi kaum intelektual dan yang pertama menciptakan teknologi serta pengaplikasiannya meskipun kita tidak bisa memungkiri hal itu. Termasuk aku. Kita memang sering melihat mahasiswa memperjuangkan nasib rakyat kecil dari penjajahan rakyat besar melalui aksi demonstrasi dan sejenisnya. Namun jarang sekali kita melihat mereka bersentuhan langsung dengan mereka yang diperjuangkan itu.Kegiatan KKN pun hanya sebatas sebagai syarat akademis, bukan untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Berinteraksi dengan mereka diluar kasta adalah buang-buang waktu. Gelombang hanya bisa diterima oleh mereka yang satu frekuwensi. Hanya mau belajar pada mereka yang dirasa lebih tinggi. Tidak untuk yang lainnya.

Sore itu, ketika dalam perjalanan ke pinggiran kota, hujan deras memaksaku untuk berteduh dan menumpang di teras orang. Mengetahui ada orang di teras, yang punya rumahpun menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah. Gelap, tidak ada lampu. Hanya cahaya kilat yang membuatku sesekali bisa melihat wajah pemilik rumah itu. Kamipun ngobrol kesana kemari.
“Sampean tadi dari mana?”, tanyanya.
“Dari pantai, Dhe.. Mumpung kuliahnya libur”
“Ohh.. sampean ini mahasiswa to.. berarti ini tadi mau balik ke kota?”
“Iyaa..”
“Lha sudah kelas berapa kuliahnya?”

Memang benar, kalau tidak satu frekuwensi memang nggak akan nyambung. Kesombongan itu datang kembali.

“Kalau kuliah itu sudah nggak pakai kelas lagi, Dhe.. Pakainya sistem semester”, jawabku menjelaskan.
“Ohh.. Aku pikir kayak sekolah SMA gitu”
Aku cuma diam.
“Lha sampean ambil jurusan IPA atau IPS?”, tanyanya kembali.

Haduuhhh… mending nyari topik bahasan lain saja. Sampai kapanpun ini tidak akan pernah nyambung. Untuk itu, aku jawab aja asal-asalan.

“Ambil jurusan IPS, Dhe..”,jawabku
“Ohh.. berarti bukan kedokteran yaa.. biasanya kan cuma jurusan IPA yang bisa kedokteran”,ungkapnya.
“Iyaa..”,ungkapku semakin kesal.
“Kalau dokter kan saya bisa tanya-tanya mengenai penyakit saya”, lanjutnya.
“Memang Njenengan sakit apa, Dhe?”, tanyaku.
“Sakit perut, sudah beberapa hari ini mencret..Tapi sudah agak mendingan, setelah saya minum Decolgen”, jelasnya.
“Sakit perut kok minum Decolgen to Dhe..??? Minum Diapet maksudnya”, tanyaku.
“Bukan.. ya Decolgen itu yang saya minum”,terangnya.
*Speechless*

Tak lama berselang, istri pemilik rumah itu keluar dengan mebawakan 2 cangkir kopi dan sepiring buah mentimun. Aku semakin heran. Masak minum kopi kok jajanannya mentimun. Seharusnya kan singkong atau pisang rebus.

“Monggo diminum, mumpung masih panas”

Akupun meminum kopi itu. Namun belum sempat saya letakkan kembali kopi itu di meja, Bapak yang punya rumah itu kembali berucap :
“Sampean pasti heran dan berfikir, kok ngasi kopi tapi kue-nya mentimun”
“Kami selalu berusaha memuliakan setiap ada tamu yang datang. Kami selalu memegang ajaran leluhur kami untuk menghormati tamu. Ora’o suguh lak gupuh”
“Kebetulan kami baru saja panen mentimun dari kebun”
“Meskipun kami tidak pernah sekolah, dari kecil kami diajarkan bagaimana memperlakukan orang. Tentang bagaimana menghormati orang dan berusaha untuk tidak sombong”

*Speechless for twice*

Thanks Sir.. your statement kill my arrogance.

Belajar ditempat Paling Demokratis

Standard

Ada yang mengatakan, bahwasanya masalah dan solusi itu jaraknya hanya sebatas dahi dan tempat sujud. Tapi menurutku, solusi dari sebuah masalah itu adanya di warung kopi.

Beberapa saat lalu, sebuah sms dari nomor baru menanyakan tentang kabarku. Seperti biasa, aku tak pernah menanggapi setiap nomor yang tak kukenal, hingga pengirim sms itu mengirim sms lagi dan memberitahukan identitas dirinya. Ternyata dia adalah mantan penghuni hatiku yang beberapa lalu nggak sengaja ketemu di dalam bus. Waktu itu, kami memang tak sempat berbicara, namun kami masih sempat bertukar nomor telpon meskipun aku lupa menyimpan nomornya.

Awalnya hanya sebatas bertanya kabar, kemudian dia menceritakan keadaannya sekarang. Tentang pekerjaannya, tentang aktivitasnya, sampai tentang buku-buku koleksinya. Namun aku masih enggan menceritakan keadaanku sekarang. Insting ke-laki-laki-anku masih mendominasi. Tak pernah mau berterus terang. Mungkin kalian sudah mengerti maksudku..

Beberapa hari ini intensitas komunikasi kami semakin sering. Rasa-rasa yang dulu ada dan telah hilang kini mulai bersemi lagi. Romansa ketika kami kuliah dulu muncul kembali. Bukannya menikmati romansa itu, justru hatiku menjadi gelisah. Apakah aku sedang berbuat dosa?? Aku tahu bahwasannya dosa adalah apa saja yang menggelisahkan jiwa dan kita tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.

Rasa kantuk yang sudah tak bisa ditahan membawaku berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan. Warungnya cukup ramai. Pelanggannya didominasi sopir truck ekspedisi. Menurutku, warung kopi adalah tempat paling demokratis dimuka bumi. Disini kamu bebas menyampaikan semua yang ingin kamu ungkapkan. Kamu bebas mengungkakan pendapat, kamu bebas menjustifikasi baik buruknya seseorang atau pemerintah, atau apapun itu.

Sebuah konvoi pecinta mobil Opel Blezzer melewati jalanan. Sudah bisa dipastikan, ditempat paling demokratis itu pasti akan bermunculan berbagai macam komentar. Dugaanku benar, seorang anak muda dengan tanpa basi-basi mencletuk, “Enak kalau jadi orang kaya, nginjak gas bukan untuk mencari duit. Tapi untuk menghabiskan duit. Beda lagi dengan kita”.

Aku mengangguk-angguk takdzim. Seolah membenarkan pernyataannya, hingga seorang disamping ku yang kelihatan sudah berumur berbisik padaku, “Sampean nggak usah silau melihat orang-orang dengan kekayaannya, itu semua cuma titipan, kalo mau semua itu dalam sekejap bisa diambil sama Yang Menitipkan”

Busyettt.. Aku kaget dengan apa yg dibisikkan padaku. Tapi aku sadar aku sedang berada ditempat paling demokratis. Semua orang bebas memberikan pernyataan.

Sambil menghisap Dji Sam Soe-nya, dia melanjutkan, “Saya pesen sama sampean, hati-hati berlaku kepada istri. Jangan berkhianat, jangan berbohong sama istri, sebab sampean bisa kualat”.

“Saya ndak gitu silau liat orang-orang bergelimang harta sebab saya pernah mengalaminya, saya tau itu hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil karena saya juga mengalaminya. Dan saya bilang sampean harus hati-hati berlaku sama istri karena semua harta saya lenyap karena saya kualat sama istri”.

Jedierrrr… Serasa ditubruk cikar. Aku merasa tersindir. Pesan bapak itu menghujam begitu dalam dalam pikiranku. Tapi ini adalah cerita menarik.

”Memang ceritanya gimana, pak???”

Sambil nyalain rokok Bapak itu meneruskan, “Dulu saya ini juragan di daerah saya. ladang dan kebun saya berhektar-hektar, mobil saya berjejer-jejer, truk punya belasan. Proyek disana-sini. Pokoknya saya ini paling top di kampung, kasarannya kalo buat empat belas turunan nggak bakal habis duit saya.”

Dia nyruput kopinya, akupun ikut nyruput kopiku dan masih terbawa ceritanya.

“Masalah terjadi ketika saya dapat proyek di Pemda. Kebetulan yang ngurusi proyek itu seorang perempuan yang menurut saya lebih cantik dari istri saya. Dari kenalan, ngobrol, sampai akhirnya saya suka dan berniat mengawini dia. Akhirnya saya nikah siri”.

Saya nyalain lagi rokok, jarang-jarang denger cerita ala sinetron hidayah di dunia nyata.

“Walaupun saya gampang bepergian dengan alasan sibuk ngurusi bisnis tapi lama-lama istri saya curiga juga. Suatu saat dia nanya apakah saya punya istri lagi, saya bilang nggak punya. Saking nggak percayanya suatu saat istri saya meminta saya bersumpah bahwa saya nggak punya istri selain dia dengan sumpah bahwa kalo saya bohong maka biarlah semua harta ludes tak bersisa. Saya pun bersumpah, saya pikir yang kayak gitu ndak bakal ada pengaruhnya.”

“Ternyata saya salah. Beberapa waktu setelah saya bersumpah saya ketipu sekitar 300 juta, sampean bisa bayangkan awal-awal tahun sembilan puluhan nilai duit segitu. Setelah itu ada saja apesnya, gagal panen, pelanggan beralih, proyek direbut orang lain, harga anjlok, banyak kejadian nggak masuk akal sampai akhirnya semua harta saya ludes. Bener-bener saya jadi kere.”

“Untungnya istri saya nggak matre, dia cuma berpikir ini mungkin jalan dari Yang Di Atas agar saya menyadari kesalahan. Saya yang stress, biasa nggak pernah kekurangan tiba-tiba ndak punya apa-apa. Suatu saat saya ngomong sama Gusti Allah, ya Allah, saya sekarang sudah nggak punya apa-apa, saya mau merantau, kalo memang Panjenengan mau matikan saya matikanlah, tapi kalo nggak berilah saya keberhasilan.”

“Saya merantau kemana-mana, dari Kalimantan sampai Sulawesi, mulai dari jadi kuli bangunan, sopir trailer di hutan Kalimantan, sampai nyopir bis. Saya kenyang pengalaman, yang seneng, yang susah, semua sudah pernah saya alami. Sampean masih muda, jalan masih panjang, jangan sampai hilang arah gara-gara silau harta, juga perlakukanlah istri sampean dengan baik karena bagaimanapun doa istri ikut membentuk hidup sampean.”

Tak lama kemudian seorang yang berpenampilan seperti kernet menghampiri kami. “Ayo berangkat boss.. Biar pas sampai kota tengah malam. Jadi bisa tetep lewat. Polisi sekarang galak-galak”.

Sepanjang melanjutkan perjalanan, aku memngingat betul kata demi kata yang diucapkan bapak sopir truck tadi. Memang benar, pintu fitnah itu terbuka lebar dimana saja. Menurutku, kebajikan yang paling bijak adalah menutup rapat-rapat pintu itu. Persetan dengan romansa. Aku tak akan peduli lagi dengan rasa. A’udzubillahi min fitnatin nisa’… Aku berlindung kepada Allah dari fitnah wanita.